Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Ikuti Saya
Keesokan harinya, hujan sudah tidak terlihat.
Langit pagi di atas kota justru tampak cerah, seolah hujan deras semalam tidak pernah terjadi.
Arka Pratama berjalan santai menuju kampus dengan tas ransel yang hanya disampirkan di satu bahu. Di tangan kanannya terdapat secangkir kopi. Di tangan kirinya, ponsel yang sejak tadi terus bergetar.
"Rendy lagi..."
Arka melirik layar.
> Rendy: Lu di mana?
> Rendy: Jangan bilang masih tidur.
> Rendy: Hari ini ada konsultasi.
>
Arka menghela napas. Ia mengetik singkat.
> Arka: Udah jalan.
>
Balasan datang hampir seketika.
> Rendy: Cepetan.
>
Arka tersenyum kecil. "Seolah-olah dia dosen pembimbing."
Langkahnya terhenti ketika ia melewati minimarket yang sama seperti semalam. Arka melirik sebentar ke dalam. Ia baru ingat. Semalam ia membeli roti di tempat itu. Dan di tempat yang sama, ia meminjamkan payung kepada seorang wanita yang kehujanan.
"Semoga hari ini nggak hujan," gumamnya.
Ia melanjutkan perjalanan.
Namun, beberapa jam kemudian, setelah urusan kampus selesai, Arka kembali melewati kawasan tersebut. Perutnya lapar. Dan seperti biasa, solusi paling mudah bagi mahasiswa tingkat akhir adalah minimarket.
Arka masuk. Pintu otomatis berbunyi.
"Selamat datang."
Ia mengambil keranjang kecil lalu berjalan menuju rak makanan.
Tanpa ia sadari, seseorang baru saja masuk dari pintu yang sama. Wanita itu mengenakan masker hitam dan topi bisbol. Jaket panjang menutupi sebagian tubuhnya. Langkahnya cepat. Ia langsung menuju rak minuman.
Alya Renata sebenarnya tidak berencana berhenti di sana. Jadwal syutingnya hari itu baru dimulai sore, sementara kru masih menyiapkan lokasi. Karena bosan menunggu di dalam mobil, ia meminta sopirnya menepi sebentar.
Hanya untuk membeli air mineral. Tidak lebih.
Alya mengambil satu botol air dari lemari pendingin. Kemudian ia melihat pantulan dirinya dari pintu kaca.
Masker. Topi. Jaket.
Aman. Tidak akan ada yang mengenalinya.
Setelah mengambil minuman, ia berbalik untuk berjalan menuju kasir. Di saat yang sama, Arka muncul dari lorong sebelah sambil membawa dua bungkus roti dan sebotol teh.
Keduanya tidak menyadari keberadaan satu sama lain.
Sampai Arka tanpa sengaja berjalan mengekor tepat di belakang Alya.
Alya mendengar suara langkah. Ia melirik dari sudut matanya.
Langkahnya sedikit tertahan.
Dia?
Arka. Mahasiswa yang meminjamkannya payung semalam.
Alya langsung menundukkan kepalanya lebih dalam. Mungkin cuma kebetulan. Ya, pasti kebetulan.
Namun, ketika Alya bergeser ke kanan untuk menghindari pajangan biskuit, Arka ikut bergeser ke kanan.
Alya berhenti. Arka ikut berhenti (karena ia sedang membaca label kedaluwarsa roti di tangannya).
Alya kembali berjalan dan bergeser ke kiri. Arka ikut bergeser ke kiri.
Kening Alya berkerut. "Jangan-jangan..."
Ia mempercepat langkah menuju kasir. Arka hanya berjalan dengan santai di belakangnya. Sampai akhirnya mereka berdiri dalam antrean kasir yang sama.
Alya mulai merasa tidak nyaman. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Ia melirik ke belakang. Mahasiswa itu sedang melihat rak permen di dekat kasir, sama sekali tidak menatapnya. Namun, bagi seorang figur publik yang sering dibuntuti paparazi, gelagat itu justru terlihat seperti taktik menyamar yang mencurigakan.
Dia benar-benar mengikuti aku?
Alya menarik napas panjang. Ia tidak ingin membuat keributan di tempat umum.
Sementara itu, Arka benar-benar tidak menyadari apa pun. Ia sedang sibuk menimbang apakah lebih baik menambah beli mi instan atau tidak.
"Kalau beli mi, nanti malah malas masak," gumam Arka pelan.
Ia merogoh ponselnya, membuka aplikasi catatan. Matanya terpaku pada daftar revisi skripsi yang belum selesai.
Arka membuang napas kasar. "Matilah."
Tiba-tiba, petugas kasir yang sedang men-scan barang menatap mereka bergantian dengan senyum ramah.
"Mas, Mbak... gabung aja sekalian bayarnya?" tanyanya.
Alya langsung membeku.
Arka mengerutkan dahi, menatap kasir itu dengan bingung. "Hah? Enggak."
"Beda." Alya menimpali di saat yang sama.
Kasir itu tertawa kecil karena kecanggungan mereka. "Oh, maaf, kirain datang bareng. Soalnya dari tadi jalannya searah terus."
Wajah Alya memanas di balik maskernya. Ia segera menyerahkan selembar uang, mengambil botol airnya beserta kembalian, dan buru-buru berjalan menuju pintu.
Arka melangkah maju.
"Totalnya, Mas."
"Oh." Arka membayar. Setelah itu ia mengambil kantong plastiknya dan berjalan keluar.
Dan di situlah kesalahpahaman memuncak.
Alya berdiri di trotoar. MPV hitam milik perusahaannya belum juga terlihat.
Ia menoleh ke belakang. Arka baru saja keluar dari minimarket.
Alya langsung menegang. Dia keluar juga.
Arka berjalan ke arah kiri, searah dengan posisi Alya berdiri.
Alya mundur satu langkah secara refleks. Jangan-jangan benar dia menguntit.
Arka terus melangkah. Alya bersiap mencari perlindungan ke toko sebelah yang lebih ramai.
Sementara Arka, yang justru sedang sibuk berusaha merobek bungkus rotinya dengan gigi, berjalan santai melewati Alya begitu saja. Sama sekali tidak menoleh.
Alya terdiam kaku.
Arka terus berjalan. Sepuluh meter. Lima belas meter.
Kemudian pria itu berhenti mendadak.
Alya menahan napas.
Arka menepuk saku depan celananya. Kosong. Saku jaket. Kosong.
Ia menepuk jidatnya sambil membuang napas kesal. "Astaga, dompet."
Ia berbalik arah. Dan berjalan lurus kembali menuju minimarket.
Melihat pria itu tiba-tiba berbalik dan berjalan cepat ke arahnya, Alya langsung panik. Dia balik ke sini?!
Saat jarak Arka tinggal beberapa meter, Alya akhirnya kehilangan kesabaran. Ia mengangkat tangannya.
"Maaf!"
Arka berhenti mendadak. "Ya?"
Alya menatapnya dengan waspada. "Anda... mengikuti saya?"
Arka terdiam sebentar. Menatap wanita bermasker itu dengan raut wajah kosong.
"Hah?"
Alya menunjuk arah jalan. "Sejak di dalam tadi."
Arka menoleh ke arah jalan di belakangnya, lalu menatap Alya lagi. Jarinya menunjuk dadanya sendiri. "Saya?"
"Iya."
Arka mengerjapkan mata. "Buat apa saya ngikutin Anda?"
Alya sedikit gelagapan. "Itu... karena sejak dari rak minuman sampai keluar, Anda terus berada tepat di belakang saya."
Arka mengangkat kantong plastiknya tinggi-tinggi. "Saya cuma mau beli roti."
Alya tidak langsung menjawab. Argumen itu terdengar terlalu sederhana.
Arka kemudian menunjuk ke arah pintu kaca minimarket. "Dompet saya ketinggalan di meja kasir."
Mata Alya mengikuti arah telunjuk Arka. "Dompet?"
"Iya." Arka menghela napas panjang. "Mbak, kalau saya emang niat nguntit, saya nggak mungkin balik badan nyamperin Mbak lagi cuma gara-gara dompet."
Alya merasa wajahnya kini benar-benar memerah karena malu. "Maaf. Saya salah paham."
Arka hanya mengangguk cuek. "Nggak apa-apa."
Alya sedikit bernapas lega. Setidaknya kesalahpahaman ini selesai dengan cepat.
Namun, Arka justru melipat tangannya dan menatap Alya dari atas ke bawah. "Tapi..."
Alya kembali menegang. "Tapi apa?"
Arka menunjuk gaya berpakaian Alya dengan dagunya. "Anda memang kelihatan mencurigakan."
Mata Alya membesar. "Apa?"
"Masker hitam. Topi diturunin. Jaket panjang nutupin badan padahal siang bolong." Arka menggeleng pelan. "Lengkap. Kayak buronan."
Alya kehilangan kata-kata. "M-memangnya saya harus berpakaian bagaimana?"
"Ya nggak harus gimana-gimana juga." Arka mengangkat bahu, tidak peduli. "Saya cuma ngasih tahu sudut pandang saya."
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Alya hampir tertawa keras di pinggir jalan.
Mahasiswa ini benar-benar aneh. Tidak tahu siapa yang sedang diajaknya bicara, tapi dengan berani mengatakan gaya busananya seperti buronan.
Arka kemudian bersiap melanjutkan langkahnya ke minimarket. Namun sebelum pergi, ia menoleh kembali ke arah Alya.
"Oh, satu lagi."
Alya mengangkat alisnya.
Arka tersenyum tipis, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Soal payung kemarin malam... anggap aja lunas sama tuduhan barusan."
Alya tertegun sejenak. Lalu, sebuah senyum kecil tak tertahankan mengembang di balik maskernya.
"Baik," jawabnya pelan.
Arka mengangguk puas, lalu bergegas masuk ke dalam minimarket.
Beberapa detik kemudian, sebuah MPV hitam akhirnya berhenti di depan Alya. Sopirnya bergegas turun membukakan pintu.
"Maaf, Mbak Alya. Tadi jalannya diputar—"
"Tidak apa-apa, Pak."
Alya masuk ke mobil. Begitu pintu tertutup, ia melepas topinya dan membuang napas panjang.
Sopir itu melirik melalui kaca spion tengah. "Kenapa, Mbak? Ada yang ngenalin?"
Alya menggeleng. "Tidak ada."
Ia menatap ke luar jendela kaca mobil yang gelap. Di kejauhan, ia melihat Arka berlari kecil keluar dari minimarket sambil memasukkan dompet ke sakunya, lalu berjalan cepat ke arah halte bus.
Alya kembali tersenyum kecil. "Dia benar-benar tidak tahu."
"Tahu apa, Mbak?"
"Bukan apa-apa."
Alya menyandarkan kepalanya. Mobil mulai bergerak meninggalkan trotoar.
Ia baru menyadari sesuatu. Sudah lama sekali ia tidak berbicara dengan orang asing tanpa harus menjaga citra yang sempurna. Tidak ada yang memuji kecantikannya. Tidak ada yang meminta tanda tangan. Tidak ada yang memperlakukannya seperti seorang bintang besar.
Mahasiswa itu bahkan dengan polosnya mengira dirinya adalah orang yang mencurigakan.
Aneh. Sangat aneh.
Tapi entah kenapa... hal itu justru membuat Alya merasa lebih nyaman dari biasanya.
Di tempat lain, Arka sedang duduk di kursi halte bus.
Ia memasukkan tangannya ke saku jaket sambil mengunyah rotinya. Tiba-tiba kunyahannya terhenti.
"Eh..."
Arka menatap ke arah jalanan kosong tempat wanita tadi berdiri. Ia baru sadar. Ia bahkan tidak tahu siapa nama wanita bermasker itu.
Arka mengangkat bahunya dan kembali mengunyah. "Ya sudahlah."
Baginya, kejadian itu hanyalah kebetulan kecil yang sudah selesai. Tidak ada yang spesial.
Namun, tanpa Arka sadari, ada satu hal kecil yang tertinggal dari dua kali pertemuan tanpa sengaja mereka.
Bukan payung. Bukan nama.
Melainkan rasa penasaran.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alya Renata mulai memikirkan seseorang yang bahkan tidak peduli siapa dirinya.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!