NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 03.

Aroma tanah basah selalu punya cara untuk memaksa seseorang mengingat hal-hal yang ingin mereka lupakan.

Sore itu, langit di atas SMA Pancasila tidak sekadar mendung, langit seolah runtuh.

Hujan deras mengguyur aspal dengan brutal, menciptakan tirai air tebal yang mengisolasi halte depan sekolah dari dunia luar.

Di sanalah Stella berada. Duduk meringkuk di atas bangku besi halte yang dingin.

Seragam putih-abunya sebagian lembap, tetapi bukan itu yang membuat tubuhnya gemetar. Dadanya masih kram, sisa dari keputusasaan setengah jam yang lalu.

Napasnya masih memburu saat ingatan itu berputar otomatis di kepalanya, siluet motor sport merah milik Gibran yang melesat membelah genangan air, mengabaikan teriakan Stella yang memanggil namanya di tengah gerimis yang baru mulai jatuh.

Stella telah berlari. Bodohnya, dia mengejar ego seorang cowok sampai melupakan egonya sendiri. Hasilnya? Gibran hilang di belokan jalan, dan Stella berakhir tersungkur di atas trotoar kasar.

Stella menunduk, menatap lutut kirinya. Kulitnya robek. Darah segar perlahan keluar, mengalir tipis di antara sapuan air hujan yang menciprat dari jalanan, bercampur dengan kotoran abu-abu. Rasanya perih, tetapi mati rasa di hatinya jauh lebih mendominasi.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, menyatu dengan rintik hujan yang terbawa angin ke dalam halte.

Dia merasa begitu kecil, begitu tolol, dan begitu kesepian.

Sampai sebuah bayangan tinggi melangkah masuk ke dalam area halte, memotong cipratan air.

Stella tersentak kecil, buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan yang gemetar. Dia tidak ingin siapapun melihatnya hancur seperti ini. Lingga berdiri dua meter di sampingnya.

Stella mengenalnya, atau lebih tepatnya, seluruh sekolah mengenal cowok itu.

Lingga adalah anomali di SMA Pancasila. Dia jarang bicara, tidak punya kelompok sirkel yang bising, dan selalu mengenakan jaket atau jas hujan dengan tudung yang ditarik rendah.

Ada aura misterius yang pekat di sekelilingnya, seolah dia sengaja membangun dinding tak kasat mata agar orang-orang tidak repot-repot mendekat.

Sore ini, Lingga sudah mengenakan jas hujan ponco berwarna biru tua yang basah kuyup.

Lingga tidak menyapa. Dia juga tidak bertanya mengapa Stella ada di sana sendirian pada jam lima sore saat sekolah sudah sepi.

Dia hanya berdiri, menghadap ke arah jalan raya yang bising oleh suara klakson dan hantaman air.

Namun, keheningan di antara mereka terasa berat.

Stella mencoba mengabaikan kehadiran cowok itu. Dia kembali menatap lukanya yang mulai berdenyut nyeri.

Detik berikutnya, Stella menyadari sesuatu. Pandangan Lingga bergeser. Dari balik sela-sela tudung jas hujannya yang basah, sepasang mata tajam dan dingin milik cowok itu perlahan turun, tertuju tepat pada lutut Stella yang bersimbah darah.

Lingga memperhatikan luka itu. Cukup lama. Tatapannya datar, sulit diartikan, tetapi tidak ada rasa jijik atau kasihan yang berlebihan di sana. Hanya sebuah pengamatan yang intens.

Stella merasa tidak nyaman ditatap seperti itu dalam kondisi seberantakan ini.

Dia mencoba menarik kaki kirinya sedikit ke belakang, menyembunyikannya di balik bayangan bangku besi. "Gua nggak apa-apa," bisik Stella lirih, nyaris tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar di kejauhan. Suaranya serak, mengkhianati kebohongannya sendiri.

Lingga tidak merespons ucapan itu. Dia tidak mengeluarkan kalimat klise seperti “Kok bisa gini?” atau “Mana yang sakit?”. Dia hanya berdiri diam selama beberapa hitungan napas lagi.

Lalu, tanpa sepatah kata pun, gerakan Lingga membuat Stella terpaku.

Tangan Lingga yang terbungkus lengan jas hujan bergerak naik, membuka simpul tali di bawah dagunya.

Dengan gerakan yang efisien dan tenang, dia melepas jas hujan ponconya. Tidak hanya itu, Lingga mengambil jaket hodie hitamnya di dalam tas yang sudah dibalut rain cover.

Di bawahnya, seragam sekolah Lingga masih relatif kering, hanya bagian bahunya yang sedikit lembap.

Stella mengerutkan kening, bingung. "Lingga, lo mau—"

Kalimat Stella terputus. Lingga maju satu langkah, lalu mengulurkan sweater dan jas hujan biru yang masih basah di bagian luarnya itu ke depan dada Stella.

Udara dingin seketika menyeruak di antara mereka begitu jas hujan itu berpindah tangan.

"Pake," bukan suara keras, melainkan sebuah instruksi pendek yang mutlak. Itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Lingga, suaranya berat dan rendah.

"Nggak usah, rumah gua dekat dari sini, lagian lo gimana—"

Lingga tidak menunggu Stella menyelesaikan penolakannya. Dia tidak berniat melakukan debat kusir di tengah badai.

Cowok itu melepaskan genggamannya pada jas hujan dan sweaternya tersebut, membiarkannya mendarat di pangkuan Stella, menutupi lututnya yang terluka dari terpaan angin malam yang semakin menggigit.

Setelah itu, Lingga berbalik.

"Eh, Lingga! Tunggu!" seru Stella setengah panik.

Lingga tidak menoleh. Tanpa ragu-ragu, tanpa persiapan apa pun, cowok misterius itu melangkah keluar dari batas atap halte.

Dia menerjang hujan deras yang langsung membasahi rambut hitamnya dalam hitungan detik.

Punggung cowok itu bergerak menjauh, berjalan dengan ritme yang santai namun pasti di bawah guyuran air, seolah badai di sekelilingnya hanyalah angin sepoi-sepoi.

Stella termangu. Dia menatap punggung Lingga yang perlahan kabur di balik tirai hujan deras, lalu menunduk menatap sweater hitam dan jas hujan di pangkuannya. Ada kehangatan samar yang tertinggal di bagian dalam kain tebal itu.

Di tengah rasa sakit hati akibat ditinggalkan oleh Gibran, Stella justru menemukan sebuah perlindungan tak terduga dari seseorang yang bahkan tidak pernah bertukar sapa dengannya di kelas dan koridor sekolah.

......................

...****************...

Tbc

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!