Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warung Pak Jaya
BAB 2
Papan pengumuman di dekat balai desa ternyata bukan berisi sayembara hadiah uang tunai untuk pemuda tertampan, melainkan jadwal giliran ronda malam dusun dan pengumuman perbaikan saluran irigasi. Bayu sempat mendengus kecewa, sementara Dimas justru merasa lega karena itu berarti mereka tidak perlu repot-repot ikut kontes kecantikan tingkat kampung yang berakhir tanpa trofi.
Perjalanan tiga pemuda itu berlanjut dengan langkah gontai menuju pusat informasi paling akurat, kredibel, dan cepat merambat di Desa Kertajaya: Warung Kopi Pak Jaya.
Warung itu berdiri strategis di persimpangan jalan utama dusun. Bangunannya setengah tembok dan setengah kayu, dengan papan nama usang berlatar cat putih yang bertuliskan WARUNG KOPI & KELONTONG PAK JAYA — BUKA SEJAK ANDA BELUM LAHIR. Di terasnya, deretan bangku panjang dari kayu nangka selalu dipenuhi warga dari berbagai kalangan mulai dari tukang ojek pangkalan, petani yang baru pulang dari sawah, hingga bapak-bapak RT yang senang berdiskusi soal harga pupuk sambil menyeruput kopi hitam berampas tebal.
Begitu Raka, Bayu, dan Dimas memasuki area warung, aroma bubuk kopi tubruk bercampur wangi tembakau rokok melintas di udara, berpadu dengan uap hangat dari panci mi rebus di sudut meja.
"Bau gorengannya menusuk iman banget, Rak," bisik Bayu sambil menelan ludah dengan bunyi gluk yang cukup keras. Matanya menatap lapak gorengan di depan etalase kaca, di mana beberapa buah bakwan udang dan pisang goreng tampak berbaris menggoda iman anak kos yang sedang krisis moneter.
"Simpan air liurmu, Bay," balas Raka lirih. "Dompet kita tadi cuma nyawa dua ribuan. Kalau kita nekat beli bakwan satu, itu namanya tindakan bunuh diri secara finansial."
Mereka bertiga memilih duduk di bangku panjang pojok teras, agak menjauh dari kerumunan bapak-bapak yang sedang serius membicarakan pemilihan kepala desa tahun depan. Pak Jaya, pemilik warung berusia paruh baya dengan handuk kecil tergantung di lehernya, langsung menghampiri meja mereka sambil membawa nampan kecil.
"Wah, kedatangan tamu agung dari Kos Bu Ratna nih," sapa Pak Jaya ramah dengan suara baritonnya yang khas. "Biasanya kalian bertiga baru kelihatan batang hidungnya kalau token listrik kos sudah bunyi tut-tut-tut minta ampun. Mau pesen apa pagi ini? Kopi hitam, teh manis, atau cuma mau numpang ngadem di bawah kipas angin?"
"Pagi, Pak Jaya," sapa Raka sambil tersenyum pasrah. "Kami ke sini niatnya mau silaturahmi mempererat tali persaudaraan antarwarga, sekaligus... mengecek stabilitas ekonomi nasional dari dekat."
"Ah, ngeles saja kamu, Rak," tawa Pak Jaya renyah. "Bilang saja dompet lagi kering kerontang. Mau utang gorengan lagi? Catatan utang kalian di buku hitam saya sudah setebal kamus hukum, lho. Kalau ditambah lagi, lembarannya bisa rontok."
Bayu langsung tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya. "Bukan utang, Pak Jaya. Kami ini sedang dalam fase evaluasi aset. Ngomong-ngomong, warung lagi ramai ya? Ada gosip apa nih yang seru? Siapa tahu ada warga yang kehilangan ayam peliharaan terus kasih sayembara puluhan juta."
Sebelum Pak Jaya sempat menjawab, suara nyaring Bu Rini yang meja lapaknya kebetulan berada tidak jauh dari warung kopi sudah memecah suasana.
Wanita paruh baya itu rupanya sedang mengobrol dengan dua orang ibu-ibu tetangga sambil menenteng kantong belanjaan berisi sayur kol.
"Eh, ibu-ibu, kalian tahu tidak?" suara Bu Rini melengking sengaja dikeraskan agar seisi warung bisa mendengarnya. "Itu lho, rumah kosong di ujung jalan dusun timur... yang dulunya milik keluarga almarhum Pak Harun... kemarin malam pintunya kedengaran buka tutup sendiri! Padahal kuncinya kan sudah dipegang sama kelurahan!"
Seketika suasana di sekitar warung agak mereda. Topik tentang rumah kosong di ujung dusun selalu menjadi bahan bakar gosip paling empuk di Desa Kertajaya.
Dimas yang tadinya duduk santai sambil memperhatikan cicak di dinding langsung menoleh. "Nah, mulai nih. Gosip kearifan lokal jam sepuluh pagi."
"Rumah kosong yang mana, Bu Rini?" tanya salah seorang bapak tukang ojek yang duduk di dekat pintu, terpancing rasa penasarannya.
"Itu loh, rumah peninggalan keluarga almarhum Pak Harun yang sudah bertahun-tahun dibiarkan mangkrak!" jawab Bu Rini dengan nada dramatis, mendekatkan kursinya ke arah ibu-ibu lain. "Katanya ya, tetangga sekitar sempat lihat pintu depannya terbuka sedikit padahal tidak ada orang yang datang. Kuncinya rapi di kelurahan, tapi pintunya bisa goyang-goyang sendiri!"
Bayu langsung mencondongkan tubuhnya ke depan meja, telinganya mendadak tajam menangkap setiap detail cerita. "Wah... rumah mangkrak pintunya buka tutup sendiri? Jangan-jangan itu tukang angin puyuh lagi latihan buka pintu, Pak?"
"Hus, ngawur saja kamu, Bay!" tukas Pak Jaya sambil meletakkan tiga gelas air putih hangat gratisan di meja mereka bentuk kasihan terselubung dari sang pemilik warung melihat wajah tiga pemuda itu yang tampak memelas. "Rumah itu memang sudah lama kosong sejak keluarganya pindah ke kota. Tidak ada apa-apa di sana, cuma bangunan tua biasa yang kebetulan halamannya banyak ditumbuhi pohon bambu jadi kelihatan agak sepi kalau sore."
"Tapi Pak Jaya, namanya rumah tua mangkrak di ujung desa itu potensial lho," celetuk Raka tiba-tiba, matanya menyipit memikirkan sesuatu. Otak survivalnya mulai berputar cepat mencari celah peluang di tengah krisis. "Kalau misalnya tempat itu dibersihkan, atau... kalau ada barang-barang di dalamnya yang bisa dimanfaatkan... kira-kira boleh nggak ya?"
"Kamu mau ngapain emangnya, Rak? Mau buka kos-kosan tandingan saingan Bu Ratna?" potong Bayu cepat, matanya membelalak kaget. "Cari mati namanya! Kalau ketahuan Bu Ratna kita mau pindah lapak ke bangunan tua, bisa-bisa kita disembur pakai air kembang tujuh rupa!"
"Bukan mau pindah kos, Bay," kata Raka serius. "Maksudku, kalau rumah itu mangkrak dan tidak bertuan dalam waktu lama, siapa tahu di dalamnya ada barang-barang bekas yang bisa dijual ke tukang rongsokan. Besi tua, kusen kayu jati, atau seng bekas. Lumayan buat modal nutupin kebutuhan kita!"
Dimas mengangguk-angguk setuju sambil menyeruput air putih hangat di depannya. "Ide bagus. Daripada kita pusing mikirin dompet kosong, sesekali jadi pemulung terhormat di bangunan kosong sepertinya seru juga."
Pak Jaya yang mendengar percakapan mereka langsung menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. "Sudahlah, anak muda. Jangan aneh-aneh mikirin bangunan tua di ujung dusun itu. Warga sini juga jarang ke sana karena jalannya memang agak sepi.
Kalau kalian mau cari uang halal dan cepat, tuh, bantu Pak RT bongkar muat gabah di balai desa sore nanti. Upahnya lumayan buat beli nasi bungkus dan menyambung hidup."
Raka, Bayu, dan Dimas saling berpandangan. Tawaran Pak RT tentu bukan pekerjaan impian, tapi di tengah kondisi dompet yang sekarat, tawaran itu terdengar seperti penyelamat paling nyata.
"Oke, rencana sepakat: siang ini kita jadi kuli angkut gabah di balai desa, urusan perut harus aman dulu.
Soal bangunan tua milik keluarga Pak Harun itu... nanti kita pikirkan lagi belakangan kalau situasinya sudah mendesak."