"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.Serangan Terakhir
"Berdirilah, Aksa. Baju basahmu membuat lantai ruangan ini semakin kotor," ucap Naya pelan. Tangan kirinya yang sejak tadi kaku akhirnya terangkat perlahan, menyentuh pelan rambut basah pria yang masih memeluk pinggangnya erat-erat.
Sentuhan kecil yang ragu-ragu itu membuat Aksa mendongak seketika. Mata merahnya yang basah oleh air mata menatap Naya dengan penuh harap. Pria itu melepaskan pelukannya secara perlahan, lalu bangkit berdiri meski kedua lututnya terasa lemas. Air menetes deras dari ujung kemejanya, membentuk genangan baru di lantai ruang istirahat yang sempit itu.
"Maafkan aku, Naya. Aku berjanji akan menebus semuanya," bisik Aksa parau. Tangannya terulur gemetar ingin menyentuh pipi Naya, tapi ia menahannya di udara, takut wanita itu akan kembali membangun dinding pembatas di antara mereka.
"Tebusan sebesar apa pun tidak akan pernah bisa mengembalikan tendon tanganku yang putus," balas Naya datar, meski nada suaranya tidak lagi setajam belati. "Sekarang pulanglah. Hujan badai di luar sana masih sangat deras. Kamu bisa mati kedinginan karena hipotermia kalau terus memakai baju basah itu."
"Aku tidak akan pulang sebelum memastikan kamu kembali ke kamar kosmu dengan aman," bantah Aksa keras kepala. Ego sang CEO mungkin sudah hancur, tapi sifat protektifnya kembali muncul berkali-kali lipat. "Biarkan aku mengantarmu dengan mobilku. Hanya mengantar sampai depan pintu, tidak lebih."
Naya menghela napas panjang menahan sesak. Berdebat dengan Aksa dalam kondisi ini hanya akan membuang tenaga percuma. Naya berbalik badan, berjalan pelan keluar dari ruang istirahat menuju area pendaftaran.
Ia membiarkan Aksa mengekor rapat di belakangnya.
Mereka melangkah keluar melewati pintu kaca menuju teras klinik yang remang-remang.
Hujan badai belum juga reda, justru semakin mengamuk. Angin kencang meniupkan tempias air dingin hingga membasahi jaket Naya. Halaman klinik kini berubah menjadi kubangan lumpur cokelat yang sangat licin. Mobil sport hitam milik Aksa masih terparkir sembarangan di dekat pagar kayu reyot.
Baru saja Aksa merogoh saku celananya untuk mengambil kunci, ponsel di saku dalam jasnya bergetar hebat. Layar ponsel itu menampilkan nama Dimas memanggil berulang-kali.
"Ada apa lagi?" angkat Aksa dengan nada tidak sabar. Matanya tetap fokus mengawasi Naya yang sedang berdiri menghindari percikan hujan.
"Pak Aksa, gawat darurat!" teriak Dimas dari seberang panggilan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara sirine polisi. "Bima kabur dari ruang tahanan sementara polisi! Pria tua bangka itu menyuap salah satu sipir penjaga yang bertugas. Polisi baru saja menyadari sel isolasinya kosong!"
Rahang Aksa langsung mengeras kaku. Otot di lehernya menonjol menahan amarah yang meledak. "Bagaimana bisa sampah kotor itu kabur dengan mudah?!"
"Ini di luar kendali kita, Pak Aksa! Anak buah Bima yang masih berkeliaran di luar berhasil melacak lokasi klinik Dokter Naya! Pria itu merampas paksa sebuah mobil sedan StarAuto dari parkiran polisi. Bima sedang mabuk dendam dan memacu mobil itu menuju ke tempat Bapak sekarang juga!"
Jantung Aksa seolah berhenti berdetak. Udara di sekitarnya mendadak lenyap. "Kirim semua pengawal keamanan kita ke sini sekarang juga!"
Aksa langsung mematikan panggilan, membuang ponselnya begitu saja ke lantai teras hingga layarnya retak. Ia berbalik menatap Naya dengan wajah panik luar biasa. "Naya, masuk kembali ke dalam klinik sekarang! Kunci pintunya rapat-rapat dari dalam! Cepat bergerak!"
Naya mengerutkan kening bingung melihat wajah Aksa yang tiba-tiba sepucat mayat. "Ada apa sebenarnya? Kenapa berteriak begitu?"
"Bima kabur dari tahanan! Bajingan itu sedang menuju ke sini untuk membalas..."
Belum sempat Aksa menyelesaikan kalimatnya, raungan keras suara mesin mobil yang dipacu dengan gigi tinggi terdengar membelah derasnya hujan badai.
Dari arah ujung jalanan tanah yang gelap gulita, sebuah mobil sedan berwarna perak melaju gila-gilaan menabrak pagar kayu pembatas klinik hingga hancur berantakan. Ban mobil itu selip dan berputar kencang memercikkan air di atas genangan lumpur cokelat, tapi pengemudinya sama sekali tidak berniat menginjak pedal rem.
Di balik kemudi, Bima tertawa lepas layaknya orang gila yang kehilangan akal sehat. Wajah pria buncit itu memerah dipenuhi dendam kesumat yang mendidih. Matanya melotot buas menembus kaca depan mobil, menatap lurus ke arah Naya yang berdiri kaku di bibir teras.
"Mati kau, dokter cacat!" teriak Bima beringas dari dalam mobil, menekan pedal gasnya semakin dalam hingga mesin mobil meraung marah. "Kalian sudah menghancurkan hidupku! Aku akan memastikan kalian berdua ikut ke neraka bersamaku malam ini juga!"
Mobil sedan itu melesat beringas membelah tirai hujan, mengarah tepat menghantam tubuh Naya yang berdiri tak terlindung apa pun di pinggir bangunan.
Lampu sorot mobil yang tiba-tiba menyala sangat terang menyilaukan mata Naya seketika. Tubuh wanita itu membeku kaku di tempat.
Kakinya seolah terpaku kuat di atas lantai teras yang dingin. Otaknya berteriak memerintahkan untuk lari menghindar, tapi rasa kejut yang luar biasa melumpuhkan semua saraf motoriknya. Naya hanya bisa melebarkan matanya, menatap ngeri moncong mobil baja itu yang melesat dalam jarak hitungan meter darinya.
"Naya!" raung Aksa kalap.
Di saat sisa waktu hanya tinggal sepersekian detik, bayangan besar melesat sangat cepat. Tubuh Aksa menerjang Naya keras dari samping, melempar tubuh wanita itu ke tempat aman.
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak