NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:48.8k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Keluarga

Bab 23

 

 

“Kemana dia?” Ruby keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe dan rambut digulung dengan handuk kecil. Tidak mendapati Bara di kamar, pun walk in closet dan balkon. “Lebih enak dilakukan saat aku sadar, apa maksudnya dia pernah cium waktu aku tidak sadar. Tapi kapan?”

Ruby berganti celana training dan kaos, mengeringkan rambut dengan hair dryer. Meski masih dongkol dengan maksud ucapan suaminya, ia mempersiapkan pakaian untuk acara malam ini.

“Ini aja, lebih sopan,” seru Ruby mengeluarkan sebuah gaun. “Mas Bara pake apa ya, aku pilihkan deh.”

Membuka lemari lainnya mendapatkan berbagai jenis kemeja, batik dan atasan yang berjejer rapi sesuai dengan gradasi warna.

“Ck, perfeksionis banget ya. Biar serasi sama baju aku, berarti pakai … yang ini aja.”

Membuka lemari lainnya mendapati setelah rumahan termasuk laci di mana tersimpan pakaian dalam.

“Ini!” tangan Ruby mengangkat boxer dan dibentangkan. Ya ampun, gimana ukuran isinya. Mulai mesum, gara-gara si Meldy.” Gegas mengembalikan ke laci dan menutupnya lagi.

Di bawah belum terlihat keberadaan anak-anak, sepertinya masih istirahat. Anak-anak penurut dan lucu, pikir Ruby. Namun, menurut kacamatanya, kehidupan Adly dan Jelita agak monoton, mungkin karena didikan dan sikap Bara. Kalau orangtuanya tipe seperti Bara, sudah pasti ia memberontak terus.

“Bik, lihat suamiku?”

“Bapak ke belakang mbak, biasanya kalau gak berenang ya olahraga.”

Ruby mengangguk berniat menyusul pria itu. Ada hal yang harus mereka selesaikan.

“Mbak Ruby,” panggil Bik Ida.

“Iya.”

“Aduh, gimana ya.” Bik Ida terlihat canggung. “Kenapa bik?”

“Anu mbak, saya harus panggil apa ya. Mbak atau Ibu. Panggil Ibu kayaknya ketuaan, panggil mbak takutnya nggak sopan.”

“Ya ampun bik, sama aku nyantai aja sih. Terserah bibi, mau panggil apa asal jangan dipanggil pake isi kebun binatang aja. Nanti anak-anak ngikutin.”

“Ya nggak toh mbak, masa cantik-cantik disebut binatang. Tapi saya takut dimarahi bapak, jadi panggil ibu aja ya.”

“Bebas bik, mau panggil nama juga gak pa-pa, kita ‘kan friend.”

“Nda sopan itu, yang ada saya dipecat sama bapak.”

Ruby menatap sekitar. “Bik, si nila udah pergi?”

“Nila? Maksudnya Mbak Nilam?”

“Ah iya, itu. Nama dia di otak saya nggak ke simpan bik, jadi salah sebut terus.”

“Sudah, dia pulang waktu bapak sama ibu ke atas tadi. Sambil ngoceh marah-marah. Kita di dapur dengar loh perdebatan ibu sama mbak Nilam, tapi ibu keren.” Bik Ida menunjukan kedua ibu jarinya. “Mengusir secara halus dan elegan.”

“Siapa dulu, Ruby gitu loh. Valakor harus kita hempas bik. Udah ah, aku cari mas Bara dulu. Mau buat perhitungan.”

“Jangan bu, jangan dimarahi. Di sayang aja,” ujar Bik Ida menggoda Ruby.

“Iya nanti aku sayang, dia ‘kan kurang belaian,” cetus Ruby lalu keluar menuju paviliun samping dan ke area belakang. “Mas, mas Bara!” teriak Ruby.

Mendapati sang suami sedang berenang, Ruby berdiri di tepi sambil berkacak pinggang. Bara keluar dari permukaan air, menyapu rambutnya yang basah ke belakang menunjukan dadanya yang bidang basah kuyup.

“Kenapa?” tanya Bara lalu menaiki tangga kolam. Sudah berdiri di hadapan dan pria itu hanya mengenakan celana pendek hitam. Tanpa atasan. Pandangan Ruby bingung harus fokus ke mana.

"Kenapa melamun begitu? Mau ikut berenang?" tanya Bara, nadanya santai tapi tatapannya penuh selidik.

Ruby berdeham, berusaha menormalkan denyut jantungnya yang mendadak balapan, sempat melirik ke arah bawah tubuh Bara. Ia maju satu langkah, menahan diri agar tidak terlihat salah tingkah.

"Aku... maksud ucapan mas Bara tadi apa?" tanya Ruby cepat, menghempas rasa penasaran akan isi dibalik celana ketat itu. 

Satu alis Bara terangkat. "Ucapan yang mana?"

"Yang... kata Mas, mencium aku itu lebih enak kalau akunya sadar!" Ruby akhirnya menyuarakan kalimat itu dengan satu hembusan napas. "Maksudnya apa, sih? Memangnya kapan kita pernah ciuman? Seingatku baru tadi.”

Bara cuek mengambil handuk yang sudah dia siapkan di atas meja lalu mengusap wajahnya.

“Waktu kamu tidur.”

Ruby melotot. "Hah?!"

"Kamu bilang mau kasih saya hadiah, jadi saya ambil sendiri hadiahnya. Sama seperti tadi," lanjut Bara tanpa beban, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang menggoda.

"Mas Bara! Astaga!" pekik Ruby, lalu mendekat dan mencubit perut Bara.

“Ruby,” ucap Bara lalu meringis dan menjauh sambil mengusap perutnya.

“Itu namanya mencuri.”

“Kamu tidak suka, ya sudah saya kembalikan. Kemari!”

Ruby refleks mundur dua langkah, makin salah tingkah melihat jarak Bara yang kini terlalu dekat dengan penampilan yang terlampau minim itu. "Gak usah aneh-aneh! Mas Bara nyeremin kalau lagi mesum.”

***

Bara sudah memakai setelan yang dipilihkan Ruby, istrinya itu masih dengan kimono sedang memoles wajah.

“Mas, aku butuh meja rias loh.”

“Belilah, nanti saya bayar,” sahut Bara berdiri di samping Ruby menatap cermin tinggi mematut penampilannya.

“Nggak asyik deh, maksud aku belinya bareng. Kan seru, kayak pasangan romantis gitu.”

“Saya heran, definisi kamu berdasarkan kamus dan teori siapa. Pasangan romantis itu kalau mereka saling sayang dan mesra bukan membeli meja rias bersama.”

“Hah, sana! Emosi ngadepin kamu, yang ada mata aku kecolok maskara.”

Bara menatap Ruby melalui cermin dan menggeleng. Istrinya sudah bersiap dari tadi, tapi belum rapi juga.

“Saya tunggu di bawah!”

“Iyalah, masa nunggu di ranjang. Emang mau tempur.”

Bara menarik nafas. “Kamu bilang saya mesum, padahal kamu yang mancing duluan. Giliran saya mulai, malah kabur!”

“Ish, udah sana. Tolong lihat anak-anak udah rapi belum. Nggak usah liatin aku, udah pasti cantiklah. Kalau gak, mana mungkin aku tidur kamu sosor.”

Cukup lama Bara menunggu, Jelita dan Adly bahkan sudah di beranda rumah bersama bu Siti. Ruby menuruni anak tangga dengan langkah perlahan. Gaun sederhana melekat di tubuh, lengkap dengan riasan wajah yang menambah kecantikan dan secara keseluruhan terlihat elegan dan anggun.

Bara yang akan menegur karena terlalu lama menunggu malah terpaku.  Tatapannya terkunci sepenuhnya pada sang istri.

“Malah melamun, ayo, nanti telat,” ujar Ruby melewati Bara.

Mobil dikemudikan Bara dan Ruby duduk di sampingnya, Jelita dan Adly di kabin tengah bersama bu Siti. Tidak lama akhirnya mereka tiba di restoran yang sudah disepakati. Di lobby bertemu dengan Husnah dan Rendra.

“Mama sama papa juga belum lama sampai.” Ruby memasukan ponsel ke handbag lalu memeluk lengan Bara. Jelita di rangkul Husnah dan Adly dengan Rendra.

“Bunda, kira-kira oma senang nggak bertemu aku sama abang?” tanya Jelita penasaran.

“Pasti dong. Selama ini mereka hanya punya aku, pasti suka langsung dapat 2 cucu.”

Husnah saling tatap dengan Rendra, mendapati anak-anak tampak akrab dengan Ruby. Tidak seperti yang dia khawatirkan, di usianya yang masih muda Ruby bisa berperan sebagai ibu sambung.

Pintu private room dibuka oleh petugas resto, tampak orangtua Ruby di sana.

“Selamat malam, aku datang,” ujar Ruby. Bara mencium tangan mertuanya lalu mengenalkan orang tua pada pasangan itu.

“Dan ini anak-anak saya,” ucap Bara.

“Wah, mama udah jadi oma dong. Mana ganteng dan cantik begini cucu oma,” seru Mama Ruby. “Gimana, bunda kalian menyusahkan nggak atau Nak Bara malah punya 3 anak bukan punya istri.”

“Ck, please deh mah, aku mandiri loh! Mandi sendiri, mas Bara mau ikutan aja aku nggak izinin. Iyakan mas?”

Bara berdeham, sungguh pernyataan yang membuat suasana menjadi canggung. Papa Ruby menarik nafas lalu mempersilahkan tamunya untuk duduk.

“Jangan bikin malu,” bisik mama pada putrinya.

“Malu, apa mas Bara yang gak punya malu.”

Bara meraih tangan Ruby agar duduk di samping. “Awas kamu ya, saya balas nanti!” bisik Bara.

 

 

1
Koesbandiana
ma mau mau..😅😅😅😘
Nur Wakidah
adik bayi segera otewe 🤭🤭🤭
sikepang
sabar y jelita bahan y masih baru di cek out dikerangjang kuning, ntar di adon adek baby y sama daddy dan bunda 🤣
tiara
hayo Ruby Jelita minta adik tuh
mery harwati
Meldy aq padamu 😛❤️
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
'Nchie
semoga ada ke ajaiban untuk adly😭😭
Melania Kiaa
ehh gak sooan🙄
'Nchie
awas aja kamu ruby kalo adly udah sembuh boleh pulang🤣🤣yg ada kamu yg di makan bara🤣🤣
'Nchie
spesial pake telor ya by🤣🤣🤣
'Nchie
🤣😀jaelangkung
Melania Kiaa
yang ada malah papamu yang ketuaan dek🤭
Anonim
Ruby .....emang sok berani
Anonim
Iih ada jaelsngkung keluyuran 🤭
Anonim
Jangan sampai kenapa "Adly
Anonim
Tuhkan Ruby....kamu sih ....sok"an tantang Mas Bara .....
Dozky 2 Crazy
mas duda bisa gak cara penyampaian jgn lempeng banget🥲🥲
Dozky 2 Crazy
jangan kan adly kita ajj yg baca selalu dibikin ketawa sama ruby😁😁😁
Anonim
Ruby ngapain kamu tantangin Bara
Awas ya kamu .....🤭
Dozky 2 Crazy
makasih bunda udh ada buat adly 🥲🩷🩷
Anonim
Benar .....Ipar adalah iblis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!