Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : CARI ALAMAT
Lewat tengah hari Bintang baru tiba di Sidoarjo
Gudang adalah tujuan utamanya.
“Permisi.”
“Bu Bintang.” Sapto. Itu Pak Sapto Karyawan yang mengirimkannya pesan teks.
“Gimana, kenapa Pak Devan gak pernah ke Gudang lagi?” tanya Bintang tanpa bas abasi.
“Itulah masalahnya bu. Panggilan kami tidak di respon. Setelah tumpukan kayu yang di sana, kami tidak tau lagi, bagian mana yang bisa kami kerjakan. Kami bekerja selalu sesuai arahan pak Devan bu.”
“Apa ada di antara kalian yang tau alamat rumahnya?”
“Ada sih bu, Cuma Gudang belum berani di tinggal. Takut kerjaan tidak sesuai target.”
“Ya sudah, berikan padaku. Besok saya coba cari.” Ucap Bintang lalu berjalan sekeliling Gudang itu.
Semua susunan kayu, peralatan, bahan dan gambar desain sesuai dengan foto yang selalu di kirim Devan. Sepertinya ia sangat detail memberikan arahan. Wajar saja Ketika ia tidak muncul di Gudang, para pekerja akan bingung melakukan apalagi.
Malam tiba, Bintang baru bertemu dengan kasur empuk hotel. Melepas semua Lelah penatnya seharian. Bahkan keputusan mendadaknya untuk pergi ke Sidoarjo. Masalah di Gudang ini sebenarnya tidak urgent. Tapi menjauh dari Angkasa lebih penting sekarang.
Bintang meraih ponsel yang sejak tadi tidak ia sentuh. Isinya full chat dari Angkasa.
Jangan tanya sudah berapa panggilan tak terjawab dari Angkasa.
_Angkasa: Tang, sudah sampe Sidoarjo?
_Angkasa: Tang, ketemu akar masalah di situ?
_Angkasa: Tang, jangan lama marahnya.
_Angkasa: Tang, maafkan aku.
Bintang hanya membaca pesan dari suaminya itu. Malam itu ia habiskan untuk mengenang kebersamaannya dalam tiga tahun pernikahan. Memang manis … juga di awal nikah dulu tidak pernah Angkasa sering menghilang demi Bumi dan Damar. Jika ia ingat, sekitar setengah tahun ini Angkasa berubah. Apa suaminya sungguh terlalu ingin jadi seorang ayah, sehingga ia harus seperhatian itu pada Damar.
Bintang terlelap dalam tanda tanya, saat pagi datang ia merasa tidak begitu bersemangat. Mengerjabkan mata, mengumpulkan nyawa juga mengingat-ingat. Sedang berada di aman ia sekarang.
Sidoarjo
Bintang sudah berada di Perumahan Pucang Indah Sidoarjo. Sesuai petunjuk Pak Sapto, kini ia sungguh sedang mencari keberadaan Devan yang tiada berkabar.
“Permisi, ibu ada kepentingan apa. Maaf saya lihat sejak tadi berdiri mondar-mandir di beberapa rumah.” Satpam perumahan mendekati Bintang yang mundur maju ingin mengetuk salah satu rumah yang ia curigai adalah rumah Devan.
“Oh, maaf. Ini Pak. Saya sedang mencari alamat Pak Devan.” Bintang menyodorkan ponselnya berisi alamat Devan dari Sapto.
“Pak Devan. Keluarga ini sudah tiga bulan ini pindah bu. Rumah ini sudah di jual, tepat setelah ayahnya meninggal dunia.” Satpam itu memberi keterangan.
“Innalilahi. Apa bapak punya alamat yang baru?”
“Secara lengkapnya sih tidak bu. Hanya info dari supir yang mengangkut barangnya. Mereka pindah ke jalan Jati Raya dekat Gerbang Tol Sidoarjo." Begitu info dari Satpam perumahan itu.
"Baik, Terima kasih informasinya,Pak." Pamit Bintang sopan. Kemudian memesan taksi online untuk mengantarnya ke alamat yang di berikan padanya.
Cukup jauh perjalanan yang di lewati Bintang untuk mencari Devan. Telepon tidak di angkat, pesan hanya di baca. Entah, ada apa denan Devan. APakah dia sudah tidak ingin melanjutkan kerjasama bersama Bintang. Ia perlu kepastian.
Ponsel Bintang berdering, tentu saja itu dari Angkasa.
Tetapi dia reject
Selama di Sidoarjo, Bintang memang sengaja tidak meladeni Angkasa. Bukan ngambek. Tapi dia butuh jarak. Biar tau, bagaimana rasaya tanpa istri di rumah.
Chat masuk lagi: _Tang, aku kangen._
_Tang, siang ini aku susul kamu ke Sidoarjo._
Isi chat itu akhirnya menggugah hati Bintang.
-Sa, jangan susul aku. Kalo kamu nekat, selamanya kamu tidak akan tau kabar apapun dariku._ Itu balasan dari Bintang.
Angkasa membanting HPnya. Ia tau sedang berhadapan dengan siapa. Wanita keras kepala yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Justru karena ke Mandiri dan ketegasannya.
Setelah mengirim chat, Bintang cuma liat dan pastikan Angkasa sudah membacanya. Ia yakin Angkasa tau, Bintang sudah dalam mode serius.
Di sinilah dia ngerasa jadi Bintang yang mandiri. Yang bisa bahagiain diri sendiri sesuai porsi perempuan yang sesungguhnya. Tanpa harus jawab chat Angkasa dulu.
"Sudah tiba di titik tujuan." Suara supir taksi mengejutkan Bintang.
"Baik. Sudah saya bayar Online dan sudah saya kasih bintang lima ya."
"Terima kasih."
Bintang berdiri di depan Cluster Jati Raya. Marketing Galery Cluster itu, yang wajib Bintang tuju.
Bersambung...
Ada yang bisa nebak gak niih?
Devan mau kabur dari kerjasama?
Atau gimana?
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......