NovelToon NovelToon
LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Sinar matahari pagi menembus celah gorden tebal berwarna emas.

Lula mengerjapkan kedua mata bulatnya dengan lambat.

Dia merasa tubuhnya tenggelam di atas sesuatu yang sangat empuk dan wangi.

Ini bukan aspal jalanan, bukan juga kardus bekas di pinggir toko.

Lula mengusap matanya dan bangun dalam posisi duduk.

Mulut kecilnya terbuka lebar melihat ruangan yang ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari minimarket tempat dia biasa berteduh.

Langit-langit kamarnya sangat tinggi dengan lampu kristal yang menggantung indah.

"Kasur ini empuk sekali, rasanya seperti tidur di atas awan," batin Lula dengan kagum.

Lula menatap tubuhnya sendiri dan menyadari gaun lusuhnya sudah diganti dengan piyama sutra berwarna merah muda.

Aroma tubuhnya juga wangi seperti wangi stroberi.

Tiba-tiba terdengar suara gemerisik pelan dari arah meja di sudut kamar.

"Akhirnya kau bangun juga, anak manusia."

Lula menoleh dan melihat sebuah pot kecil berisi tanaman anggrek putih yang sangat cantik.

"Halo Tuan Bunga, ini di mana?" tanya Lula dengan suara seraknya yang baru bangun tidur.

"Ini rumah Nyonya Arini, nyonya yang kau selamatkan kemarin," jawab anggrek itu.

Lula mengangguk pelan mengingat kejadian kemarin siang.

Kruyuk!

Suara perut Lula kembali berbunyi memecah keheningan kamar mewah itu.

"Kamu pasti lapar, pelayan rumah ini sudah menyiapkan makanan di bawah," ucap anggrek itu lagi.

Ceklek.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar.

Arini berjalan masuk dengan senyum lembut di wajah keibuannya.

Wanita itu sudah terlihat sangat segar dan sehat.

"Selamat pagi, Lula sayang," sapa Arini sambil berjalan mendekati ranjang.

"Pagi, Tante," balas Lula sambil menundukkan kepalanya malu-malu.

Arini duduk di tepi ranjang dan mengelus rambut Lula yang kini sudah bersih dan wangi.

"Tadi malam Tante memandikanmu saat kamu masih tidur pulas."

"Maaf merepotkan Tante," ucap Lula pelan.

"Sama sekali tidak repot, ayo sekarang kita turun ke bawah untuk sarapan."

Arini mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh tangan kecil Lula.

Mereka berdua berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga marmer yang melingkar panjang.

Mata Lula tidak berhenti melihat ke kiri dan ke kanan.

Rumah ini terlalu besar dan barang-barangnya terlihat sangat mahal.

Banyak pelayan berseragam yang menunduk hormat saat Arini dan Lula lewat.

"Nyonya, Tuan Besar sedang marah-marah di ruang makan," bisik seorang pelayan wanita yang menghampiri Arini.

Arini menghela nafas panjang mendengar laporan itu.

"Suamiku memang sedang banyak pikiran akhir-akhir ini," ucap Arini kepada pelayan itu.

Arini kemudian menuntun Lula masuk ke sebuah ruang makan yang luasnya luar biasa.

Di ujung meja makan panjang, seorang pria paruh baya sedang berdiri sambil berteriak di depan ponselnya.

Pria itu adalah Baskoro Ayodhya, pemimpin Grup Lentera sekaligus suami Arini.

"Aku tidak mau tahu, proyek itu harus tetap jalan atau kita semua hancur!" bentak Baskoro ke arah ponselnya.

Brak!

Baskoro membanting ponselnya ke atas meja hingga retak.

Wajahnya terlihat sangat lelah dengan kantung mata yang menghitam.

Lula bersembunyi di belakang kaki Arini karena takut melihat pria besar yang sedang marah itu.

"Mas, pagi-pagi jangan marah-marah, ingat darah tinggimu," tegur Arini sambil berjalan mendekati suaminya.

Baskoro memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.

"Bagaimana aku tidak marah, investor dari Singapura tiba-tiba menarik dananya," keluh Baskoro dengan suara putus asa.

Baskoro lalu menoleh dan mengerutkan keningnya saat melihat seorang gadis kecil bersembunyi di belakang istrinya.

"Arini, siapa anak kecil ini?" tanya Baskoro dengan nada bingung.

Arini menarik tangan Lula dengan lembut agar gadis itu berdiri di sampingnya.

"Ini Lula, anak yang menyelamatkan nyawaku kemarin," jawab Arini mantap.

Baskoro menatap Lula dari atas sampai bawah.

"Menyelamatkan nyawamu? Anak sekecil ini?" tanya Baskoro tidak percaya.

"Iya Mas, kemarin siang jantungku tiba-tiba berhenti berdetak di depan kantor."

Baskoro langsung membelalakkan matanya kaget karena istrinya tidak menceritakan hal ini semalam.

"Apa? Lalu kenapa kamu tidak meneleponku atau ke rumah sakit?" panik Baskoro.

"Lula yang menolongku, dia punya semacam kemampuan khusus yang menyembuhkanku."

Baskoro menatap istrinya dengan tatapan aneh.

Pria itu jelas tidak percaya pada hal-hal ajaib apalagi kemampuan khusus.

"Arini, kamu pasti salah paham karena panik, mungkin itu cuma kebetulan saja," ucap Baskoro mencoba logis.

"Aku merasakannya sendiri Mas, anak ini spesial dan dia tidak punya keluarga."

Arini mengelus punggung Lula dengan penuh kasih sayang.

"Jadi aku memutuskan untuk membawanya pulang dan merawatnya di sini," lanjut Arini.

Baskoro memijat pangkal hidungnya karena kepalanya semakin pusing.

Perusahaannya sedang di ambang kebangkrutan dan istrinya malah membawa pulang anak jalanan.

"Terserah kamu saja Arini, asal anak ini tidak membuat keributan di rumah," ucap Baskoro pasrah.

Baskoro menatap Lula yang masih menatapnya dengan mata bulat yang polos.

"Hei anak kecil, namamu Lula?" tanya Baskoro dengan nada yang sedikit kaku.

Lula mengangguk pelan.

"Lula lapar," ucap Lula jujur karena perutnya sudah sangat sakit.

Baskoro terdiam sejenak lalu menghela nafas.

"Duduklah dan makan sebanyak yang kamu mau," suruh Baskoro sambil menunjuk kursi kosong.

Pelayan segera mengangkat tubuh Lula dan mendudukkannya di kursi yang tinggi.

Piring berisi nasi goreng, ayam panggang, dan telur mata sapi langsung dihidangkan di depannya.

Mata Lula berbinar-binar melihat makanan sebanyak itu.

Dia langsung memegang sendok dan makan dengan sangat lahap.

Arini tersenyum lebar melihat cara makan Lula yang menggemaskan.

Baskoro yang tadinya pusing perlahan ikut tersenyum tipis melihat anak itu.

"Dia makan seperti orang yang tidak makan seminggu," komentar Baskoro pelan.

"Mas, tolong jangan menyinggung perasaannya," tegur Arini sambil menepuk lengan suaminya.

Suasana ruang makan yang tadinya tegang kini menjadi sedikit lebih hangat.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Brak!

Pintu utama rumah tiba-tiba terbuka dengan sangat kasar.

Suara langkah kaki yang cepat dan tegas terdengar mendekat ke arah ruang makan.

Seorang pemuda tampan berusia dua puluh empat tahun muncul di ambang pintu.

Dia memakai kemeja kerja yang lengannya digulung sampai siku dan wajahnya terlihat sangat dingin.

Itu adalah Adrian Ayodhya, putra sulung keluarga itu.

"Papa, apa maksudnya semua ini?" tanya Adrian dengan nada marah.

Baskoro menatap putra sulungnya dengan bingung.

"Ada apa Adrian? Pagi-pagi pulang kerja sudah teriak-teriak," tegur Baskoro.

Adrian berjalan cepat mendekati meja makan dan langsung menunjuk ke arah Lula.

Lula yang sedang mengunyah paha ayam menatap Adrian dengan pipi yang menggembung.

"Kenapa anak ini ada di rumah kita?" tanya Adrian tajam.

"Tadi pagi aku dapat laporan dari kepala pelayan kalau Mama membawa anak kecil pulang," lanjutnya.

Adrian menatap Baskoro dengan tatapan penuh kecurigaan.

"Jadi rumor di luar sana benar? Papa punya simpanan dan ini anak haram Papa?" tuduh Adrian tanpa basa-basi.

Buh!

Baskoro langsung menyemburkan kopi yang baru saja dia minum.

Arini juga membelalakkan matanya mendengar tuduhan gila dari anak sulungnya itu.

"Adrian! Jaga bicaramu, dari mana kamu dengar rumor murahan seperti itu?" bentak Baskoro marah.

Adrian menyilangkan tangannya di depan dada.

"Rekan bisnis kita yang bilang, katanya Papa sering mengirim uang ke sebuah panti asuhan," jawab Adrian sinis.

"Uang itu untuk donasi perusahaan bodoh, bukan untuk memelihara simpanan!" balas Baskoro tidak terima.

Lula berhenti mengunyah dan menatap kedua pria dewasa yang sedang bertengkar itu.

"Tante, anak haram itu apa?" tanya Lula polos kepada Arini.

Wajah Arini langsung memerah karena malu sekaligus marah.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni support nya🙏
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak heni🙏
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: kemana aja kak Heni
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak kemna aja kak kok baru kelihatan 🤭
Astiana 💕
mampir Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!