Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - NAMA DI ATAS KERTAS
Lin Feng kembali ke toko Mo sebelum matahari naik tinggi.
Ia sudah makan sisa nasi yang dibungkus ibunya dan minum air dari sumur penginapan. Rusuknya masih kaku, tetapi ia bisa berjalan tanpa menahan napas setiap beberapa langkah. Pemilik penginapan membiarkannya menyimpan bungkusan di sudut ruang sampai malam, dengan syarat ia membayar tempat tidur sebelum lampu dinyalakan.
Mo sedang membuka jendela toko ketika Lin tiba.
“Kau datang lagi.”
“Kau bilang boleh kembali kalau ingin bekerja.”
“Aku bilang datang sebelum toko dibuka.” Mo melirik bayangan matahari di dinding. “Kau terlambat sedikit.”
“Maaf.”
“Kalau begitu, jangan buang waktu.”
Tumpukan keranjang baru memenuhi lantai belakang. Beberapa akar masih lembap, lainnya telah dijemur dan siap dibungkus. Mo menunjuk rak kosong di dekat meja. “Pilah yang kering dari yang rusak. Jangan menilai dari warna saja. Kalau ragu, taruh di nampan kanan.”
“Apa nama nampan kiri dan kanan?”
“Yang kiri untuk dijual. Yang kanan untuk diperiksa lagi.”
Lin Feng menarik napas. Kali ini ia tidak mencoba menebak lebih dulu. Ia memeriksa setiap potongan, menyentuh seratnya, lalu membandingkan dengan contoh yang Mo tunjukkan kemarin. Akar yang retak tetapi belum berubah warna masuk ke nampan kanan. Daun yang menghitam di bagian dalam dipisahkan. Ia bekerja lebih lambat, namun jumlah kesalahannya berkurang.
Menjelang siang, seorang pembeli datang membawa daftar bahan. Ia menyebut tiga nama dalam dialek kota. Lin Feng mengenali satu di antaranya dari game dan spontan menunjuk bundel yang salah.
Mo mengetuk meja. “Tahan.”
Pembeli itu menunggu.
Lin Feng menarik tangannya. Bundel yang ia tunjuk memiliki akar halus berwarna abu-abu, sedangkan nama yang disebut pembeli merujuk pada akar putih yang lebih keras. Keduanya memakai nama serupa di satu desa lain, atau setidaknya demikian kata catatan game yang pernah ia baca. Namun daftar pembeli jelas menggunakan kebiasaan pasar setempat.
“Yang ini?” Lin bertanya, menunjuk ke bundel putih.
“Benar,” kata pembeli. “Yang abu-abu itu untuk rebusan kulit. Aku mencari akar punggung-batu.”
Mo mengambil barangnya dan mencatat jumlah. Setelah pembeli pergi, ia menatap Lin Feng. “Kau terlihat yakin tadi.”
“Saya pernah membaca nama itu dengan sebutan berbeda.”
“Di mana?”
“Catatan lama.”
“Catatanmu tak dibawa ke pasar.” Mo menutup buku timbang. “Kalau kau ingin bekerja di sini, sebutkan apa yang kau lihat. Jangan memberi nama kalau kau belum tahu nama yang dipakai pembeli.”
Lin Feng mengangguk. “Saya mengerti.”
“Belum. Tapi setidaknya kau mendengar.”
Mo tidak berteriak atau mengusirnya. Ia hanya kembali menimbang bahan. Sikap itu membuat Lin lebih malu daripada jika lelaki itu memarahinya. Kesalahannya kecil, tetapi pembeli hampir membawa barang yang salah. Jika ia bekerja tanpa pengawasan, akibatnya bisa menjadi lebih besar.
“Apa ada nama resmi untuk semua bahan ini?” tanya Lin.
“Bisa ada tiga nama untuk satu tanaman dan satu nama untuk tiga tanaman berbeda.” Mo menuangkan air ke cangkir. “Nama yang dipakai petani tidak selalu sama dengan nama tabib, dan nama asosiasi kadang berbeda dari keduanya.”
“Lalu bagaimana cara memastikan?”
“Dengan melihat, menyentuh, mencium, membelah, dan mencatat tempat asalnya. Kadang-kadang dengan menguji sedikit. Tidak dengan mengingat satu gambar.”
Lin menatap daftar yang dibawa pembeli tadi. Kertasnya hanya memuat nama dan jumlah. Tidak ada gambar daun atau petunjuk kualitas. Ia menyadari bahwa bahasa pasar itu sendiri adalah bagian dari alkimia. Salah memahami nama bisa membuatnya membeli bahan yang keliru, bahkan sebelum ia menyalakan api.
Ketika Mo berbalik menuju ruang belakang, Lin melihat sebuah tungku kecil di sudut ruangan. Bentuknya dari besi tebal, dengan lubang udara di bagian bawah dan bekas jelaga di sisi atas. Di dekatnya ada rak berisi mangkuk porselen, pisau tipis, dan penjepit logam.
“Apakah itu tungku pil?” tanyanya.
Mo berhenti. “Kau tahu tentang tungku pil?”
“Dari membaca.”
“Banyak orang membaca.” Mo mengambil cangkirnya. “Aku Mo, alkemis terdaftar di asosiasi. Toko ini menjual bahan dan menyediakan ramuan sederhana. Tungku itu kupakai untuk pekerjaan yang tidak perlu dibawa ke asosiasi.”
“Berapa lama sampai bisa memakai tungku itu?” tanya Lin.
Mo meletakkan cangkirnya. “Aku bertahun-tahun memilah bahan sebelum guruku mengizinkanku memegang tungku. Percobaan pertamaku menghitamkan tiga bahan sekaligus dan membuat satu ruangan bau seperti rambut terbakar.”
Lin membayangkan menu alkimia yang hanya meminta bahan dan waktu. “Apa yang paling sulit?”
“Menyadari bahwa kau belum cukup tahu untuk memulai.”
Lin merasakan jantungnya sedikit berdebar. “Apakah aku boleh melihat prosesnya?”
“Tidak.”
Jawabannya begitu cepat hingga Lin tak sempat melanjutkan.
“Kenapa?”
“Karena kau belum bisa membedakan bahan yang kau pegang.” Mo menyesap air. “Kau ingin melihat api sebelum memahami apa yang masuk ke dalamnya.”
Lin menunduk. Ia tahu lelaki itu benar, meskipun bagian dirinya masih ingin melangkah lebih cepat. Di game, menu alkimia selalu tersedia begitu karakter mendapat resep. Di dunia ini, Mo tidak berutang kesempatan kepadanya hanya karena ia penasaran.
“Kalau aku belajar memilah dengan benar, apakah suatu hari aku boleh belajar lebih jauh?”
“Kalau kau masih datang setelah menyadari pekerjaan ini membosankan, mungkin.” Mo menunjuk kembali ke keranjang. “Untuk sekarang, pisahkan akar yang bisa dijual dari yang perlu diperiksa.”
Lin kembali duduk. Ia mulai menuliskan nama lokal pada potongan kertas bekas, bersama ciri yang dapat ia amati. Urat daun, warna bagian dalam, aroma setelah diremas. Ia tidak menuliskan fungsi berdasarkan ingatan game. Kolom itu ia biarkan kosong.
Menjelang sore, Mo memeriksa hasil kerjanya. Ada satu bundel yang harus dipilah ulang, tetapi tak ada bahan baik yang terbuang. Ia memberi Lin satu keping tembaga dan sebungkus kecil nasi dengan sayur rebus.
“Upah hari ini,” katanya. “Besok ada kiriman dari penjual kebun. Kalau kau datang, aku akan mengajarimu mencatat sumber bahan. Itu bukan berarti kau menjadi muridku.”
Lin menerima uang dan makanan itu. “Saya akan datang.”
“Lihat dulu bagaimana rasanya bangun pagi lagi.”
Di luar toko, ia memandang catatan kecil yang dibawanya. Kertasnya kotor oleh debu akar dan ada satu bagian yang basah kena air. Namun nama-nama di dalamnya tidak berasal dari layar. Ia mendapatkannya dari kesalahan, koreksi, dan pengamatan tangannya sendiri.
Untuk malam ini, satu keping cukup membayar tempat tidur. Makanan dari Mo menghemat uangnya.
Lin Feng berjalan kembali ke penginapan dengan catatan tersimpan di balik bajunya. Ia belum tahu bagaimana mengendalikan api, mengekstrak sari bahan, atau membentuk pil.
Namun ia mulai mengerti bahwa sebelum seorang alkemis memilih resep, ia harus terlebih dahulu memastikan apa yang sedang ia pegang.