Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Subuh, Dua Kitab & Ikhlasnya Ning Sopiah
Jam 4.30 subuh, Darunnajah masih gelap. Adzan pertama baru selesai, embun masih tebal di halaman ndalem.
Tapi lampu dapur ndalem sudah nyala.
Ning Sopiah berdiri di depan kompor, dasternya panjang, kerudung coklat mudanya sudah rapi dari habis wudhu. Di atas meja ada dua gelas teh anget yang masih ngebul, sama piring kecil berisi kurma tiga biji.
Tangannya gemeter pas nuang teh. Dari semalam dia gak bisa tidur nyenyak.
"Uqudulujain... Qurrotul Uyun..." gumamnya pelan sambil ngelap gelas yang sebenarnya udah bersih. "Ya Allah, gimana nanti kalau Sopiah salah baca..."
Di samping teh, dua kitab itu sudah dilap bersih, sudah dikasih pembatas warna pink. Catatan kecil Sopiah di pinggirnya masih berantakan, tulisan pegonnya agak miring karena grogi semalam.
Terdengar suara sandal di teras. Pintu dapur diketuk pelan.
"Assalamualaikum, Ning."
Suaranya Gus Azam. Masih pakai sarung, koko putih, peci hitamnya agak miring habis jamaah di masjid. Wajahnya seger habis wudhu, tapi matanya kelihatan juga semalam kurang tidur.
Sopiah buru-buru bukain pintu, nunduk dalam.
"Waalaikumsalam, Gus. Masuk Gus, tehnya udah Sopiah siapin."
Gus Azam masuk, duduk di kursi kayu dekat meja. Dia liat teh anget itu, senyum.
"MasyaAllah, jam segini sudah siap. Terima kasih ya Ning."
Sopiah duduk di seberang, jaraknya dijaga, tapi meja dapur kecil jadi lutut mereka hampir ketemu. Sopiah makin nunduk, tangannya ngeremas ujung kerudung.
Gus Azam buka kitab Uqudulujain pelan, gak langsung baca. Dia liat Sopiah dulu.
"Ning, sudah siap? Kita mulai pelan-pelan saja ya, gak usah buru-buru."
Sopiah ngangguk kecil, suaranya hampir hilang, "Nggih Gus, siap..."
Gus Azam mulai membacakan, suaranya santai, pelan, seperti seorang guru yang ngaji ke muridnya, bukan seperti suami yang menuntut. Tajwidnya jelas, artinya dijelaskan dengan bahasa yang halus.
"Bismillahirrahmanirrahim... bab tentang adab seorang istri dalam menjaga amanah rumah tangga..."
Setiap kalimat yang dibaca Gus Azam, kepala Sopiah makin nunduk. Bukan karena takut, tapi karena materinya sangat jelas. Di kitab itu dijelaskan bagaimana besarnya pahala istri yang menjaga adab, menjaga ridho suami, bagaimana Rasulullah memuliakan istri yang ikhlas melayani dengan niat ibadah, bukan karena paksaan.
Tidak ada kata-kata yang menghakimi. Gus Azam cuma menyampaikan.
"Jadi, Ning... di sini dijelaskan, kewajiban itu bukan beban, tapi jalan untuk dapat ridho Allah lewat ridho suami. Suami pun wajibnya lebih berat, wajib menjaga, wajib mendidik, wajib sabar..."
Sopiah diam, matanya mulai panas. Dia menahan malu dan bingung mau berkata apa. Tangan Gus Azam yang dari tadi pegang kitab, pelan-pelan pindah, mengelus punggung Sopiah pelan, elusan yang menenangkan, bukan yang lain.
"Sudah, santai saja Ning. Ini hanya mengaji, bukan meminta. Gus cuma menyampaikan ilmu. Jangan dipikir yang berat-berat dulu," kata Gus Azam pelan, suaranya lembut banget.
Tapi justru karena dilembutin begitu, pertahanan Sopiah jebol.
Air matanya yang dari tadi ditahan, jatuh satu, dua. Dia gak bisa menyembunyikan lagi rasa malunya.
Selama ini, dia sibuk jadi Ning yang cerewet ngurus pondok, sibuk jadi mak comblang Hasna-Hafidz, sibuk main sama Ning Latifah, tapi dia ngerasa belum bisa memberikan kewajiban utamanya sebagai istri dengan sempurna. Dia masih sering grogi, masih sering menghindar kalau sudah masuk bab rumah tangga yang lebih dalam.
Materi kitab Uqudulujain yang sangat jelas itu seperti cermin.
Sopiah akhirnya angkat kepala, untuk pertama kalinya pagi itu dia berani menatap mata Gus Azam langsung. Matanya sembab, tapi ada tekad di sana.
"Maafkan Ning ya Gus..." suaranya gemeter, pecah. "Kini Ning sadar... selama ini Ning banyak kurangnya. Ning berdosa karena masih sering menunda, masih malu yang kelewatan, padahal Gus sudah sabar banget ngajarin pelan-pelan."
Gus Azam diam, dengerin, tangannya masih di punggung Sopiah, gak narik, gak maksa.
Sopiah lanjut, air matanya makin deres, tapi senyumnya mulai muncul di sela tangis.
"Terima kasih ya Gus Azam sudah sabar... meskipun Gus memiliki istri lebih dari satu, tapi Gus masih menghormati Ning, masih nunggu Ning siap, masih ngajarin dengan adab. Ning Latifah aja bilang, Gus itu paling adil kalau ngajarin, gak pernah maksa..."
Sopiah nunduk lagi, sedih dan malu jadi satu, tapi lega.
"Bismillah Gus... aku ikhlas... mulai hari ini, Ning akan melayani suamiku sesuai syariah, sesuai yang diajarkan di kitab ini. Bukan karena takut, tapi karena Ning mau cari ridho Allah lewat ridho Gus. Pelan-pelan ya Gus, bimbing Ning..."
Hening.
Hanya suara kompor yang masih kecil dan suara jangkrik subuh dari luar.
Gus Azam narik napas panjang, matanya juga ikut berkaca-kaca. Dia tutup kitabnya pelan, terus geser kursinya lebih dekat, tapi tetap jaga adab.
"Ning..." suaranya berat, nahan haru. "Gus gak pernah nganggap Ning berdosa. Gus malah bangga punya istri seperti Ning yang mau belajar. Dari dulu Sopiah itu santri paling pinter kalau soal adab, cuma memang pemalu. Dan malu itu sebagian dari iman."
Dia usap air mata Sopiah pakai ujung jarinya, pelan banget.
"Gus gak butuh dilayani yang sempurna, Ning. Gus cuma butuh ditemenin belajar bareng, sampai tua, sampai kita bisa khatamin kitab ini berdua. Kalau Ning sudah ikhlas, itu sudah lebih dari cukup buat Gus. Pelan-pelan, kita belajarnya sama-sama."
Sopiah yang tadinya nangis sedih, sekarang nangis haru. Dia ngangguk kenceng.
"Iya Gus... pelan-pelan ya..."
Gus Azam ketawa kecil, biar suasana gak terlalu haru.
"Ya sudah, kalau sudah ikhlas, tehnya diminum dulu. Nanti keburu dingin. Habis itu kita lanjut Qurrotul Uyunnya satu halaman saja, gak usah banyak-banyak."
Sopiah langsung panik lucu, ngelap air matanya pakai kerudung, "Eh iya Gus, tehnya! Lupa!"
Dia nyodorin teh ke Gus Azam dengan kedua tangan, masih nunduk tapi senyumnya sudah lebar lagi.
Gus Azam nyeruput tehnya, "Alhamdulillah, manisnya pas. Seperti yang bikin."
Sopiah merah lagi, "Gusss..."
Dari jendela dapur, kelihatan bayangan gamis. Ning Latifah ngintip sambil bawa piring gorengan, terus berbisik kenceng. Dan Ning Ummah tak sengaja datang dari arah berlawanan "Tifah jangan gangguin mereka, mereka lagi belajar memahami masing-masing, ayo sini lebih baik kamu bantuin Mba di dapur."
Buka Ning Latifah namanya kalo ga ngeyel, tiba-tiba nyelonong masuk.
"Alhamdulillah sah! Akhirnya murojaahnya lulus!"
Sopiah dan Gus Azam langsung kaget, terus ngakak bareng.
Pagi itu, subuh di Darunnajah jadi saksi, bukan hanya khatamnya satu bab kitab, tapi luruhnya malu jadi ikhlas. Di meja dapur yang kecil, dua teh anget, dua kitab, dan dua hati yang sama-sama belajar jadi lebih dewasa.
---Bersambung---