Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan Adrian
Di balik pohon yang tidak jauh dari sana, ternyata Adrian dan Luki sudah berdiri memperhatikan sejak awal adegan mendebarkan itu .
Adrian menaikkan satu alisnya, lalu bergumam kagum. “Wow ini sangat menarik.”
Sementara itu, Fadil masih belum bisa mengatupkan mulutnya karena syok. Pandangannya bolak-balik menatap tongkat besi yang masih bergetar di batang pohon dan wajah dingin Ana. “Astaga… kekuatan macam apa itu tadi?”
Ana menarik napas panjang untuk mengatur detak jantungnya, lalu melemparkan pandangan tajam ke sisa-sisa preman yang mulai merangkak bangun dengan wajah ketakutan. “Lain kali targetnya bukan pohon lagi tapi, wajahmu. Paham?”
Ancaman singkat itu sudah lebih dari cukup untuk meruntuhkan seluruh sisa keberanian mereka.
“Mundur! Mundur! Buruan kabur!” teriak para preman panik dan saling sikut dan mendorong demi bisa melarikan diri paling dulu. Bahkan si bos berjas sampai lupa mengambil pisaunya yang terjatuh di aspal.
Luki, asisten Adrian melangkah mendekat di samping tuan mudanya sambil menatap ke arah kerumunan yang kabur. Raut wajahnya kelihatan sangat cemas. “Tuan Muda… Anda beneran yakin mau ngejar Nona Ana? Coba tolong dipikir-pikir lagi, deh.”
Plak!
Adrian langsung melayangkan tendangan ringan ke bokong Luki.
“Ini semua gara-gara kau ya! Parkir mobil aja lama banget! Akibatnya aku jadi telat kan buat pamer jadi pahlawan di depan dia!” omel Adrian kesal.
Luki memegangi bokongnya sambil meringis kesakitan.
“Tuan Muda, ada sesuatu yang ingin saya katakan, tapi saya agak takut.”
Adrian meliriknya tajam dengan mata menyipit.
“Katakan saja cepat tidak usah bertele-tele.”
“Menurut pengamatan saya Nona Ana sepertinya tidak butuh pertolongan Anda sama sekali deh.
Malah Anda yang terancam bahaya jika macam-macam.”
“Kau diam saja nggak usah sok tahu!” ketus Adrian, lalu membalikkan badan dan berjalan pergi dengan langkah gusar.
Luki hanya bisa menghela napas pasrah, lalu buru-buru menyusul di belakangnya. “Tuh kan mulai lagi ngambeknya,” gumam Luki pelan.
Di sisi lain, Yudi berjalan mendekati Fadil dan Ana, lalu menepuk pundak Fadil pelan. “Kalian berdua gak papa?”
“Cek keadaan Fadil saja dulu,” sahut Ana ketus.
Fadil langsung buru-buru mengangkat kedua tangannya ke udara sedikit pamer memperlihatkan dia masih utuh. “Aku aman kok! Tapi sumpah ya Ana, aku bener-bener gak nyangka kalau kamu se-monster ini waktu berantem.”
Yudi juga ikut mengangguk setuju. “Iya bener. Baru beberapa hari gak ketemu, pergerakanmu sudah jauh lebih kuat.”
“Aku emang terlahir dan besar di lingkungan keluarga militer,” jawab Ana singkat, memberi alasan yang masuk akal.
“Oke, intinya kali ini aku bener-bener utang nyawa dan utang budi sama kamu, Ana.”
“Gak usah dipikirin. Kebetulan aja aku lewat jalan sini.”
Baru saja Ana ingin melangkah untuk pulang, mendadak pandangannya kabur dan berkunang-kunang. Kepalanya terasa berat, disusul rasa mual yang mendadak naik ke dada. Ana refleks menekan pelipisnya, berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang mendadak limbung.
Yudi yang peka langsung menyadarinya. “Eh Ana? Kamu gak papa? Wajahmu pucat banget.”
“Nggak papa. Cuma pusing sedikit.”
Tapi dalam hati, Ana merutuki dirinya sendiri. Dia tahu pasti apa penyebabnya. Kondisi fisiknya saat ini sebenarnya belum pulih total akibat insiden kemarin. Setiap kali dia nekat memaksakan diri menggunakan kemampuan khususnya, tubuhnya otomatis langsung drop sebagai efek sampingnya.
Tiba-tiba, suara familier yang menyebalkan kembali terdengar. Adrian sudah berdiri di hadapan mereka lagi.
“Ana Ana… baru sebentar aja ditinggal nggak diawasin, kamu sudah cari ribut lagi. Kamu tuh gak sayang sama badan sendiri, ya?”
Ana mendengus kesal, memutar bola matanya. “Kamu ngikutin aku lagi?”
Adrian sengaja mengabaikan pertanyaan Ana dan langsung menoleh ke arah Luki yang baru menyusul.
“Luki, cepetan telpon Dokter Sela. Suruh dia stand by di Vila sekarang juga buat periksa mereka.”
“Siap Tuan Muda!”
Ana yang tidak mau berurusan lebih jauh langsung menunjuk Fadil. “Dia aja yang diperiksa. Dia yang paling butuh diobatin.”
“Loh kok aku doang?” protes Fadil tidak terima.
“Udah, gak usah banyak protes. Kalian semua ikut ke rumahku sekarang,” titah Adrian mutlak, tidak menerima penolakan.
Fadil yang kebingungan langsung mencondongkan badannya ke arah Ana, berbisik penasaran. “Ana… itu pria sombong siapa sih sebenarnya?”
Belum sempat Ana menjawab, Yudi sudah lebih dulu merangkul pundak Fadil dan menariknya menjauh.
“Udah deh Dil, gak usah banyak nanya. Ikut saja napa.”
Ana hanya bisa menatap punggung Adrian dengan tatapan penuh selidik dan curiga.
Orang ini… kayaknya emang harus segera aku selidiki latar belakangnya.
Vila Adrian ternyata jauh lebih megah dan luas daripada yang mereka bayangkan lebih mirip mansion mewah daripada sekadar rumah tinggal.
Begitu mereka sampai, Dokter Sela yang sudah menunggu langsung sibuk mengobati luka memar di tubuh Fadil.
“Duh, lukanya biru-biru begini. Anak muda zaman sekarang tuh kenapa sih, kok pada emosian banget? Dikit-dikit hantam, dikit-dikit berantem,” omel Dokter Sela sambil menekan kapas alkohol ke wajah Fadil.
Fadil langsung meringis perih. “Aduh! Pelan-pelan dong Dok! Lagian aku tadi gak berantem ya, ini namanya aksi heroik membela kebenaran!”
Mendengar pembelaan konyol itu, Ana dan Yudi cuma bisa tersenyum tipis.
Dokter Sela kemudian beralih memeriksa Yudi. Begitu melihat posisi bahu Yudi yang agak aneh, sang dokter langsung tahu kalau bahunya terkilir. Baru saja jari Dokter Sela menyentuh area itu, Yudi sudah spontan menahan napasnya karena menahan ngilu yang luar biasa.
Melihat Yudi yang kesakitan, Ana melangkah mendekat. “Sini pinjem tanganmu sebentar.”
Yudi menatap Ana dengan ragu akan tetapi dia tetap mengulurkan lengannya. “Buat apa?”
Tanpa aba-aba, Ana memukul pelan jari-jari Yudi untuk mengalihkan fokusnya, lalu dengan cepat mencengkeram erat bagian bahunya yang bergeser.
“Rileks.”
“Eh pe-pelan-pelan.”
“Tahan ya.”
Klek!
Hanya dalam satu sentakan cepat yang presisi, Ana mendorong paksa sendi bahu Yudi kembali ke posisi semula. Yudi langsung membekap mulutnya sendiri, memejamkan mata rapat-rapat saat rasa sakit yang luar biasa menusuknya selama sedetik sebelum akhirnya rasa sakit itu hilang sepenuhnya.
Yudi mencoba menggerakkan lengannya memutar. Matanya langsung berbinar kagum. “Wah… beneran gak sakit lagi! Kamu Dokter Dewa ya? Makasih banyak Ana!”
Sementara itu, Adrian yang sejak tadi cuma bersandar santai di dekat lemari pajangan sambil menyilangkan tangan di dada dan terus memperhatikan gerak-gerik Ana.
“Sejak kapan kamu punya keahlian medis kayak gitu?” tanya Adrian penuh selidik.
Ana dengan santai memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku rok seragamnya. “Cuma benerin sendi geser doang gak sesulit itu. Aku udah biasa ngelakuinnya.”
Dokter Sela yang melihat itu langsung menatap Ana dengan binar penuh minat. “Wah luar biasa. Gadis ini siapa Tuan Muda? Hebat banget bakatnya.”
Adrian malah mengangkat sebelah alisnya, menatap Dokter Sela dengan pandangan meremehkan. “
Dokter Sela, sejak kapan matamu jadi katarak begitu? Kalau emang matanya sudah nggak berfungsi buat ngelihat hal jelas, mending didonasikan saja ke orang yang lebih butuh.”
Dokter Sela langsung tersenyum kaku merasa serba salah. “Eh… saya salah ngomong ya?”
Adrian tidak menjawab. Dia melangkah maju mendekati Ana lalu dengan santai dan tanpa permisi mendaratkan tangannya di pinggang gadis itu, menariknya mendekat.
“Dia ini pacar saya.”
“HAH?!”
Suara teriakan kompak langsung menggema di ruangan itu. Ana, Dokter Sela, bahkan Fadil yang mulutnya lagi diobatin pun sampai ikutan syok.
Adrian malah memasang wajah watados (wajah tanpa dosa) dan mengangguk santai. “Tentu saja bener nggak usah kaget gitu.”
“Kamu gila ya? Lepas gak!” Ana langsung menepis kasar tangan Adrian dari pinggangnya.
Tapi karena Adrian yang keras kepala, dia sama sekali tidak merasa bersalah atau bahkan malu.
“Nggak bisa gitu dong. Waktu kamu terluka dan pingsan di gunung kemarin kan aku yang nyelamatin kamu. Terus belakangan ini aku juga sering bantuin kamu. Jadi aturan mainnya simpel utang nyawa harus dibayar pakai dirimu.”
Dokter Sela yang mendengar alasan itu langsung memasang wajah jijik. “Idih, Tuan Muda… memanfaatkan kebaikan buat modus kayak gitu tuh namanya gak tahu malu!”
“Sembarangan. Ini namanya perjuangan demi cinta,” bantah Adrian membela diri.
“Tetep saja namanya gak tahu malu,” cibir Dokter Sela pelan yang langsung mendapat lirikan tajam dari Adrian.
Bzzz… Bzzz…
Di tengah perdebatan itu, ponsel di saku Ana bergetar. Ana segera merogoh kantongnya, mengeluarkan ponsel dan fokus membaca deretan pesan penting yang baru saja masuk.
Adrian yang melihat Ana mulai sibuk sendiri akhirnya mengalah. “Yaudah kamu selesaiin dulu urusanmu. Nanti biar aku yang antar kamu pulang sampai depan rumah.”
Sebelum berbalik pergi meninggalkan ruangan, Adrian sempat-sempatnya menoleh ke arah Ana lalu melemparkan kecupan jauh lewat udara (flying kiss).
Ana cuma bisa berdiri mematung sambil menatap kepergian Adrian dengan pandangan yang siap membunuh.
Batinnya kesal, Ana berteriak frustrasi. Sialan… Sebenarnya putra mahkota kekaisaran macam apa yang kelakuannya nggak tahu malu kayak titisan siluman begini?!