NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33.Aku menang wlee

Matahari pagi menyinari kota Jakarta dengan pendar keemasan yang hangat, namun atmosfer di ruang makan utama mansion Diksara justru terasa sedingin es di kutub utara. Meja makan panjang berbahan kayu mahoni itu dipenuhi berbagai hidangan sarapan mewah mulai dari croissant segar, panseared salmon, hingga semangkuk bubur ayam berstandar hotel bintang lima.

Namun, bukan makanan lezat itu yang menjadi pusat perhatian pagi ini.

Di salah satu ujung meja, Naya duduk dengan tenang sambil mengunyah sepotong roti panggang beroleskan selai stroberi. Sejak insiden ciuman tidak sengaja semalam dan perdebatan alot soal kontrak yang hampir membuat urat leher Damar putus, Naya memutuskan untuk bersikap senormal mungkin. Ia tidak mau ambil pusing. Toh, baginya hidup harus terus berjalan demi target utama: menjadi janda kaya mandiri empat bulan ke depan.

Namun, hal serupa sepertinya tidak berlaku bagi pria yang duduk tepat di seberangnya.

Damar Diksara, sang CEO dingin yang biasanya paling disiplin dan fokus pada laporan keuangan perusahaan di tabletnya pagi-pagi begini, mendadak mengalami gangguan konsentrasi tingkat akut.

Sejak tadi, alih-alih menatap layar perangkat kerjanya, sepasang mata tajam Damar terus-menerus terarah lurus ke satu titik: bibir Naya yang sedang bergerak-gerak mengunyah roti panggang.

Pikiran pria itu dipenuhi oleh memori semalam. Sensasi benturan bibir yang cepat, kelembutan yang tidak sengaja singgah di indranya, serta aroma manis samar yang menguar dari bibir sang istri terus berputar bagaikan kaset rusak di dalam kepalanya. Bayangan itu membuat Damar merasa tenggorokannya kering dan dadanya bergemuruh aneh.

Sial, batin Damar merutuki dirinya sendiri untuk kesekian kalinya pagi ini. Kenapa bayangan bibir itu tidak mau hilang dari kepala?

Naya, yang menyadari dirinya sedang diperhatikan secara intensif oleh sang suami, perlahan menghentikan kunyahannya. Ia mengerjap-ngerjap bingung, lalu meletakkan potongan rotinya di atas piring.

"Kenapa?" tanya Naya dengan nada blak-blakan, menatap lurus ke arah Damar. "Ada yang aneh sama muka aku? Apa ada sisa selai stroberi nempel di jidat? Atau... kamu terpesona karena sadar kalau istrimu ini ternyata cantiknya kebangetan?"

Tertangkap basah sedang asyik menatap bibir sang istri sambil melamun, Damar langsung tersentak kaku. Refleks pertahanan diri seorang CEO berdarah dingin langsung aktif dalam kecepatan kilat.

Alih-alih salah tingkah atau meminta maaf, Damar justru mendengkus dingin. Pria itu menarik dagunya sedikit ke atas, memasang ekspresi paling datar dan sinis yang ia miliki.

"Jangan kegeeran, Naya," tukas Damar dengan suara bariton yang sengaja ditegas-tegas kan, berusaha menutupi kegugupannya setengah mati. "Siapa juga yang terpesona? Saya tadi cuma sedang mengamati ekspresi orang yang otaknya penuh dengan rencana kabur dan uang kompensasi dua miliar. Pemandangan yang sangat memuakkan."

Naya langsung mendengkus kesal, memutar bola matanya jengah mendengar jawaban menyebalkan itu.

"Dih, mulai lagi deh sindirannya!" balas Naya sewot, mengambil segelas air hangat. "Kalau ngeliat aku bikin kamu muak, ya udah sana jangan diliatin! Cari aja pemandangan lain yang lebih berkelas, misalnya foto Clara si Mbak Lampir lagi pamer tas KW!"

Mendengar nama Clara disebut, rahang Damar kembali mengeras, namun sebelum ia sempat membalas ucapan Naya, sebuah suara deheman tajam yang dibuat-buat menggema dari arah pintu masuk ruang makan.

Ehem!

Mamah Ratna melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan punggung tegak dan dagu terangkat tinggi. Wanita paruh baya itu mengenakan setelan blazer formal berwarna navy yang elegan, memancarkan aura otoriter yang khas. Namun, sorot mata tajamnya langsung menghujam ke arah meja makan, tepatnya pada interaksi antara putra kandungnya dan sang menantu.

Sejak pagi buta, Mamah Ratna memang sudah mengamati gerak-gerik Damar dari lantai atas. Dan apa yang ia lihat barusan—bagaimana putranya menatap Naya dengan tatapan sarat akan keterpesonaan yang tidak bisa disembunyikan—membuat darah Mamah Ratna mendidih seketika.

Wanita paruh baya itu menarik kursi tepat di sebelah Damar, lalu duduk dengan gerakan anggun namun penuh ketegangan.

"Damar," panggil Mamah Ratna dengan nada suara yang sengaja dibuat dingin dan menusuk. "Sejak kapan seorang CEO Diksara Group menghabiskan waktu sarapan paginya hanya untuk melamun menatap perempuan tidak berkelas seperti dia, alih-alih membaca laporan triwulan perusahaan?"

Naya menghentikan gerakannya, melirik sekilas ke arah sang mertua dengan tatapan malas. Dih, dateng-dateng langsung bawa hawa panas. Kurang piknik apa lagi sih ni nenek lampir senior? batin Naya mendengkus dalam hati.

Damar sendiri mengerutkan keningnya tidak suka. Pria itu menoleh ke arah sang ibu dengan sorot mata dingin. "Apa yang Mamah bicarakan? Saya sedang tidak melamun."

"Jangan membela diri, Damar!" sanggah Mamah Ratna dengan nada suara yang sedikit meninggi, jari lentiknya menunjuk sekilas ke arah Naya. "Mamah perhatikan akhir-akhir ini kamu semakin melunak! Kamu berani membentak Mamah, membela perempuan bayaran ini mati-matian, dan sekarang... kamu bahkan menatapnya dengan tatapan bodoh itu!"

Suasana di ruang makan mendadak berubah tegang. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan langsung menundukkan kepala, tidak berani bernapas terlalu kencang.

Damar mengepalkan tangannya di bawah meja. Rahangnya mengeras kaku. "Mamah tidak berhak mengatur bagaimana cara saya menatap atau memperlakukan istri saya sendiri," jawab Damar dengan suara bariton yang rendah, dingin, dan penuh penekanan mutlak. "Naya adalah istri sah saya di rumah ini. Batasi ucapan Mamah."

"Istri sah? Istri kontrak, maksudmu!" potong Mamah Ratna tajam, matanya menyalang penuh amarah menatap Naya yang masih duduk santai menyeruput air hangat. "Semua orang di keluarga ini tahu persis apa status perempuan itu sebenarnya! Dia cuma perempuan licik yang memanfaatkan kontrak pernikahan untuk mengeruk harta kekayaan keluarga kita!"

Mendengar kata-kata pedas yang menghina harga dirinya secara terang-terangan, Naya tidak tinggal diam. Ia meletakkan gelasnya ke atas meja secara perlahan, lalu menatap Mamah Ratna dengan senyuman tipis yang menyebalkan.

"Eh, Tante—eh maksud saya, Mamah Ratna yang terhormat," sela Naya dengan nada suara yang tenang namun menusuk telak. "Soal kontrak itu kan dari awal memang sudah disetujui bersama anak kesayangan Mamah ini. Kalau Mamah keberatan, silakan tagih protesnya langsung ke Pak Direktur Utama di sebelah Mamah ini, jangan ke saya. Capek ya hidup penuh curiga terus? Takut banget harta warisannya habis dibeliin cilok mercon sama saya?"

Skakmat!

Wajah Mamah Ratna langsung memerah padam menahan amarah yang luar biasa mendengar jawaban santai dan menohok dari menantunya. Belum pernah ada seorang pun yang berani berbicara sekritis itu di hadapannya secara langsung.

"Kamu...!" maki Mamah Ratna dengan tangan gemetar menunjuk Naya. "Perempuan tidak tahu sopan santun! Berani sekali kamu melawan orang tua?!"

"Udah, Mah. Cukup," potong Damar dengan suara menggelegar yang langsung menggetarkan seluruh ruangan. Pria itu bangkit berdiri dari kursi makannya dengan gerakan kasar, membuat kursinya bergeser mengeluarkan suara decitan nyaring di atas lantai marmer.

Aura gelap dan mengintimidasi langsung memancar kuat dari tubuh Damar. Ia menatap sang ibu dengan sorot mata yang menyiratkan ketegasan mutlak.

"Kalau Mamah terus-menerus mencari masalah dan menghina istri saya di rumah ini, jangan salahkan saya jika nanti saya memutuskan untuk membawa Naya keluar dari mansion ini dan tinggal di apartemen pribadi saya," ancam Damar telak, tanpa keraguan sedikit pun di dalam suaranya.

Deg!

Pernyataan itu bukan hanya membuat Mamah Ratna terperanjat kaget, melainkan juga membuat Naya yang duduk di seberang seketika membelalakkan matanya lebar-lebar.

Hah?! Tinggal berdua di apartemen pribadi?! batin Naya menjerit panik di dalam hati. Gawat! Kalau kami pindah ke tempat sekecil itu berdua, rencana pertahanan diri dari pesona si Kulkas bakal hancur lebur! Bisa-bisa aku beneran khilaf jadi bucin sebelum empat bulan berakhir!

Mamah Ratna mencengkeram tepi meja makan dengan buku-buku jarinya yang memutih. Napas wanita paruh baya itu memburu hebat. Ia menatap putranya dengan tatapan tidak percaya. Ancaman Damar untuk membawanya pergi dari mansion adalah pukulan telak yang paling ia takuti—karena itu artinya, cengkeraman kekuasaannya sebagai matriark keluarga Diksara atas hidup Damar benar-benar akan lepas total di tangan perempuan asing ini.

"Kamu... kamu benar-benar sudah dipelet habis-habisan oleh perempuan sialan ini, Damar!" desis Mamah Ratna dengan suara bergetar penuh kebencian.

Damar tidak peduli lagi. Pria itu menoleh sekilas ke arah Naya, lalu berkata dengan nada dingin yang melunak tipis, "Selesai sarapannya? Ikut saya ke ruang kerja sekarang."

Tanpa menunggu jawaban Naya, Damar membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan yang penuh dengan aura permusuhan itu.

Naya menghela napas panjang, merapikan bajunya sejenak. Ia melirik sekilas ke arah Mamah Ratna yang masih menatapnya dengan sorot mata penuh dendam kesumat. Dengan senyuman miring penuh kemenangan yang sengaja dipamerkan, Naya berdiri dari kursinya dan berjalan menyusul langkah Damar, meninggalkan sang mertua yang hampir pingsan karena terlalu frustrasi.

_Bersambung

1
Uthie
cieee😁
Uthie
makan tuhhhh gengsi yaa Nayyy 😜😂
Uthie
cieeeee 😁😁😁
Uthie
sukkkaaaa 😂👍
Uthie
kalau ada kata Transmigrasi ingin selalu intip-intip.. Soo... sy mampir 🤗
Fany Aja
tiba-tiba bangettt ngomong gitu🤭
dinda aja
🤣🤣🤣🤣
Runa fatia
rada ngakakkk ngebayangin wajah damar🤣🤣🤣 apa ga malu kali tuh
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!