DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Kecemburuan yang Meledak
Aira bergidik ngeri. Tubuhnya makin terdesak ke tepi meja saat Darel melangkah mendekat dengan tatapan mata yang sepenuhnya mengunci geraknya. Air mata ketakutan merembes di pipi Aira saat Darel mengulurkan tangan, mencengkeram kedua bahunya dengan kuat, lalu menarik tubuh Aira ke dalam dekapan yang terasa amat dingin dan menyesakkan.
"Kamu milik saya, Aira. Dulu, sekarang, dan selamanya," bisik Darel rapat di telinga Aira, mengabaikan dorongan lemah dari tangan Aira yang berusaha memberontak.
"Lepasin! Kak Darel, lepas—" jerit Aira tertahan, suara tangisnya pecah.
Brak!
Pintu kamar Darel didobrak paksa dari luar. Kayu penahan selot pintu retak seketika saat sebuah tendangan keras menghantamnya.
Vino berdiri di ambang pintu dengan napas memburu hebat. Pandangannya langsung menyapu pemandangan di dalam kamar—melihat Aira yang terisak dalam dekapan paksa Darel. Pendar amarah di mata Vino meledak menjadi kemurkaan murni yang tak lagi bisa ditahan.
"BANGSAT LU, DAREL!"
Vino menerjang masuk bagaikan serigala lapar. Tanpa membuang waktu sedetik pun, kepalan tangan kanan Vino melayang tajam, menghantam rahang kiri Darel dengan telak.
Brak!
Darel tersungkur ke samping, menabrak meja belajar hingga lampu meja dan berkas-berkas berhamburan jatuh. Sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah segar.
Aira menjerit kaget, buru-buru berlari ke belakang tubuh Vino. "Vino!"
Darel menyapu darah di bibirnya dengan punggung tangan. Bukannya takut, Darel justru terkekeh dingin. Ia berdiri perlahan, memutar lehernya, lalu menatap Vino dengan seringai penuh provokasi.
"Lu emang cuma otot tanpa otak, Vin," desis Darel sinis. "Lu pikir dengan mukul gue, Aira bakal milih lu? Dia cuma kasihan sama lu!"
Kata-kata Darel makin membakar emosi Vino. Vino menerjang maju lagi, menyambar kerah baju Darel dan menghantamkan tubuh sepupunya itu ke dinding marmer. Baku hantam fisik pertama yang amat berdarah di antara kedua pangeran Pradipta itu pecah di dalam kamar sepi tersebut. Pukulan demi pukulan melayang. Darel yang mencoba membalas menyikut perut Vino, namun Vino yang sudah gelap mata terus menghajar Darel tanpa ampun hingga Darel tersungkur terengah-engah di lantai.
Vino mencengkeram kerah kemeja Darel yang sudah robek, menarik wajah Darel mendekat.
"Sekali lagi lu sentuh dia pakai tangan kotor lu... gue gak bakal segan-segan bikin lu membusuk di penjara!" ancam Vino dengan suara berat membahayakan.
Vino melepaskan Darel secara kasar hingga kepala cowok itu terbentur lantai. Tanpa membuang waktu, Vino membalikkan badan, menarik pergelangan tangan Aira secara protektif, dan membimbing cewek yang masih gemetaran itu keluar dari kamar terlarang tersebut.
***
Insiden baku hantam berdarah malam itu membuat suasana rumah Pradipta berubah menjadi zona perang yang membeku. Darel mengurung diri di kamarnya, sementara Vino tak sedikit pun membiarkan Aira lepas dari jangkauan pandangannya.
Vino tahu, kemarahan dan pukulan fisik tidak akan cukup untuk menumbangkan Darel secara permanen. Pengintaian berantakan yang ditemukan Aira di ponsel Darel membuktikan satu hal: Darel adalah ancaman nyata yang sangat berbahaya. Vino butuh amunisi yang lebih besar untuk menghancurkan Darel sampai ke akar-akarnya.
Siang hari di perpustakaan kota saat jam bebas sekolah, Vino duduk di sudut ruangan yang sepi bersama Rian—sepupunya yang memiliki akses jaringan luas di Inggris.
"Lu yakin mau ngebuka berkas ini, Vin?" tanya Rian berbisik seraya menyerahkan sebuah flashdisk hitam di atas meja. "Gue butuh bantuan teman-teman di London buat nembus data sekolah lama Darel. Apa yang Darel perbuat di sana... bukan cuma masalah kenakalan remaja biasa."
Vino menyambar flashdisk itu dengan raut wajah dingin tanpa ragu. "Gue gak peduli seberapa parah isinya. Gue harus tahu siapa Darel sebenarnya sebelum dia makin bahayain Aira."
Vino memasukkan flashdisk itu ke laptopnya. Jemarinya bergerak lincah menembus enkripsi folder hingga lusinan dokumen digital, foto, dan salinan berita lokal berbahasa Inggris terpampang jelas di layar.
Mata Vino menyipit tajam membaca judul berita utama di sebuah surat kabar independen London dari tiga tahun lalu:
"Tragic Incident at St. Jude Academy: Former Student Investigation Covered Up."