NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Napas Ren tersentak, menyedot udara dingin yang menusuk tenggorokan.

Dada kirinya masih berdenyut ngilu, seolah tulang rusuk yang patah pada garis waktu sebelumnya masih meninggalkan bekas di sistem sarafnya. Tangannya meraba zirah kulit tipis di tubuhnya, memastikan pelat besi murah itu masih menempel utuh tanpa remuk. Di samping kanannya, Vargas masih berdiri kokoh dengan pipa tembakau tua yang padam terselip di sudut bibirnya.

"Ren," bisik Vargas dengan nada serak yang persis sama. "Buka telingamu lebar-lebar kalau masih mau melihat jatah ransum besok. Begitu monster itu lompat, langsung banting badanmu ke kanan, mendekati pilar ketiga."

Ren menatap veteran itu dengan pupil melebar. Keringat dingin mengucur di tengkuknya, membuat kain seragam kusamnya menempel lengket di kulit.

Sensasi dada hancur terinjak, rasa asin darah yang menyumbat jalan napas, dan tatapan tenang Julius di balik perisai emas—semuanya masih terekam jelas di kepalanya. Rasa sakit kematian itu tertinggal nyata di saraf otaknya, membakar kesadaran seperti luka sayat yang baru diguyur cuka.

Waktu benar-benar melompat mundur tiga puluh detik ke belakang.

Di sekelilingnya, suasana aula Lantai 10 kembali hening dalam ketegangan yang menekan dada. Ratusan prajurit pelopor berdiri kaku dalam barisan rapat, menunggu aba-aba dengan napas tertahan dan lutut gemetar. Tak ada seorang pun di antara mereka yang menyadari bahwa pembantaian baru saja terjadi beberapa saat lalu di garis waktu yang terhapus.

Di barisan belakang regu garis depan, Shizuka membetulkan letak tas obatnya dengan jemari yang kaku. Di sebelahnya, Riku terus menatap ujung sepatunya sendiri, menelan ludah berkali-kali untuk meredam rasa mual yang muncul akibat aroma busuk aula. Bagi mereka, teror ini baru akan dimulai. Namun bagi Ren, kengerian ini sudah menjadi siklus kedua yang harus ia hadapi dengan sisa kewarasannya.

Lantai marmer di bawah kaki mereka kembali bergetar keras.

Guncangan merambat cepat dari dasar batu, meretakkan ubin dan menjatuhkan serpihan tajam dari langit-langit setinggi puluhan meter. Bau busuk bangkai dan uap asam menyengat kembali menyergap hidung, membawa hawa maut yang baru saja merenggut nyawanya.

Dari balik kabut ungu pekat di ujung aula, sepasang mata merah menyala terang dalam kegelapan.

[Peringatan: Penjaga Lantai 10 Telah Bangkit.]

[Target Terkunci: Monster Zirah Gorgon.]

"Kunci formasi!" seru Julius von Ravensburg dari barisan belakang melalui sihir pengeras suara. Suara komandan muda itu terdengar tenang dan dingin, tanpa gentar sedikit pun. "Tembakkan rantai penahan ke kaki depannya! Siapa pun yang mundur akan dieksekusi di tempat atas nama dewan perang kekaisaran!"

Tiga prajurit muda di sebelah kiri Ren kembali bersiap melompat ke depan sambil mengayunkan rantai besi tebal di tangan mereka dengan wajah pucat.

"Jangan maju!" teriak Ren sekuat tenaga, berusaha memotong langkah ketiga pemuda itu. "Rantai itu tidak mempan! Kalian mati sia-sia kalau melemparnya sekarang!"

Salah satu pemuda sempat menoleh dengan tatapan bingung dan panik, tetapi bentakan perwira pengawas di belakang mereka kembali menggelegar. Ujung tombak perak yang berkilat mengancam dari belakang memaksa mereka untuk terus melangkah maju. Ketakutan pada hukuman militer jauh lebih mendesak bagi para rekrutan miskin itu daripada seruan seorang rekan kasta F.

Mereka tetap berlari ke depan, melemparkan rantai bermantra ke arah cakar monster.

Peristiwa mengerikan itu terulang kembali tanpa meleset sedetik pun.

Otot di balik sisik hitam monster menggembung keras, menyentakkan rantai besi hingga putus berhamburan dalam sekejap. Pecahan logam melesat liar ke udara, merobek zirah salah satu pemuda dan melempar tubuhnya ke belakang, sementara ekor berduri sang monster menyapu mendatar, meremukkan dua prajurit lainnya dalam semburan darah yang membasahi lantai marmer.

Melihat adegan itu terulang di depan matanya, rahang Ren mengeras rapat.

Ia tidak punya kuasa untuk menahan orang-orang yang menolak mendengarkan di tengah kepanikan massal ini. Di tempat terkutuk seperti menara ini, mencoba menyelamatkan semua orang saat diri sendiri masih berdiri di bibir jurang adalah tindakan bodoh yang berujung bunuh diri. Satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan adalah memastikan langkah kakinya sendiri tidak mengulangi kesalahan fatal putaran pertama.

Pada putaran sebelumnya, ia berlari lurus menuju pilar ketiga lalu tergelincir di atas cairan asam yang meletup dari rekahan lantai.

Ren memusatkan pandangannya ke permukaan ubin di depan. Matanya membaca setiap retakan lantai yang merekah di sepanjang jalurnya.

Saat gelembung gas hijau mulai merembes dari sela lantai beberapa langkah di depannya, Ren membengkokkan langkah. Ia melompat menyamping ke arah kiri sejauh dua langkah, menghindari genangan asam yang mendidih dengan selisih dua telapak tangan, sebelum menjejakkan tumitnya kembali menuju pilar ketiga.

Sol sepatunya menapak ubin marmer yang kering tanpa tergelincir.

Cakar kanan monster menyapu udara kosong tepat di titik tempat Ren terpeleset pada putaran waktu pertama. Kuku-kuku hitam tajam membelah udara dengan desingan keras, menghantam pilar kedua di belakangnya hingga runtuh menjadi serpihan batu tajam.

Ren berhasil melewati ancaman cakar pertama.

Napasnya terengah pendek saat melihat serpihan pilar kedua berserakan di belakangnya. Rasa tegang di dadanya sempat mengendur tipis ketika menyadari bahwa memori kematian memberinya keunggulan menentukan.

Namun, lantai menara tidak pernah memberi ruang aman bagi mangsa yang lengah.

Karena Ren berhasil menghindari cakar kanan dan melintas lewat jalur berbeda, pola gerakan pertarungan berubah seketika. Monster berkaki enam itu tidak kehilangan keseimbangan ke arah kiri seperti di garis waktu pertama. Makhluk buas itu menangkap gerakan mangsa kecil yang meloloskan diri dari jarak terkamannya.

Sepasang mata merah monster itu melirik tajam ke arah Ren yang sedang mendekati pilar ketiga.

Sebelum Ren sempat menyentuh dasar pilar batu, sayap berduri di punggung monster itu mengepak keras ke depan. Otot di pangkal sayapnya menegang, mengarahkan puluhan duri hitam beracun langsung ke tubuhnya.

Duri-duri tajam sepanjang lengan melesat cepat bagai rentetan anak panah, menyapu area tempat Ren berpijak.

"Ren, tiarap!" teriak Vargas dari kejauhan sambil memiringkan perisai besinya, namun jarak mereka terlalu jauh untuk saling melindungi.

Ren menjatuhkan badannya ke lantai marmer, tetapi refleks tubuhnya yang lelah tidak cukup cepat untuk menghindar dari sebaran duri yang terlalu rapat dari sudut atas.

Tiga duri hitam menembus paha kanan, satu menancap di pundak kiri, dan satu duri beracun menusuk telak ke sisi lehernya.

Rasa sakit yang meledak kali ini jauh lebih membakar daripada remuknya tulang dada. Racun pekat dari duri itu langsung merembes ke pembuluh darah, membakar tenggorokan hingga terasa panas mendidih. Tubuhnya mendadak kaku, otot-ototnya terkunci, dan pandangan matanya berputar liar saat racun melumpuhkan saraf motoriknya.

Ren ambruk ke atas lantai batu dengan mata membelalak, menatap langit-langit aula yang meredup kelam.

Ia berusaha menyentuh lehernya yang tertembus duri, tetapi ujung jarinya sudah kebas dan kehilangan daya gerak. Udara tercekat di pangkal tenggorokan yang membengkak. Di kejauhan, suara Julius terdengar memberi aba-aba serangan sihir kepada para ksatrianya.

"Celah lehernya terbuka! Tembak sekarang!" seru Julius dari balik perisai emas.

Bagi sang komandan bangsawan, tumbangnya satu prajurit pelopor di bawah hujan duri hanyalah pembuka jalan agar lintasan tombak sihir ksatrianya tidak terhalang. Julius tidak peduli siapa yang terkapar di tanah selama monster itu menunjukkan titik lemahnya.

Di samping Julius, Elise menatap ke arah tubuh Ren yang kejang dengan mata berkilat ngeri. Gadis itu mengangkat tongkat peraknya, hendak merapalkan mantra penyembuh jarak jauh, tetapi tangan Julius menepis tongkat itu dengan dingin.

"Hemat manamu untuk perisai ksatria inti, Elise," ujar Julius tanpa menoleh. "Prajurit F-Rank tidak akan bertahan melawan racun Gorgon bahkan jika kau menghabiskan seluruh tenagamu."

Ren tersedak cairan hitam yang keluar dari sela bibirnya. Kesadarannya memudar cepat di tengah panas racun yang menjalar ke kepala, sebelum kegelapan menelan seluruh sensorik tubuhnya.

Tepat saat detak jantungnya terhenti, pendar cahaya perak kembali berpendar di dalam kegelapan pikirannya.

[Kematian Tercatat: Kerusakan Fatal Akibat Racun Duri Gorgon.]

[Memundurkan Kesadaran Jiwa Tiga Puluh Detik ke Belakang.]

Rasa terbakar di leher dan paha ditarik mundur secara paksa, menyeret kesadarannya melewati pusaran waktu yang bergetar hebat.

"Ren! Banting langkahmu ke kanan! Makhluk ini melibas apa pun yang segaris dengan moncongnya!"

Suara parau Vargas kembali menyambut telinganya untuk ketiga kalinya.

Ren tersentak, terengah-engah menghirup udara pengap aula dengan bahu naik turun menahan guncangan mental. Tangannya langsung mencengkeram lehernya yang kini utuh tanpa luka tusukan, meski sensasi panas terbakar sisa racun masih menyengat di kepalanya seperti tusukan jarum.

Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya. Dadanya terasa sesak oleh penumpukan trauma kematian yang datang bertubi-tubi dalam jeda waktu yang begitu sempit. Otaknya berdenyut perih, memikul memori dari dua akhir hidup yang berbeda.

Matanya menatap lurus ke depan, ke arah monster zirah hitam yang baru saja melangkah keluar dari kabut ungu.

Dua kematian telah ia lewati dalam rentang beberapa menit. Dua kali rasa sakit luar biasa telah menghantam tubuh dan kesadarannya hingga batas daya tahan manusia. Namun, di balik rasa ngeri yang menekan dadanya, kepalanya mulai memetakan rantai serangan monster itu secara runtut.

Ia telah melihat dua cara monster itu membunuhnya. Ia tahu titik letupan asam di lantai marmer dan sudut kepakan sayap berdurinya. Pada putaran ketiga ini, ia tidak akan membiarkan duri beracun itu mendekati tubuhnya lagi.

Ren melirik pilar ketiga, lalu menggeser pandangannya ke retakan batu di sudut dinding sebelah kanan. Pilihan gerakan berikutnya harus lebih cepat, lebih rapat, dan tanpa keraguan sedikit pun.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!