Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
.
Alena masih berdiri dengan perasaan lega yang sulit disembunyikan karena akhirnya ia mendapatkan pekerjaan. Meski seperti dunia yang sedang terbalik di hadapannya. Seorang direktur operasional yang dulu memiliki asisten pribadi, kini malah menjadi asisten orang lain. Namun bagi Alena, hal itu sama sekali bukan masalah. Yang terpenting kini ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, tidak lagi bergantung pada keluarga yang telah mengusirnya.
"Nona Alena, silakan ikut saya ke ruang administrasi sebentar, untuk menandatangani berkas perjanjian kerja." Suara staf HRD itu membuyarkan lamunan Alena.
Gadis itupun mengangguk cepat lalu mengikuti langkah petugas itu menuju ruangan HRD.
Tanpa Alena sadari, di balik pintu ruangannya sendiri, Nathan memperhatikan kepergian gadis itu dari kejauhan. Pria itu berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Sorot matanya mengikuti setiap langkah Alena hingga gadis itu menghilang di balik pintu ruang HRD.
Nathan kembali ke kursi kebesarannya dan menyalakan laptopnya untuk melihat rekaman kamera pengawas yang ada dalam ruang HRD. Terlihat olehnya Alena yang sudah duduk berhadapan dengan Bu Martha, Kepala Bagian SDM yang memberikan map berisi dokumen di atas meja.
"Silakan dibaca dengan teliti dulu, Nona." Suara Kepala Bagian SDM terdengar di telinga Nathan. "Setelah setuju, Anda bisa langsung tanda tangan di tempat yang sudah ditandai."
Nathan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan mata tetap mengamati setiap gerak-gerik Alena. Matanya tak lepas dari Alena yang mulai membaca lembar demi lembar dengan saksama. Sesekali tampak kening gadis itu berkerut.
Sementara itu di ruang HRD…
Alena tampak terdiam seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. Mata gadis itu terpaku pada satu kalimat.
“Membayar penalti sepuluh milyar jika berhenti sebelum selesai masa kontrak?” tanya gadis itu seraya mengangkat wajah menatap wajah Bu Martha.
"Iya,” jawab Bu Martha tenang. “Dan itu juga berlaku bagi perusahaan jika yang melanggar kontrak," lanjutnya. “Jadi, misalkan perusahaan memberhentikan Anda sebelum selesai masa kontrak, maka pihak perusahaan yang wajib membayar penalti. Kami ingin memastikan kedua belah pihak tidak merasa dirugikan.”
Jari Alena tanpa sadar mengetuk-ngetuk meja dengan ritme pelan. Sepuluh milyar? Syarat itu terasa berat. Namun kemudian ia teringat bahwa untuk saat ini tidak ada tempat lain yang bisa ia tuju, mungkin dia memang tidak memiliki pilihan lain. Apalagi gaji yang diberikan oleh perusahaan itu memang cukup besar, meskipun harus diimbangi dengan tanggung jawab yang besar juga.
Alena mengambil nafas dalam mengingat dirinya yang saat ini belum memiliki tempat tinggal. Tidak mungkin selamanya ia akan menumpang di apartemen Nathan. Sedangkan untuk kembali ke Bagaskara juga ia merasa enggan. Ia lebih ingin membuktikan bahwa dirinya bisa berdiri tanpa nama Bagaskara. Dan kesempatan itu kini ia dapatkan di Wijaya Kusuma. Kontrak selama lima tahun ini akan menjadi ajang pembuktian bagi dirinya.
Akhirnya Alena mengambil pena yang disodorkan, lalu membubuhkan tanda tangan dengan rapi di setiap kolom yang diperlukan. Dadanya sedikit berdegup kencang. Membayangkan setelah hari ini dia resmi menjadi asisten pribadi tuan Nathan Wijaya Kusuma..
Setelah Alena selesai menandatangani semua bagian miliknya, Kepala SDM juga ikut membubuhkan tanda tangan selaku perwakilan dari perusahaan, kemudian menyimpan kembali dokumen itu.
Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya dan tersenyum manis. Ada raut puas di gurat wajahnya. Atau… lega karena berhasil menyelesaikan satu perintah.
“Selamat, Nona Alena. Sekarang Anda adalah bagian dari perusahaan Wijaya Kusuma. Anda bisa mulai bekerja besok pagi," ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Alena.
"Terima kasih, Bu,” jawab Alena menyambut uluran tangan itu. "Saya berjanji akan melakukan yang terbaik bagi perusahaan.”
Setelah itu, Alena berpamitan dan melangkah keluar meninggalkan ruangan dengan perasaan campur aduk. Senang, lega, namun juga ada sedikit rasa gugup. Gadis itu menekan dadanya yang sejak tadi berdebar tanpa alasan.
Setelah Alena pergi, Kepala SDM segera keluar dari ruangan itu sambil membawa map berisi kontrak yang baru saja ditandatangani itu menuju ruangan presiden direktur.
Sesampai di ruangan Nathan, Bu Martha mengetuk pintu pelan.
“Masuk!"
Suara Nathan terdengar dan wanita itu pun membuka pintu lalu melangkah menuju meja kerja Nathan.
"Permisi, Tuan. Saya membawa dokumen kontrak yang sudah ditandatangani oleh Nona Alena,” lapornya sambil menyodorkan map di tangannya ke atas meja tepat di hadapan Nathan.
Nathan mengambil map tersebut, lalu dengan telapak tangannya mengisyaratkan agar Bu Martha meninggalkan ruangannya.
Bu Martha mengangguk lalu membungkukkan sedikit badannya kemudian berjalan keluar.
Nathan menatap nama Alena Bagaskara yang tertulis jelas di bawah tanda tangan dengan sudut bibirnya yang perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan.
Lima tahun. Selama lima tahun ke depan, Alena akan tetap berada di dekatnya.
Dan untuk alasan yang bahkan enggan ia akui kepada dirinya sendiri
"Selamat datang di hidupku, Alena," ucapnya pelan, matanya masih terpaku pada nama itu. "Mulai sekarang tidak akan ada orang yang berani menyentuhmu."
Nathan menutup map perlahan, lalu menyimpannya seolah menyimpan sesuatu yang paling berharga.
Di sisi lain, Alena, gadis itu sama sekali tak menyadari bahwa sejak tanda tangan itu tergores, ia bukan hanya terikat pada sebuah pekerjaan, tapi juga pada seorang pria bernama Nathan Wijaya Kusuma. Keinginannya untuk membalas apa yang telah dilakukan oleh Selena, kini telah menjerat hidupnya sendiri. Ada rantai tak kasat mata yang mengikat tangan dan kakinya.
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣