NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gengsi

“Aku ingin kita berpisah setelah KKN selesai,” kata Arsen datar tanpa sedikit pun menoleh.

Keira yang tengah berdiri di dekat meja makan sontak memandangnya dengan tatapan tajam.

“Memangnya aku mau terus-terusan jadi istrimu?” balas Keira sengit. “Aku juga sudah gak sabar menunggu kita berpisah! Dosen sombong, keras kepala, dingin, dan terlalu percaya diri!”

Arsen akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya tetap tenang, tetapi ada peringatan jelas di balik sorot matanya.

“Jangan lupa, kamu masih istriku. Dan selama KKN nanti, aku juga akan menjadi dosen pembimbingmu. Jadi, jaga sikapmu.”

Tanpa menunggu jawaban, Arsen beranjak menuju ruang tamu. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan santai, seolah pertengkaran mereka barusan sama sekali tidak berarti.

Keira mengepalkan kedua tangannya. Napasnya memburu karena menahan kesal.

Sudah empat bulan mereka menjalani pernikahan yang terjadi bukan karena cinta, melainkan karena perjodohan kedua keluarga.

Empat bulan yang bagi Keira terasa seperti bertahun-tahun.

Tidak ada percakapan manis. Tidak ada tawa bersama. Bahkan sekadar makan malam dengan tenang pun terasa sulit. Hampir setiap hari selalu ada perdebatan kecil, sindiran, atau perang dingin yang membuat rumah mereka terasa seperti tempat paling asing.

Awalnya Keira berpikir ia bisa menjalani semuanya dengan santai.

Toh, pernikahan itu hanyalah sebuah formalitas.

Namun, semakin lama tinggal bersama Arsen, semakin ia tidak tahan dengan sifat pria itu yang kaku, dingin, dan selalu merasa pendapatnya paling benar.

Di kampus, Arsen dikenal sebagai dosen muda yang cerdas, tegas, dan disegani.

Tidak sedikit mahasiswi yang mengaguminya.

Namun, bagi Keira, Arsen sama sekali tidak terlihat seperti pria idaman ketika berada di rumah.

Ia lebih mirip seorang atasan yang selalu memberikan perintah daripada seorang suami.

“Kenapa sih kamu selalu merasa paling benar?” gerutu Keira sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan kasar.

Arsen tetap diam.

Ia hanya memejamkan mata sembari menyandarkan kepala ke sofa. Salah satu tangannya menekan keningnya yang terasa berat.

“Aku lelah,” ucapnya akhirnya dengan suara rendah. “Seharian di kampus aku harus menghadapi berbagai macam hal. Pulang ke rumah, aku malah harus menghadapi kamu yang gampang terpancing emosi.”

Keira langsung menatapnya tak percaya.

“Aku yang emosian?” tanyanya. “Kamu itu kalau bicara gak pernah bisa lembut sedikit pun!”

Arsen membuka matanya dan menatap istrinya.

“Sejak awal kita tidak pernah cocok,” katanya tenang. “Jadi jangan berharap aku akan menjadi suami seperti yang selama ini kamu bayangkan.”

Kalimat itu membuat Keira terdiam.

Ada sesuatu yang terasa menusuk di dadanya, meskipun ia berusaha keras untuk tidak menunjukkannya.

Beberapa detik kemudian, ia tertawa kecil.

“Tenang saja,” jawabnya dengan nada menyindir. “Aku juga gak pernah berharap apa-apa darimu.”

Setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara.

Ruang tamu kembali dipenuhi keheningan. Hanya bunyi detik jarum jam yang terdengar jelas di antara mereka.

Di luar rumah, langit semakin gelap. Rintik hujan mulai turun, seolah ikut menggambarkan suasana hati keduanya.

Keira akhirnya memilih masuk ke kamar. Pintu ditutup sedikit lebih keras dari biasanya.

Ia duduk di tepi ranjang dan menatap cincin pernikahan yang melingkar di jarinya.

Benda yang empat bulan lalu terasa begitu asing itu kini justru menjadi pengingat bahwa hidupnya sudah berubah.

Saat pertama kali mengenakannya, Keira masih menyimpan harapan bahwa mungkin suatu hari ia dan Arsen bisa saling memahami.

Namun sekarang, yang tersisa hanyalah rasa lelah.

Sementara itu, Arsen masih berada di ruang tamu.

Pria itu menatap langit-langit sambil terdiam.

Ucapan tentang perceraian setelah KKN tadi sebenarnya bukan sekadar luapan emosi.

Ia sudah memikirkannya.

KKN akan berlangsung selama dua bulan. Setelah semuanya selesai, mungkin berpisah memang menjadi pilihan paling sederhana untuk mengakhiri pernikahan mereka.

Namun, untuk beberapa alasan yang bahkan tidak ia pahami sendiri, bayangan tentang Keira yang benar-benar meninggalkan rumah itu membuat hatinya terasa tidak nyaman.

Arsen menghela napas panjang.

Ia segera menyingkirkan pikiran tersebut.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.

Keira keluar dengan ekspresi yang sudah lebih tenang, meskipun sisa kekesalan masih terlihat jelas di matanya.

“Kalau soal KKN, aku akan tetap profesional,” katanya singkat. “Aku gak mau siapa pun tahu kalau hubungan kita sedang bermasalah.”

Arsen mengangguk.

“Bagus. Itu juga yang aku inginkan.”

“Tapi jangan karena kamu dosen pembimbing, lalu kamu merasa bisa memperlakukanku seenaknya.”

“Aku tahu batas antara urusan pribadi dan akademik,” jawab Arsen tegas. “Nilai kamu akan tetap berdasarkan kemampuanmu.”

Keira mendengus pelan.

“Kita lihat saja nanti.”

Tanpa menunggu tanggapan, Keira kembali masuk ke kamar.

Arsen pun bangkit dari sofa, mematikan lampu ruang tamu, lalu menyusul.

Malam itu, mereka kembali berbaring di ranjang yang sama.

Namun, jarak di antara keduanya terasa jauh lebih lebar daripada sekadar beberapa sentimeter.

Di tengah kegelapan, Keira masih belum bisa memejamkan mata.

Ia diam-diam menatap punggung Arsen yang membelakanginya.

Apakah perceraian benar-benar menjadi satu-satunya jalan?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Di sisi lain, Arsen sebenarnya juga belum tertidur.

Ia tahu Keira masih terjaga dari gerakan kecil di sebelahnya.

Namun, sama seperti istrinya, ia terlalu gengsi untuk memulai percakapan.

Empat bulan pernikahan tanpa cinta kini akan memasuki babak baru.

Dua bulan KKN akan membuat Keira dan Arsen berada di tempat yang sama, bertemu hampir setiap hari, dan menjalankan tanggung jawab masing-masing.

Bukan hanya sebagai suami dan istri yang sedang menunggu perceraian.

Tetapi juga sebagai dosen pembimbing dan mahasiswi.

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!