Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Bukan Sekadar Pemilik Tanah
Danang berjalan menyusuri lorong pasar tanpa tahu hendak ke mana. Bau tanah basah, kunyit, dan karung goni melekat pada kemejanya yang belum diganti. Orang-orang menyenggol bahunya, tetapi ia tidak mengelak. Kata Raden Roro masih berputar di kepalanya sampai matanya tertumbuk pada sesuatu yang selama ini tak pernah ia perhatikan.
Di lorong ketiga, di antara tumpukan karung beras yang baru diturunkan, ada tanda kecil yang dijahitkan pada simpul jahitannya. Benda kuningan sepanjang ruas jari itu berbentuk selembar daun.
Ia mendekat dan menyentuhnya. Benda itu dingin. Cap di permukaannya telah halus karena berkali-kali disentuh tangan: daun sawo kecik dengan satu garis tipis di tengah.
Danang mengenalinya. Selama tiga tahun, ia telah memotong benda semacam ini dengan pisau dari ratusan karung. Wahyu pernah mengumpulkannya dalam kaleng biskuit di rak kantor, dan Danang pernah bertanya benda-benda itu untuk apa. Saat itu, ia menjawab sambil lalu: tanda gudang.
Pernah, pada bulan-bulan pertama, sebuah tanda jatuh ke lantai gudang dan Raras memungutnya.
"Jangan dibuang, Mas."
"Cuma tanda gudang, Ras."
"Nggih." Raras menyelipkannya ke lipatan kebaya, lalu menepuknya sekali. "Tapi yang bikin tandanya sudah susah payah."
Danang tertawa waktu itu, lalu menyuruh Wahyu menyapu lantai.
"Pak." Ia menahan lengan seorang kuli panggul tua yang lewat, lelaki kurus dengan kaus yang sudah tipis. "Niki tanda nopo, nggih?" (Ini tanda apa, ya?)
Kuli itu memindahkan karung ke bahu yang lain, lalu menatap daun kuningan itu agak lama. Ia tidak langsung menjawab. Danang tahu lelaki itu sedang menimbang siapa yang bertanya.
"Niku cap dalem, Mas." (Itu cap dalem, Mas.) Suaranya hampir tak terdengar. "Sak Kulon Progo, Gunungkidul, Bantul, sedoyo ngertos. Karung bercap niku mboten nate dipun tawar." (Seluruh Kulon Progo, Gunungkidul, Bantul, semua tahu. Karung bercap itu tidak pernah ditawar.)
"Tidak pernah ditawar?"
"Mboten, Mas. Cap niku wujud pitados. Sing nggawa karung bercap, wong pasar mesti pitados." (Cap itu wujud kepercayaan. Yang membawa karung bercap, orang pasar pasti percaya.)
Kuli itu mengangguk sopan, lalu melangkah pergi. Danang tetap berdiri di tempatnya, tangan masih menggenggam daun kuningan itu.
Ia mulai menghitung. Bukan karena memutuskan untuk melakukannya, melainkan karena tubuhnya bergerak sendiri, seperti kebiasaannya menghitung karung di pintu bak. Di lorong keempat, enam dari sepuluh tumpukan memiliki cap. Di lorong kelima, hampir semuanya. Truk-truk yang berhenti di pelataran menurunkan karung bercap, dan para pembeli memeriksanya sekilas, tanpa membuka jahitan atau menusukkan alat untuk mengambil sampel.
Seorang perempuan penjual beras sedang menata dagangannya. Danang bertanya dengan krama sehalus yang ia bisa, tetapi perempuan itu justru mengerutkan kening.
"Mas niki wonten sambet-sambetipun kaliyan dalem, nggih?" (Mas ini ada hubungannya dengan dalem, ya?) Ia menimbang berasnya. "Kulo mboten ngertos, Mas. Kulo namung ngertos, dalem niku mboten namung gadhah sawah."
"Maksud Ibu?"
"Dalem niku ingkang ngatur supados petani saged ngedol lan tiyang pasar saged pitados. Ewon petani, Mas. Saking Kulon Progo ngantos Gunungkidul. Sedoyo sami mitra. Sampun turun-temurun." (Dalem itu yang mengatur supaya petani bisa menjual dan orang pasar bisa percaya. Ribuan petani, Mas. Dari Kulon Progo sampai Gunungkidul. Semua mitra. Sudah turun-temurun.)
Danang mendengarkan. Selama ini, ia mengira tahu apa arti keluarga pemilik tanah: sawah, kebun, gudang, kekayaan yang dihitung berdasarkan luasnya. Ternyata bukan itu saja.
Ia teringat buku hitam di kamar belakang. Pak Wiryo: tepat. Pak Sastro: tepat. Bu Warsih: tepat. Itu bukan catatan seorang istri yang mengisi waktu sambil menunggu. Itu buku besar milik seseorang yang tahu persis siapa mempercayai siapa, dan pada hari apa. Danang tak tahu harus menyebut perasaannya apa. Kagum terasa terlalu hangat, sementara takut terlalu murah untuk menggambarkan semua yang dilihatnya hari ini.
Ia bukan sedang berhadapan dengan orang yang memiliki tanah. Ia berhadapan dengan sesuatu yang membuat tanah itu berguna bagi ribuan orang, sesuatu yang namanya sendiri menjadi jaminan.
Di pelataran, seorang perempuan tani menurunkan karung bercap dari bak pikap, sementara anak lelakinya berusaha mengangkat satu karung dengan susah payah.
"Ojo diseret, Le. Iki titipane dalem." (Jangan diseret, Nak. Ini titipan dalem.)
Anak itu mengangkat karung tersebut dengan kedua tangan dan melangkah pelan, seolah yang dibawanya bukan padi, melainkan sesuatu yang mudah pecah. Danang menatapnya tanpa bisa mengalihkan pandangan. Selama tiga tahun, ia mengangkat karung-karung itu sambil membayangkan semua kerja kerasnya sendiri.
Ia mengeluarkan ponsel. Jarinya salah menekan nomor dua kali sebelum akhirnya berhasil menghubungi Wates.
"Nggih, Mas?" Suara Pak Karto terdengar, bercampur gema gudang.
"Pak, tolong lihat karung kacang hijau dari Kulon Progo, yang tiga ratus itu. Ada tanda kecil di jahitannya? Seperti daun, dari kuningan?"
Jeda. Danang mendengar langkah sepatu di lantai semen, lalu bunyi tali dipotong.
"Wonten, Mas. Sedoyo." (Ada, Mas. Semua.) Pak Karto terdengar heran. "Kulo kinten niku tanda panen. Mboten kulo copot." (Saya kira itu tanda panen. Tidak saya lepas.)
"Yang seratus dua puluh di emper timur?"
"Sami, Mas."
Danang mematikan telepon tanpa mengucapkan terima kasih. Itu kekasaran kecil yang belum pernah ia lakukan kepada Pak Karto.
Ia berjongkok di tepi lorong, di dekat tumpukan karung bercap yang tak punya hubungan dengannya.
Ia teringat satu malam ketika Pak Darmo, pengepul di kota ini, menyebutnya "satu tingkat di bawah", dan Danang memilihnya karena tenggang pembayaran hampir habis. Ia juga teringat Pak Hartono yang pernah menimbang segenggam jagung di telapak tangannya. Ini bukan barang Pak Wiryo, to? Saat itu, Danang mengira itu pertanyaan. Kini ia tahu, itu bukan pertanyaan. Itu putusan.
Kontrak enam bulan yang ia kejar dengan bekerja sampai pukul dua pagi dan pergi ke Semarang, kontrak yang ia banggakan di depan Niken, di depan Bapak, dan di depan dirinya sendiri, ternyata dibangun di atas karung-karung bercap.
Ia mencari pembenaran, seperti yang selalu dilakukannya. Ia yang melobi. Ia yang menandatangani. Ia yang mengangkat. Semua itu benar.
Kalau pintu itu dibukakan orang lain, ia tetap yang melangkah masuk. Kalau Raras memilih diam, itu pilihan Raras, bukan kesalahannya. Alasan itu masuk akal, dan ia menggenggamnya erat seperti seseorang yang berpegangan pada pagar di tepi jurang.
Namun, sekarang ia tahu, tanpa bisa mengelak lagi, bahwa semua itu tidak pernah cukup untuk membuat Hartono percaya pada karungnya.
Ponselnya bergetar di tangan. Bu Tutik meneruskan sebuah berkas.
Pak, ini lampiran kontrak Hartono yang tadi diminta Pak Joko. Saya buka lampiran dua. Mohon Bapak baca sendiri.
Danang membuka berkas itu dengan ibu jari yang tak mau diam. Tabel spesifikasi mutu. Kadar air, kadar kotoran, ukuran butir. Lalu satu baris kecil di bawahnya, yang dulu ia lewati karena terburu-buru menuju halaman tanda tangan.
Mutu setara kiriman perdana. Kemasan bertanda daun sawo kecik.
Ia membaca baris itu tiga kali. Enam ratus karung yang ia bawa semalam suntuk dari Pak Darmo tidak memiliki satu pun tanda.
Ia menelepon Bu Tutik. Dering pertama bahkan belum selesai ketika panggilan itu dijawab. Napas Bu Tutik terdengar cepat.
"Tut, kita punya sampel kiriman perdana? Yang bertanda?"
"Ada satu karung kecil di lemari kantor, Pak. Tapi tandanya sudah..." Bu Tutik berhenti. "Dulu Bapak yang selalu memotongnya."
Danang memejamkan mata. Ia tidak menjawab, dan Bu Tutik tidak berani mengisi keheningan itu.
Ibu jarinya sempat membuka nama Raras di daftar kontak. Satu kalimat saja, katanya kepada diri sendiri. Ras, aku butuh sampel. Ia mulai mengetiknya, tetapi jarinya berhenti di huruf terakhir.
Tanda tangan Mas bukan barang tukar. Jawaban saya juga bukan.
Ia menghapus kalimat itu satu huruf demi satu huruf sampai layarnya kembali kosong. Itu satu-satunya keputusan hari ini yang tidak ia sesali, dan ia tidak tahu mengapa keputusan itu terasa seperti kekalahan.
Pesan baru masuk dari Pak Joko, singkat, tanpa salam.
Besok pukul delapan, Pak Danang diminta membawa contoh karung bertanda dari kiriman perdana. Bila tidak ada, pertemuan dibatalkan.
Danang mengangkat kepala. Di hadapannya, seorang kuli menurunkan karung bercap dari pundaknya. Daun kuningan kecil itu berkilau sesaat di bawah lampu pasar.
lanjuut
🙏💪