"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 INSIDEN JAM PULANG SEKOLAH
"Ning-Nang-Ning Gwooong..."
Suara musik gamelan khas Jawa itu adalah bel jam pulang sekolah yang berdenging panjang, terdengar seperti nyanyian malaikat penyelamat di telinga Wira.
Seharian jam pelajaran berada di ruang kelas yang sama, duduk bersebelahan dengan gadis yang terus-menerus meruntuhkan egonya tanpa bersuara keras, benar-benar membuat Wira merasa seperti sedang dipanggang di atas bara api.
Begitu guru mata pelajaran terakhir itu melangkah keluar pintu, Wira langsung menyambar dompet dan tasnya dan berdiri dengan kasar.
Kursi kayunya berderit nyaring bergesekan dengan lantai, sengaja ia buat berisik agar teman-teman sekelasnya menoleh.
Ia tidak menatap Asmara sama sekali, melainkan langsung melangkah keluar kelas dengan gaya urakannya yang khas—bahu ditegakkan, kemeja yang dua kancing atasnya terbuka, dan lengan yang digulung asal-asalan.
Namun, sebelum pulang...
Perut Wira meronta-ronta minta diisi. Tadi pagi, Wira menolak makan sarapan nasi goreng buatan Mbok Darmi di rumah Bude Ning semata-mata karena gengsi. Begitu juga selama jam istirahat tadi, dia dengan gengsi luar biasa menyentuh langit, merasa malas untuk ke kantin.
Kini, cacing-cacing di perutnya seolah sedang berdemo.
Wira menyusuri koridor lantai dua dan turun ke area kantin yang terletak di bagian belakang sekolah. Sesampainya di sana, Wira kembali disuguhi pemandangan yang menurut otaknya sangat tidak normal untuk ukuran anak SMA.
Kantin SMA Budi Bangsa memang luas dan bersih.
Namun, yang membuat Wira terheran-heran adalah betapa tertibnya tempat ini.
Di sekolah lamanya di Bogor, jam istirahat dan jam pulang sekolah di kantin adalah ajang survival of the fittest—siapa yang teriak paling kencang, siapa yang paling berani berdesakan, dan siapa yang punya otot paling besar, dialah yang akan mendapatkan makanannya lebih dulu.
Teriakan memesan siomay, es teh yang tumpah, hingga tawa terbahak-bahak yang memekakkan telinga adalah hal biasa bagi Wira di sekolah lamanya di Bogor.
Tapi di sini?
Semuanya mengantre.
Siswa-siswi berdiri rapi memanjang di depan setiap kedai, menunggu giliran dengan sabar. Suara obrolan mereka pun terdengar berdengung pelan, tidak ada yang berteriak-teriak dari ujung ke ujung meja. Semuanya tampak menikmati suasana di jam pulang sekolah ini.
"Cih, sekolah apa asrama biarawati sih, nih?" gumam Wira sinis.
Matanya menyapu deretan kedai makanan dan tertuju pada satu kedai di sudut yang uapnya mengepul wangi, menebarkan aroma kaldu ayam yang gurih.
Soto Ayam Pak Min.
Kedai itu tampak paling laris, terbukti dari antrean sekitar tujuh orang siswa laki-laki yang berbaris rapi menanti pesanan.
Wira menyeringai. Ini adalah kesempatan emas.
Setelah seharian ini wibawanya sempat diacak-acak oleh sindiran Asmara di kelas, Wira merasa perlu melakukan "pembuktian" kepada anak-anak sekolah ini bahwa dirinya adalah predator puncak, dia adalah seorang "alpha male" yang tidak tunduk pada aturan konyol seperti mengantre.
Tanpa basa-basi, Wira melangkah tegap melewati barisan siswa laki-laki tersebut.
Ia berjalan menyusuri pinggir antrean dengan dagu terangkat pongah, mengabaikan tatapan heran dari murid-murid lain, lalu langsung memosisikan dirinya tepat di depan etalase kaca kedai, memotong seorang siswa jangkung berkacamata yang seharusnya mendapat giliran pertama.
Wira menggebrak meja etalase itu dengan telapak tangannya, cukup keras hingga kuah soto di dalam panci besar Pak Min sedikit beriak.
"Pak, sotonya satu! Nasi dipisah, nggak pake seledri, kuahnya banyakin. Buruan ya, gue laper banget nih!" seru Wira dengan suara lantang, sengaja memecah keheningan kantin.
Pak Min yang sedang memegang mangkuk tampak terkejut.
Beliau menatap Wira, lalu menatap siswa jangkung berkacamata di belakang Wira dengan raut wajah serba salah.
Siswa jangkung itu—yang dari lencana di dadanya Wira tahu adalah kakak kelas XII—menepuk pundak Wira dengan sangat pelan dan ragu-ragu.
"Ngapunten, Mas... Nyuwun sewu, kalau mau pesen, antreannya dari belakang, Mas.." ucap kakak kelas itu.
Nada suaranya sangat halus, sangat sopan, bahkan tubuhnya sedikit membungkuk saat berbicara kepada Wira yang notabene adalah adik kelasnya.
Wira menoleh lambat-lambat.
Ia membusungkan dadanya, menatap kakak kelas itu dengan tatapan mengintimidasi.
Sejenak suasana dalam antrean tersebut terasa dingin. Dan beberapa siswa-siswi lain jadi menatap Wira.
"Apa lo bilang? Antre?" kata Wira sambil mendekatkan telinga kirinya ke depan wajah kakak kelasnya itu.
"I-inggih, Mas... Kasihan teman-teman yang di belakang sudah nunggu dari tadi..." timpal seorang siswa lain di belakang si jangkung, nadanya tak kalah sopan, meski wajahnya menunjukkan gurat kekesalan.
"Mboten pareng ngoten, Mas... Tolong hargai yang lain..." tambah siswa ketiga di barisan antrean tersebut.
Wira terdiam sejenak, menatap deretan wajah-wajah yang sedang memprotesnya.
Lalu, sebuah tawa meremehkan meledak dari tenggorokannya.
"HAHAHAHA... HAHAHA..."
Wira tertawa cukup keras, merasa sangat superior.
Di dalam kepalanya, logika jalanan Bogor sedang bekerja.
Bagi Wira, orang yang marah namun menggunakan kata 'maaf' dan nada rendah adalah orang yang pengecut.
Kesopanan kakak-kakak kelas ini tidak dianggapnya sebagai bentuk kedewasaan, melainkan sebagai tanda kelemahan yang absolut.
Ia merasa kekuasaannya kembali. Ia adalah cowok paling jantan, paling berani, dan paling macho di sekolah ini.
"Denger ya, Bro," Wira menepuk dada kakak kelas jangkung itu dengan jari telunjuknya, sebuah gestur merendahkan yang sangat provokatif.
"Gue anak baru, pindahan dari Bogor. Dan di tempat asal gue, yang laper duluan, dia yang makan duluan. Kalau lo pada nggak terima gue serobot, mending kita selesain di lapangan belakang sekolah sekarang juga. Gimana? Ada yang berani maju?!"
Wira memasang kuda-kuda santai, menatap menantang ke arah tujuh orang siswa tersebut secara bergantian. Jantungnya berdebar bangga. Ia sudah membayangkan adegan perkelahian yang akan menaikkan reputasinya dalam sekejap.
Para siswa yang mengantre itu saling berpandangan. Mereka tampak kesal, beberapa mengepalkan tangan, namun tidak ada satu pun yang membalas tantangan Wira. Mereka justru membuang muka, lebih memilih menelan kekesalan daripada harus meladeni anak baru yang urakan ini.
"Cih! Mental kerupuk!" desis Wira puas.
Ia kembali menghadap ke etalase, memamerkan senyum kemenangannya kepada Pak Min. "Tuh, Pak. Mereka ngalah kok! Udah, bikinin soto gue sekarang. Nasi dipisah—"
Belum selesai mulutnya berucap, tiba-tiba...
"Pak Min, pesanan soto Mas Rakha yang nomor urut satu tadi sudah siap?"
Sebuah suara memotong ucapan Wira.
Suara yang begitu jernih, tenang, dan sialnya, sangat Wira kenali.
Tubuh Wira mendadak kaku. Ia menoleh perlahan ke sisi kanannya.
Asmara sudah berdiri di sana.
Entah dari mana datangnya, gadis itu kini berdiri tepat di samping etalase kedai soto.
Ia tidak ikut mengantre, ia hanya memegang sebuah buku catatan OSIS berwarna biru di dada kirinya. Rambut panjangnya tergerai rapi. Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kemarahan. Ia menatap Pak Min dengan senyum manis yang membuat pria paruh baya itu seketika merasa lega.
"Eh, sampun, Mbak Asmara. Niki sotonipun Mas Rakha," jawab Pak Min cepat, menyerahkan nampan berisi semangkuk soto panas.
Asmara mengambil nampan itu dengan anggun, lalu tanpa melirik Wira sedikit pun, ia menyodorkannya kepada siswa jangkung berkacamata yang tadi diserobot Wira.
"Silakan, Mas Rakha. Maaf ya, tadi Pak Min sempat bingung karena ada sedikit 'gangguan' teknis."
Rakha, siswa kelas XII itu, tersenyum lega. "Matur nuwun sanget, Ra..."
Melihat makanannya dirampas di depan mata, emosi Wira yang tadinya sudah berada di puncak rantai makanan kembali anjlok dan meledak.
Ia tidak peduli lagi berhadapan dengan siapa. Ego lelakinya sudah diinjak-injak untuk yang kesekian kalinya.
"Heh!!" bentak Wira, menunjuk tepat ke wajah Asmara.
"Lo lagi, lo lagi!! Kenapa sih lo selalu ikut campur urusan gue?! Gue yang pesen duluan ke bapak itu, kenapa lo malah ngasih ke dia?!" bentak wira kali ini, sudah tak tertahan gejolak kelelakiannya.
Beberapa murid lain yang sedari tadi belum menyadari ketegangan di kantin itu, mulai menoleh ke arah mereka.
Suasana yang tadinya penuh dengung obrolan kini mendadak sunyi, menunggu kelanjutan drama di kedai soto.
Asmara akhirnya memutar tubuhnya menghadap Wira. Ia tidak mundur satu sentimeter pun melihat telunjuk Wira yang hampir menyentuh hidungnya.
Dengan tenang, Asmara mengangkat tangannya, lalu secara perlahan menepis jari telunjuk Wira ke bawah, sebuah gerakan yang sangat halus namun mematikan.
"Mas Wira tidak memesan duluan," ucap Asmara pelan, menatap lurus ke dalam sepasang mata Wira yang sedang menyala oleh amarah.
"Mas Wira hanya berteriak paling keras. Di tempat yang beradab, volume suara tidak berbanding lurus dengan prioritas, Mas." kata Asmara.
Wira mendecak kasar. "Ah, persetan sama adab! Gue nggak mau tahu! Gue mau makan sekarang! Gue udah nawarin mereka berantem kalau nggak terima, dan mereka diam aja! Itu artinya gue menang!"
Asmara terdiam sejenak. Ia memandangi Wira dari ujung rambut hingga ujung sepatu, lalu menghela napas pendek.
Pandangannya berubah dari tenang menjadi tatapan mengasihani—tatapan yang sama persis seperti yang dilontarkan Bude Ning pagi tadi saat Wira protes disuruh menyapu halaman.
Dan bagi Wira, tatapan mengasihani itu jauh lebih menyakitkan daripada pukulan balok kayu.
"Mas Wira merasa menang karena tidak ada yang membalas tantangan Mas?" tanya Asmara retoris. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat tipis, sebuah senyum yang ironis.
"Mas Wira salah besar. Mereka tidak melawan bukan karena mereka takut. Mereka diam karena mereka merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak mengerti arti menghargai orang lain."
Wira membuka mulutnya untuk membalas, namun...
Asmara kembali menyela dengan nada yang begitu elegan hingga Wira kehabisan kata-kata.
"Mengambil hak orang lain dengan dalih keberanian atau kehebatan fisik itu tidak membuat Mas terlihat jantan, Mas Wira," lanjut Asmara. Suaranya mengalun seperti air yang mengikis batu karang secara perlahan.
"Itu hanya membuat Mas terlihat... menyedihkan. Seperti anak kecil yang merampas mainan temannya karena tidak diajari cara meminta dengan baik oleh orang tuanya."
DEG!!!
Kata-kata itu menghantam Wira begitu telak hingga ia merasa lututnya nyaris lemas. Wajah Wira memerah padam, telinganya terasa panas. Hatinya mencelos.
Asmara tidak menggunakan kata-kata kasar, tidak menggunakan makian, tapi kalimatnya merobek seluruh "ilusi macho" yang sejak tadi dibanggakan oleh Wira.
Asmara lalu menoleh kembali kepada Pak Min. "Pak Min, pesanan Mas Wira tetap dibuatkan ya. Nanti Mas Wira akan mengambilnya di ujung antrean, setelah Mas Wira bersedia berdiri di urutan paling belakang seperti teman-teman yang lain."
Tanpa menunggu persetujuan Wira, Asmara menundukkan kepalanya sekilas ke arah para siswa yang mengantre, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan kedai soto menuju meja teman-temannya.
Langkahnya tetap tenang, seolah ia baru saja menyelesaikan perkara sepele memungut daun kering yang jatuh, bukan menaklukkan pemuda paling keras kepala dari Bogor.
Wira berdiri mematung di depan etalase kaca.
Teman-teman yang mengantre di belakangnya menatapnya dalam diam, tak ada yang mengejek, tapi Wira bisa merasakan atmosfir kekalahannya menyebar ke seluruh penjuru kantin.
Harga dirinya remuk redam.
Selera makannya lenyap tanpa sisa.
Dengan tangan mengepal erat, Wira berbalik. Ia berjalan menjauhi antrean itu, namun tidak menuju ke parkiran untuk pulang. Langkahnya membawanya ke sudut kantin yang agak sepi.
Ia duduk menghempaskan tubuhnya di sebuah bangku kosong, menatap jauh ke arah meja tempat Asmara kini sedang duduk tertawa kecil bersama teman-teman OSIS-nya.
Dada Wira bergemuruh.
Rasa malu, marah, benci, dan...
Sebuah rasa kekaguman yang aneh, melebur menjadi satu.
Wira menatap Asmara tanpa berkedip.
"Nggak mungkin!" batin Wira dengan rahang mengeras.
"Nggak mungkin ada manusia setenang itu. Pasti ada batasnya. Kesabaran dan senyum lembut itu pasti cuma topeng. Semua orang punya titik meledak, dan gue bakal cari tahu apa yang bisa bikin cewek sok suci itu lepas kendali." gumam hati Wira.
Di tengah riuhnya kantin SMA Budi Bangsa, Wira Aji Pratama mengikrarkan sebuah janji pada dirinya sendiri.
Ia tidak akan menyerah pada aturan Jogja, dan yang paling penting, ia akan mengupas habis "topeng" kesabaran gadis bernama Asmara itu.
Apa pun risikonya.