NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Elang berjalan menuruni jalan tanah menuju pos jaga tanpa menoleh ke arah sopirnya. Penjaga yang tadi merokok di bawah papan nama berkarat itu baru berdiri ketika Elang sudah berada sepuluh langkah darinya, dan puntung rokoknya masih menyala di antara dua jarinya.

"Berhenti di situ," kata penjaga itu sambil mengangkat tangan. "Ini area tertutup. Mau cari siapa?"

"Aku hanya ingin melihat-lihat," jawab Elang sambil terus melangkah. Ia tidak mempercepat langkahnya dan juga tidak memperlambat. "Tidak perlu repot, aku tahu jalannya."

Penjaga itu menahan dadanya dengan telapak tangan, cukup keras untuk membuat siapa pun yang tidak siap mundur satu langkah.

"Aku bilang berhenti. Kau tuli, ya?" Ia meludahkan puntung rokoknya ke tanah dan mengambil radio dari ikat pinggangnya. "Kalau kau tidak pergi sekarang, aku panggil yang lain."

Elang menatap tangan di dadanya, lalu menatap wajah penjaga itu. Ia tidak marah, hanya menimbang apakah ia perlu membuang waktu di sini.

"Panggil saja," katanya dengan tenang. "Tapi tangan itu sebaiknya kau lepaskan dulu, karena aku tidak suka disentuh sembarangan."

Sebelum penjaga itu sempat menjawab, sebuah jip tua berhenti di belakang pos dengan decitan rem, dan seorang pria bertubuh besar melompat turun. Jaket kulitnya sama dengan yang Elang ingat dari gang malam itu, tetapi wajahnya kini lebih kurus, dengan lingkaran hitam di bawah mata. Pria itu berhenti di tengah jalan seolah kakinya lupa cara melangkah.

"Bos," bisiknya.

Wahyu setengah menekuk lututnya, hampir berlutut di tanah berdebu itu sebelum matanya menangkap sosok penjaga di samping Elang. Ia menegakkan badan dengan cepat dan berdeham keras.

"Lepaskan dia," katanya pada penjaga itu dengan suara yang dipaksa kasar. "Dia tamu."

"Tamu, Bang? Tadi tidak ada pemberitahuan..."

"Aku bilang lepaskan." Wahyu menghampiri mereka dan menarik tangan penjaga itu dari dada Elang. "Biar aku yang urus. Kau kembali ke pos."

Penjaga itu menatap Wahyu, lalu Elang, lalu mengangkat bahu dan kembali duduk di bawah papan nama sambil menyalakan rokok yang baru. Wahyu mengajak Elang berjalan ke sebuah gudang seng di sisi jalan, membuka pintunya dengan bahu, dan menutupnya kembali setelah mereka berdua masuk. Di dalamnya hanya ada tumpukan helm, rak besi berkarat, dan bau oli yang menyengat.

"Bos, kenapa Bos datang ke sini?" Wahyu berbisik sambil menggosok tengkuknya dengan gugup. "Tempat ini tidak boleh dikunjungi siapa pun."

"Itu juga yang kudengar dari penjaga tadi." Elang bersandar di rak besi dan memperhatikan wajah bawahannya. "Kau kelihatan buruk, Wahyu. Sejak kapan kau bekerja di sini?"

Wahyu menunduk.

"Sejak hari Bos menyuruhku melapor pada Ray. Aku datang dan bilang Bos sudah kapok seperti yang Bos suruh, tapi besoknya video Bos di televisi muncul. Ray marah besar, dan aku langsung dipindahkan ke tambang ini sebagai hukuman." Ia mengangkat wajah, dan matanya basah. "Aku tidak berani menghubungi Bos karena ada yang mengawasi ponselku."

"Siapa yang mengawasi?"

"Pak Bram, kepala keamanan di sini." Wahyu menelan ludah. "Orangnya... Bos sebaiknya tidak berurusan dengannya."

Elang tidak menanggapi nama itu, tetapi ia mengingatnya baik-baik, sama seperti ia mengingat setiap nama yang diucapkan dengan nada takut. Cahaya biru menyala di bawah lengan kemejanya, hanya sebentar, dan ia mengangkat tangan kanannya sedikit supaya panel itu terbaca dari sudut matanya.

[Detail misi terbuka.]

[Misi: Selamatkan pekerja yang terjebak di Blok 7.]

[Batas waktu: belum ditentukan.]

Elang mengerutkan kening.

"Terjebak," gumamnya pelan. "Belum ada yang terjebak."

"Bos bicara apa?" Wahyu menoleh ke kiri dan kanan dengan cemas.

"Blok 7. Itu di mana?"

Wahyu terdiam, dan wajahnya yang pucat berubah menjadi lebih pucat.

"Blok paling dalam di sisi timur, Bos. Hari ini ada pekerjaan peledakan di sana, tapi seharusnya baru dimulai sore nanti." Ia menyeka dahinya dengan punggung tangan. "Kenapa Bos tanya soal itu?"

Elang tidak sempat menjawab. Dari jauh, di balik dinding seng dan jalan berdebu, terdengar bunyi teredam yang berat, seperti sesuatu yang besar menghantam dasar bumi. Rak besi di belakang Elang bergetar, helm-helm kuning berjatuhan dari tumpukan, dan debu halus turun dari atap gudang seperti hujan tipis.

Wahyu membeku, mulutnya terbuka tanpa suara. Elang justru berdiri lebih tegak, dan ketenangan di wajahnya tidak berubah sedikit pun.

"Sepertinya," katanya pelan, "sorenya datang lebih cepat dari yang kau kira."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!