"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27 Aku Ingin Kita Bercerai
Kirana menarik selembar kertas dari dalam amplop putih yang baru saja diserahkan Tristan. Tatapannya langsung terkunci pada logo rumah sakit bersalin ternama di ibu kota yang tercetak tebal di bagian atas.
Di bawahnya, tertera sebuah nama yang belakangan ini menjadi duri paling tajam dalam dagingnya.
Nama Pasien: Siska Amelia.
Kirana mengernyit tipis. Dengan perlahan, ia membalik ke lembar berikutnya. Jari telunjuknya menyusuri deretan kalimat medis hingga terhenti pada satu baris kesimpulan hasil pemeriksaan laboratorium.
Positif hamil.
Tidak ada reaksi histeris. Tidak ada tangisan pilu memanggil nama Tuhan. Kirana hanya membaca ulang sebaris kalimat itu sekali lagi, seolah memastikan matanya tidak sedang mempermainkan kewarasannya.
“Jadi, Siska hamil,” gumam Kirana pelan.
Tristan yang berdiri siaga di dekat pintu, menatap wajah bosnya dengan raut cemas. Ia tahu betul luka Kirana belum mengering.
“Maafkan saya harus membawa berita ini secepatnya, Nona,” ucap Tristan hati-hati.
“Anak buah saya yang membuntuti mereka mendapat informasi valid. Tadi pagi, tuan Ardy sendiri yang menjemput nona Siska ke rumah sakit.”
Kirana menghela napas panjang, lalu bersandar pada sandaran kursi. “Berarti mereka sudah melangkah sejauh itu di belakangku, Tristan.” Ia melipat kembali kertas itu dengan sangat rapi dan memasukkannya ke dalam amplop.
Anehnya, sudut bibir pucat Kirana justru perlahan terangkat. Sebuah senyum tipis yang tak sampai ke mata. Senyum itu lalu berubah menjadi seringai dingin yang entah mengapa membuat bulu kuduk Tristan merinding seketika.
“Anda sungguh tidak apa-apa, Nona?” tanya Tristan memastikan.
“Kenapa aku harus sedih, Tristan? Katakan padaku, bukankah ini justru sebuah kabar baik?”
Tristan mengernyit bingung. “Kabar baik? Maksud anda, Nona?”
“Semakin tinggi sebuah bangunan didirikan di atas pondasi kebohongan, semakin keras dan menyakitkan pula suara hancurnya saat aku meruntuhkannya nanti.”
Kirana menoleh, menatap asisten setianya. Tangan kirinya mengepalkan amplop cokelat itu hingga kusut berderak.
“Tadinya setelah mendengar nasihat psikologku, hatiku sempat goyah. Aku ragu untuk menghancurkan mereka sampai tak bersisa. Tapi sekarang? Mas Ardy sendiri yang baru saja mengantarkan alasan paling sempurna ke tanganku. Dia mengkhianati pernikahan sakral kami. Menghamili wanita simpanannya saat darah anakku sendiri belum kering di jalanan.”
Kirana membayangkan wajah arogan ibu mertuanya.
“Dan kau tahu apa yang paling menjijikkan? Sarah pasti akan menyambut berita ini dengan sorak-sorai. Wanita tua itu pasti akan menggunakan bayi ini sebagai alasan mutlak untuk memaksaku menerima kehadiran Siska di rumah tangga kami atau bahkan berpisah dengan Ardy.”
Kirana menggeleng pelan sambil tertawa meremehkan.
Melihat kilat dendam di mata majikannya, Tristan menelan ludah. Ia tahu, sebuah badai besar baru saja terbentuk.
“Apa langkah kita selanjutnya, Nona?”
Kirana memasukkan amplop itu ke dalam tas.
“Gali semuanya, Tristan. Cari tahu segalanya tanpa celah. Mulai dari usia kandungan pasti Siska, siapa nama dokter kandungan yang menanganinya, hingga daftar orang yang sudah mengetahui kehamilan ini. Jangan sampai ada satu informasi pun yang terlewat.”
Tristan mengangguk mantap, mencatat setiap detail di kepalanya. “Baik, Nona. Saya akan melakukannya.”
Kirana meraih tas tangannya, melangkah anggun bersiap keluar dari rumah sakit itu.
“Mereka bertiga ingin bermain peran menjadi keluarga bahagia? Boleh saja. Tapi sebelum panggung mereka sempurna, aku akan merebut kebahagiaan mereka sedikit demi sedikit. Aku akan menghancurkan mas Ardy, Siska, dan Sarah di hari dan detik yang sama. Kita lihat, siapa yang akan memohon ampun padaku nanti.”
*
*
“Darimana saja kamu?! Ini sudah jam sebelas malam dan kamu baru pulang?!” bentak Ardy begitu Kirana menutup pintu di belakangnya.
Kirana sama sekali tidak kaget. Ia melangkah masuk dengan tenang, meletakkan tas mahalnya di atas meja rias, lalu melepas antingnya dengan santai.
“Jalan-jalan,” jawab Kirana singkat, tanpa sedikit pun menoleh ke arah suaminya.
Melihat ketenangan dan sikap abai istrinya, amarah Ardy semakin tersulut. Ia melangkah maju dengan cepat mendekati Kirana.
“Jalan-jalan? Dengan pria bajingan itu?! Kalian bertemu diam-diam dan berciuman di belakangku, kan?!” balas Ardy dengan suara meninggi sembari menuding istrinya.
Mendengar tuduhan itu, Kirana menghentikan gerakannya. Ia berbalik perlahan, menyandarkan pinggangnya ke ujung meja rias dan menatap Ardy dengan sebelah alis terangkat. Sebuah senyum mengejek terukir jelas di bibir merahnya.
“Kamu menguntit ku, Mas. Wah, sungguh sebuah kejutan. Ternyata suamiku yang sangat sibuk bekerja ini diam-diam kepo ya dengan urusan istrinya di luar rumah?”
Wajah Ardy seketika pucat pasi. Ia gelagapan tertangkap basah.
“S-siapa yang menguntitmu?! Jangan mengada-ada! Aku hanya kebetulan lewat dan melihat kalian di kafe!” sanggahnya terbata-bata, mencoba menutupi rasa gugupnya.
Kirana memutar bola matanya malas. Ia menyilangkan lengan di dada, menatap suaminya dengan sorot mata sedingin es.
“Sudahlah, Mas. Kita bukan anak SMA yang sedang bermain drama. Katakan saja apa yang sebenarnya ingin kamu katakan malam ini. Nggak usah mengalihkan pembicaraan dengan menuduhku yang macam-macam.”
Ardy mendadak terbungkam. Mulutnya terkunci rapat. Ia menatap Kirana dengan perasaan campur aduk.
“Bagaimana Kirana bisa tahu kalau aku punya tujuan lain malam ini?” batinnya panik.
“Ayo, Mas! Bicaralah. Waktuku nggak banyak, aku sangat lelah dan ingin segera tidur,” desak Kirana tak sabar. Ketegasannya membuat nyali Ardy mendadak menciut.
Ardy menelan ludah dengan susah payah. Ia mengepalkan tangannya di sisi tubuh, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ini adalah momen yang sudah ia persiapkan bersama ibunya sejak tadi pagi. Ia harus mengakhirinya sekarang juga.
“Baik. Kalau itu maumu. Aku ingin kita bercerai.” Ardy berdiri kaku, menahan napasnya sendiri. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan dengan jelas bagaimana reaksi Kirana.
Ardy menunggu tangisan histeris wanita itu. Menunggu Kirana berlutut memegang lengannya sambil terisak. Menunggu Kirana memohon agar dirinya tak meninggalkannya.
Tapi, semua ekspektasi itu hancur berkeping-keping.
Alih-alih menangis meratapi nasibnya, Kirana hanya menatap Ardy dengan ekspresi datar. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, wanita itu berbalik. Ia membuka tas yang baru saja diletakkannya, mengambil sebuah amplop putih berlogo rumah sakit, lalu berbalik dan melemparkannya tepat ke dada Ardy.
“Kamu menceraikan ku karena dia hamil?” tanya Kirana dengan tenang.
Ardy langsung membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak detik itu juga. Matanya membelalak horor menatap kertas hasil tes kehamilan milik Siska yang kini tergeletak manis di bawah kakinya.
“Darimana kamu tahu soal ini, Kirana?!” Ardy terbata, menunjuk kertas itu dengan jari gemetar, menatap Kirana seolah sedang melihat hantu.
“Selamat ya, Mas. Akhirnya, perempuan simpanan yang benar-benar kamu cintai itu berhasil mengandung anakmu. Pasti ibumu sangat bahagia sekarang.”
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy