Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — UNDANGAN DARI WALL STREET
Arthur Sterling duduk di depan laptop tuanya, menatap surel yang baru saja diterimanya.
Nama Richard Coleman masih terpampang di layar.
Dalam kehidupan pertamanya, Richard bukanlah tokoh yang mendominasi berita keuangan setiap hari. Ia bukan miliarder yang namanya dikenal masyarakat luas, tetapi di kalangan investor profesional, reputasinya cukup disegani. Ia memiliki kemampuan menemukan perusahaan yang belum diperhatikan pasar dan membangun posisi investasi sebelum para pesaingnya menyadari peluang tersebut.
Arthur pernah membaca tentang beberapa transaksi Richard ketika Sterling Global Holdings mulai memperluas investasinya ke sektor teknologi.
Mereka tidak pernah menjadi sahabat.
Bahkan, dalam beberapa kesempatan, kepentingan bisnis mereka saling bertentangan.
Namun, Arthur mengingat satu hal tentang pria itu: Richard tidak suka membuang waktu untuk sesuatu yang dianggapnya tidak bernilai.
Jika pria tersebut menghubunginya hanya karena transaksi kecil yang bahkan tidak mencapai jumlah signifikan di mata investor institusional, berarti ada sesuatu yang membuatnya penasaran.
Arthur menggerakkan kursor ke kolom balasan.
Ia tidak berniat mengabaikan kesempatan tersebut. Berhubungan dengan investor berpengalaman bisa membuka pintu menuju dunia bisnis yang lebih luas. Namun, ia juga tidak ingin terlihat terlalu bersemangat.
Setelah mempertimbangkan beberapa kalimat, ia mulai mengetik.
Mr. Coleman,
Terima kasih atas undangan Anda. Saya bersedia berdiskusi mengenai pendekatan analisis investasi yang saya gunakan. Namun, saya masih seorang mahasiswa dan belum memiliki pengalaman profesional di industri keuangan.
Jika Anda tidak keberatan, saya dapat bertemu pada Jumat sore setelah perkuliahan.
Hormat saya,
Arthur Sterling.
Ia membaca ulang pesan itu sebelum menekan tombol kirim.
Tidak ada informasi yang membahayakan dirinya. Ia juga tidak mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa memilih saham perusahaan farmasi tersebut.
Arthur menutup laptop.
Pertemuan itu baru akan berlangsung beberapa hari lagi. Untuk saat ini, ia memiliki urusan yang jauh lebih mendesak.
Uang muka seratus dolar dari Samuel Carter tidak akan menghasilkan apa-apa jika pekerjaan mereka berakhir buruk.
Arthur mengambil buku catatan, lalu menuliskan daftar tugas untuk proyek restoran tersebut.
Pertama, memperbaiki informasi bisnis yang tidak konsisten.
Kedua, mengambil foto menu yang lebih baik.
Ketiga, menyusun promosi sederhana untuk menarik pelanggan baru.
Keempat, membuat cara untuk mengukur apakah promosi tersebut benar-benar memberikan hasil.
Ia tidak membutuhkan peralatan mahal untuk memulai.
Sebuah kamera ponsel, laptop tua, dan kemampuan berpikir secara sistematis sudah cukup untuk tahap pertama.
Arthur menatap daftar itu dengan puas.
Kerajaan bisnis tidak selalu dimulai dengan akuisisi bernilai miliaran dolar.
Terkadang, semuanya bermula dari seseorang yang bersedia membayar dua ratus dolar untuk menyelesaikan masalah sederhana.
Keesokan paginya, Arthur tiba di restoran Samuel sebelum pukul sembilan.
Samuel sedang menyusun kursi di dekat jendela ketika Arthur masuk.
"Selamat pagi, Arthur."
"Selamat pagi, Pak Carter. Apakah saya datang terlalu awal?"
"Tidak. Saya baru saja membuka restoran."
Arthur mengeluarkan buku catatannya.
"Saya ingin memastikan beberapa hal sebelum mulai bekerja. Menu mana yang paling sering dipesan pelanggan? Dan apakah ada waktu tertentu ketika restoran ini biasanya sepi?"
Samuel berpikir sebentar.
"Sandwich sarapan dan kopi adalah yang paling laku. Biasanya ramai antara pukul tujuh dan sembilan pagi. Setelah itu, jumlah pelanggan turun sampai waktu makan siang."
Arthur mencatat informasi tersebut.
"Kalau begitu, kita tidak perlu mengiklankan semua menu sekaligus. Kita bisa memulai dengan promosi sarapan dan mengukur apakah jumlah pelanggan baru meningkat."
Samuel mengangguk, meskipun masih tampak sedikit ragu.
"Menurutmu, itu akan berhasil?"
"Saya tidak bisa menjamin hasilnya, Pak. Tetapi kita bisa memulai dengan biaya rendah, memantau respons pelanggan, lalu memperbaiki strategi jika diperlukan."
Jawaban itu membuat Samuel tampak lebih tenang.
Ia telah beberapa kali menerima tawaran pemasaran dari orang-orang yang menjanjikan peningkatan penjualan secara fantastis. Sebagian besar meminta biaya besar di muka, tetapi tidak pernah memberikan laporan yang jelas.
Arthur menawarkan pendekatan berbeda.
Tidak ada janji yang berlebihan.
Tidak ada biaya tersembunyi.
Dan setiap pekerjaan memiliki hasil yang bisa diperiksa.
Setelah mendapatkan izin Samuel, Arthur mengambil beberapa foto menu menggunakan ponselnya. Ia kemudian memeriksa halaman bisnis restoran tersebut dan mencatat informasi yang perlu diperbaiki.
Daniel datang sekitar tiga puluh menit kemudian dengan laptop di dalam tas punggungnya.
"Kau sudah mulai bekerja tanpa menungguku?"
Arthur tidak mengangkat kepala dari layar ponselnya.
"Kau datang tepat waktu untuk pekerjaan berikutnya."
Daniel menghela napas.
"Aku mulai curiga kau sengaja memilih jam kerja yang membuatku tidak bisa tidur lebih lama."
"Kita belum punya cukup uang untuk membayar orang lain agar mengerjakan tugasmu."
"Itu bukan jawaban yang menenangkan."
Meskipun terus mengeluh, Daniel segera duduk dan mulai bekerja.
Ia memperbaiki informasi bisnis, menyusun rancangan halaman promosi, dan membuat format sederhana untuk mencatat pelanggan yang datang melalui kampanye mereka.
Arthur menangani komunikasi dengan Samuel dan menentukan strategi yang akan digunakan.
Menjelang siang, mereka telah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan dasar.
Samuel berdiri di samping meja mereka, memeriksa tampilan halaman bisnis yang baru.
"Ini terlihat jauh lebih baik," katanya.
Arthur mengangguk.
"Kami akan menyelesaikan sisanya hari ini. Setelah itu, kita bisa mulai menguji promosi kecil selama beberapa hari."
Samuel memandang kedua mahasiswa tersebut.
"Saya tidak tahu apakah kalian akan menjadi pengusaha besar suatu hari nanti. Namun, saya senang kalian tidak datang hanya untuk meminta uang."
Arthur tersenyum sopan.
"Kami ingin membangun reputasi terlebih dahulu, Pak."
Kalimat itu sederhana.
Namun, bagi Arthur, reputasi merupakan salah satu aset yang paling berharga dalam dunia bisnis.
Modal bisa diperoleh kembali setelah hilang. Perusahaan bisa dibangun ulang setelah bangkrut. Tetapi kepercayaan yang telah dihancurkan jauh lebih sulit dipulihkan.
Ia telah mempelajari pelajaran itu dengan harga yang mahal dalam kehidupan pertamanya.
Kali ini, ia tidak berniat melupakannya.
Pada siang hari, Arthur kembali ke kampus untuk mengikuti perkuliahan berikutnya.
Ia baru saja keluar dari perpustakaan ketika mendengar suara perempuan memanggil namanya.
"Arthur!"
Ia berhenti dan menoleh.
Clara Vance berjalan ke arahnya sambil membawa dua buku dan sebuah map tipis.
Untuk sesaat, Arthur hanya menatapnya.
Ia telah mempersiapkan diri untuk bertemu Clara lagi, tetapi ternyata tidak ada persiapan yang benar-benar cukup ketika gadis itu memanggil namanya dengan senyum alami.
"Clara," jawabnya. "Ada yang bisa kubantu?"
Clara berhenti di hadapannya.
"Kau mengambil kelas ekonomi perusahaan dengan Profesor Harris, bukan?"
"Benar."
"Aku sedang mengerjakan tugas tambahan tentang penilaian perusahaan. Profesor Harris menyebutkan jawabanmu kemarin ketika kami berdiskusi setelah kelas."
Arthur mengangkat alis.
"Jawabanku?"
Clara mengangguk.
"Katanya, penjelasanmu tentang perbedaan antara harga pasar dan nilai perusahaan cukup menarik."
Arthur hampir tertawa.
Ia tidak menyangka jawaban singkat di ruang kuliah akan membuat profesor tersebut membicarakannya kepada mahasiswa lain.
"Saya hanya menyampaikan apa yang saya pikirkan."
Clara tersenyum.
"Itu yang membuatku tertarik. Banyak orang di kelas kita bisa menghafal teori, tetapi tidak semuanya bisa menjelaskannya dengan cara yang sederhana."
Arthur merasakan kehangatan yang telah lama hilang dari hidupnya.
Dalam kehidupan pertama, ia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengagumi Clara dari kejauhan. Ia selalu menganggap dirinya tidak pantas berada di dekat gadis itu karena perbedaan latar belakang keluarga mereka.
Kini, ia memiliki kesempatan untuk memulai percakapan tanpa membiarkan rasa rendah diri menguasainya.
"Kalau kau sedang mengerjakan tugas itu, mungkin aku bisa membantu," katanya. "Kita bisa membahasnya bersama jika kau punya waktu."
Clara tampak mempertimbangkan tawaran tersebut.
"Aku sebenarnya ingin berdiskusi dengan seseorang yang tidak hanya menghafal buku teks."
"Kalau begitu, aku mungkin bisa membantu."
Clara tertawa kecil.
"Kau cukup percaya diri."
Arthur tersenyum.
"Pengalaman mengajar diriku sendiri selama bertahun-tahun."
Ia hampir mengatakan lebih banyak, tetapi segera menahan diri.
Ia harus berhati-hati. Tidak semua kebenaran perlu diungkapkan, terutama kebenaran yang tidak mungkin dipercaya orang lain.
Clara membuka mapnya.
"Bagaimana kalau kita belajar bersama di perpustakaan besok sore? Aku punya beberapa pertanyaan tentang penilaian perusahaan teknologi."
Arthur langsung teringat daftar perusahaan yang sedang dipelajarinya.
"Besok sore bisa."
"Bagus. Pukul empat?"
"Sepakat."
Clara mengangguk puas.
"Kalau begitu, sampai besok, Arthur."
"Sampai besok, Clara."
Gadis itu berjalan menuju gedung fakultas.
Arthur tetap berdiri selama beberapa detik, memperhatikan langkahnya yang semakin menjauh.
Ia tidak berusaha menahan Clara.
Ia tidak membuat janji yang berlebihan.
Ia hanya menerima kesempatan kecil untuk mengenalnya kembali.
Dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali, Arthur menyadari bahwa membangun hubungan mungkin membutuhkan kesabaran yang jauh lebih besar daripada membangun bisnis.
Sore harinya, Arthur duduk di sebuah bangku taman kampus sambil memeriksa ponselnya.
Sebuah surel baru masuk.
Pengirimnya adalah Richard Coleman.
Mr. Sterling,
Jumat pukul 16.30 sesuai dengan jadwal Anda. Kantor kami berada di Midtown Manhattan. Resepsionis akan menerima kedatangan Anda.
Saya berharap kita dapat melakukan diskusi yang bermanfaat.
Richard Coleman.
Arthur membaca pesan itu dengan saksama.
Jumat pukul 16.30.
Ia mengingat bahwa dalam kehidupan pertamanya, salah satu peristiwa penting di pasar farmasi akan terjadi menjelang akhir bulan. Jika perkiraannya benar, saham yang dibelinya mungkin mulai bergerak sebelum pertemuan dengan Richard.
Namun, ia tidak boleh bertindak gegabah.
Ia membuka aplikasi perdagangan dan memeriksa posisinya.
Nilai investasinya belum berubah secara berarti. Harga saham bergerak naik turun dalam kisaran sempit, sedangkan opsi yang dimilikinya masih berada dalam kondisi berisiko tinggi.
Arthur menutup aplikasi tersebut.
Ia tidak akan memeriksa harga setiap beberapa menit hanya karena memiliki informasi tentang masa depan.
Waktu dan disiplin adalah bagian dari strategi.
Ponselnya bergetar lagi.
Kali ini, pesan dari Daniel.
Proyek restoran hampir selesai. Samuel bilang dia puas dengan hasil awal kita. Kalau promosi ini berhasil, dia mungkin bersedia merekomendasikan kita kepada pemilik usaha lain.
Arthur membalas:
Bagus. Pastikan kita menyimpan semua hasil pekerjaan dan catatan respons pelanggan. Kita membutuhkan bukti, bukan sekadar cerita bahwa proyek kita berhasil.
Daniel menjawab dengan sebuah tanda jempol.
Arthur memasukkan ponsel ke dalam saku dan memandang langit yang mulai gelap.
Dalam waktu kurang dari dua hari, ia telah mendapatkan klien pertama, membuka kembali hubungan dengan Daniel, berbicara dengan Clara, dan menerima undangan dari seorang investor Wall Street.
Kemajuan itu belum cukup untuk mengubah hidupnya secara drastis.
Namun, fondasinya mulai terbentuk.
Ia memiliki bisnis kecil yang berpotensi menghasilkan pendapatan, investasi yang menunggu katalis, dan kesempatan untuk memasuki lingkaran keuangan profesional.
Yang belum ia miliki adalah kepastian mengenai siapa yang sebenarnya mengawasinya.
Di sebuah kantor di Midtown Manhattan, Richard Coleman menerima laporan singkat dari Michael Reed.
"Arthur Sterling adalah mahasiswa tahun kedua di City University of New York," kata Michael. "Tidak ada hubungan keluarga yang jelas dengan perusahaan farmasi tersebut. Sejauh yang bisa kami pastikan, dia tidak memiliki pengalaman kerja di lembaga keuangan besar."
Richard mengangguk.
"Bagaimana dengan sumber dananya?"
"Jumlah investasinya kecil. Kami tidak menemukan alasan untuk menganggapnya sebagai transaksi institusional yang mencurigakan."
Richard menyandarkan tubuhnya.
"Jadi, mungkin dia hanya melakukan analisis sendiri."
"Itu kemungkinan terbesar."
Richard memandang laporan tersebut sekali lagi.
"Baiklah. Kita akan mendengarkan penjelasannya pada hari Jumat."
Michael tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya.
Setelah asistennya keluar, Richard membuka kalender di komputernya dan menambahkan satu catatan.
Arthur Sterling — pertemuan Jumat, pukul 16.30.
Ia belum tahu bahwa mahasiswa yang akan duduk di hadapannya memiliki pengalaman yang jauh melampaui usianya.
Ia juga tidak tahu bahwa percakapan mereka mungkin menjadi awal dari serangkaian peristiwa yang kelak mengubah keseimbangan kekuatan di Wall Street.
Untuk saat ini, Richard hanya ingin menjawab satu pertanyaan sederhana.
Bagaimana seorang mahasiswa dengan modal yang begitu kecil bisa begitu yakin terhadap sebuah perusahaan yang bahkan belum menarik perhatian sebagian besar analis?
Sementara itu, di Queens, Arthur Sterling sedang menyiapkan makan malam sederhana di apartemennya.
Ia tidak memiliki kekayaan.
Belum ada perusahaan besar yang memakai namanya.
Dan tidak ada seorang pun yang akan membungkuk hormat ketika ia memasuki ruangan.
Namun, untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, Arthur merasa bahwa ia tidak sedang mengejar sesuatu yang tidak akan pernah cukup.
Ia sedang membangun kehidupan yang benar-benar ingin dijalaninya.
Dan kali ini, ia berniat memastikan bahwa ketika tiba waktunya untuk melihat kembali perjalanan panjangnya, ia tidak akan menyesali semua hal yang telah ia tinggalkan.