Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13.Kebenaran pemilik aura kehancuran.
Di dalam kuil kuno yang dipenuhi aroma dupa yang menenangkan, suasana terasa damai dan sakral. Sinar matahari pagi menembus celah atap, menyorot lantai batu yang berkilau lembut. Nyonya Besar Zhang berdiri sejenak menatap patung dewa pelindung, lalu melangkah perlahan menghampiri sosok pendeta tua yang duduk tenang di sudut ruangan. Wajah pendeta itu penuh kerutan, namun matanya bening menembus jauh ke dalam hati siapa pun yang menatapnya — beliau adalah Pendeta Agung yang dulu meramal nasib kedua putrinya, dua puluh tahun yang lalu.
Pendeta itu membuka mata perlahan, menatap Nyonya Besar yang berdiri di hadapannya.
"Nyonya Zhang..." suaranya lembut namun bergema pelan. "Kau kembali."
"Pendeta," sapa Nyonya Besar, suaranya bergetar halus. "Aku datang untuk bertanya... apakah dulu kau tidak keliru saat berkata salah satu putriku akan membawa kehancuran bagi keluarga kami?"
Pendeta tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Ramalan tidak pernah salah, Nyonya. Hanya manusia yang sering keliru memahaminya."
Nyonya Besar menelan ludah, menunjuk ke arah dua sosok yang berdiri di bawah pohon doa di halaman kuil — Shi Yin yang tersenyum bangga, dan Li Hua yang berdiri tenang memandangi untaian doa di tangannya.
"Mereka sudah dewasa sekarang," ucap Nyonya Besar pelan. "Itu mereka berdua. Dua puluh tahun terpisah, kini berkumpul kembali."
Pendeta bangkit berdiri perlahan, berjalan mendekat ke arah pintu utama. Ia menatap lekat-lekat kedua gadis itu, matanya menyipit seakan melihat sesuatu yang tak kasat mata bagi orang lain. Angin sepoi-sepoi mengibai rambut putihnya yang panjang.
"Aura..." gumamnya pelan. "Sama persis seperti dulu. Tidak berubah sedikit pun."
"Siapa, Pendeta?" Nyonya Besar mendekat, tangannya meremas ujung kain bajunya. "Siapakah yang membawa nasib buruk itu?"
Pendeta mengangkat tangan keriputnya, menunjuk lurus ke arah Shi Yin.
"Gadis itu," ucapnya mantap. "Dia memiliki aura kehancuran. Bukan hanya bagi keluarganya, tapi bisa juga bagi negeri jika menjadi istri siapapun akan menghancurkan keharmonisan rumah itu jika dia menjadi pemimpin negeri maka akan membawa kehancuran pada negeri."
Darah seakan berhenti mengalir di tubuh Nyonya Besar. Ia menatap tak percaya. "Tidak... mungkin kau salah lihat, Pendeta. Li Hua yang dibuang... bukankah seharusnya dia yang—"
Pendeta menggeleng pelan, memotong kata-katanya. "Kesalahan besar justru terjadi saat kau membuang yang baik dan memeluk yang berbahaya. Dulu aku menunjuk gadis ini, sekarang pun tetap sama. Waktu tidak mengubah takdir yang sudah tertulis sejak lahir."
Nyonya Besar terdiam, lututnya terasa lemas. Ia mundur selangkah, menatap Shi Yin yang tertawa renyah bersama pelayan di kejauhan, lalu menatap Li Hua yang berdiri tenang sendirian.Kami salah... kami semua salah sejak awal, batinnya perih. Yang kami anggap beban justru pelindung kami, dan yang kami sayangi tanpa batas... justru yang akan menghancurkan kami.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam kereta kuda hening sepenuhnya. Nyonya Besar duduk mematung, menatap bergantian kedua putrinya. Pikirannya melayang ke masa lalu — sejak Li Hua pergi ke desa, urusan rumah tangga mulai berantakan, suaminya sering pulang dengan wajah cemas, kedudukannya sebagai Perdana Menteri terancam. Dan semua itu makin terasa berat sejak Shi Yin bersikeras menampung Pangeran Li Yun di kediaman mereka...
Aku melarangnya, batin Nyonya Besar gelisah. Aku bilang tidak pantas menampung putra dari negeri musuh. Tapi Shi Yin bersikeras... dia bilang mengasihani Pangeran itu, padahal aku tahu alasannya — dia menyukai putra mahkota Ye lu yang tidak senang satu atap dengan putra negeri yang mereka kalahkan,hanya untuk menarik perhatian putra mahkota. Tapi dia juga yang menyuruh Mo Chen menyiksa Li Yun...
Jantungnya berdebar kencang karena cemas. Ternyata semua pertanda itu nyata.
Kereta berhenti perlahan di gerbang utama Keluarga Zhang. Saat mereka turun, napas Nyonya Besar tertahan. Di halaman depan, Tuan Besar Zhang berdiri tegap bersama Li Yun, diapit oleh para pelayan yang menunduk takut. Wajah Tuan Zhang tegang, matanya tajam, seakan sedang menunggu kedatangan mereka untuk menghakimi.
Shi Yin tidak menyadari suasana itu. Ia tersenyum sinis menatap Li Hua, lalu melangkah maju dengan kepala tegak.
"Pasti kau, Li Hua!" serunya lantang, suaranya penuh tuduhan. "Apa lagi yang kau lakukan? Membuat Ayah marah begitu? Atau kau sudah berani melecehkan Pangeran hingga beliau melaporkanmu?"
Li Hua hanya tersenyum tipis, tidak terganggu sedikit pun. "Jangan mengambil kesimpulan dulu, Kak. Mungkin ini bukan untukku. Bisa saja ini untuk Kakak sendiri — Nona Pertama yang dihormati semua orang."
"Diamlah! Kau hanya mencari alasan!" bentak Shi Yin.
"Cukup!" Suara Tuan Besar Zhang menggelegar membelah udara. Ia menunjuk lurus ke arah Shi Yin. "Tangkap Nona Pertama! Bawa ke depan sekarang!"
Dua pelayan bergegas mendekat, menarik lengan Shi Yin dengan tegas.
"Apa ini? Lepaskan aku!" Shi Yin meronta, senyumnya lenyap seketika, digantikan kebingungan dan ketakutan. "Ayah! Ada apa ini? Kenapa mereka menahan aku?"
Berat dipaksa berlutut di atas hamparan batu halus di hadapan ayahnya, di hadapan Li Yun, dan di hadapan semua orang yang keluar menyaksikan dari balik pintu.
"Ayah..." suaranya bergetar, tatapannya mencari belas kasihan. "Katakan padaku, apa yang terjadi? Aku tidak mengerti..."
Tuan Zhang menatapnya dengan kekecewaan yang mendalam. "Beraninya kau mengambil lencana identitas Pangeran Li Yun! Kau ingin seluruh keluarga kami dihukum oleh Kaisar, bukan?"
Wajah Shi Yin pucat seketika. "Aku? Tidak! Aku tidak melakukannya!"
"Lencana itu ditemukan tersembunyi di dalam kamarmu!" bentak Tuan Zhang, suaranya gemetar menahan amarah. "Di laci paling bawah, terbungkus kain sutra milikmu sendiri! Bagaimana kau bisa menyangkalnya?"
"Itu... itu bukan aku!" Shi Yin menatap sekeliling dengan mata berkaca-kaca, mencari seseorang yang membela dirinya. "Siapa yang menaruhnya di sana? Aku tidak tahu!"
Saat itulah Qiao'er melangkah maju dari kerumunan pelayan, menunduk hormat namun suaranya tegas dan jelas.
"Maaf, Tuan Besar... Nona Pertama..." mulainya pelan namun mantap. "Saat memeriksa kotak perhiasan Nona Pertama, tidak hanya lencana Pangeran yang ditemukan. Ada juga gelang giok merah pemberian Nyonya Besar kepada Nona Kedua — gelang yang dirampas nona pertama."
Qiao'er mengulurkan kedua benda itu ke udara, sehingga semua orang bisa melihatnya. "Gelang ini tergeletak tepat di samping lencana itu, seakan sengaja disembunyikan bersama."
Keheningan yang berat menyelimuti halaman itu. Nyonya Besar menatap gelang itu, lalu menatap Shi Yin dengan mata yang membelalak.
"Shi Yin..." panggilnya pelan, tak percaya. "Benarkah ini?"
Shi Yin terdiam, bibirnya bergetar. Ia tidak bisa lagi menyangkal. Semua bukti ada di hadapannya. Ia menunduk, air mata mulai jatuh di pipinya.
"Aku... aku hanya meminjamnya..." gumamnya pelan, suaranya hilang di tengah isak tangis. "Aku hanya ingin melihatnya... tidak bermaksud menyimpannya..."
"Lalu lencana Pangeran?" tanya Tuan Zhang tajam, melangkah maju mendekati putrinya. "Apakah kau juga hanya 'meminjam' itu?"
Shi Yin terdiam lebih lama, bahunya bergetar hebat. Ia menatap Li Yun sekilas, lalu cepat menunduk kembali.
"Aku... aku memang mengambil gelang milik Li hua..." Ucapnya pelan, hampir tak terdengar. "Tapi aku tidak mengambil lencana pangeran..."
"Kau sungguh..." Tuan Zhang menarik napas panjang, menahan tangannya agar tidak menampar putrinya sendiri. Ia menoleh ke arah Li Yun, wajahnya penuh rasa malu. "Pangeran... Sepertinya putriku tidak mengambil barang pangeran,hanya salah paham dengan saudaranya."
Li Yun berdiri tegak, menatap gadis yang berlutut di depannya tanpa rasa iba. "Yang jelas barangku ada di kamarnya,jika dengan saudaranya seperti itu bagaimana diriku bisa percaya dengan putrimu."
"Aku menyesal..." isak Shi Yin, menunduk dalam hingga dahinya menyentuh tanah. "Aku mohon ampuni aku, Pangeran... Ayah, Ibu... tolong aku..."
"Maafkan ayah nak," ucap Tuan Zhang tegas, suaranya bergetar. "Hukuman dua puluh kali cambukan akan dilaksanakan sekarang juga, di hadapan seluruh penghuni kediaman. Siapa pun tidak boleh mengganggu pelaksanaannya."
Nyonya Besar menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir di pipinya. Ia menatap Li Hua yang berdiri tenang di sampingnya, lalu teringat kata-kata Pendeta tadi. Aura kehancuran... batinnya. Ternyata benar... kami yang salah melindungi yang salah.
Li Hua menatap kakaknya yang menangis di tanah, tidak ada kemenangan berlebih di wajahnya, hanya ketenangan yang dingin. Ia mengambil kembali gelang giok merah dari tangan Qiao'er, memegangnya erat di telapak tangan — miliknya, akhirnya kembali.
"Kakak," ucapnya pelan, cukup didengar Shi Yin. "Belajarlah. Tidak semua hal di dunia ini bisa kau ambil sesukamu."
Shi Yin mendongak, menatap adiknya dengan tatapan bercampur benci dan kesedihan yang mendalam. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan. Semua mata tertuju padanya — bukan lagi kekaguman seperti biasanya, melainkan kekecewaan dan ketidaksetujuan.
Tuan Zhang memberi isyarat kepada pelayan yang memegang rotan. Hukuman pun dimulai.