Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan buatan ibu tili : 25
“Mas ....” manik Saniya membulat, pipinya menekan sudut bibir. Ciuman paksaan ulah si cerdik banyak akal masih menempel
Ardan tertawa kencang, suka sekali hasil dari perbuatannya. Karena kesal, tidak diperbolehkan digendong ibu tiri, maka dia berulah. Kedua tangannya mendorong pipi ayah dan sang ibu sekaligus.
Namun bukan sisi wajah saling menempel, Yarash yang kebetulan menoleh ke Saniaya, berakhir mencium pipi istrinya.
“Milip hidung Sapi.” Masih kurang puas, kepala papi dan ibu tiri dirangkul erat.
Saniya menggelitik perut Ardan sampai empunya menggeliat kegelian.
Dengan masih memeluk Saniya dari belakang, Yarash menurunkan Ardan ke meja dapur.
Saniya memanfaatkan kesempatan, ia merunduk lalu keluar dari kungkungan pria yang baru saja mencium pipinya.
“Papi culang! Ibu tili kabul kan. Ndak kawan lah kita,” Ardan kesal bukan main, kesenangannya dihentikan.
Sepasang suami-istri dengan balitanya, tidak melihat seorang gadis mengepalkan tangan, wajahnya memerah, dan air mata meluncur di pipi.
Tatiana Wilman sakit hati menyaksikan keintiman ayah dengan wanita asing yang tak disukainya. Dia berbalik badan, berbelok arah menuju ke suatu tempat.
“Kamu lihat itu!” Yarash menekan wajah putranya dengan kedua tangan, lalu memutar sedikit ke arah Saniya yang sudah duduk di kursi meja makan. “Pipi Mami merah karena ulah Ardan, minta maaf sana!”
Kulit Saniya putih sehat, ketika tertekan sesuatu sedikit keras maupun kuat, maka akan meninggalkan bekas.
Ardan merasa bersalah, dia mencondongkan badan dari tempatnya duduk. “Sini Ibu tili. Tanganku gak nyampe.”
Saniya mendekatkan wajahnya ke balita terlihat serius, tidak lagi bercanda.
Kedua telapak tangan Ardan terbuka dan saling merapat, wajahnya menunduk, dan … duihh.
Air liur digosok-gosok, kemudian tangannya terulur. “Bial cepet sembuh halus disembul dulu.”
Heh!
Pekikan Saniya disahuti teriakan terkejut suaminya yang sama-sama tidak menyangka akan apa yang mau dilakukan Ardan.
“Siapa yang ngajarin, Nak?” Yarash tercengang.
“Lek Lele, sama mang Susu,” jawabnya polos.
“Ajaran sesat itu, gak boleh ditiru!” Yarash tidak memperhatikan kosakata, terlanjur terkejut.
“Apa itu sesat?” Tangannya masih terangkat.
Suci bergerak cepat, mengelap telapak tangan Ardan menggunakan tisu basah.
“Sesat itu hal gak boleh dilakukan, gak baik, gak bagus,” Saniya yang menjawab. “Memangnya lek Lawi dan mang Suip beneran ngajarin seperti tadi?”
“Gak benelan.” Ardan menggelengkan kepalanya. “Aku ikutan.”
Saniya tidak paham, ia lantas menoleh ke Yarash yang duduk di ujung meja.
“Mungkin sewaktu mereka mengatakan seperti itu, pas menonton televisi atau menyaksikan video di ponsel,” ucap pria masih memakai kaos olahraga.
“Waktu itu kami menonton televisi jejak petualang, Pak, pas kebetulan acaranya di rawa-rawa menangkap ikan, terus ada yang digigit Pacet, mereka melepaskan hewan menghisap darah dengan air ludah,” jelas Suci.
“Ardan nanya tentang kegunaan air liur, terus dijelaskan sama lek Lawi dan mang Suip,” lanjutnya.
Saniya mengangguk mengerti, sekarang dia mempercayai kalau Ardan balita cerdas, daya ingatnya kuat, pintar meniru, harus hati-hati dalam berucap maupun bersikap di depannya.
“Mbak, Tolong panggil Tatiana,” Yarash meminta bantuan mbak Juraida.
Asisten rumah tangga mengangguk, lalu dia keluar dari ruang makan.
“Ayo kita sarapan. Aroma mie nya sungguh menggiurkan,” perut Yarash berbunyi nyaring.
“Semoga rasanya seenak penyajiannya yang memanjakan mata,” tutur Saniya, sedikit merasa kurang percaya diri.
Disaat orang tuanya berbincang, diam-diam Ardan mencondongkan badan ke depan, mengambil paha ayam goreng mentega. “Panas, tanganku kebakal!”
Paha ayam terjatuh lagi ke atas piring, Ardan merengek meminta Suci meniup tangannya.
Bibi mendekat, berniat membantu mencuil daging ayam masih panas untuk Ardan.
“Biar saya saja, Bi. Bibi dan lainnya juga sarapan ya, habiskan menu yang kita masak tadi,” Saniya mencegah bi Lilik, dan menyuruh Suci juga meninggalkan meja makan.
Kedua pelayan pergi ke dapur basah. Diatas meja lipat sudah dibentangkan, terhidang menu sarapan yang sama. Ifu mie seafood dan ayam goreng mentega.
“Abang makan mie nya dulu ya, kan ayamnya masih panas,” ia tunggu sampai Ardan memutuskan.
“Yang banyak-banyak,” pinta si kecil banyak gaya.
Sebelum mengambilkan sarapan untuk anak sambungnya, terlebih dahulu Saniya melayani Yarash yang memandang kagum.
“Terima kasih, Mami,” ucapnya penuh semangat, mengajarkan adab ke putranya yang jarang sekali berkata demikian.
“Sama-sama, Pi,” sahut Saniya mengimbangi.
Teruntuk Ardan, Saniya ambilkan porsi lebih sedikit, tidak hanya mie, udang, potongan sosis saja, sayur sawi dan tauge juga diikutkan.
“Gak mau makan sayul, aku tu bukan mbek,” protesnya.
“Ini rasa sayurnya beda. Gurih, lezat, gak seperti rasa rumput,” bujuk Saniya.
“Tipu-tipu.” Ardan memukul meja kursinya menggunakan garpu.
Saniya menaruh piring karakter Mickey mouse di meja marmer, belum diberikan ke Ardan. Menggunakan garpu, diangkatnya tumis sayur tauge sekaligus sawi. “Abang coba dulu sedikit.”
Mulut kecilnya enggan terbuka lebar, hanya cukup masuk sebatang tauge dan sepotong daun sawi hijau.
Awalnya setengah hati Ardan mengunyah, kemudian matanya berbinar dengan mulut bergerak cepat. “Lasanya gak kayak lumput. Mau lagi ibu tili!”
Barulah piring makan Ardan diletakkan di atas meja makannya.
“Saniya, kamu udah bisa buka restoran ini. Rasanya beneran lezat, pas di lidah saya,” pujinya jujur, masakan sang istri enak sekali.
“Syukurlah kalau mas Yarash suka,” balasnya dengan wajah berseri-seri.
Yang sedari tadi ditunggu pun akhirnya tiba. Tatiana menarik kuat kepala kursi hingga kakinya berbunyi berderit.
Bokongnya dihempaskan ke atas tempat duduk. Tidak seperti Ardan yang antusias menyantap menu buatan ibu tirinya, Tatiana terang-terangan memandang penuh cemooh.
Yarash yang dari semalam mendiamkan putrinya, berkata pelan. “Cepat sarapan, Kak. Nanti kamu telat ke sekolah. Ifu mie buatan mami Saniya enak banget loh.”
“Benelan, Kak. Mantul lasanya.” Kedua jempol tangan Ardan teracung, sudut bibirnya berminyak.
“Aku gak suka mie. Mau sarapan roti saja. Bibi —”
Saniya memotong cepat kalimat gadis berseragam sekolah swasta dengan tarif spp perbulan lebih mahal dari gajinya mengajar. “Tatiana ... roti ada di depan kamu, lengkap dengan selai, pisau, garpu, dan piring. Bibi, Mbak dan lainnya sedang sarapan, jangan diganggu!”
“Kamu itu ya, selalu saja mau buat aku jelek dimata Papi! Picik banget!” bentak Tatiana, matanya berkilat marah.
Brak!
Yarash meninju meja, dia berdiri dengan kedua tangan mengepal, bertumpu di atas meja.
Ardan terlonjak, terlalu terkejut membuatnya takut lalu menangis kencang, dan tidak sengaja menjatuhkan piringnya.
Ifu mie seafood berserak dilantai marmer putih.
Suci tergopoh-gopoh lari ke meja makan, mengangkat anak asuhnya dan membawa ke belakang. Menenangkan balita yang baru saja menyantap makanan lezat olahan ibu tirinya. Bahkan ayam goreng belum dicicipi.
“Papi perhatian sikap kamu makin kurang ajar. Sudah Papi tahan-tahan agar tidak terpancing emosi, tetapi tingkahmu semakin menjadi. Mau mu apa, Tatiana Wilman?”
“Aku gak suka dia!” Jarinya sangat lancang menuding wajah Saniya yang duduk tenang. “Maunya Papi sama mommy Jena, bukan si kaki buntung itu!”
“Tatiana!” Tangan Yarash terangkat tinggi. Amarahnya meledak tak dapat ditahannya lagi.
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...