Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23. Drama selanjutnya
Wajah Elkan seketika mengeras bagai batu karang saat membaca judul berita yang berkedip-kedip merah di layar ponsel Gia. Pendar hangat dan romantis di matanya menguap begitu saja, berganti dengan kilatan amarah yang dingin dan membahayakan.
"Gudang Utama..." bisik Elkan dengan suara bass yang bergetar menahan amarah. Pria itu mencengkeram tepi pagar balkon hingga urat-urat di tangannya bertonjolan. "Gudang itu menyimpan seluruh bahan baku impor untuk proyek konsorsium minggu depan, Gia. Kalau gudang itu hangus, produksi lumpuh total."
Gia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menetralkan keterkejutan di dadanya. Sebagai wanita yang pernah melewati dasar jurang kehancuran, ia tahu betul bahwa kepanikan adalah musuh terbesar dalam situasi kritis. Saat ia membuka mata kembali, pandangannya sudah kembali jernih, tajam, dan penuh kendali.
Gia meraih tangan Elkan yang mengepal keras, memotong ketegangan pria itu dengan sentuhan hangatnya. Cincin bermata berlian biru di dalam kotak bludru hitam yang masih terbuka di meja balkon itu berkilau tertimpa cahaya bulan. Gia mengambil cincin indah itu sendiri, lalu menyematkannya ke jari manis tangan kirinya tanpa ragu.
Elkan tersentak pelan, menatap tindakan Gia dengan mata membelalak.
"Cincinnya aku terima," ucap Gia dengan nada suara yang amat tenang namun sarat kekuatan mutlak. "Sekarang, berhenti cemas. Seorang raja tidak boleh terlihat gentar di depan musuhnya."
Gia menyunggingkan senyum tipis yang memukau, memiringkan kepalanya menatap Elkan. "Sabotase? Ini bukan serangan pertama yang pernah kita hadapi, Elkan. Siapa pun yang membakar gudang itu, mereka cuma sedang menggali kuburannya sendiri lebih cepat."
Kata-kata Gia bertindak bagai penawar racun. Elkan menghembuskan napas berat, menatap wanita di hadapannya dengan pendar rasa kagum yang tak terukur. Gia tidak hanya menjadi pasangan hidupnya, tapi juga pilar kekuatan yang tak tergoyahkan.
"Kamu benar," balas Elkan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin. "Mari kita lihat seberapa jauh tikus tanah ini berani bermain api."
Gia melangkah mantap kembali ke dalam ballroom VIP, diikuti Elkan di sampingnya. Ia merapikan pashmina sutra polosnya dengan gerakan anggun, sama sekali tidak menunjukkan raut wajah panik meski berita kebakaran itu sudah mulai menyebar di kalangan tamu papan atas di lantai bawah.
"Panggil pengawal pribadi dan kepala tim keamanan VK Group ke ruang kerja pribadi sekarang," perintah Gia tegas pada sekretaris yang sudah menunggu di dekat tangga balkon dengan wajah pucat pasi.
Lima menit kemudian, di dalam ruang kerja utama lantai dua yang kedap suara, suasana berubah mencekam. Kepala Keamanan VK Group berdiri menunduk dengan pelipis berpadu keringat dingin di hadapan Gia dan Elkan.
"Bicara," desak Elkan dingin sambil bersedekap di tepi meja kerja jati mewahnya.
"M-maafkan kami, Pak Elkan, Bu Gia," jawab Kepala Keamanan dengan suara gemetar. "Api berhasil dipadamkan dalam waktu empat puluh menit oleh tim damkar internal. Gudang Sektor B habis terbakar, tapi... tapi ada hal aneh dari laporan tim CCTV."
Gia menyilangkan kakinya di sofa kulit, menyesap teh hangat yang tersisa di cangkirnya. "Aneh bagaimana?"
"Sistem detektor asap dan sprinkler otomatis dimatikan secara manual sepuluh menit sebelum api muncul," jelas Kepala Keamanan seraya menyodorkan sebuah tablet berisi rekaman CCTV yang agak kabur. "Seseorang yang menggunakan kartu akses tingkat manajerial masuk ke ruang kontrol utama."
Layar tablet menampilkan figur seorang pria berjaket hitam tebal dan bertopi rendah. Pria itu menempelkan kartu akses, mematikan sistem keamanan air, lalu melemparkan pemantik api ke tumpukan bahan baku sebelum melenggang pergi dengan santai.
Elkan memicingkan mata, menatap postur tubuh pelaku di layar. "Kartu akses manajerial? Siapa pemilik kartu itu?"
"Atas nama... Bapak Aldo Vance, Pak," bisik Kepala Keamanan ragu-ragu. "Tapi Pak Aldo kan sedang diisolasi di penjara..."
"Bukan Aldo," potong Gia cepat dengan nada datar. "Aldo cuma pion bodoh yang sudah dikunci rapat di sel tanpa cahaya. Pria di CCTV ini bertubuh lebih pendek dan bahunya sedikit miring ke kanan."
Gia menegakkan duduknya, menatap layar tablet lebih dekat. Tatapannya mendadak mengeras saat menyadari detail kecil di pergelangan tangan pelaku yang terekam kamera saat menempelkan kartu. Sebuah jam tangan emas antik dengan ukiran logo keluarga yang sangat spesifik.
"Itu paman dari pihak keluarga Siska," celeduk Gia dingin. "Tangan kanan Nico Corp yang dulu mengurus pencucian uang Aldo."
Elkan mengepalkan tangannya di meja. "Rupanya sisa-sisa benalu Nico Corp masih merasa punya gigi. Mereka pikir dengan membakar gudang Sektor B, pengiriman bahan baku untuk audit konsorsium besok pagi akan gagal total?"
Gia tertawa pelan, suara tawa yang begitu anggun namun mampu membuat siapa pun merinding.
"Mereka lupa satu hal," ujar Gia seraya berdiri dari sofanya, melangkah menuju jendela kaca besar yang menghadap pemandangan kelam kota di malam hari. "Gudang Sektor B itu sudah kosong sejak tiga hari yang lalu. Seluruh bahan baku impor bernilai triliunan rupiah sudah dipindahkan ke gudang rahasia Kirana Logistics di Sektor A atas perintahku."
Elkan menoleh cepat, matanya berbinar cerah saat menyadari kecerdasan Gia yang melompati langkah para musuhnya. "Jadi... yang terbakar di Sektor B cuma..."
"Cuma tumpukan limbah kain dan bahan baku kedaluwarsa yang memang mau dibuang," sambung Gia manis, membalikkan badan menatap Elkan dengan binar mata jahil. "Mereka sengaja dibiarkan masuk untuk memberi makan kesombongan mereka sendiri."
Elkan tertawa lepas—sebuah tawa lega dan puas yang bergema di dalam ruangan. Ia melangkah mendekati Gia, merengkuh pinggang wanita itu dengan lembut dan penuh kejayaan.
"Kamu benar-benar Ratu sejati, Gia," puji Elkan, menatap lekat-lekat mata indah calon istrinya. "Kamu membiarkan mereka membakar sampah sambil berpikir mereka sedang menghancurkan kita."
"Tentu saja," balas Gia, mengusap bahu jas Elkan. "Dan sekarang, waktunya menyerahkan bukti CCTV ini ke kepolisian. Biarkan Paman Siska itu menyusul Aldo dan Siska di dalam penjara besok pagi."
Di luar gedung, sirine mobil polisi meraung-raung menembus kegelapan malam, bergerak menuju lokasi persembunyian para pelaku sabotase yang tidak menyadari bahwa jebakan sang Ratu telah tertutup rapat.
Gia menatap cincin berlian biru di jari manisnya yang berkilau indah di bawah pendar lampu ruang kerja. Badai kecil telah lewat tanpa mampu menggores sedikit pun kejayaannya. Bersama Elkan di sisinya, takhta kemenangan mutlak kini telah sepenuhnya berada di dalam genggamannya.