NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati yang Sudah Mati

Danti berdiri di depan meja ruang tamu beberapa detik, piring-piring kotor masih di tangannya.

Pesan itu tak lagi menyala. Layar ponsel Rizal perlahan meredup dan kembali hitam, seolah tak pernah menampilkan apa pun. Hanya bayangan wajahnya sendiri yang samar di permukaan kaca.

Ia menarik napas, meletakkan piring di kursi, lalu mengangkat ponsel itu dengan dua jari. Layarnya dibiarkan tetap mati. Ia membalikkannya persis seperti posisi semula, dengan sisi layar menghadap ke bawah, miring sedikit ke kiri, tepat di samping remote televisi. Tak ada yang akan menyadari bahwa benda itu pernah tersentuh.

Tak ada getar di tangannya. Tak ada air mata. Tak ada keinginan menggebrak pintu kamar mandi dan menuntut penjelasan.

Dulu, kalau ia melihat pesan seperti itu, dunianya pasti sudah runtuh. Ia akan menangis semalaman, bertanya-tanya apa yang kurang darinya, lalu berusaha lebih keras lagi... lebih sabar, lebih patuh, lebih diam.

Tapi malam ini, yang ia rasakan hanyalah semacam kejernihan dingin, seperti air sumur yang diam di dasar.

"Aku nggak akan bilang apa-apa," batinnya sambil mengambil kembali piringnya. "Aku akan lihat. Pelan-pelan."

Ia membawa piring itu ke dapur dan mencucinya dengan tenang. Di balik kesunyian itu, sebuah keputusan kecil sudah mengendap... apa pun yang terjadi, ia akan memantau. Bukan karena cemburu, tapi karena ia sudah belajar bahwa orang yang tak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya adalah orang yang paling mudah diinjak.

Rizal keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan kaus tidur longgar. Wajahnya lebih segar, dan di sudut bibirnya masih tersisa sisa senyum yang entah ia sadari atau tidak.

Ia berjalan ke sofa dan duduk di samping Danti yang sedang menonton televisi dengan volume kecil. Jarak di antara mereka hanya setengah lengan, tapi terasa seperti jurang.

Beberapa menit berlalu tanpa suara. Lalu Rizal berdeham.

"Dan."

"Hm?"

"Aku mau ngomong sesuatu."

Danti menoleh pelan. Tatapannya tenang, menunggu.

Rizal menggaruk tengkuk, tampak sedikit canggung. "Soal program hamil itu. Kamu... bisa nggak lanjutin lagi?"

Danti tak langsung menjawab.

"Aku pengen banget punya anak, Dan," lanjut Rizal, nadanya dibuat lembut dan membujuk. "Kamu tahu itu. Aku udah nunggu lama. Umur kita juga makin nambah. Kalau kamu mau lanjut, aku... aku bakal dukung. Aku bakal bayar semuanya."

Danti menatapnya lama.

"Aku nggak bilang nggak mau, Mas," ucapnya akhirnya, dengan suara datar. "Tapi aku mau tanya satu hal dulu."

"Apa?"

"Kalau aku lanjut program, badanku pasti nambah berat lagi. Hormon itu bikin tubuhku berubah, dan kemarin kamu sendiri sudah lihat dampaknya." Ia berbicara perlahan, setiap kata ditimbang. "Dan kalau nanti aku hamil, badanku akan berubah lebih banyak. Perut membesar, kaki bengkak, kulit bergaris, wajah berubah. Setelah melahirkan pun nggak akan langsung kembali seperti dulu. Mungkin malah nggak pernah sama lagi."

Rizal menelan ludah.

"Jadi pertanyaanku, Mas." Danti menoleh sepenuhnya, matanya tertuju lurus ke mata suaminya. "Apa kamu mampu menerima aku dengan semua perubahan itu? Bukan cuma sebagai ibu dari anakmu, tapi sebagai istri. Sebagai perempuan yang kamu lihat tiap hari."

Hening.

Hening yang panjang dan menusuk.

Rizal membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri, lalu sekilas melirik tubuh Danti, bahu, lengan, pinggang. Dan benaknya mengkhianatinya.

Hanya melihat Danti yang sekarang saja sudah membuat perutnya terasa tak enak, membuat lidahnya pahit oleh perasaan yang ia sendiri benci mengakuinya. Bagaimana mungkin ia bisa menerima yang lebih lagi?

Di sudut benaknya, wajah Vanya yang ramping dan tersenyum muncul tanpa diundang.

Ia mengatupkan bibir. Tak sanggup berbohong, tapi juga tak sanggup jujur.

Danti memperhatikan semua itu. Gerak matanya, ludah yang ditelan, bahu yang menegang, bibir yang terkatup. Ia tak perlu mendengar kata-kata. Tubuh Rizal sudah menjawab dengan lantang.

Seulas senyum tipis, sinis, dan nyaris tak terlihat, merekah di wajahnya.

"Aku mengerti," katanya pelan.

"Dan, aku nggak..."

"Nggak apa-apa, Mas." Ia bangkit dari sofa, mematikan televisi dengan remote, dan merapikan ujung dasternya. "Aku capek. Mau tidur."

"Dan, tunggu dulu..."

"Selamat malam."

Ia berjalan ke kamar tanpa menoleh. Kali ini pun, ia tak menutup pintu dengan keras. Hanya sebuah klik pelan yang menutup percakapan itu seperti peti yang ditutup.

Rizal tinggal di sofa, tangan terkepal di lutut, napas berat. Ia ingin berteriak bahwa ia sedang mencoba, bahwa Danti tak adil, bahwa semua ini bukan salahnya. Tapi kata-kata itu terdengar hampa bahkan di dalam kepalanya sendiri.

 

Pagi berikutnya, Rizal duduk di meja makan dengan wajah masih agak kusut. Di hadapannya tersaji nasi hangat, telur dadar, dan tumis sayur sisa kemarin. Danti yang menyiapkannya, entah karena belanjaan di dapur memang masih penuh atau karena kebiasaan lama sulit mati.

Ia sendiri sudah selesai makan dan sedang mencuci piring di wastafel, memunggungi suaminya.

Rizal baru menyuap dua sendok ketika ponselnya bergetar di atas meja.

Ia menunduk, melirik layar. Dan raut wajahnya langsung berubah.

[Vanya: Pagi, Mas Maaf banget pagi-pagi ganggu. Taksi onlineku dibatalin dan aku harus sampai kampus jam delapan. Kalau Mas nggak keberatan, boleh minta tolong jemput? Aku bakal traktir sarapan sebagai gantinya.]

Danti, yang sedang membilas gelas di wastafel, melirik sepintas lewat sudut mata. Dari tempatnya berdiri, ia tak bisa membaca isi pesan itu, tapi ia tak perlu membacanya. Cukup melihat bagaimana seluruh wajah Rizal melembut, bagaimana jari-jarinya bergerak cepat membalas, bagaimana ia menahan senyum seperti anak remaja yang menerima surat cinta.

"Aku harus berangkat sekarang," ujar Rizal tiba-tiba, bangkit dengan kursi bergeser.

Danti memutar tubuh. "Sarapanmu belum habis."

"Nggak apa-apa. Ada pekerjaan dadakan di kantor. Klien minta rapat lebih awal."

"Oh."

"Iya. Nanti aku makan di jalan."

Ia menyambar tas, mengenakan sepatu terburu-buru, dan melangkah keluar tanpa menunggu tanggapan. Pintu ditutup dengan bunyi pelan, jauh lebih ringan dari bantingan biasanya. Suara mobil menyala, lalu menjauh.

Danti menatap pintu itu. Di meja makan, piring Rizal masih setengah penuh, nasi mulai mendingin, telur dadar belum tersentuh.

Ia menunggu rasa sakit yang seharusnya datang. Rasa panas di dada, tikaman di ulu hati, air mata yang menggenang di pelupuk. Ia memberi waktu satu menit, dua menit, bahkan tiga.

Tapi tidak ada apa-apa.

Ia tak marah. Tak cemburu. Bahkan tak merasa sakit.

"Oh," pikirnya pelan, sambil mengambil piring Rizal dan membuang sisa makanannya ke tempat sampah. "Jadi memang sudah mati ya."

Hatinya, yang dulu begitu mudah retak, kini seperti tanah lapang yang tandus. Tak ada lagi yang bisa dirusak. Dan di dalam kekosongan itu, anehnya ia merasa lebih ringan.

---

Danti menghabiskan sisa pagi seperti biasa. Menyapu lantai, mengepel, menjemur pakaian di halaman belakang, merapikan ruang tamu, menyiram tanaman, memasak makan siang untuk dirinya sendiri. Ia bergerak dengan irama yang teratur, tidak tergesa, tidak lamban.

Ketika semuanya selesai, ia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, tangan terkulai di sisi tubuh.

Perempuan di dalam cermin itu menatapnya balik.

Danti memperhatikannya baik-baik, tanpa membenci, tanpa mengasihani. Bahunya yang lebih penuh. Pipinya yang membulat. Lengan atas yang tak lagi sama. Pinggang yang menghilang di balik daster longgar. Gerakan tubuhnya yang pelan, hati-hati, seolah masih ragu menempati ruangnya sendiri.

Dua tahun obat-obatan, dua tahun menekan diri demi harapan orang lain, dan dua tahun terjebak dalam rumah yang membuatnya lupa siapa dirinya. Tubuh ini berubah terlalu banyak. Ia hampir tak mengenalinya.

Tapi anehnya, ia tak merasa malu.

"Ini badan yang sudah berjuang," pikirnya. "Dan sekarang giliranku yang berjuang untuknya."

Bukan untuk Rizal. Bukan untuk memuaskan tatapan mertua atau tawa teman-teman suaminya. Bukan agar dipuji, bukan agar diinginkan kembali. Tapi karena ia ingin bernapas lebih lega saat menaiki tangga. Ingin gaun-gaun lamanya muat tanpa harus menahan napas. Ingin bangun tidur dengan tubuh yang terasa milik dirinya sendiri.

Ia akan mulai dari hal-hal kecil. Berjalan kaki lebih jauh tiap pagi. Makan teratur dan cukup, bukan dengan rasa bersalah. Tidur lebih awal. Minum air lebih banyak. Memberi tubuhnya waktu, bukan hukuman.

Danti tersenyum pada bayangannya, senyum yang kecil tapi tulus.

"Sudah waktunya," bisiknya.

Waktunya berubah. Bukan menjadi orang lain, melainkan kembali menjadi dirinya sendiriyang dulu sempat terpaksa ditinggalkan demi mewujudkan keinginan suaminya.

1
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
ryuka
bagus danti.. keluarkan semua uneg2 mu biar rizal tau.. tinggal kita liat keputusan apa yang kita ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!