"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
Elena melangkah masuk ke dalam rumah dengan menghentakkan kakinya keras-keras. Wajahnya ditekuk sedalam palung laut, napasnya mendengus-dengus kesal mengingat perlakuan Xander tadi di ruang kerja. Ia langsung melemparkan tasnya ke atas meja makan hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras.
Bella yang sedang asyik memilah pakaian di dekat ruang tamu langsung tersentak kaget. Melihat wajah sahabatnya yang sudah mirip monster siap menerkam mangsa, Bella menjadi khawatir dan buru-buru mendekat.
"Astaga, Elena! Kamu ini pulang-pulang kenapa mukanya sudah seperti cucian belum kering begitu sih? Ada masalah apa di kantor perkebunan?" tanya Bella beruntun, menatap Elena cemas.
Elena menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, lalu mendengus panjang.
"Gagal, Bell! Rencanaku hari ini benar-benar bikin naik darah! Kakek tua itu... dia tidak mau mengakui Noah sebagai putramu!"
"Lho? Kok bisa? Bukannya kamu bilang wajah Noah itu fotokopi cetakan mukanya?" Bella mengernyitkan dahi bingung.
"Memang mirip! Tapi dia malah membuat skenario fiksi ilmiah, Bell! Dia tidak mau mengakui Noah dan malah mengira kalau Noah itu adalah cicitnya! Dia bilang, tujuh tahun lalu pria tua bertenaga kuda yang tidur denganku di hotel itu adalah cucunya yang memakai topeng silikon berwajah dirinya! Kan gila?!" cerocos Elena berapi-api, tangannya bergerak heboh di udara.
Mendengar penjelasan Elena, Bella bukannya ikut marah, melainkan malah terdiam selama dua detik sebelum akhirnya meledakkan tawa seketika.
"Bwahahaha! Serius, El?! Topeng silikon? Aduh, perutku sampai sakit!"
"Heh! Aku sedang menderita, kamu malah tertawa!" semprot Elena jengkel.
Bella meredakan tawanya sambil menghapus air mata di sudut mata.
"Ya lagian, El... jelas sajalah Kakek itu tidak mau mengakui. Coba kamu pikir pakai akal sehat. Dia itu kan sudah sangat tua, bisa jadi dia sudah mulai pikun! Atau, siapa tahu tujuh tahun lalu dia pernah mengalami kecelakaan parah yang membuatnya hilang ingatan sebagian? Tujuh tahun itu tidak sebentar, Elena. Lansia gampang lupa ingatan!"
Elena seketika terdiam. Matanya berkedip-kedip menatap langit-langit plafon rumah. Otaknya mulai mencerna kata-kata Bella.
"Em benar juga dugaamu, Bell. Kenapa aku tidak terpikir ke sana, ya? Jangan-jangan ingatan masa mudanya bertabrakan dengan masa tuanya."
"Nah, makanya jangan langsung menuduh dia pelit dulu," sahut Bella.
"Kalau begitu, apa aku harus menyelidiki masa lalu kakek itu diam-diam? Mencari tahu apakah dia pernah amnesia?" tanya Elena, matanya menyipit penuh tekad.
Bella langsung mendengus remeh, menatap Elena dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ya selidiki saja kalau kamu mampu, Elena Anastasia. Ingat ya, sadar diri! Kita ini miskin, dia itu kaya raya punya pengawal! Baru mau mengintip gerbang rumahnya saja, kamu mungkin sudah dilempar pakai batu oleh satpamnya. Atau lebih buruknya kamu ditembak mati ditempat!"
Elena mengerucutkan bibirnya pasrah. "Benar juga... tapi, Bell, dia tadi bilang mau melakukan tes DNA pada Noah. Asistennya bahkan sudah mengambil sampel rambut Noah tadi."
Bella langsung menjentikkan jarinya di depan wajah Elena.
"Nah! Bagus kalau begitu! Kalau begitu, sekarang kamu tinggal tunggu saja sampai hasil tes DNA-nya keluar dari laboratorium. Kamu tidak boleh berpikiran negatif dulu. Biarkan sains yang membuktikan kebenarannya."
Elena akhirnya mengangguk-angguk setuju, meluruskan kakinya di atas sofa dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
"Iya sih. Lagipula, kalau hasilnya keluar, dia tidak akan bisa mengelak lagi dari tuntutan dua ratus miliarku."
Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol mendalam membahas taktik menghadapi Xander, Bella tiba-tiba mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang mendadak terasa sangat sepi. Ia mengerutkan kening, lalu menoleh kembali ke arah Elena.
"Ngomong-ngomong dari tadi kita sibuk membahas si Kakek Sultan... tapi ada yang kurang deh," gumam Bella pelan.
"Kurang apa? Uang muka dua ratus miliarnya?" tanya Elena polos.
"Bukan, Elena!" Bella menepuk lengan sahabatnya gemas. "Noah mana? Kok dia tidak kelihatan dari tadi? Bukankah tadi pagi dia ikut pergi bersamamu?"
Elena seketika membeku di tempat. Matanya melotot sempurna, mulutnya terbuka lebar, dan memori saat ia menggebrak pintu ruangan Xander lalu melangkah pergi sendirian langsung berputar cepat di otaknya.
Plak!
Elena menepuk jidatnya sendiri dengan sangat keras hingga menimbulkan suara nyaring.
"Astaga, Bella! Aku meninggalkannya di perkebunan itu!" pekik Elena histeris, langsung melompat berdiri dari sofa dengan panik.
Bella melongo tak percaya, lalu ikut berteriak, "Hah?! Kamu meninggalkan anakmu sendiri di sarang kakek-kakek misterius itu?! Ibu macam apa kamu, Elena?!"
"Aku lupa, Bell! Tadi aku terlalu emosi sampai langsung pulang begitu saja! Aduh, bagaimana kalau Noah diculik atau malah mengudeta perusahaan itu sekarang?!" Elena langsung kelabakan.
*
*
Sementara itu, Xander dan Noah sedang duduk berhadapan. Di atas meja yang mahal, sebuah papan catur tergelar.
Sialnya, pemandangan siang itu benar-benar mengocok perut.
Wajah keriput Xander yang biasanya disegani kini sudah penuh dengan coretan hitam dari spidol permanen berbentuk kumis kucing, lingkaran di mata, hingga tulisan di dahinya.
Berbeda dengan Noah, wajahnya bersih tanpa noda sedikit pun. Bocah enam tahun itu duduk dengan tenang, menopang dagunya menggunakan satu tangan sambil menatap papan catur dengan bosan.
"Skakmat," ucap Noah datar, menggeser pion bentengnya dengan satu sentuhan jari yang elegan.
Xander melongo, menatap rajanya yang sudah terkepung total. Ia refleks memegangi kepalanya yang mendadak makin pening.
"Bagaimana bisa?! Kamu pasti curang ya, Bocah?!"
"Secara metodologi permainan, aku tidak melakukan manipulasi apa pun. Langkahmu terlalu mudah ditebak seperti alur sinetron sore hari," jawab Noah lempeng, mengambil spidol hitam di sampingnya lalu membukanya tutupnya. "Sesuai perjanjian di awal, kalah satu kali sama dengan satu coretan baru. Silakan condongkan wajahmu."
"Aduh, Tuan Besar, mohon maaf, ini sudah kekalahan yang ke-20 kalinya," bisik Joni seraya menahan tawa sekuat tenaga sampai pundaknya bergetar hebat.
"Diam kamu, Joni! Jangan memperkeruh suasana!" bentak Xander kesal, namun ia tetap pasrah memajukan wajahnya hingga Noah dengan santai menambah coretan garis tebal di pipi kanannya.
Tejo yang sejak tadi setia mendampingi di sebelah kursi Noah langsung bersedekep dada dengan senyum bangga yang melebar sampai telinga.
"Hebat kan, Kek? Sahabatku ini memang bos kecil di kampung kami! Jangankan main catur, menghitung jumlah ikan cu-pang yang belum lahir saja dia bisa!"
"Heh, bocah cu-pang, diam dulu!" gerutu Xander, tidak terima harga dirinya sebagai master catur tingkat kecamatan hancur lebur di tangan anak TK.
Xander menggebrak meja. "Tidak bisa! Kita ulangi. Satu babak lagi, Noah! Kali ini aku pasti menang!"
Noah langsung menutup spidolnya, lalu merapikan jas mini kotak-kotaknya dengan gerakan tenang.
"Maaf, Papa, aku menolak. Secara manajemen waktu, investasi energiku pada permainan ini sudah mencapai titik jenuh. Tidak ada tantangan lagi bagi kapasitas intelektual saya."
"Apa kamu bilang?! Kamu meremehkan Kakek? Maksudku, Papamu ini?!" seru Xander tidak berkutik, wajahnya yang penuh coretan spidol membuat gertakannya sama sekali tidak terlihat seram, melainkan malah sangat menggemaskan.
"Aku tidak meremehkan, aku hanya menyatakan fakta logis," pungkas Noah telak, membuat Xander seketika bungkam seribu bahasa dan hanya bisa meratapi nasibnya yang kalah telak dari darah cicitnya sendiri.
"Sekarang aku makin yakin, tanpa tes DNA pun dia adalah keturunan Leonard yang paling menyebalkan!" geram Xander.
kamu belum bertemu semua anggota keluargamu yang di luar negri
semuanya sombong🤣🤣
🤣🤣🤔🤔
bukan hanya mengerjai
TPI akan menjadi musuh bebuyutanmu
sebab sedari awal bertemu
kalian sudah saling bertengkar🤣🤣🤣
asik nih gak sabar menunggu kelanjutannya
Oma Naomi saya mengagumi anda🤣
tetang bagaimana jadinya ada anak kecil yng mirip