NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:380.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Di Ambang Perpisahan

Mendengar istrinya disebut senyum di wajah Vandra langsung menghilang.

"Bu..."

"Kamu masih suaminya Levia." Ratih mengingatkan.

"Aku lagi ngurus perceraian."

"Tapi belum resmi bercerai."

Vandra mengembuskan napas kasar. "Levia pasti bakal manfaatin kesempatan itu buat nahan aku lagi."

Ratih menggeleng. "Belum tentu."

"Ibu lupa apa yang terjadi kemarin?"

Ratih terdiam sesaat. Justru karena mengingat kejadian di sungai itulah ia semakin yakin.

"Entahlah...." Ratih memandang keluar jendela. "Ibu merasa... Levia yang sekarang berbeda."

Vandra mendengus pelan. "Dia cuma lagi cari cara baru."

Ratih tidak membalas. Ia hanya berkata lirih, "Kalau ternyata kali ini kamu yang salah menilai dia... jangan sampai penyesalan datang waktu semuanya sudah terlambat."

Vandra terdiam. Namun hanya sesaat. "Aku tetap akan pamit. Bukan karena dia. Tapi karena aku menghormati Ayah Bram."

Ratih mengangguk pelan. "Itu sudah cukup."

***

Malam itu, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan salah satu rumah termegah di kabupaten itu.

Bip.

Kamera pengenal wajah di dekat gerbang otomatis segera mengenali pengemudinya.

Tak lama kemudian, pagar bergeser perlahan ke samping, memberi jalan bagi mobil itu untuk masuk.

Kapten Arvandra Jayasena memarkir kendaraannya di halaman rumah yang jauh lebih luas daripada rumah yang ditempatinya bersama Ratih.

Meski keluarga Jayasena hidup berkecukupan, keluarga Gultom berada beberapa tingkat di atas mereka dalam hal kekayaan. Bram Gultom bahkan dikenal sebagai salah satu orang terkaya di kabupaten itu.

Tak heran jika rumahnya dilengkapi berbagai sistem keamanan modern, termasuk pagar otomatis dengan pemindai wajah.

Vandra mematikan mesin mobil, tetapi tidak segera turun. Ia mengembuskan napas panjang.

"Semoga malam ini gak ada drama."

Setelah mengambil map berisi surat penugasannya, ia akhirnya turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama.

Ting... tong...

Bel berbunyi. Tak lama kemudian, pintu terbuka.

Ninis yang semula mengira yang datang adalah rekan bisnis Pak Gultom langsung tersenyum ramah. Namun, begitu melihat sosok yang berdiri di depan pintu, senyumnya membeku sesaat.

"Kak... Vandra."

Jantungnya berdegup lebih cepat. Meski sudah sering bertemu, setiap kali melihat pria itu dari dekat, perasaannya tetap sama. Ia buru-buru memasang kembali senyum ramahnya.

"Silakan masuk, Kak."

"Pak Bram ada?" tanya Vandra.

"Ada."

"Levia juga?"

"Iya."

Jawaban itu membuat Vandra sedikit lega. "Saya ingin bertemu mereka."

"Tentu."

Ninis bergeser memberi jalan. Di balik senyumnya, pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Tumben malam-malam datang ke sini. Apa Bu Ratih nyuruh Kak Vandra jemput Levia lagi?"

Bukan sekali dua kali hal itu terjadi. Setiap Levia membuat keributan lalu pulang ke rumah ayahnya sambil menangis, Ratih hampir selalu meminta Vandra datang menjemput istrinya.

Meski pria itu tampak enggan, pada akhirnya ia tetap datang demi menghormati ibunya.

Entah kenapa, pikiran itu membuat dada Ninis terasa sesak.

"Kalau Kak Vandra benar-benar datang buat jemput Levia..."

Jemarinya mengepal pelan.

"Kenapa orang sebaik Kak Vandra harus terikat sama wanita itu? Harusnya Lavia sudah mati di sungai."

Namun sesaat kemudian ia kembali mengingat perubahan Levia sejak kemarin. Tatapannya sedikit mengeras.

"Levia... sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan?"

Tak lama kemudian Ninis mengetuk pintu ruang kerja Gultom.

"Masuk," suara Gultom dari dalam.

Ninis membuka pintu, ia berdiri di ambang. "Pak Bram."

Bram yang sedang membaca beberapa dokumen mengangkat wajah. "Iya, Nis?"

"Kak Vandra datang."

Bram mengernyit. "Vandra?"

"Iya, Pak. Beliau bilang ingin bertemu Bapak dan Nona."

Bram terdiam beberapa saat. Pikiran pertamanya langsung menuju satu kemungkinan.

"Jangan-jangan... dia datang buat jemput Via."

Setiap kali Vandra datang menjemput, Bram harus merelakan putri semata wayangnya kembali ke rumah suaminya.

Namun kali ini, entah kenapa, dadanya terasa berat. Sejak pagi tadi, ia melihat sisi Levia yang selama ini nyaris tak pernah ada.

Putrinya mengajaknya olahraga. Meminta maaf. Bahkan ingin mengenalnya lebih dekat sebagai seorang ayah. Semua itu membuat rumah yang selama ini terasa sepi kembali hidup.

Kalau malam ini Levia kembali ikut Vandra...

Bram mengembuskan napas pelan. "Via di mana, Nis?"

"Di kamar, Pak."

"Biar saya yang panggil."

Ninis mengangguk kecil. "Baik."

Tak lama kemudian Gultom sudah berdiri di depan pintu kamar Levia.

Tok. Tok.

"Via."

"Masuk, Yah."

Levia yang sedang menggambar sketsa pakaian di meja belajar segera menoleh.

Bram masuk sambil tersenyum tipis, tetapi raut wajahnya tampak menyimpan sesuatu. "Vandra datang."

Levia mengernyit. "Hah?"

Gultom melanjutkan, "Dia bilang ingin ketemu kita."

Mendengar kabar itu, kalimat pertama yang langsung terlintas di benak Vivian adalah,

"Ngapain manusia kutub itu datang ke sini?"

Ia mengalihkan pandangan ke ayahnya. "Ayah tahu dia datang buat apa?"

Bram menggeleng. "Belum."

Sesaat Bram hanya memandang putrinya. Dulu, setiap mendengar nama Vandra, Levia pasti langsung berbinar. Bahkan sebelum sempat menjelaskan apa tujuan kedatangan pria itu, putrinya sudah sibuk merapikan rambut, berganti pakaian, lalu berlari menghampiri Vandra.

Berkali-kali Bram hanya bisa memandangi punggung Levia yang menjauh, sementara dirinya seolah terlupakan.

Entah mengapa, tanpa sadar ia kembali menunggu reaksi yang sama.

Namun...

Levia hanya mengembuskan napas pelan. "Kalau dia datang buat ngajak aku pulang..." Ia menggeleng pelan. "...aku gak mau."

Bram berkedip pelan. "Enggak mau?"

"Iya." Levia tersenyum kecil. "Aku masih betah di rumah."

Jawaban sederhana itu membuat dada Bram menghangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, putrinya memilih tetap bersamanya, bukan tergesa-gesa mengejar Vandra.

"Yakin?" tanya Bram pelan, seolah masih belum percaya.

Levia mengangguk mantap.

"Lagipula..." ia tersenyum ringan. "Aku 'kan baru sadar, selama ini aku lebih sibuk ngejer orang yang gak peduli sama aku, sampai lupa kalau ada Ayah yang selalu ada di sisiku."

Mata Bram langsung memanas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan agar Levia tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Kalau begitu..." suaranya sedikit serak. "...Ayah senang."

Levia menghampiri Bram, lalu secara spontan menggandeng lengannya. "Yuk. Jangan bikin tamu nunggu lama."

Bram menatap tangan putrinya yang menggandeng lengannya. Dulu, yang selalu diseret Levia adalah Vandra. Hari ini, putrinya justru memilih berjalan bersamanya.

Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Bram. "Ya."

Mereka pun berjalan berdampingan menuju ruang tamu.

 

...✨"Seseorang baru benar-benar pulang ketika ia berhenti mengejar tempat yang tak pernah menganggapnya rumah."...

..."Ada hati yang terus menunggu tanpa meminta apa pun. Sayangnya, sering kali baru dihargai setelah kita lelah mengejar orang lain."✨...

.

To be continued

1
anonim
Pertanyaan Vandra bukannya di jawab, Levia malah ganti bertanya.

Vandra semakin bingung mau ngomong pun nggak jelas kelanjutannya. Kalimatnya menggantung tak diselesaikan.

Vandra mengakhiri panggilan.

Vandra penasaran dengan lagu yang terdengar dari kamar Levia. Dia cari dan mulai mendengarkan.

Bait demi bait dari lagu itu Vandra resapi wkwkwk 😄.
Itulah Levia yang sekarang. Seperti yang dulu Vandra mau.

Silahkan menikmati rasa sesak di dadamu Vandra.

Kalimat dalam lagu selanjutnya seperti menampar dirinya.

Vandra bisa membayangkan betapa Levia sangat menderita diabaikan keberadaannya saat itu.
anonim
Levia mendapat panggilan telepon dari Vandra ketika sedang memperbaiki garis pada pinggang desainnya.

Vandra ingin tahu kabar Levia.

Disela pembicaraan yang cuma sepatah-sepatah, telinga Vandra mendengar lagu dari tempat Levia berada.

Levia suka lagu itu enak didengar, liriknya juga bagus. Terjemahan lagu itu terucap dari mulut Levia dengan tanpa beban.

Vandra hanya terdiam.

Ujung-ujungnya Vandra secara tidak langsung menginginkan Levia masih mau memberikan kesempatan padanya.
anonim
Levia sudah menceritakan kelakuan Ninis yang mengambil map desain Brenda dari tasnya kepada Gultom.

Gultom mengambil keputusan, Ninis mulai besok tidak perlu bekerja lagi di rumahnya. Ninis dipecat.

Gultom masih ingin memastikan apakah ada seeorang yang memanfaatkan Ninis untuk mendapatkan sesuatu dari Brenda.

Gultom masih membiarkan Ninis menjalani hari ini seperti biasa. Seakan-akan Gultom belum tahu perbuatan Ninis hari ini.
anonim
Ternyata Levia sudah merasa curiga kalau Ninis bakal mengoperasi tasnya.

Bi Sari juga diajak kerja sama Levia.

Ninis masih mau mengelak ketika sudah ketangkap basah oleh Levia.

Levia mengungkap semua kelakuan Ninis satu persatu.

Kalau Ninis sampai tidak dikeluarkan dari rumah Gultom, berarti bisa dikatakan mereka memelihara ular berbisa yang bisa menggigit kapanpun dan bikin celaka penghuni rumah.
anonim
Ninis ini racun yang perlu disingkirkan dari keluarga Gultom. Mau merusak reputasi Levia dengan niat ingin mencuri desain koleksi Brenda.

Ninis berulah sengaja menumpahkan air dalam gelas mengenai pakaian Levia. Bilangnya tidak sengaja.

Levia ganti baju, tas berisi desain tidak di bawa.

Ninis mempunyai kesempatan untuk mengambil desain itu.

Desain sudah di dapat, Ninis tersenyum lebar telah mendapatkan apa yang dia incar selama ini.

Senyumnya lenyap ketika mendengar suara Levia.

Kapok kau Ninis.
anonim
Dari kecil Vandra dan Levia sudah dekat. Foto lama ketika mereka lulus SMP masih ada di dompet Vandra. Kebahagiaan terlihat dalam foto itu.

Ingatan lama ketika melihat foto itu berputar di kepala Vandra. Kenangan indah mereka.

Vandra di masa kecilnya pernah punya keinginan, nanti kalau sudah besar mau menikah sama Levia.

Foto lama mengingatkan Vandra yang pernah menyayangi Levia lebih dalam dari pada yang selama ini dia akui.
anonim
Vandra kini menyesal telah mengabaikan Levia. Levia yang sekarang sudah sibuk punya dunianya sendiri. Tidak mengejar Vandra lagi.

Mau menghubungi Levia tak ada alasan untuk apa. Padahal inginnya juga menghubungi.
Dokkan Battle
cerita M ..
ryuka
yeeee.. jujur jujur laahhh captt
ryuka
gilaaa... udah kotor pikirannya dr dlu berarti
ryuka
waduuhhh.. lancang . ada pencuri
ryuka
setreesss nih si ninis
ryuka
penasaran kaann
ryuka
diiihhh gila nih si ninis
anonim
Vandra yang kini kembali melihat akun Brenda, di sana ada foto-foto kegiatan Levia bersama beberapa anggota tim Brenda dan Mahesa Retail. Juga ada Andri.

Foto Levia dengan Andri yang sedang memeriksa susunan produk, bikin Vandra terdiam.

Vandra tidak tahu perkembangan Brenda sudah sejauh apa.

Ironis sekali suami tertinggal dari kehidupan istrinya sendiri. Dulu disia-siakan. Ingin secepatnya bercerai. Kini bingung sendiri.
anonim
Andri tahu batas yang harus tetap di jaga. Ia menghargai Levia sebagai rekan bisnis. Semakin sering bertemu, semakin kagum pada kemampuan Levia.

Andri menghargai Levia masih seorang istri. Dia tidak akan melanggar batas yang telah ada.
anonim
Kerja sama Brenda dengan Mahesa Retail berjalan lancar. Andri dan Levia sering bertemu membahas laporan penjualan, evaluasi produk, dan perkembangan display di beberapa gerai.

Di sore hari Andri berada di ruang meeting Brenda duduk berhadapan dengan Livea.

Pembicaraan tentang laporan penjualan bulan ini yang cukup bagus.

Levia yang menolak untuk meningkatkan jumlah produksi dua kali lipat untuk tetap menjaga kualitas.

Levia tidak tergiur untuk mendapatkan keuntungan cepat.
sasa adzka
jangan bilang kak.. ini cerita ada di kenyataan hidup kita...
anak merengek k bp nya yg berkuasa utk mendapatkan bekas suami orang...
klo misalkan ada juga.. astaghfirullah banget.... dunia ini terlalu kejam
sasa adzka
senyum ku berubah sejak tenggelam di sungai... eaaaa😄😄
sasa adzka
bikin penasaran baca nya ini.. pengen ta remek itu ART😄😄😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!