Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Hutang Budi
Tekanan psikologis yang diberikan oleh Pak Baskoro dan Lidya bukanlah tekanan biasa. Namun, bukan itu satu-satunya alasan mengapa pertahanan Hendra mulai goyah.
Di balik statusnya sebagai sekretaris pribadi dan orang kepercayaan Aris, Hendra menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang sangat personal, sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun di perusahaan, bahkan oleh Aris sendiri.
Tujuh tahun lalu, Hendra bukanlah siapa-siapa. Ia adalah seorang pemuda miskin dari sebuah desa terpencil di pelosok Jawa, anak dari buruh tani yang terjerat hutang rentenir hingga rumah satu-satunya hampir disita paksa.
Dalam keputusasaan yang luar biasa, ketika ayahnya jatuh sakit parah dan tidak memiliki biaya pengobatan, Hendra hampir nekat melakukan tindakan kriminal di ibu kota.
Di titik terendah dalam hidupnya itulah, takdir mempertemukannya dengan Pak Baskoro Prakasa.
Tanpa sengaja mendengarkan kisah hidup Hendra, Pak Baskoro tidak hanya melunasi seluruh hutang keluarga Hendra dan membiayai pengobatan ayahnya sampai sembuh, melainkan juga menyekolahkan Hendra di universitas bisnis terbaik, membiayai seluruh hidupnya, dan melatihnya hingga ia menjadi pemuda cerdas yang dipercaya untuk memegang posisi kunci di sisi Aris.
Bagi Hendra, keluarga Prakasa, terutama Pak Baskoro dan Lidya bukanlah sekadar atasan tempat ia bekerja mencari gaji. Mereka adalah penyelamat hidupnya, orang tua kedua yang mengangkatnya dari lumpur kemiskinan dan membuang jauh-jauh nasib sialnya ke tempat sampah sejarah, memberinya kehormatan, masa depan, dan martabat sebagai manusia.
"Hutang budiku pada keluarga ini tidak akan pernah bisa lunas bahkan jika aku menyerahkan nyawaku sekarang," batin Hendra bergemuruh hebat di dalam dadanya.
Hendra menundukkan kepalanya semakin dalam. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya yang saling mencengkeram erat di atas pangkuan.
Ia terjebak di tengah-tengah dua kesetiaan yang saling menghancurkan: kesetiaannya pada Aris, bos sekaligus sahabat yang mempercayainya tanpa syarat... dan rasa baktinya yang mutlak kepada orang tua yang telah menciptakan dirinya menjadi sosok seperti sekarang ini.
Pak Baskoro, yang sangat cerdas membaca perubahan gestur tubuh Hendra, menyadari bahwa pertahanan pemuda itu sudah mulai runtuh. Ia menggeser duduknya sedikit maju dan menatap Hendra dengan pandangan yang penuh wibawa namun sarat akan pengertian.
"Hendra," panggil Pak Baskoro. "Kamu adalah pemuda yang cerdas. Kamu tahu persis bahwa kami tidak akan pernah mencelakakan Aris. Tapi kebohongan, seberapa rapi pun ia dibungkus, pada akhirnya akan meledak dan menghancurkan orang yang paling kita cintai. Ceritakan pada kami... siapa sebenarnya wanita itu? Apa yang disembunyikan Aris dari kami?"
Hendra menutup matanya rapat-rapat. Seluruh otot di wajahnya menegang kaku. Ia menarik napas panjang, dan mencoba menahan getaran di dalam dadanya sebelum ia membuka suara.
"Bapak... Ibu..." bisik Hendra dengan suara yang sangat parau, bahkan hampir berbisik. "Apa yang dikatakan oleh Pak Aris kepada kalian beberapa hari lalu... sebagian besar adalah kebohongan yang sengaja disusun untuk melindungi ketenangan hidup Nona Raya."
Lidya membelalakkan matanya, tangannya spontan menutup mulutnya yang sedikit terbuka. "Jadi... cerita tentang kecelakaan itu benar, tapi identitas wanita itu...?"
Hendra mengangguk pelan, lalu membuka matanya kembali dan menatap lurus ke arah Pak Baskoro.
"Nona Raya bukanlah wanita dari kalangan terpandang atau memiliki status sosial yang setara dengan keluarga Prakasa, Bu," ungkap Hendra blak-blakan. "Beliau adalah istri dari seorang pria biasa, seorang warga perantauan biasa yang bekerja secara lepas di kota ini. Malam itu... malam saat kecelakaan maut di persimpangan jalan lingkar terjadi..."
Hendra berhenti sejenak dan menelan ludahnya yang terasa sangat pahit dan kering.
"...malam itu, kendaraan yang dikemudikan oleh Pak Aris mengalami benturan hebat dengan sedan putih yang dikendarai oleh suami Nona Raya, seorang pria bernama Ardiansyah"
Deg!
Nama Ardiansyah kembali disebut di dalam ruangan tertutup itu, menghantam udara dengan kekuatan penuh. Lidya terperanjat hebat, sementara raut wajah Pak Baskoro berubah menjadi sangat gelap dan mengeras.
"Ardiansyah...?" ulang Pak Baskoro dengan nada tajam. "Jadi kecelakaan itu... bukan kecelakaan biasa? Siapa yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu, Hendra?!"
Hendra menundukkan kepalanya makin dalam, rasa bersalah dan ketakutan pun bercampur aduk di dalam dadanya.
"Kecelakaan itu terjadi karena... kondisi kelalaian di jalan raya," jawab Hendra hati-hati, memilih kalimat untuk melindungi Aris dari jeratan hukum terburuk. "Suami Nona Raya, Ardiansyah, tewas seketika di tempat kejadian. Sementara Nona Raya dan balita mereka, Cyla, berhasil selamat namun Nona Raya mengalami benturan parah di kepala yang menyebabkan amnesia total dan hilang ingatan secara permanen."
Lidya menggelengkan kepalanya perlahan, air mata keterkejutan menetes di pipinya. "Ya Tuhan... Jadi... wanita itu adalah istri dari korban kecelakaan yang ditabrak oleh putra kita sendiri?!"
"Iya, Bu," aku Hendra lirih. "Pak Aris merasa dihantui oleh rasa bersalah yang luar biasa besar. Beliau mengira dirinyalah pembunuh yang merenggut nyawa suami wanita tersebut. Karena tidak sanggup melihat kehancuran hidup Nona Raya dan bayi kecilnya, Pak Aris membawa mereka ke rumah pribadinya, membangun dunia semu, dan... membohongi Nona Raya dengan mengatakan bahwa beliau adalah kekasihnya sejak sebelum kecelakaan terjadi."
Suasana di dalam ruang kerja itu mendadak menjadi sangat sunyi. Tidak ada suara selain deru halus pendingin udara.
Pak Baskoro berdiri dari kursinya. Pria paruh baya berwibawa itu berjalan perlahan menghampiri jendela dan menatap keluar ke arah kegelapan malam dengan raut wajah yang sangat rumit, campuran antara kemarahan sebagai seorang ayah, keterkejutan atas tindakan gila putranya, dan rasa ngeri menyadari betapa besarnya risiko skandal hukum yang nyaris menghancurkan nama keluarga Prakasa jika berita ini sampai bocor ke media massa.
"Bodoh..." gumam Pak Baskoro dingin seraya mengepalkan tangannya di samping tubuhnya. "Aris benar-benar bertindak di luar akal sehat. Membawa istri korban kecelakaan ke rumahnya, memupuk kebohongan sebesar itu... Jika hal ini tercium oleh para pesaing bisnis kita atau pers investigasi, riwayat keluarga Prakasa akan habis dalam semalam!"
Lidya melangkah mendekati suaminya dan memegang lengan Pak Baskoro dengan tangan yang gemetar. "Mas... apa yang harus kita lakukan? Kita harus mengeluarkan wanita itu dari rumah Aris! Kita harus melenyapkan potensi ancaman ini sekarang juga!"
Mendengar kata-kata Lidya "melenyapkan potensi ancaman", Hendra terperanjat kaget. Rasa panik yang luar biasa merayap ke dalam jiwanya. Ia pun langsung berdiri dari kursinya, membungkukkan badan dalam-dalam dengan suara bergetar yang putus asa.
"Tolong, Bapak... Ibu... Jangan sakiti Nona Raya!" seru Hendra.
Bersambung...