"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 - Surat Di Hadapan Notaris
Ratna mencoba menunda pembicaraan notaris selama tiga hari.
Hari pertama, ia berkata Kakek Hadi perlu istirahat. Hari kedua, ia berkata Bambang sedang sibuk mengurus vendor butik. Hari ketiga, ia berkata tidak baik membahas harta saat orang tua baru pulang dari rumah sakit.
Kakek Hadi mendengarkan semuanya.
Lalu pada hari keempat, ia meminta Safira menelepon notaris lama keluarga.
"Kakek ingat namanya?" tanya Safira pelan.
"Pak Darmawan."
Ratna yang duduk di ruang keluarga langsung menoleh. "Pak Darmawan sudah tua, Pak."
"Kalau dia mati, cari anaknya."
Kevin yang sedang minum hampir tersedak.
Safira menunduk menyembunyikan senyum.
Akhirnya, notaris datang Sabtu pagi. Namanya bukan Pak Darmawan, melainkan anaknya, Ibu Nisa Darmawan. Perempuan empat puluhan itu datang dengan map kulit, kacamata tipis, dan cara bicara yang tenang.
Arga ikut hadir karena Safira memintanya.
"Kamu yakin?" tanya Arga sebelum berangkat. "Ini urusan keluargamu."
"Karena itu aku butuh orang yang membuatku tidak mudah digiring."
Arga mengangguk. "Saya ada."
Di ruang tamu rumah Santoso, semua berkumpul. Bambang duduk di samping Kakek. Ratna di sisi lain, wajahnya penuh senyum yang dipaksakan. Rania datang dengan alasan menghormati Kakek, tetapi Safira tahu kakaknya tidak mau ketinggalan pembicaraan saham. Kevin terlihat bosan sampai Ibu Nisa membuka dokumen.
"Pak Hadi ingin membuat surat pernyataan pembagian aset semasa hidup dan penyesuaian wasiat, benar?" tanya Ibu Nisa.
Kakek mengangguk.
"Saya perlu memastikan Bapak dalam kondisi sadar dan tidak dipaksa."
Ratna langsung berkata, "Tentu tidak ada yang memaksa. Hanya saja Bapak kadang lupa."
Ibu Nisa menatap Ratna sebentar, lalu kembali kepada Kakek. "Pak Hadi, hari ini hari apa?"
"Sabtu."
"Bapak tahu kita berada di mana?"
"Rumah saya. Yang catnya dipilih Ratna, padahal saya dulu mau putih, bukan krem."
Bambang batuk menahan tawa.
Ratna wajahnya berubah.
Ibu Nisa tersenyum tipis. "Bapak tahu siapa saja yang hadir?"
Kakek menyebut satu per satu. Saat sampai pada Arga, ia berkata, "Suami Safa. Cucunya Surya yang pura-pura biasa."
Safira menatap Kakek.
Arga hanya menunduk sopan.
Ratna dan Rania saling pandang.
Ibu Nisa mencatat. "Baik. Kita lanjut."
Aset yang dibahas bukan seluruh kekayaan besar seperti sinetron. Keluarga Santoso punya rumah, ruko lama di Pasar Baru, sebagian saham di PT Santoso Busana, dan beberapa deposito. Selama ini semua dikelola Bambang dan Ratna, tetapi atas nama Kakek masih ada bagian penting.
Kakek ingin membagi sebagian saham dan ruko lama kepada cucu-cucunya, termasuk Safira.
Ratna langsung tegang.
"Pak, Safa sudah punya usaha sendiri. Rania masih membantu butik keluarga. Kevin juga nanti perlu modal."
Kakek menatapnya. "Safa juga cucu."
"Bukan begitu. Tapi setelah menikah, kebutuhannya sudah ditanggung suami."
Safira hampir membuka mulut, tetapi Kakek lebih dulu berkata, "Kalau perempuan menikah lalu hilang haknya, kenapa laki-laki menikah tidak hilang?"
Ruangan sunyi.
Ibu Nisa tidak bereaksi, tetapi penanya berhenti sesaat.
Kakek melanjutkan, "Safa menjaga saya saat semua sibuk. Bukan karena itu dia dapat bagian. Dia dapat bagian karena dia cucu. Tapi jangan lupakan siapa yang tinggal."
Ratna memerah. "Pak, kami juga menjaga."
"Kamu menyuruh Safa."
Kevin menunduk melihat ponsel. Rania menggigit bibir.
Bambang memejamkan mata.
Safira tidak merasa menang. Ia justru ingin menangis.
Kakek bukan sedang memberinya hadiah karena kasihan. Kakek sedang mengembalikan namanya ke dalam keluarga yang sering menghapusnya.
Ibu Nisa menjelaskan mekanisme hukum. Ada bagian yang bisa dibuat sebagai hibah semasa hidup, ada yang harus diatur lewat wasiat dengan batas tertentu, ada yang terkait saham perusahaan dan perlu persetujuan administrasi PT. Semua harus resmi, tidak bisa hanya dengan ucapan.
Arga mendengarkan dengan serius.
Ratna beberapa kali mencoba menyelipkan kalimat tentang Kevin sebagai anak laki-laki, tetapi Ibu Nisa selalu mengembalikan ke dokumen.
"Kita bicara aset atas nama Pak Hadi, Bu. Bukan asumsi keluarga."
Safira hampir ingin bertepuk tangan.
Setelah dua jam, rancangan awal selesai. Kakek akan menghibahkan sebagian kecil saham PT Santoso Busana kepada masing-masing cucu, termasuk Safira, Rania, dan Kevin. Ruko lama di Pasar Baru akan tetap dikelola keluarga, tetapi hasil sewanya dibagi sesuai persentase. Rumah tetap untuk Bambang selama ia merawat Kakek dan tidak boleh dijual tanpa persetujuan tertulis.
Ratna terlihat tidak puas.
Kevin akhirnya memperhatikan saat mendengar kata saham.
"Berarti aku dapat saham?"
Kakek menatapnya. "Kalau kamu tidak belajar kerja, sahammu cuma angka."
Kevin cemberut.
Rania bertanya halus, "Kalau Safa punya saham, apakah dia ikut mengambil keputusan butik?"
Safira langsung tahu arah pertanyaan itu.
Sebelum ia menjawab, Arga berkata, "Itu tergantung jenis saham dan anggaran dasar perusahaan. Sebaiknya dibaca dulu sebelum diasumsikan."
Semua menatapnya.
Rania tersenyum tipis. "Mas Arga mengerti hal begitu?"
"Sedikit."
Ibu Nisa memandang Arga dengan mata yang agak menilai. "Betul. Kita perlu lihat dokumen PT."
Rania kehilangan senyum.
Setelah notaris pulang, Ratna tidak tahan lagi.
"Pak, Ratna hanya khawatir. Safa sekarang punya suami. Kalau saham itu jatuh ke tangan orang luar bagaimana?"
Safira berdiri. "Ma."
Ratna menatapnya. "Apa? Mama bicara fakta. Kamu baru menikah. Kita belum tahu keluarga suamimu seperti apa."
Arga menatap Ratna, tetapi Safira mengangkat tangan sedikit, meminta ia tidak bicara.
"Saham itu atas namaku. Kalau suatu hari ada keputusan bisnis, aku yang bicara. Jangan gunakan Mas Arga sebagai alasan untuk menghapus hakku."
"Kamu semakin pintar bicara."
"Karena akhirnya ada yang bertanya pendapatku."
Kakek tersenyum puas.
Bambang berkata pelan, "Sudah. Kita ikuti proses notaris."
Ratna berdiri. "Terserah."
Ia pergi ke dapur dengan langkah keras.
Rania mendekati Safira setelah itu. Suaranya rendah.
"Kamu puas?"
"Tidak."
"Bohong."
Safira menatap kakaknya. "Aku tidak puas melihat keluarga kita harus dipaksa notaris hanya agar semua orang mengakui aku punya hak."
Rania terdiam.
"Kalau Kakak takut aku merebut sesuatu, tenang saja. Aku sedang membangun milikku sendiri."
Safira mengambil tas.
Arga pamit kepada Kakek, lalu mengikuti Safira keluar.
Di halaman, mobil putih Safira terparkir di samping mobil Rania yang jauh lebih mahal. Untuk pertama kalinya, Safira tidak merasa mobilnya lebih rendah.
Arga membuka pintu penumpang, tetapi Safira berhenti.
"Mas Arga."
"Iya?"
"Terima kasih sudah tidak mengambil alih."
"Kamu tidak membutuhkan saya untuk menang."
"Aku tidak merasa menang."
"Memang bukan kemenangan. Ini pengakuan."
Safira menatap rumah Santoso.
Pengakuan.
Kata itu terasa lebih tepat.
Ia masuk ke mobil. Di spion, ia melihat Kakek Hadi di teras, melambaikan tangan pelan.
Safira membalas lambaian itu.
Mungkin suatu hari, rumah itu tidak lagi terasa seperti tempat yang harus ia taklukkan.
Mungkin cukup menjadi tempat yang pernah ia tinggalkan tanpa kehilangan dirinya.
Di perjalanan pulang, Safira tidak banyak bicara. Arga membiarkan radio menyala pelan. Jalan Bandung sore itu padat, tetapi Safira merasa pikirannya jauh lebih penuh daripada lalu lintas.
"Kamu menyesal?" tanya Arga akhirnya.
"Soal apa?"
"Menerima bagian dari Kakek."
Safira memandang ke depan. "Tidak. Tapi aku takut."
"Takut mereka makin membencimu?"
"Takut aku terlihat serakah."
"Meminta hak bukan serakah."
"Kalau kalimat itu ditulis di poster motivasi, mudah dipercaya."
"Kalau diucapkan suamimu?"
Safira menoleh. Arga tetap melihat jalan, tetapi tangannya di setir terlihat lebih tegang.
"Sedikit lebih mudah," jawab Safira.
Arga mengangguk.
Safira menghela napas. "Aku tidak ingin hidupku habis membuktikan bahwa aku bukan pencuri di rumah sendiri."
"Maka jangan buktikan dengan membungkuk. Buktikan dengan catatan, dokumen, dan sikap."
Safira tersenyum kecil. "Kamu benar-benar cocok berteman dengan Bu Nadia."
"Saya anggap itu pujian."
Di lampu merah, Arga menoleh. "Dan Safa, kalau suatu hari kamu memilih tidak terlibat di bisnis Santoso sama sekali, itu juga hakmu."
Safira menyerap kalimat itu. Hak untuk menerima. Hak untuk menolak. Dua-duanya terasa baru.
Ia menatap Arga. "Kalau aku memilih menolak, kamu tidak akan bilang aku menyia-nyiakan kesempatan?"
"Tidak."
"Kalau aku menerima?"
"Saya bantu kamu membaca risikonya."
Safira mengangguk pelan.
Itu bukan jawaban yang membuat pilihan lebih mudah. Tapi setidaknya, pilihan itu terasa benar-benar miliknya.