Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Kalian tidak waras ya?" Bella sangat emosi.
Setelah mendengar semua yang dikatakan oleh suaminya tentang apa saja yang sebenarnya dilakukan Bima selama tiga tahun ini, Bella sungguh ingin mencekikk seseorang saat ini.
Zayn melambaikan tangan di depan Bella.
"Sayang, aku tidak ikut-ikutan!" bantah Zayn, "selama ini aku sudah sering menasehati Bima. Dia saja yang tidak mau dengar, dia bilang semuanya akan baik-baik saja. Sayang, aku sungguh..."
Tapi Bella sama sekali tidak menerima penjelasan ataupun pembelaan suaminya.
"Apanya yang tidak ikut-ikutan? Selama 3 tahun ini, kamu juga menutup rapat semuanya dariku kamu juga membohongi ku. Kamu tahu semua itu, tapi tidak bilang padaku. Kamu dan Bima sama saja, penipu, pembohong!"
Zayn tampak begitu sedih, wajahnya bahkan sudah pucat saat ini.
"Sayang..."
"Jangan panggil aku sayang! aku marah padamu. Jika terjadi sesuatu pada Kinan, tidak usah pulang ke rumah! Aku akan cari ayah baru untuk Sasha!"
"Sayang, jangan lakukan itu! aku akan cari Kinan. Aku janji tidak akan terjadi sesuatu padanya..."
"Penipu seperti kamu dan Bima. Mana bisa dipegang janjinya. Ingat ya, kalau Kinan kenapa-kenapa, aku akan mengeluarkan mu dari kartu keluarga kita!"
"Sayang..."
Brakk
Bella membanting pintu ruang kerja suaminya. Dia kesal sekali. Mendengar semua yang dikatakan Zayn tentang apa yang telah dilakukan Bima selama tiga tahun ini untuk Agnes. Sungguh membuat Bella terbakar. Dia saja merasa sangat marah, bagaimana kalau Kinan sendiri yang mendengar semua itu.
Bima membelikan sebuah villa mewah untuk Agnes di Dubai. Harga villa di negara itu sangat mahal, lalu sebuah mobil. Bahkan uang saku sebanyak 200 juta setiap bulannya. Dan itu sudah dilakukan oleh Bima selama 3 tahun. Bukankah sama saja menghidupi simpanan di luar. Uang saku Kinan saja hanya 300 juta, selisihnya bahkan tidak banyak. Bella benar-benar merasa seluruh kepalanya panas, hatinya juga merasa seperti terbakar. Dia marah dan kesal sekali. Ada pria seperti Bima di dunia ini? dia benar-benar tak habis pikir.
Sambil mengendarai mobilnya, dia harus memikirkan tempat yang mungkin akan dituju oleh Kinan. Dan Bella memiliki feeling yang kuat, kalau Kinan pasti berada di suatu tempat saat ini.
"Makam ayah David dan ibu Mela, pasti Kinan di sana" gumam Bella yang pada akhirnya melajukan mobilnya ke arah makam orang tua Kinan.
Di kantornya, setelah mendapatkan amukan dari istrinya. Zayn terus berusaha menghubungi Bima. Dia sungguh ingin memaki sahabatnya itu. Tapi sejak tadi nomor Bima terus saja sibuk.
"Dasar biang masalah, setelah membuat masalah untukku. Dia malah tidak bisa dihubungi. Aku benar-benar akan memukulnya dua kali kalau bertemu dengan nya, hah... tidak, aku harus pukul dia tiga kali. Sial, bagaimana ini? bagaimana kalau Bella benar-benar mencari ayah baru untuk Shasa!" panik Zayn dengan wajah yang menyedihkan.
Sementara itu, cahaya matahari yang mulai condong ke ufuk barat menyusup di antara pucuk-pucuk pohon tua, meninggalkan semburat jingga keemasan di sela dedaunan. Bayang-bayang nisan memanjang di atas rerumputan yang sedikit basah, sementara angin berembus pelan, menggoyangkan bunga-bunga liar yang tumbuh di sepanjang jalan setapak.
Hanya suara gesekan dedaunan dan kicau burung yang sesekali terdengar dari kejauhan. Beberapa makam tampak terawat dengan bunga-bunga segar, sementara sebagian lainnya mulai tertutup lumut dan rumput liar. Aroma tanah yang lembap bercampur dengan wangi bunga tabur yang masih baru, menciptakan suasana yang tenang sekaligus menyimpan kesedihan yang sulit dijelaskan.
Di antara deretan makam sunyi itu, duduk seorang wanita yang tengah terisak memeluk batu nisan hitam dengan nama Mela Desiana di sana.
Tak ada kata-kata yang terucap, benar-benar hanya isak tangis yang sudah terdengar sejak lebih dari setengah jam yang lalu.
Setelah menaburkan bunga di makam ayah dan ibunya. Kinan menangis terisak memeluk batu nisan ayahnya dan berpindah ke batu nisan ibunya.
Dia tak mengucapkan sepatah katapun, hari ini sebenarnya setelah pergi menemui Bima. Kinan juga ingin pergi ke makam ini, mengajak Bima. Memberitahu kedua orang tuanya, kalau dia tengah hamil saat ini. Keluarganya akan lengkap.
Siapa yang tahu, dia jutsru menemukan kebenaran yang tersembunyi selama tiga tahun. Bahwa orang yang bertanggung jawab atas kematian ibunya bahkan tidak pernah mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara. Justru bebas berkeliaran di luar negeri. Rasanya bukan hancur lagi, tapi terkoyak dan luluh lantah berkeping-keping hati dan perasaan Kinan saat ini.
Ingin mengatakan pada kedua orang tuanya di tempat itu. Mulutnya juga tidak bisa mengucapkan semua itu. Harapan ayahnya sebelum meninggal adalah Kinan dan Bima hidup rukun dan bahagia. Bima juga berjanji pada ayah Kinan saat itu, bahwa dia tidak akan pernah menyakiti Kinan. Akan menjaga Kinan dan tidak akan pernah membiarkan Kinan menangis.
Tapi kenyataannya, semua itu bohong. Semua itu palsu, hanya sebuah sandiwara demi kebebasan Agnes dari penjara.
Suara langkah kaki yang tadinya terdengar cepat, perlahan melambat.
Bella terlihat berkaca-kaca, melihat Kinan memeluk nisan ibunya.
"Kinan..."
Kinan menoleh, dia tentu saja tahu siapa yang memanggilnya. Kinan berdiri, air matanya mengalir semakin deras ketika dia berdiri. Bella berlari menghampiri Kinan dan Kinan memeluk Bella dengan tangisan yang makin menjadi.
Bella sampai di makam itu, pasti Bella sudah tahu apa yang telah terjadi. Kinan menumpahkan air matanya di pelukan sahabatnya.
"Mas Bima... Mas Bima menipuku, Bella! dia menipuku selama tiga tahun!"
Kinan kembali terisak. Bella memeluk Kinan dengan sangat erat. Air matanya juga tidak bisa dia tahan, Bella begitu marah pada Bima. Pria itu memang sangat keterlaluan.
Bella mengusap punggung Kinan perlahan. Dia tidak bicara apapun, Bella hanya membiarkan Kinan menumpahkan semua kesedihannya. Dia mengusap punggung sahabatnya dengan lembut, memastikan Kinan tahu, kalau Bella akan selalu ada di sisinya.
Di tempat lain, di rumah besar Bella dan Zayn. Bima sudah sampai di sana.
Pelayan yang membuka pintu, cukup terkejut karena Bima langsung masuk sebelum dipersilahkan. Meski memang kerap datang, tapi biasanya kan basa-basi dulu.
"Kinan! Kinan!"
Pelayan Bella bertambah bingung, karena Bima langsung meneriakkan nama Kinan.
"Tuan, nyonya Kinan tidak ada di sini. Seharian belum datang!" kata pelayan itu.
Tapi Bima sepertinya tidak percaya.
"Majikanmu yang menyuruhmu bicara begitu?" tanya Bima dengan dingin.
"Tidak tuan, nyonya Kinan, nyonya Bella dan tuan Zayn memang belum pulang!" jelas pelayan itu.
Bima melihat ke arah pekarangan rumah Zayn. Memang belum ada mobil yang biasa di pakai Bella di sana. Bima bertambah frustasi.
'Kinan, kamu dimana?' batinnya gelisah.
***
Bersambung...