Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilmu Baru
Refleks Tangkisan Sapu dan Kebenaran yang Tersembunyi
"Kau pasti bisa mempelajarinya suatu hari nanti, Song Qian... namun untuk sanggup menguasai teknik membaca pikiran itu, mungkin kau harus menunggu sekitar satu ribu tahun lagi," tutur Dewa Perang Bai Yuan dengan raut wajah yang mendadak sangat serius.
Song Qian terbelalak, suaranya meninggi penuh kebingungan. "Kenapa harus menunggu seribu tahun lagi? Maksudmu... Kak Bai Yuan mau pergi ke mana?"
Bai Yuan menyunggingkan senyuman tipis nan teduh, menatap lurus ke arah langit Alam Dewa yang membentang luas. "Sebagai Dewa Perang, aku memiliki tanggung jawab besar untuk selalu memastikan kedamaian Tiga Alam tetap terjaga. Dalam waktu dekat, aku berencana untuk melakukan patroli seorang diri mengelilingi seluruh penjuru Tiga Alam."
Song Qian mengernyitkan keningnya, menatap sosok dewa berzirah emas di sampingnya dengan binar antusiasme yang membara.
"Kak Bai Yuan, sejujurnya ada satu hal yang tidak kuerti," tutur Song Qian tulus. "Kenapa kau dan Kak Qian Gu selalu bekerja begitu keras hingga mempertaruhkan jiwa demi melindungi Tiga Alam? Maksudku... bukankah kondisi Tiga Alam saat ini tampak sangat damai dan baik-baik saja? Tolong beri tahu aku alasannya, agar kelak saat aku sudah sanggup menguasai kekuatan tiga elemen semestaku ini, aku bisa ikut berdiri di samping kalian untuk melindunginya!"
Bai Yuan menoleh, menatap pemuda di sisinya dengan pendar mata yang amat bangga. "Menurut pandanganku, memiliki kekuatan besar dan sanggup menggunakannya demi melindungi Tiga Alam adalah sebuah anugerah tak ternilai. Sejatinya, tugas agung itu memang dibebankan penuh pada pundak seorang Mahadewa Semesta. Namun... sebagai sosok yang pernah mendampinginya, aku selalu ingin melakukan segala hal yang kubisa untuk meringankan bebannya."
Song Qian memiringkan kepalanya, melontarkan pertanyaan yang sangat sensitif dengan kepolosan khasnya. "Jika Kakak memang gurunya di masa lalu... kenapa sekarang Kakak sangat jarang berinteraksi atau mengobrol secara langsung dengan Kak Qian Gu? Apakah... apakah karena Kak Qian Gu telah mengorbankan Bibit Perasaan-nya demi menyegel Raja Iblis, sehingga ia melupakan seluruh kenangan manis yang pernah dilaluinya bersamamu?"
Pertanyaan menohok itu membuat Bai Yuan membisu seketika. Lidahnya mendadak kaku, kenangan pahit masa lalu membayang di kelopak matanya.
Namun, sebelum Bai Yuan sempat menguraikan kata-kata, sebuah suara halus nan dingin yang berwibawa bergema tepat di belakang punggung Song Qian!
"Song Qian... apakah kau tidak berniat untuk berlatih denganku hari ini?"
"WAAT!" Song Qian meloncat kaget, memutar badannya cepat. Qian Gu sudah berdiri anggun di sana seraya menyilangkan kedua tangannya di balik gaun putih mewahnya.
"Kak... Kak Qian Gu! Aku..." gagap Song Qian mengusap tengkuknya yang dingin.
Melihat kehadiran Sang Mahadewa Semesta, Bai Yuan bergegas bangkit berdiri dengan raut canggung yang jarang sekali terlihat. "Aah... Qian Gu. Kalau begitu... aku pamit pergi dulu. Nanti malam aku sendiri yang akan membawakan sisa barang-barang pribadi Song Qian ke istana ini."
Tanpa menunggu balasan dari Qian Gu, Sang Dewa Perang berbalik dan melangkah cepat meninggalkan halaman belakang, menghilang di balik pilar-pilar giok.
Setelah sosok Bai Yuan lenyap dari pandangan, suasana halaman belakang Istana Chao Sheng berubah hening. Song Qian menatap Qian Gu dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Kak Qian Gu... ilmu sihir hebat apa yang akan kita pelajari hari ini?" tanya Song Qian bersemangat seraya melangkah mendekat.
Qian Gu tidak membalas pertanyaan itu dengan kata-kata. Sebaliknya, Sang Mahadewa Semesta mengulurkan telapak tangan kanannya ke arah Song Qian yang baru saja hendak menduduki kursi batu.
Melihat uluran tangan itu, Song Qian tersenyum manis. Ia mengira gurunya berniat baik membantu menarik tubuhnya berdiri persis seperti kebiasaannya selama ini. Tanpa ragu sedikit pun, Song Qian mengulurkan tangannya untuk meraih jemari Qian Gu.
Namun... BZZZZT!
Mata Qian Gu mendadak berkilat tajam. Sebelum jemari Song Qian menyentuhnya, Qian Gu bergerak bagai kilat. Dengan cengkeraman cepat, ia menarik lengan kiri Song Qian, lalu melayangkan pukulan telapak tangan spiritual lurus ke arah dada pemuda itu.
BUM!
Hantaman itu membuat Song Qian terdorong mundur lima langkah, terbatuk-batuk seraya memegangi dadanya yang sesak.
"Kak Qian Gu! Apa maksudmu?!" seru Song Qian dengan raut wajah memerah menahan amarah. "Kenapa kau mendadak menyerangku tanpa alasan?!"
Qian Gu tidak menjawab. Bibirnya hanya menyunggingkan senyuman tipis nan misterius. Tanpa memberi jeda bernapas, Qian Gu melesat maju, menyasarkan pukulan telapak tangan kedua yang sangat tajam mengincar perut Song Qian.
Secara refleks, di bawah ancaman bahaya yang mendadak, tubuh Song Qian bereaksi di luar kendali pikirannya.
Kedua tangannya mengayun membentuk gerakan melingkar yang simetris di udara—sebuah gestur memutar yang persis seperti teknik memegang dan memutar gagang sapu ijuk yang dipraktikkannya saat membersihkan halaman istana kemarin.
PLAK!
Kedua pergelangan tangan Song Qian memutar mulus, menangkis dan membuang arah serangan pukulan Qian Gu ke samping dengan sangat sempurna.
Qian Gu menghentikan gerakannya seketika. Ia menarik kembali tangannya, menyunggingkan senyum puas yang amat menawan.
"Lihat?" tutur Qian Gu lembut seraya menatap muridnya. "Aku tidak akan pernah menyuruhmu bersusah payah membersihkan halaman jika kegiatan itu tidak memberikan manfaat besar bagi refleks pertahanan tubuhmu."
Song Qian tertegun membisu. Ia mengangkat kedua telapak tangannya sendiri, menatapnya dengan rasa takjub yang luar biasa. Kebenaran menyengat benaknya: tugas menyapu halaman yang ia anggap sebagai hukuman membosankan, ternyata adalah latihan pembentukan refleks pertahanan tingkat tinggi yang ditanamkan Qian Gu secara terselubung.
Song Qian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu bertanya polos, "Apakah Kak Qian Gu juga dulu dipaksa membersihkan seluruh Istana Chang Yuan saat masih menjadi murid Kak Bai Yuan... makanya sekarang Kakak melampiaskan dendam itu padaku?"
Qian Gu menghentikan senyumnya. Dahinya berkerut halus dalam kebingungan murni. "Murid? Apa maksudmu, Song Qian? Kapan pernah aku menjadi murid dari Bai Yuan?"
"APA?!" Song Qian terbelalak kaget setengah mati, melompat satu langkah ke belakang. "Kakak tidak pernah menjadi muridnya?! Tapi... tapi Kak Bai Yuan sendiri yang memberitahuku bahwa dialah gurumu yang mendidiknya selama beberapa bulan dan membuka nadi dewamu!"
Qian Gu menghela napas tipis, menyunggingkan senyum samar yang misterius. "Kau tidak perlu terlalu memusingkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Bai Yuan. Mungkin saja ia hanya sedang melontarkan kebohongan kecil untuk bercanda dengamu."
Aneh sekali... Kenapa Kak Bai Yuan berbohong padaku? Rahasia apa yang sebenarnya mereka sembunyikan? batin Song Qian bergolak penasaran.
Namun, Song Qian segera menepis keraguan itu. Ia melangkah maju merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, menatap Qian Gu dengan pendar mata memohon.
"Sudahlah! Aku tidak peduli tentang masa lalu kalian. Yang terpenting saat ini... Kak Qian Gu, tolong ajarkan aku ilmu membaca pikiran orang lain!"
"Tidak bisa," pangkas Qian Gu tegas tanpa ragu. "Kau belum siap untuk menguasai teknik itu. Jika kuajarkan sekarang, dengan tabiatmu yang impulsif, kau pasti akan menyalahgunakan kemampuan tersebut."
"Kenapa kau selalu berprasangka buruk padaku, Kak Qian Gu?" protes Song Qian tidak terima. "Aku hanya ingin belajar banyak hal darimu! Kita semua tahu bahwa lima ratus tahun lagi kau harus menghadapi hantaman Ujian Semesta... Coba kau pikirkan baik-baik, waktu lima ratus tahun di Alam Dewa itu sangat singkat! Bagaimana aku bisa menyerap ilmu-ilmu hebatmu jika kau terus menundanya?"
Song Qian mencoba melancarkan jurus bujukan berikutnya. "Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan: 'Kita tidak akan pernah benar-benar siap. Kita hanya perlu memulainya terlebih dahulu, lalu beradaptasi seiring berjalannya waktu hingga kita menjadi siap.'"
Qian Gu menanggapi pepatah itu dengan raut wajah datar tanpa terpengaruh sedikit pun. "Pepatah fana seperti itu tidak berlaku di Alam Dewa untuk mempelajari seni sihir tingkat tinggi."
Song Qian mengerucutkan bibirnya, menatap gurunya dengan nada heran. "Kak Qian Gu, bukankah tadi kau bilang bersedia menemaniku berlatih? Kenapa kau begitu pelit dan enggan mengajariku ilmu sihir tingkat tinggi selain teknik menangkis dari gerakan menyapu ini?"
Qian Gu menatap kedalaman mata Song Qian, raut wajahnya berubah menjadi sangat bijaksana dan penuh penekanan.
"Song Qian... sejak hari pertama kau lahir dari Menara Qian Kun di Altar Dewa, potensi kekuatan dalam tubuhmu sudah ditakdirkan jauh melampaui Dewa Agung mana pun. Namun, ledakan tiga elemen semesta itu akan menjadi bencana mematikan jika kau tidak sanggup mengontrol gejolak emosi dan energimu sendiri. Semuanya membutuhkan proses yang runtut. Bersabarlah sampai kau sanggup menguasai kendali atas dirimu sendiri."
"Kalau begitu... kenapa kau tidak langsung saja mengajariku cara mengontrol diri sendiri?" desak Song Qian tidak mau kalah.
Qian Gu menatap murid tunggalnya itu dengan sorot mata yang teduh. "Kemampuan mengontrol diri hanya akan lahir tatkala jiwa seseorang telah tumbuh dewasa oleh tempaan keadaan dan penderitaan hidup. Kemampuan seperti itu... tidak akan pernah sanggup diajarkan oleh siapa pun di semesta ini."
Song Qian menghembuskan napas pasrah, menurunkan bahunya. "Jadi... untuk hari ini, aku hanya perlu menyapu dan menyiram istanamu lagi?"
"Tidak juga," sahut Qian Gu seraya menyunggingkan senyuman lebar—sebuah senyuman anggun yang justru membuat bulu kuduk Song Qian mendadak berdiri. "Aku memiliki sebuah tugas baru yang jauh lebih penting dan mendesak untukmu."
Song Qian meneguk ludahnya, firasat buruk seketika melingkupi dadanya. "Tugas... tugas apa itu, Kak?"
Qian Gu mengangkat jari lentiknya, menunjuk ke arah bangunan megah berpilar giok hitam di sudut barat istana.
"Pergilah ke Perpustakaan Agung Istana Chao Sheng. Bacalah tiga kitab tebal sejarah Tiga Alam sampai tuntas. Besok pagi, aku ingin kau berdiri di hadapanku dan menceritakan kembali seluruh isi kitab tersebut tanpa ada satu bab pun yang terlewat!" titah Qian Gu dengan nada suara yang amat tegas dan tak boleh dibantah.
"APA?!" jerit Song Qian histeris, matanya melotot lebar. "Tiga kitab tebal sejarah Tiga Alam dalam waktu satu hari?! Kak Qian Gu... kau pasti sedang bercanda denganku, kan?!"
Akankah Song Qian sanggup menyelesaikan tugas mustahil membaca dan menghafal tiga kitab tebal sejarah Tiga Alam hanya dalam beberapa jam? Dan ruangan rahasia terlarang apakah yang akan ditemukan Song Qian di balik dinding Perpustakaan Agung Istana Chao Sheng yang dirancang khusus oleh Qian Gu untuknya?
Bersambung.......
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai.