NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Bab 30 Di Jantung Sarang

Gua itu dipenuhi bau tanah lembab dan asap obor yang menyengat. Rania berdiri tegak meski tangannya masih terikat di belakang punggung, mencoba menampilkan keberanian yang tidak sepenuhnya ia rasakan.

"Kau pikir rencana gilamu ini bakal berhasil?" tanya Rania, mencoba mengulur waktu sambil diam-diam menghitung jumlah penjaga di sekitar gua—delapan orang yang terlihat, mungkin lebih yang tersembunyi di lorong-lorong gelap.

Paman Surya tersenyum tipis, berjalan mengelilinginya seperti predator yang menikmati momen sebelum menyerang. "Rencana ini sudah berjalan sejak sebelum kau lahir, Nak. Atau sebelum kau... mengambil alih tubuh ini, lebih tepatnya."

Rania menegang. "Apa maksudmu?"

"Oh, aku tahu lebih banyak dari yang kau kira," Paman Surya berhenti tepat di depannya, matanya menyipit penuh perhitungan. "Aku sudah mencurigai keanehanmu sejak awal. Tapi baru semalam, salah satu mata-mataku berhasil mendengar percakapanmu dengan Raden Aryasatya di tepi pantai Cilangkap."

Jantung Rania berhenti sejenak. Mata-mata itu pasti mendengar pengakuannya soal dunia asli, soal sistem, soal segalanya.

"Dunia lain," lanjut Paman Surya, nadanya penuh rasa ingin tahu yang mengerikan, "sistem yang berbicara di kepalamu. Menarik sekali. Mungkin kau bisa jadi lebih berharga dari yang kukira."

Aryasatya, yang berdiri di samping Rania dengan tangan terikat sama, menggeram marah. "Jangan sentuh dia."

"Atau apa?" Paman Surya menatapnya dengan tatapan merendahkan. "Kau dalam posisi yang sama tidak berdayanya, Raden."

Nyonya Ratih, yang masih terikat di tiang batu, mencoba bersuara meski suaranya lemah. "Surya, lepaskan mereka. Urusanmu denganku, bukan dengan mereka."

"Urusanku," Paman Surya berbalik menatapnya, "adalah dengan siapa pun yang menghalangi rencanaku. Dan sekarang, Putri Wening—atau siapa pun namamu yang sebenarnya—menjadi kunci penting untuk langkah berikutnya."

"Langkah apa?" desak Rania, mencoba memancing informasi sambil terus menghitung waktu. Sistem sudah memberi sinyal pada pasukan cadangan tentang lokasi ini sebelum mereka masuk gua—seharusnya bala bantuan tidak lama lagi.

Paman Surya tersenyum, mendekati sebuah peta besar yang tergantung di dinding gua, menunjuk beberapa titik yang ditandai merah.

"Dengan sanderaku—kau, Putri—aku bisa memaksa Raja untuk menyerahkan kendali penuh pasukan Wanunggalih padaku. Dan dengan Raden Aryasatya juga tertawan," ia melirik ke arah Aryasatya dengan senyum licik, "Arkapura pun akan terpaksa bernegosiasi sesuai keinginanku, demi keselamatan putra mahkota mereka."

Rania merasakan dadanya sesak menyadari skala rencana yang sebenarnya jauh lebih besar dari yang mereka kira. Bukan hanya soal balas dendam atau ambisi kecil—ini soal mengambil alih kekuasaan dua kerajaan sekaligus.

"Kau gila," bisiknya.

"Aku visioner," koreksi Paman Surya tajam. "Dan sebentar lagi, visiku akan terwujud."

Ia memberi isyarat pada salah satu penjaganya, yang segera mendekat membawa sebuah kotak kecil—di dalamnya, Rania bisa melihat botol-botol kecil berisi cairan gelap yang sudah sangat familiar.

"Racun yang sama?" tanya Rania, suaranya bergetar.

"Versi yang lebih... persuasif," jawab Paman Surya. "Tidak membunuh, hanya melumpuhkan. Cukup untuk membuatmu kooperatif selama negosiasi berlangsung."

Rania merasakan panik mulai menguasainya. Di mana bala bantuan? Apakah sistem salah memberi sinyal lokasi? Apakah rencana mereka sudah terbongkar dari awal?

"Sistem," bisiknya putus asa dalam hati, "tolong bilang bala bantuan udah deket."

[Mendeteksi pergerakan pasukan besar... mendekat dari arah selatan... estimasi lima menit lagi.]

Lima menit. Terlalu lama jika Paman Surya berniat bertindak sekarang.

Rania harus mengulur waktu.

"Tunggu," katanya cepat, mencoba memikirkan cara apa pun untuk menunda. "Kalau kau emang mau negosiasi sama dua kerajaan, bunuh diri namanya kalau kau langsung racunin aku sekarang. Raja nggak akan percaya kalau aku udah nggak bisa ngomong buat buktiin aku masih hidup."

Paman Surya terdiam sejenak, mempertimbangkan logika itu.

"Dia benar," Nyonya Ratih menambahkan cepat, ikut membantu mengulur waktu meski suaranya masih lemah. "Kalau kau mau pakai mereka sebagai leverage, kau butuh mereka tetap sadar dan bisa bicara."

Paman Surya menatap botol di tangan penjaganya, lalu kembali menatap Rania dengan mata menyipit.

"Baiklah," katanya akhirnya, memberi isyarat agar botol itu disimpan kembali. "Kita tunda sedikit. Tapi jangan kira ini berarti kau menang, Putri."

Rania menghela napas lega dalam hati, meski situasi masih jauh dari aman.

Di luar gua, suara gemerisik mulai terdengar—pelan, namun cukup untuk membuat beberapa penjaga Paman Surya waspada, mengarahkan senjata mereka ke arah pintu masuk gua.

"Ada yang datang," salah satu penjaga berbisik cepat pada Paman Surya.

Paman Surya menatap ke arah pintu gua, wajahnya mengeras curiga. "Periksa."

Dua penjaga bergerak menuju mulut gua, namun sebelum mereka sempat keluar, suara benturan keras terdengar, diikuti teriakan singkat yang segera teredam.

Paman Surya menegang, menyadari sesuatu telah terjadi.

"Pengkhianatan," desisnya, menatap Rania dengan amarah yang mulai meluap. "Kau merencanakan ini sejak awal."

"Kau terlalu pede mikir kita bakal nyerah semudah itu," balas Rania, kini tersenyum tipis meski jantungnya masih berdegup kencang.

Teriakan pertempuran mulai terdengar jelas dari luar gua, logam beradu dengan logam, suara-suara kekacauan yang semakin mendekat.

Paman Surya menatap sekelilingnya dengan panik yang mulai muncul di balik topeng tenangnya, menyadari bahwa rencananya mulai berantakan.

"Kalau begitu," katanya, suaranya kini penuh keputusasaan yang berbahaya, "aku akan pastikan setidaknya satu rencana berhasil."

Ia bergerak cepat ke arah Rania, pisau kecil tiba-tiba muncul di tangannya, terarah langsung ke lehernya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!