Lima tahun aku menikah dengan mas pramudia dan di karuniai anak satu laki laki yang sekarang berusia empat tahun, mas Pram adalah kakak angkatku lulusan teknik sipil, aku rela menjadi ibu rumah tangga setelah lulus kuliah demi menemani beliau mulai dari nol, aku meminta teman ku yang anak pengusaha untuk investasi ke perusahaan suamiku sehingga perusahaan properti mas Pram maju dan berkembang tapi setelah pamit kerja keluar kota, tiba tiba dia bawa madu untukku, kemudian dia pura pura bangkrut untuk mengurangi jatah nafkah ku dan tidak dapat harta gono gini bila menuntut cerai, dikira aku sangat mencintai dan bertahan, Karena aku tidak berpenghasilan, mereka meremehkan aku. ku bikin bangkrut beneran biar tahu rasa, laki laki seperti itu yang tidak tahu terima kasih yuk ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 Zidan Galau
Kami berbincang dan bercanda, Zidan main dengan Laura
" Bun Ayo pulang Zidan waktunya mengaji" ajak Zidan.
Aku dan Zidan pun pulang dulu, karena sudah sore, sampai di kos Zidan mandi karena dia akan segera berangkat mengaji, ku siapkan baju dan sarungnya kemudian ku bantu pakai baju
" Bund Zidan minta uang saku dong" kata dia
Aku pun memberikan uang saku kepada Zidan kemudian dia salim mencium punggung tanganku dan ku cium pipinya dia pun berangkat dan nggak mau diantar.
" Mbak gimana sidang cerai mu lancar kan ? " tanya Dewi tiba tiba dia ada di depan ku
" Ya lancar dong semua bukti sudah memberatkan mas Pram " jawabku.
" Kamu aneh sih mbak, kenapa nggak mempertahankan suami kan mas Pram masih cinta banget sama kamu" tanya Dewi.
" Ya namanya cinta nggak akan selingkuh, apalagi kawin lagi, lagian buat apa aku pertahankan lelaki red flag kayak mas Pram, ambil buat kamu saja, hitung hitung sedekah" jawabku
" Mbak kamu benci mas Pram, tapi kok kamu tetap di sini kan yang bayar kos ini mas Pram?" tanya Dewi
" Aku segera pindah kok, nanti kamu bisa tempati dan ambil saja itu kompor sama peralatan masak jelek, aku nggak butuh" jawabku
" Dek kalian bicara apa, kamu mau pindah kemana, Dewi kamu jangan memprovokasi, Erin jangan pindah dari sini, kasihan Zidan senang ngaji di sini" kata mas pram
" Tenang saja wi aku tetep pindah kok aku nggak suka tingal disini, tiap hari lihat kalian bosan " jawabku
Aku segara mandi malas berdebat sama mereka, dan anehnya perasaan cintaku sudah hilang dan bisa tenang menghadapi mereka, bahkan dengan entengnya aku menyedekahkan suamiku buat pelakor.
Selesai mandi aku bersiap aku segara ke mushola untuk sholat jamaah Magrib, Sampai di mushola aku duduk di teras menunggu anakku, yang sedang di ajar ngaji sama ustadz nya, namanya ustadz
Tak lama adzan magrib pun terdengar dan aku segera mengambil tempat untuk sholat jamaah, Selesai sholat Zidan ngajak beli bakso, jadi aku belikan saja, kebetulan ada bakso yang lewat di dekat mushola, kami pun beli di makan sekalian di sini.
Selesai makan bakso, kami sholat isya berjamaah setelah itu kami pun pulang, Sampai di kos aku segara membuka koper dan menata sisa bajuku yang disini, Karena sebagian sudah aku bawa sedikit demi sedikit.
" Bun memang kita jadi pindah" tanya Zidan
" Iya nak kita pindah ke rumah Oma kerena bunda sama ayah akan segera bercerai, jadi tempat tinggal kita akan berpisah" jawabku mencoba memberi pengertian pada anak lelakiku
" papa bersama bibi Dewi, bunda sama Zidan gitu Bun?" tanya dia sambil meneteskan air mata.
" Iya sayang, kamu pasti baik baik saja sayang, bunda akan kerja keras untuk masa depan kamu dan kamu masih bisa bertemu ayahmu tapi tanpa bunda dan tidak setiap hari" jawabku memberi pengertian.
" Tapi Zidan masih ingin ngaji bersama ustadz Haris" kata dia
" Bisa sayang nanti bunda antar tiap hari kesini, sekolah juga bunda antar" kata ku
Kemudian Zidan memelukku dan dia menangis " Bibi Dewi jahat ya ma dia merebut ayah dari kita" kata anakku.
" Ayah mu juga mau di rebut sayang, kalau dia tidak mau ya tidak ada bibi Dewi di antara kita" jawabku
" Sayang jangan di pikir sekarang ya, kamu masih kecil tugasmu sekolah, belajar dan mengaji selebihnya biar bunda yang kerja untuk memenuhi kebutuhan kamu, ayah sekarang sudah bangkrut kamu tahu sendiri kan,?" jawabku biar anak ku tidak sedih
" Ayo sebelum bobok sikat gigi dan cuci muka dan cuci kaki" ajakku
Kemudian kami pun bobok berdua ku peluk anakku, ku beri pengertian dan semangat dan aku berjanji kalau dia tidak akan kekurangan.
Kami pun tertidur pulas sampai pagi, Zidan belum ceria, tapi biarlah nanti lama lama akan mengerti, aku bangun lebih dulu kemudian mandi, aku merebus air, untuk bikin kopi dan Zidan aku bangunkan, dia sepertinya masih sedih,
" Nak kamu mandi tapi kok sedih kenapa" tanya mas Pram tiba tiba datang.
" Zidan Nggak apa apa kok yah, walaupun ayah sekarang lebih cinta kepada bibi Dewi dari pada Zidan dan bunda Zidan baik baik saja" kata anak ku
" Iya Zidan kan laki laki, jadi harus kuat menghadapi kenyataan yang ada sayang nggak boleh cengeng" jawabku
" Kalau bunda dan ayah pisah, Zidan ikut bunda saja kan ayah sudah ada tante Dewi" kata Zidan
" Zidan nanti kalau libur bisa ikut ayah kok misalnya jalan jalan" kata ku
" Iya nak walaupun kita pisah kamu tetap anak ayah " kata mas Pram.
" Zidan mau sarapan apa sayang" tanya ku
" Sarapan bubur ayam saja Bun, bentar lagi lewat" kaya Zidan.
" Dek, mas minta kopinya dong, kamu beneran mau pindah hari ini kan belum putusan cerai, lagian aku belum ikrar talak" kata mas Pram.
" Biar saja mas biar kita, tidak setiap hari bertemu, jadi nggak ada perdebatan antara kita bertiga, aku bosan dengan keadaan seperti ini aku ingin hidup damai" kata ku
" Kapan kalian pindah nanti aku antar biar mas tahu tempat tinggal kalian kan kalian masih tanggung jawab mas nanti sekalian mas serahkan ke wali kalian" kata mas pram
" Nanti siang mas kalau gitu antar kan aku ke panti dan serahkan aku pada ibu Hera, ibu panti yang menjadi waliku" jawabku
" Iya nanti setelah Zidan pulang mas antar kalian ke panti tempat kamu dulu, tapi setelah itu kalian tinggal di mana" tanya mas pram
" Di apartemen Oma, aku kerja di sana dan Zidan ikut aku kerja" jawabku
" Ya sudah nanti siang mas antar " jawab dia
" Bang bubur ayam empat" kata mas pram pesan bubur ayam untuk kami
" Wi makan bubur dulu" panggil mas Pram kepada Dewi,
" Sini Zidan ayah yang suapi ya" kata mas Pram dan zidan mengangguk setuju,
Aku makan di kamarku sendirian, Zidan sama Dewi dan mas Pram duduk di bangku panjang,
Selesai sarapan aku mengantar Zidan ke sekolah, kemudian aku ke apartemen Oma.
" Nduk kamu sudah datang, gimana kamu katanya bisnis sama Bayu uang di oma kamu ambil saja, bisa untuk beli sepuluh mobil dengan harga rata rata harga seratus juta" kata Oma.
" Memang uangku sebanyak itu ya Oma?" tanya ku
" Iya sayang dan saham mu, akan di jual sama Valen yang beli si willy nanti perusahaan di akuisisi oleh Willy dan uang hasil jual saham di buat modal butik, dan menjual pruduk nya Valen gimana kamu setuju?" tanya oma
" Setuju banget oma, jadi aku bisa kerja dia dari sini saja, kalau kerja di Singapura kasihan sekolah Zidan dan ngajinya" kata ku
" Iya sayang tapi nanti setelah ketuk palu dan kamu resmi cerai kita ke Singapura dan kita jalan jalan ke eropa sambil menghadiri pernikahan Valen dan pembukaan butik di cabang eropa" kata Oma.
Aku bercerita kepada oma tentang rencana mas pram dan menurut Oma, Bu Hera di suruh kesini biar mas pram menyerahkan aku di sini saja, dan dia pun telephon Bayu untuk menjemput Bu Hera dan Bu Hera dan Bayu pun setuju dan nanti siang ke apartemen Oma.
Bersambung
terimakasih sudah update 😀👍
penasaran gmn nasib pram klo udah beneran bangkrut