NovelToon NovelToon
Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Dark Romance
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.

Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.

Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.

Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Takdir Baru

Malam itu hujan mengguyur bumi. Livia mencengkeram kemudi mobilnya dengan sangat erat. Pandangannya kabur karena air mata yang terus mengalir tanpa henti. Isak tangisnya memenuhi kabin mobil yang sempit, terdengar pilu di sela-sela gemuruh petir.

Setiap kali ia mengerjap, bayangan Axel kembali menghantamnya. Rasa sakitnya bukan lagi sekadar patah hati, tapi lebih dari kehancuran harga diri yang lumat diinjak-injak.

Pengkhianatan itu sempurna, rumah dikuasai pelayan yang tidak tahu diri, selalu tersisihkan, dan sekarang, kalung zamrud warisan nenek buyutnya melingkar di leher seorang wanita yang sedang bersandiwara sekarat.

"Brengsek... mereka semua brengsek!" raung Livia.

Jalanan menuju rumah orang tuanya melewati rute pinggiran kota yang gelap, membelah bukit dengan tikungan tajam yang menantang maut. Livia tidak peduli. Ia hanya ingin menjauh secepat mungkin.

Saat ia melaju di sebuah tikungan buta, sorot lampu putih yang sangat terang menghantam matanya. Di depannya sebuah pohon besar tumbang melintang jalan, dan tepat di belakang pohon itu, berjejer iring-iringan mobil hitam yang berhenti total.

"Astaga!"

Livia menginjak rem sekuat tenaga. Bunyi decitan ban yang bergesekan dengan aspal membuat linu telinga. Mobilnya tergelincir, berputar 180 derajat sebelum akhirnya berhenti tepat setelah ia menubruk bumper sebuah SUV hitam mewah.

Dugh!

Jantung Livia berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. Nafasnya memburu. Selama beberapa detik, hanya ada kesenyapan sebelum akhirnya pintu SUV itu terbuka.

Seorang pria dengan tubuh tegap dan setelan jas hitam yang kaku turun dari sana. Ia memegang payung hitam besar.

Livia merasa harus keluar. Ia tahu ia hampir menyebabkan kecelakaan fatal. Dengan kaki yang lemas dan pakaian yang sedikit berantakan karena pergumulan di apartemen Elena tadi, ia melangkah keluar ke bawah guyuran hujan. Dalam sekejap ia pun menjadi basah kuyup.

"Maaf... Maafkan saya. Jalannya licin, saya tidak melihat ada pohon tumbang. Saya akan mengganti kerugian jika ada lecet di mobil Anda."

"Anda terluka?" tanya pria itu. Alih-alih marah, pria itu justru memastikan keadaan Livia.

"Saya baik-baik saja. Hanya sedikit terkejut," jawab Livia gagap. Namun sebelum Livia menyelesaikan kalimatnya, rasa pening yang luar biasa menyerangnya.

Dunia di sekitar Livia mulai berputar. Wajah pria asing itu adalah hal terakhir yang ia lihat sebelum tubuhnya limbung. Ia tidak jatuh ke aspal yang keras. Sepasang lengan yang kuat menangkapnya, membawa tubuh itu masuk ke dalam mobil setelah berhasil membius.

...🍎🍎🍎...

Dimana ini? Batin Livia saat membuka mata ternyata langit-langit kamar terasa asing. Pelan-pelan ia bergerak bangun, dan ternyata ia berbaring di atas tempat tidur king size dengan sprei sutra. Kamar itu sangat luas, sepertinya rumah ini luasnya bak istana, begitu pikir Livia.

Livia tersentak duduk, mengabaikan rasa nyeri di kepalanya. Ia segera memeriksa pakaiannya yang tidak lagi memakai baju basah. Ia kini mengenakan gaun tidur berwarna putih bersih yang sangat halus.

Sadar akan sesuatu, dimana dalamannya tergantikan semua, Livia praktis tercengang seraya memegangi dada. ditambah pula dengan kehadiran banyak orang disekelilingnya yang menatap intens ke arahnya. Mereka semua memakai seragam yang sama. Hitam dan putih.

"Sudah bangun?"

Suara itu membuat Livia berjengit. Di ujung tempat tidur, di atas sebuah kursi kebesaran yang terbuat dari kulit hitam, duduk seorang pria berpakaian parlente yang sedang menyesap cerutu mahal. Tangannya memperlihatkan jam tangan yang harganya mungkin cukup untuk membeli rumah pemberian Axel.

Di sekeliling pria itu berdiri empat orang pria dengan tegap, waspada, dan memiliki senjata yang terselubung di balik jas mereka. Tatapan mata mereka datar semua. Mereka tampak seperti tentara terlatih yang siap mati demi perintah pria di tengah mereka.

"Siapa Anda? Dimana ini? Kenapa saya bisa ada di sini?"

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap cairan kuning dari gelas kristal di tangannya yang baru saja disorodorkan anak buah. Matanya tidak sedetik pun beralih dari wajah Livia.

"Tempat ini adalah rumahmu yang baru. Sebuah tempat yang jika kau sudah masuk, tidak akan pernah bisa kau tinggalkan."

Livia terkesiap. "Apa maksud anda, Tuan? Saya harus pulang ke rumah orang tua saya. Tolong biarkan saya pergi. Saya tidak mengerti apa yang terjadi."

Kepala Livia pening. Ia mengingat-ingat kejadian terakhir yang menimpa. Seingatnya ia sedang berhadapan dengan seorang pria pemilik mobil SUV hitam yang tidak sengaja ia serempet, tapi kenapa malah ada di sini berhadapan dengan pria asing?

Pria itu memberikan lagi gelasnya ke orang yang berada di sisinya. Livia tersadar bahwa orang yang menerima gelas dari pria asing di hadapannya adalah pria yang turun dari mobil SUV hitam mewah yang ia senggol. Sikapnya seperti anak buah kepada tuannya.

Pria asing beraura bos tersebut berdiri, membuat Livia secara insting meringsek mundur ke kepala tempat tidur. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah yang tenang, tapi setiap langkahnya seperti mengintimidasi Livia.

"Pulang? Dengan penampilan seperti itu? Dengan keadaanmu yang menyedihkan itu? Aku tidak suka mengulang kata-kata, Livia. Jika kau sudah masuk ke rumah ini, maka tidak akan bisa keluar. Selamat datang Nyonya Morenzo."

"Selama datang Nyonya Morenzo!" Seru orang-orang disana mengikuti kalimat sang bos sambil membungkuk hormat.

Apa maksudnya memanggilku Nyonya Morenzo? Batin Livia. Jantungnya mulai berdetak kencang ketika mendengar nama Morenzo.

"Aku adalah Morenzo. Dan mulai detik ini, kau adalah bagian dari kepemilikanku. Selamat datang di istanaku."

Jantung Livia terasa mau copot. Seperti petir di siang bolong, nama Morenzo sering disebutkan orang-orang agar sebaiknya tak bersinggungan dengannya. Siapa yang tidak tahu nama itu? Morenzo adalah ketua klan yang menguasai sisi gelap kota ini. Mereka adalah bayangan yang mengendalikan hukum, ekonomi, dan politik dari balik tirai besi. Mereka disebut mafia, dan orang-orang haram bersinggungan dengannya jika ingin hidup tenang.

Kini Livia malah di klaim miliknya. Kesalahan besar apa yang sudah aku perbuat? Begitu pikir Livia.

"Mo... Morenzo?" Livia tergagap. "Kepemilikan? Apa maksud Anda? Saya bahkan tidak mengenal Anda."

Morenzo tidak menggubris protes Livia.

"Aku tidak butuh izinmu. Ini adalah fakta yang harus kau terima."

Morenzo memberikan instruksi singkat kepada salah satu pria bersetelan hitam. "Siapkan pakaian dan kebutuhan Nyonya Morenzo. Pastikan ia mendapatkan semua yang ia inginkan. Dia tidak boleh kurang satu pun."

Kemudian ia beralih menatap Livia, "Kau akan tinggal di sini sebagai milikku. Tidak ada jalan keluar. Kau bisa berteriak, menangis, atau membantah sepuasmu. Tapi pada akhirnya, kau akan patuh."

Morenzo melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Jangan coba-coba melarikan diri, Livia. Atau kau akan menyesalinya lebih dari yang pernah kau bayangkan."

Bersambung.

1
Tevina Anggita
lanjuttt🤣🤣💪
aleena
Saya Baru tau mallah
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭
Tevina Anggita
lanjutt💪
〈⎳ FT. Zira
sekerang jijik,, sebelumnya ngejar🤧
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: munafik sih si axel.
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
kann dugaanku bener🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
vitamin subur mungkin🤭
〈⎳ FT. Zira
mana bisa gitu Livi/Facepalm//Facepalm/
Dewi Payang
sakit memang kalo dianggqp gak lwbih berharga dari harta🤭🤭🤭
Dewi Payang
dan sayangnya Axel gak jadi dpt warisan🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
lah emang bs gt?
Zenun: mbuh, mungkin pikir Livia bisa🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk apa itu puncaknya yah, apa kyk bukit teletubbies? 🤔
Zenun: kurang lebih segede gitu😁
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
seketat isi celananya si morenzo y liv
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: yah si livia ampe perih2 gt 🤣🤣
total 2 replies
Dewi Payang
11 12 si daddy sama anaknya🤭
Zenun: betul tu🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Biar kagak malu dudukan ajanAxel sama Elenan🤣
〈⎳ FT. Zira
mungkin Livi pernah nyelametin morenzo🤔
Zenun: iyeu keuh?
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
sampe gak sadar gimana itu
〈⎳ FT. Zira: antara tidur terlalu nyaman atau emang senuhannya yg gak berasa..ehh/Silent//Silent/🤣
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
morenzo mungkin lagi anuu🤭
Zenun: anu apa nih😁
total 1 replies
aleena
bagian yang mana morenzoo
apakah Livia pernah menolongmu
Zenun: bagian yang paling sensitif dari Morenzo, gak sengaja di sentuh Livia
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
dirimu gak kelihatan El🤣🤣
aleena
🤣🤣kau hadir dengan penuh kebohongan, sekarang rasakan
betapa sakitnya diabaikan dan di lupakan🤭🤭
Zenun: uhuuuy, udah mulai ngerasain dicuekin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!