Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 17
"Tidak Rin, tidak begtu. Itu semua salah Rin, aku tidak melakukannya."
Gani mengelak sebisa mungkin atas apa yang Rinda katakan. Dia mendekat ke arah Rinda dan hendak meraih tangan Rinda. Namun Rinda tidak membiarkan Gani melakukan itu.
"Jangan sentuh aku, aku tidak mau disentuh oleh tangan mu yang sudah menyentuh wanita lain bahkan lebih parahnya itu kakak ku sendiri. Jijik tahu tidak!"
Kali ini Rinda bicara dengan sedikit nada yang tinggi. Dia juga melotot tajam ke arah Gani yang sedikit menciut.
"Haah, sudah sana Gan. Aku sungguh enggan bicara sama kamu dengan durasi yang lebih lama dari ini."
Rinda membuang nafasnya kasar, tubuhnya terasa sangat lelah dan lemas, dan pada akhirnya Rinda amburk.
"Mbak!"
Jexen dengan sigap menangkap Rinda. Wajah Jexen langsung panik melihat Rinda yang ada dalam pelukannya. Tapi Rinda tidak pingsan. Dia hanya merasa sangat lelah.
"R-rin, kamu tidak apa-apa?"
"PERGI!!"
Bukan Rinda yang berteriak melainkan Jexen. Rahang pria itu mengeras, dan matanya sangat tajam menatap ke arah Gani.
Melihat reaksi Jexen yang sangat menakutkan, Gani pun mundur perlahan. Dan pada akhirnya dia keluar dari ruangan Rinda degan sedikit berlari.
"Mbak, aku bawa ke rumah sakit ya?" ucap Jexen. Tanpa meminta persetujuan dari Rinda, Jexen menggendong Rinda dan bergegas keluar dari ruangan untuk menuju rumah sakit.
Rinda tak menjawab apapun, tubuhnya terasa sangat lelah dan tak bertenaga. Meski sebenarnya tak ingin pergi ke rumah sakit, tapi Rinda tak punya kekuatan untuk menolak Jexen.
Beberapa orang mendekat dan bertanya ketika melihat Rinda berada dalam gendongan Jexen. Mereka nampak khawatir akan kondisi Rinda.
"Bu Rinda kenapa, Pak Jex?"
"Ambil kan mobil cepat!"
Hanya itu yang keluar dari mulut Jexen. Ia melemparkan kunci mobil secara acak. Salah satu karyawan yang menangkap kunci itu langsung bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil mobil.
"Kamu sekalian bawa, kita ke RS Awal Brown," ucap Jexen.
"Baik."
Pria itu mengangguk paham. Setelah kembali menutup pintu mobil belakang, dia mengemudikan mobil milik Jexen ke rumah sakit.
Beberapa karyawan yang masih berdiri di lobi terlihat cemas. Rinda tadi tampak pucat dan sangat lemas, mereka takut jika pimpinan mereka akan kembali sakit.
"Semoga Bu Rinda tidak apa-apa ya?"
"Iya, kasihan. Kayaknya Bu Rinda masih butuh banyak waktu untuk istirahat. Tapi beliau sudah harus masuk kerja."
"Ya mau bagaimana, saudaranya sama sekali tidak kompeten. Baru on the way tiga bulan saja sudah akan menutup kantor cabang, coba banyakkan kalau setahun, bisa-bisa TBBA bangkrut begitu saja."
Kekhawatiran mereka jelas sangat berdasar. Nasib mereka bergantung dengan siapa yang memimpin.
Jika pimpinannya kompeten, mereka pun akan terus bisa bekerja. Tapi jika tidak, maka sama saja dengan menjerumuskan diri.
"Tapi, tadi aku lihat Pak Gani ada di sini. Apa mungkin hara-gara dia Bu Rinda jadi begitu?"
Sebelum melhat Rinda di gendong oleh Jexen, beberapa karyawan melihat Gani yang turun dari lantai atas. Pria itu berjalan cepat seolah diburu-buru oleh sesuatu.
"Bisa jadi tuh. Mungkin ada sesuatu yang dikatakan oleh pria itu sehingga membuat Bu Rinda syok?"
"Bisa jadi. Lagian tuh laki mau apa juga sih dia. Sudah terang-terangan menikah lagi, terus mau apa coba dia menemui Bu Rinda. Apa dia menganggu Bu Rinda?"
"Entahlah, tapi yang pasti membuat Bu Rinda mengalami syok."
Mereka semua mengutuk Gani dan Teani. Terlebih melhat kondisi Rinda yang seperti tadi. Mau bagaimanapun Rinda saat ini masih membutuhkan waktu untuk beristirahat lebih. Dan seharusnya tidak ada yang boleh mengusik Rinda karena pasti dari segi psikis juga belum stabil.
"Mbak, ah maksud saya Dokter Xerena, bagaimana keadaan Nona saya?"
Xerena tersenyum tipis melihat sang adik yang nampak sangat ketakutan tadi saat membawa Rinda. Dan sekarang, wajahnya yang pucat masih juga belum reda.
Padahal Jexen tidak pernah seperti itu selama ini. Pria itu adalah pria yang tegas dan tak bisa digoyahkan dengan apapun, tapi Rinda, nona yang selama ini dilayaninya itu membuat Jexen sangat berbeda.
Jexen yang dingin dan seolah tak tersentuh, menjadi lembut dan hangat di depan Rinda. Cukup membuat Xerena merasa senang tapi juga sangat ingin mengerjai adiknya.
"Mbak Rinda nya baik-baik saja, Mas Jexen. Hanya saja memang butuh istrahat saja. Dan kalau bisa jangan dulu berpikir yang berat. Luka pada kepala bisa terasa sakit jika untuk berpikir yang berat dan juga emosional."
"Terimakasih Dokter, saya akan menjaga nona saya dengan baik," jawab Jexen.
Rinda hanya mengangguk kecil dan tersenyum melihat Jexen yang panik sendiri. Tapi dia suka karena Jexen benar-benar totalitas dan juga loyal sebagai asisten pribadi.
"Mbak, bentar ya. Aku keluar dulu untuk membeli makanan. Istrahat dulu saja di sini. besok kita ke SJ berangkat dari sini saja."
"Terimakasih ya Jex."
Jexen menganggukkan kepala. Dia berjalan keluar kamar dengan sedikit lebih cepat.
"Mbak tunggu!" panggil Jexen kepada Xerena. Xerena lantas tersenyum, dia sudah menduga bahwa Jexen akan mengejarnya seperti ini.
"Hahaha adik ku ini bener-bener ya. Kalau sudah bucin jadi seperti beda orang."
"Hih Mbak, aku belum bertanya apa-apa juga. Soal Rinda, apa benar dia baik-baik saja? Maksud ku, sekarang dia seperti itu, dia pucat terus tadi aku merasa denyut nadinya juga sangat cepat. Apa mungkin dia syok atau apa? Kalau harus rehat lagi, bilang saja begitu. Baru saja sembuh tapi dia sudah kembali ke pekerjaan. Dia terlalu memforsir tubuhnya."
Xerena tersenyum simpul. Adiknya sungguh sangat berbeda dan sungguh Xerena suka melihatnya.
"Dia baik-baik saja, Jex. Sejauh ini mungkin dia hanya lelah. Tapi sebaiknya memang menjauhkan semua yang memancing emosinya adalah yang paling benar. Bagaimanapun psikis Rinda masih cukup terguncang. Kecelakaan yang dialami bukan sebuah kecelakaan yang sederhana."
Jexen menganggukkan kepalanya cepat. Dia ingin sekali menjauhkan Rinda dari sumber masalah, tapi Rinda menolak dengan keras untuk tinggal di tempat lain. Wanita itu bersikukuh untuk tetap tinggal di rumahnya sendiri yang mana di sana adalah sumber pemicu emosinya Rinda.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Jex. Tapi kamu tidak bisa memaksa Rinda. Biarkan dia melakukan apa yang ingin dilakukan. Nah tugas kamu adalah menjaganya. Itu saja Jex."
"Iya aku tahu Mbak. Ya sudah kalau dia memang baik-baik saja. Aku mau mencari makanan dulu untuknya. Ingat Mbak, jangan sampai dia tahu dulu siapa aku."
"Okey."
TBC