NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Gerbang Antara Dua Dunia Terbuka

Jam 03:33.

jam paling rawan, jam dimana semua Jin keluar, aku dengar gong ketiga.

Gong pertama tanda Sari mau diambil, gong kedua tanda satu kampung kesurupan massal, gong ketiga ini paling keras, sampai genteng rumah warisan bergetar.

Gong itu bukan dari Alas Purwo, tapi dari dalam sumur belakang rumahku sendiri, sumur tempat Ibu.

Malik yang sedang mengaji di ruang tamu, langsung loncat, "Arga! tiga darah sudah terkumpul! ucap Malik.

"Tiga darah apa? tanyaku.

Malik hitung pakai jari cahayanya, "Syarat Gerbang Antara Dua Dunia Terbuka, menurut kitab Mbah Suro Joyo Perjanjian Darah Leluhur: Butuh tiga darah keluarga penjaga yang menetes di tanah Krajan dalam 24 jam. Darah pertama: Ibumu Mira tahun 2009, tapi darah gaibnya masih di sumur. Darah kedua: Darahmu sendiri yang kau teteskan ke sumur untuk perkuat gerbang. Darah ketiga: Darah Rania! jawab Malik.

"Rania? Tapi Rania di Surabaya, dan dia selamat..."ucapku.

Malik menunjuk HP ku, di HP ada foto dari Ibu di Surabaya, foto Rania yang habis muntah air hitam , di lantai kamar Rania ada darah dari hidungnya, darah segar, menetes ke lantai keramik.

Darah hidung Rania karena mantra Sangkala Ghaib itu, walaupun dia selamat, darahnya sempat menetes di dunia manusia, dan karena sumur di Krajan sudah jadi gerbang gaib ke Surabaya sejak Jamil berkhianat, darah Rania itu dihitung sudah menetes di tanah Krajan secara gaib.

tiga darah keluarga penjaga: Ibu, Arga, Rania. Lengkap dalam 24 jam.

Begitu Malik jelaskan, sumur belakang rumahku meledak.

Bukan air hitam, bukan air bening, tapi cahaya putih dan hitam bercampur, pusaran angin besar keluar dari sumur, seperti tornado kecil, tapi di dalam tornado itu ada tulang, ada tangan, ada wajah.

Sumur itu bukan sumur lagi, tapi lubang besar, menganga tiga meter, sama seperti saat berada di Beringin Kembar.

Dan dari lubang sumur itu, terdengar suara ribuan kuda, suara pedang, suara takbir dan tawa kuntilanak, suara yang sama seperti di Alam Seberang.

Gerbang Antara Dua Dunia Terbuka. Bukan retakan di masjid lagi, tapi gerbang sungguhan di rumahku.

Dari dalam sumur tiga meter itu, keluar satu per satu Pasukan Jin Kafir. Bukan 40 seperti kesurupan massal, tapi 1000 pasukan sisa perang , dipimpin Banaspati yang sekarang lukanya sudah sembuh setengah karena tiga darah keluarga penjaga jadi obat pengganti darah perawan.

Banaspati keluar pertama, tingginya empat meter, kepala kerbau, kali ini mahkotanya lengkap, gada tulangnya baru, lebih besar.

Dia injak tanah Krajan, tanah di bawah kakinya langsung hitam satu meter.

"AKHIRNYA! 100 TAHUN AKU TUNGGU! GERBANG ANTARA DUA DUNIA TERBUKA! PERJANJIAN DARAH LELUHUR SELESAI! SEKARANG DUSUN KRAJAN BUKAN MILIK MANUSIA, BUKAN MILIK JIN ISLAM, TAPI MILIK KAMI! teriak Banaspati.

Di belakang Banaspati, keluar Ulo Sowo yang hidup lagi untuk ketiga kalinya, lebih besar 20 kali lipat, kepalanya saja sebesar mobil, dan 20 anak bermata hitam, tapi kali ini bukan anak kecil, tapi anak remaja, lebih besar, lebih hitam.

Dan yang paling bikin aku jatuh terduduk, dari dalam sumur itu keluar juga Jamil. Jamil yang tadi sudah putih lagi sekarang hitam lagi, full hitam, karena gerbang terbuka, semua Jin yang pernah berkhianat akan ketarik jadi Kafir lagi secara otomatis.

Jamil menatap Kiai Jirji ayahnya, matanya hitam, "Ayah... maaf... aku dipanggil lagi..."ucap Jamil.

Kiai Jirji menangis, "Jamil! teriaknya.

Dari arah masjid, retakan satu meter yang tadi, sekarang karena gerbang di rumahku terbuka, retakan di masjid itu juga ikut jebol jadi sepuh meter, paling besar, dan dari retakan masjid sepuluh meter itu keluar Pasukan Jin Islam, 300 pasukan dipimpin Kiai Jirji dan Malik dan anaknya yang santri kecil, mereka keluar untuk perang terakhir.

Dua gerbang terbuka bersamaan: Gerbang di sumur rumahku milik Jin Kafir, gerbang di masjid milik Jin Islam.

Dusun Krajan sekarang bukan dusun manusia lagi, tapi medan perang antara dua dunia.

Warga yang baru siuman dari kesurupan massal , mereka melihat langit, langit Dusun Krajan yang tadi bulan purnama, sekarang merah darah seperti langit Alam Seberang , tidak ada matahari, tidak ada bulan, hanya api terbang seperti burung.

Tanah Dusun Krajan yang tadinya tanah lumpur, sekarang berubah jadi tulang-tulang seperti di Alam Seberang, kalau diinjak berderak.

Satu kampung jadi Alam Seberang. Gerbang Antara Dua Dunia Terbuka tidak hanya buka pintu, tapi bawa Alam Seberang ke dunia manusia.

Aku, Arga, manusia, berdiri di tengah, di antara sumur tiga meter milik Banaspati dan masjid sepuluh meter milik Jin Islam, di tanah tulang, di bawah langit merah.

Malik berteriak dari masjid, "Arga! Kamu penjaga! Kamu harus pilih! Tutup gerbang di rumahmu, atau tutup gerbang di masjid! Tidak bisa tutup dua-duanya! Kalau kau tutup gerbang rumahmu, ibumu di dalam sumur akan hilang selamanya jadi tumbal! Kalau kau tutup gerbang masjid, 300 Jin Islam termasuk Kiai Jirji dan anak saya akan terjebak di Alam Seberang dan tidak bisa balik!"

Gerbang Antara Dua Dunia Terbuka, dan aku harus pilih, korbankan Ibu atau korbankan 300 Jin Islam penjaga rumahku.

Banaspati tertawa, "PILIH, PENJAGA BARU! PILIH!"

Di sumur tiga meter, aku lihat wajah Ibu lagi, Ibu menangis, "Arga, tutup gerbang masjid, selamatkan Jin Islam, biarkan Ibu di sini..."ucap ibuku.

Di masjid sepuluh meter, aku lihat Kiai Jirji dan Jamil yang hitam, Jamil menangis, "Kak Arga, tutup gerbang rumah, selamatkan Ibumu..."ucap Jamil.

Aku tidak bisa pilih.

Dan karena aku tidak pilih, dua gerbang itu semakin besar, tiga meter jadi lima meter, sepuluh meter jadi lima belas meter, dan dari langit merah, turun hujan darah.

Hujan darah 100 tahun, seperti bau darah.

Dusun Krajan resmi hilang dari dunia manusia, masuk ke peta Alam Seberang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!