Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 24
Sementara itu, di sudut terhangat kedai kopi yang beraroma seduhan biji kopi segar, Yuri sama sekali tidak sedang bekerja atau meratapi nasib di balik meja bar.
Perempuan itu duduk anggun di sebuah meja kayu dekat jendela kaca besar, mengenakan blus putih elegan yang dipadu dengan blazer kasual. Di hadapannya, tersaji dua cangkir capuccino panas yang masih mengepulkan uap tipis.
Di seberang meja, Adhiyaksa Pratama duduk santai seraya menyesap kopinya perlahan. Pria itu membetulkan posisi kacamata peraknya, menatap Yuri dengan binar mata sarat ketertarikan dan ketenangan seorang ahli strategi.
"Jadi..." ujar Adhiyaksa dengan suara beratnya yang jernih, meletakkan cangkir keramiknya kembali ke tatakan.
"Semua berkas gugatan cerai sudah rapi di tas saya, Mbak Yuri. Tinggal menunggu satu hal, konfirmasi transferan sisa dari Sandra."
PING!
PING!
PING!
Ajeng yang baru saja mengelap meja di dekat mereka melirik ke arah ponsel Yuri, lalu mendekat dengan raut wajah heboh.
"Yur! HP kamu bergetar kayak kesurupan! Dari si gundik itu lagi ya?!"
Yuri merogoh ponselnya, menyalakan layar, dan membaca pesan-pesan serta foto yang baru saja dikirimkan Sandra.
[Sandra]: (Mengirim 3 foto bermesraan di sofa apartemen)
[Sandra]: Lihat nih, Yuri! Mas Abi sengaja datang pagi-pagi cuma buat manja-manjaan sama aku di apartemen sebelum kita berangkat ke rumah orang tuanya!
[Sandra]: Dia bilang kamu itu nggak ada apa-apanya dibanding aku. Hari ini, aku bakal resmi dikenalin ke calon mertua aku! Kamu duduk manis aja ya di kedai kopi, nyari uang lemburan yang banyak buat bayar cicilan! Sepertinya kamu harus bersiap-siap angkat kaki dari rumah dan kehidupan Abimana. Dan aku juga nggak perlu memberikan uang yang kamu minta itu. Permintaan konyol. Toh aku adalah pemenangnya.
Membaca kalimat 'aku juga nggak perlu memberikan uang yang kamu minta itu... toh aku adalah pemenangnya', alis Yuri terangkat pelan.
Ajeng yang ikut mengintip dari balik bahu Yuri langsung emosi, menepuk mejanya pelan.
"ASTAGFIRULLAHALADZIM! Jahat banget ini cewek! Sumpah, Yur, mukanya minta ditampar pakai teko kopi! Dia mendadak ingkar janji nggak mau bayar uangnya?!"
Sebaliknya, Adhiyaksa yang ikut mendengarkan justru terkekeh renyah, sebuah tawa dingin yang amat sangat tenang. Pria itu menggeser laptopnya sedikit, menatap Yuri.
"Keangkuhan yang sangat ceroboh," komentar Adhiyaksa santai, membetulkan letak kacamatanya.
"Sandra pikir dengan mengirim foto-foto itu dan membatalkan pembayaran, dia berada di atas angin. Padahal, dia baru saja menyerahkan amunisi hukum paling mematikan untuk kita."
Yuri menatap layar ponselnya, lalu mendongak menatap Adhiyaksa dengan senyuman paling dingin dalam hidupnya.
"Dia pikir saya menangis?" bisik Yuri dengan nada suara yang begitu mantap.
"Dia pikir dia bisa ingkar janji setelah mempermainkan rumah tangga saya?"
Yuri jemarinya menari di atas layar, membalas pesan Sandra secara singkat namun mengandung daya ledak yang mengunci napas:
[Yuri]: Oh ya? Kamu yakin kamu pemenangnya, Sandra? Coba kamu tanya sama 'calon suami' kamu itu... apa dia sudah cerita kalau dia sebenarnya sudah punya istri sah bernama Yurinika? Dan apa dia sudah cerita kalau rumah yang akan kamu kunjungi pagi ini adalah rumah orang tuanya yang pernah sangat menyayangi aku?
[Yuri]: Nikmati perjalanan kamu ke rumah calon mertua ya, Sandra. Sesuai janjiku, kalau kamu tak mau memberikan uang itu maka aku akan memberikan kejutan manis tiada tara untukmu.
Centang dua biru.
Setelah mengirim pesan penutup itu, Yuri dengan tenang mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
"PAPI...!"
Dari arah pintu, seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar enam tahun berlari kencang dengan wajah berseri-seri. Bocah itu mengenakan kemeja kotak-kotak kecil yang rapi dan membawa ransel dinosaurus di punggungnya. Tanpa ragu, anak kecil itu langsung melompat menubruk kaki Adhiyaksa dan memeluk lutut pria berkacamata itu erat-erat.
"Papi! Kenzie nyampe duluan!" pekik bocah kecil itu gembira, mendongak menatap Adhiyaksa dengan binar mata yang persis sama dengan sang pengacara.
Adhiyaksa yang tadinya bersikap dingin dan kaku seketika luntur. Raut wajahnya berubah menjadi amat lembut. Pria tinggi itu berlutut dengan satu kaki, merengkuh tubuh mungil bocah itu, lalu mengangkatnya ke dalam pelukan hangatnya seraya tertawa renyah.
"Anak Papi pinter banget lari cepatnya," puji Adhiyaksa lembut, mengusap rambut bocah itu dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa nggak nunggu Tante di mobil, hm?"
Tak jauh di belakang bocah itu, seorang wanita muda berusia dua puluhan berjalan menyusul dengan terengah-engah. Ia mengenakan pakaian kasual yang rapi, membawa tas perlengkapan anak, dan menyunggingkan senyum saat menghampiri mereka.
"Aduh... maaf ya, Mas Adhi," ujar wanita muda itu sambil mengelap keringat tipis di dahinya.
"Kenzie tadi pas lihat mobil Mas Adhi di depan kedai langsung nekat buka pintu dan lari keluar. Saya sampai kewalahan mengejarnya."
Yuri berdiri membeku di samping pintu mobil, matanya membelalak pelan menyaksikan pemandangan yang sama sekali tak terduga ini. Sosok pengacara muda yang selama ini terlihat begitu dingin, arogan, tak tersentuh, dan dipuja-puja oleh Ajeng... ternyata adalah seorang ayah dari anak laki-laki yang sangat tampan.
Adhiyaksa berdiri seraya tetap menggendong Kenzie di lengannya. Ia menoleh ke arah Yuri, lalu menyunggingkan senyum tipis, senyuman tulus yang terasa jauh lebih hangat dari biasanya.
"Mbak Yuri, kenalkan... ini Kenzie, putra saya," tutur Adhiyaksa dengan intonasi lembut penuh kebanggaan. Ia kemudian melirik wanita muda di sampingnya.
"Dan ini Reina, Adik saya..."
Siska mengangguk ramah pada Yuri.
"Selamat pagi, Mbak."
"Pagi..." sahut Yuri agak gugup, masih berusaha mencerna situasi. Ia menatap bocah di pelukan Adhiyaksa.
"Aduh, ganteng banget anaknya, Mas Adhi..."
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏