Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Gue cemburu? sorry ya, beda level," ketus Nadia yang lagi - lagi ingin turun dari pangkuan Jay.
"Terus ngapain lo kesini kalau lo nggak peduli sama gue?" desis Jay menarik pingang Nadia, kini wajah mereka berdua begitu dekat, membuat deru nafas keduanya sama - sama bisa mereka rasakan satu sama lain.
"Gue kesini karena nggak rela lo seneng- seneng sedangkan gue yang harus nangung tangung jawab dengan apa yang udah lo perbuat sama Kevin!"
"Tanggung jawab?" jay menaikan alisnya satu ke atas.
"Iya. lo enak-enakan kan dan mesra- mesraan sama cewek lain, sedangkan gue apa? gue yang ngurus semuanya asal lo tahu."
Nadia masih saja memberontak, tapi kekuatanya kalah dengan kekuatan Jay yang masih menahan badan Nadia di pangkuan Jay.
"Turunin gue!' tegas Nadia dan Jay langusng melepaskan peganganya begitu saja, dan itu membuat badan Nadia terjatuh seketika.
"Awwww.....! sakit anjir!" tukas Nadia memegangi pinggangnya.
"Kan lo yang nyuruh lepas, jadi salahin gue sekarang kalau lo jatuh."Jay bersikap seolah tak peduli dengan Nadia, bahka Jay juga tak menolong Nadia. Dan itu membuat Nadia merasa terabaikan.
"Sia lan, dia malah nggak nolongin gue lag," gumam Nadia yang langsung bangkit sendiri.
"Masih ada perlu yang lain nggak? gue mau ada harus ketemu sama BABY gue," bohong Jay sengaja.
Nadia menganga karena terkejut, "Liat aja, gue bakal aduin ni ke ayah" tegas Nadia kesal.
"Dengan bukti apa sayang? kamu kan nggak ada bukti," cibir Jay sengaja lagi.
"Liat aja nanti."
"Oke," sahut Jay singkat, dan lagi - lagi membuat Nadia kesal.
Jay keluar ruangan, dan Nadia diam-diam mengikuti kemana pun Jay pergi hari itu juga.
Nadia menguntip bagaimana Jay begitu sangat akrab dengan wanita yang memang Nadia mengakuinya bahwa dia cantik, bahkan sangat cantik.
"Kamu yang tadi ngaku istrinya Pak bos kan?"
tanya Arnold yang memergoki Nadia yang diam -diam mengintip.
"Ehem... iya! kenapa?" sahut Nadia angkuh.
"Kok nggak ikut masuk aja? malah ngintip disini? beneran istri bos bukan? janagn bilang beneran cua ngaku - ngaku lagi ya?" cibir Arnold yang lagi -lagi kompor.
"Sembarangan aja kalau ngomomg, aslinya gue ini istrinya jayden Mahendra! asal o tahu gue ini adalah anak dari...."
"Ada apa ini ribut- ribut?" kata Jayden membuka pintu karena merasa ada leirbutan dan memotong pembicaraan Nadia.
Lagi - lagi Nadia di buat kesal karena wanita yang Nadia belum tabu namanya itu terlihat menggelendot di lengan Jay.
"Daling katanya kamu mau beresin maslajh ini, kok dia masih di sini sih? jangan-jangan dia emang istri kamu ya?" Jesica sengaja bermanja dengan Jayden.
"Sorry baby, buat kamu nggaknyaman ya?" cap Jay dengan sengaja mengelus rambut Jesica.
Dan yang membuat Nadia semakin naik pitam adalah ketika Jay mengelus puncak kepala wanita itu dengan lembut, dan tutur kata Jay pada wanita itu terdengar sama lembutnya.
Dan sisi lain ternyata ad Arnold yang diam -diam menatap sahabatnya itu dengan tajam.
"Kenapa kamu natap saya kaya gitu? nggak suka? Karena saya menolak kamu? atau karena saya tidak mengikuti permainan mu?"
"What???!!! Saya? dia bahkan sok nggak kenal sama gue? waahh... beneran nyari perkara nggak sih?"
"Oh. jadi anda tidak eknal dengan saya ya? apa perlu saya telpon papa saya dan mengirim semua bukti yang sudah saya foto lewat kamera ponsel saya ke papa saya? atau mau saya telepon ke papa Bramasta?"
"Silahkan! jika anda memang benar anak dari Bramasta." cibir Jay yang malah seolah tak takut.
"Kok dia malah nantangin sih?" gumam Nadia.
"Oke, aku bakal telepon papa sekarang!"
Suasana kantor saat itu begitu riyuh dengan perdebatan antara Nadia dan Jay yang tiada akhir.
"yang lain harap busbar kalau nggak mau gaji klaian kan di potong," kata Arnold dan para karyawan yang melihat itu langusng bubar dan pergi ke meja kerja mereka masing-masing.
"Kok nggak di angkat- angkat sih?" dumel Nadia kesal karena jika papanya tidak mengangkat teleponya itu berati Nadia kalah dalam pertarungan melawan Jay.
"Nggak di angkat, mungkin papa saya lagi tidur, karena papa saya lagi di luar negri dan selisish sebelas jam dari indonesia!" tegasnya dan ingin berlalu pergi. "Oh iya, silahkan anda bersenang-senag tuan jay yang terhomat, liat jaa gimana saya akan membuat rumah abda seperti kapal pecah!" imbuh Nadia yang langsung mengacungkan jari tengah ke arah Jaydan Jesica.
etelahNadia benar sudah menghilang dari pandangan yiga orang itu, Arnold langsung menarik lengan Jesica.
"Mendalami banget sih peranya," kesal Arnold."
"Akting doang ah," sahuut Jesica yang kini beralih bergelendot di lengan Arnold.
"Sejak kapan kalian jadian?" tanya Jay bingung.
"Baru aja," jawab Arnold dan Jesica secara bersamaan.
"Cemburu sama gue potong gaji!" tegas Jay yang kemudian berlalu meninggalkan dua sejoli yang baru saja merajut kasih itu.
"Nggak gitu juga Jay, ngak asik ahh."
Arnold mengejar Jay yang sudah masuk ke dalam runagan kerjanya lagi dan langsung mentutp pintunya dan mengunci.
.
.
.
.
.
"Mel lo di mana? udah pulang kan? gue buuth temen curhat nih," kata Nadia saat melakukan panggilan dengan Mela.
"Baru aja sampe rumah, tadi satu pelajaran kosong tau, rugi banget lo nggak masuk sekolah."
"Bodo amat ah... gue lagi butuh temen ngobrol ni sekarang, bisa dateng ke cafe biasa kita nongkrong nggak?"
"Oh bisa banget dong! masa nggak bisa sih? apa lagi ini bau bau traktiran," tukas Mela bersemangat.
Mela yang walau saja baru sampai di rumah kini cewek itu bergegas berganti pakaian dan menuju dimana Nadia ingin bertemu.
Satu gelas Americano ice menemani Nadia yang duduk seorang diri. Yang tak lama kemudian Mela pun datang dengan melambaikan tangannya pada Nadia.
"Sorry lama, biasalah macet kalau menjelang sore gini."
Nadia mengangguk dan meminta Mela memesan minuman yang dia mau.
"Samain aja deh, butuh yang seger- seger soalnya hehe."
Tak lama kemudian satu gelas Americano ice datang menemani mereka berdua.
"What happened? Aya naon? Ada apa sayangkuh?" Tanya Mela lengkap dengan beberapa bahasa.
"Si Kevin nggak bikin Lo darting kan?" Tanya Nadia yang malah menanyakan Kevin.
Mela menggeleng dengan cepat. "Nggak kok, nggak salah lagi maksudnya, hahahaha..." Mela dan Nadia spontan tertawa.
"Jangan ngomongin dia ah, males banget gue, jadi lo mau curhat apa? Soal Jay ya?" Tanya Mela kini serius.
Nadia mengangguk pelan." Sebenarnya gue... Sebenarnya gue itu."
"Apaan sih Nadia? Kalau ngomong yang jelas kenapa!"
"Sebenarnya gue udah nikah sama Jayden." Lirih Nadia dan Mela terkejut.
"Whattt??!!!!"