Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Undangan Maut
Kertas perkamen tebal dengan segel lilin berlambang naga emas itu tergeletak pasrah di atas meja kerjaku. Aroma melati yang samar menguar dari kertasnya—ciri khas surat-surat dari Istana Kekaisaran.
Di kehidupanku yang dulu, jika aku menerima email peringatan dari atasan atau notifikasi sistem yang error, aku hanya perlu mengetik ulang beberapa baris kode perintah. Namun di dunia ini, 'surat peringatan' ini memiliki arti literal: leherku akan ditebas.
Pangeran Julian. Sang Putra Mahkota yang digambarkan sebagai perwujudan keadilan mutlak di novel 'Crown of Ash'. Ia benci pada bangsawan korup, dan keluarga Pendelton menduduki peringkat teratas di daftar hitamnya. Di alur cerita asli, Julian sengaja mengundang Arthur ke Pesta Perburuan, memisahkan Arthur dari rombongannya, lalu mengeksekusinya di tengah hutan dengan alasan "Arthur berkhianat dan mencoba menyerang Ksatria Kerajaan".
Sebuah rekayasa yang sangat rapi untuk menyingkirkan lintah politik.
"Jika dunia ini adalah sebuah program," gumamku sambil mengetuk-ngetuk jemari di atas meja, menganalisis situasi layaknya membedah algoritma yang rumit. "Maka Pangeran Julian adalah firewall yang dirancang untuk menghapus bug bernama Arthur Pendelton. Sayangnya untuknya... aku adalah peretasnya."
"Analogi yang aneh, tapi terdengar sangat menyenangkan."
Aku tidak terkejut mendengar suara itu. Tanpa repot-repot menoleh, aku mengangkat cangkir tehku dan menyesapnya pelan. "Kupikir kau hanya hantu yang terikat di Perpustakaan Terlarang, Nox."
Gadis berambut perak itu sedang duduk bersila di ambang jendela kamarku yang terbuka, berayun pelan ditiup angin malam. Mata emasnya berkilat geli di bawah cahaya bulan. Ia mengenakan kemeja kebesaran yang sama seperti semalam, dan kali ini, ia sedang memainkan sebilah belati berburu milikku seolah itu adalah mainan plastik.
"Aku bisa pergi ke mana pun ada bayangan," Nox melompat turun, mendarat tanpa suara di atas karpet Persia kamarku. Ia melangkah mendekati meja dan menunduk melihat undangan naga emas tersebut. "Ah, si Pangeran Pirang yang kaku itu. Kau tahu, dia sedang menyiapkan kejutan besar untukmu di Hutan Perburuan."
Aku mengangkat sebelah alis. "Biar kutebak. Dia akan mengirim sekelompok Ksatria bayaran berpakaian preman untuk membunuhku secara diam-diam?"
Nox mendengus, melempar belatiku hingga menancap sempurna di tengah papan panah di ujung ruangan. Bullseye.
"Itu terlalu kuno," kekehnya. "Julian mungkin kaku, tapi dia tidak bodoh. Jika kau dibunuh oleh senjata manusia, ayahmu—sang Duke—akan mengamuk dan memicu perang saudara. Tidak, Julian memilih cara natural. Ia telah memerintahkan penyihir penjinaknya untuk melepaskan seekor Shadow Wolf tingkat B+ di zona perburuan yang sudah disiapkan khusus untukmu."
Shadow Wolf. Serigala Bayangan. Monster buas yang bisa bersembunyi di dalam bayangan dan mencabik ksatria berzirah tebal layaknya mencabik kertas.
"Jadi, skenarionya adalah 'Tuan Muda Pendelton yang malang tewas terkoyak monster karena terlalu ceroboh saat berburu'," simpulku sambil menyeringai tipis. "Sangat elegan. Tangan Julian tetap bersih."
"Tepat sekali!" Nox bertepuk tangan riang. "Dan bagian terbaiknya? Serigala itu kebal terhadap serangan sihir elemen dasar. Api, air, angin, tanah... semuanya akan terserap oleh bulu bayangannya. Jika kau hanya mengandalkan sihir konvensional, kau akan mati dalam tiga detik."
Gadis itu mencondongkan wajahnya ke arahku, senyum misteriusnya mengembang. "Jadi, Penjahat Kecil, apa rencanamu? Kau mau pura-pura sakit dan membatalkan kehadiranmu? Atau mau lari dari ibukota malam ini juga?"
Aku bersandar di kursiku, menatap mata emas Nox yang memancarkan antisipasi.
"Lari?" Aku tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang mengalir dari pusat Mana Core gelapku. "Jika aku menghindar sekarang, Pangeran Julian hanya akan mencari cara lain yang lebih merepotkan. Tidak, Nox. Aku tidak akan lari."
Aku mengangkat tangan kananku. Perlahan, gumpalan sihir hitam pekat bermanifestasi di atas telapak tanganku, meliuk-liuk seperti api abadi. Berkat teknik pernapasan Grimoire of Vespera, sihirku kini sangat stabil, seolah setiap partikel mananya bergerak berdasarkan instruksi kode yang kutulis di dalam kepalaku.
"Serigala Bayangan itu kebal terhadap elemen dasar," kataku datar, menatap api hitam di tanganku yang perlahan membentuk siluet seekor naga kecil. "Tapi mari kita lihat, siapa yang akan memakan siapa saat bayangan milik serigala itu bertemu dengan kegelapan absolut."
Nox bersiul kagum, matanya berbinar melihat kendali mana-ku yang luar biasa presisi. "Kau benar-benar gila. Menjadikan monster mematikan sebagai samsak latihanmu? Aku suka gaya berpikirmu, Arthur."
"Kau bilang kau ingin hiburan, kan?" Aku mengepalkan tanganku, melenyapkan sihir itu dalam sekejap. "Datanglah ke Hutan Perburuan akhir pekan ini. Aku akan menunjukkan padamu bagaimana caranya membajak panggung sang Putra Mahkota."
Lima hari berlalu dalam kedipan mata.
Selama sisa waktu itu, aku tidak pernah keluar dari kediaman Pendelton. Aku membolos dari akademi dengan alasan 'masa pemulihan'. Kenyataannya, aku menghabiskan setiap malam di ruang bawah tanah, melatih teknik pernapasan dan membentuk sirkulasi sihir kegelapan di pembuluh darahku agar terbiasa dengan pertarungan intensitas tinggi.
Dan hari ini, panggung eksekusi itu akhirnya dibuka.
Pesta Perburuan Musim Gugur diadakan di Hutan Emerald, sebuah kawasan hutan lindung raksasa milik keluarga kerajaan yang terletak di kaki gunung. Ratusan tenda paviliun berwarna-warni telah didirikan di area perkemahan. Para bangsawan dari berbagai faksi berkumpul, mengenakan pakaian berburu terbaik mereka yang lebih terlihat seperti pakaian peragaan busana daripada perlengkapan tempur.
Aku baru saja turun dari keretaku ketika suara trompet kerajaan menggema membelah udara pagi.
"Yang Mulia Putra Mahkota, Pangeran Julian dari House of Solaria, tiba!"
Semua bangsawan yang hadir serentak menundukkan kepala. Aku ikut menunduk, sekadar formalitas. Dari sudut mataku, aku melihat seorang pemuda berambut emas cerah menunggangi kuda putih besar berbaju zirah. Julian memiliki wajah setampan dewa dari lukisan kuno, rahang yang tegas, dan sepasang mata biru langit yang memancarkan keangkuhan absolut.
Di sampingnya, menunggangi kuda cokelat yang lebih kecil, adalah Leon.
Tentu saja protagonis kita ada di sini. Julian dan Leon memiliki visi keadilan yang sama, dan dalam novel, di acara inilah ikatan 'bromance' mereka mulai terbentuk kuat setelah Julian 'berhasil' mengeksekusi Arthur yang jahat.
Tatapan Julian menyapu kerumunan dan berhenti tepat di tempatku berdiri. Matanya menyipit sesaat, memancarkan aura dingin yang menusuk. Ia seolah menatap mayat yang sedang berjalan. Aku membalas tatapannya dengan senyum simpul yang sopan, namun kosong tanpa rasa takut.
Sapaan tanpa kata di antara kami sangat jelas.
Permainan dimulai.
Setengah jam kemudian, setelah basa-basi kerajaan yang membosankan, Pangeran Julian mengumumkan aturan perburuan. Setiap peserta akan masuk ke dalam hutan sendirian dari titik masuk yang berbeda. Orang yang membawa kembali jantung monster dengan peringkat tertinggi sebelum matahari terbenam, akan mendapatkan hadiah pedang mythril dari gudang senjata raja.
Aku digiring oleh dua Ksatria Kerajaan menuju Zona 7—sebuah area di sisi utara hutan yang terkenal dengan pohon-pohon pinusnya yang rapat dan minim cahaya matahari. Tempat yang sangat sempurna untuk seekor Serigala Bayangan bersembunyi.
"Titik masuk Anda di sini, Tuan Pendelton," ucap salah satu ksatria itu dengan nada datar, meski aku bisa melihat kilat kasihan di matanya. Mereka tahu aku dikirim ke zona kematian. "Semoga para Dewa melindungi langkah Anda."
"Terima kasih," balasku tenang. "Tapi kurasa, monster di dalam sanalah yang membutuhkan perlindungan Dewa hari ini."
Ksatria itu tertegun mendengar balasanku. Tanpa menunggu reaksinya, aku menarik tali kekang kudaku dan melesat masuk ke dalam Hutan Emerald yang gelap.
Begitu lebatnya pepohonan menutupi sinar matahari, suasana langsung berubah menjadi remang-remang bagai senja. Suara serangga hutan bernyanyi riuh. Aku menutup mataku sejenak, mengaktifkan sensor mana gelapku, membiarkannya menyebar seperti jaring laba-laba ke segala penjuru.
krek...
Sebuah dahan berderit di arah jam tiga. Sangat pelan, hampir tak terdengar oleh telinga manusia biasa. Sesuatu yang besar, cepat, dan haus darah sedang mengintaiku dari balik bayangan pepohonan.
Aku menyeringai, membuka mataku yang kini memancarkan pendaran biru es yang tajam. Tanganku perlahan merogoh sarung pedang berburu di pinggangku.
"Mari kita mulai prosesnya."