NovelToon NovelToon
Selamat Datang, Halal!

Selamat Datang, Halal!

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:97.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mawarmay

Bercerita tentang sebuah perpisahan yang disebabkan oleh sebuah ketakutan yang menyelimuti. Hingga dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda dan jalan yang sama.

Jodoh tidak tertukar, begitulah banyak orang berkata. Dan memang benar adanya, meskipun mencoba berkelit dengan segudang alasan namun asa tetap terikat pada keduanya sehingga mampu menghela mereka menuju satu ikatan pernikahan.

wanita adalah tulang rusuk lelaki. maka tak ada istilah tulang rusuk yang tertukar selama ini.


Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas, maka jika kamu meluruskannya (berarti) kamu mematahkannya, dan kalau kamu membiarkannya maka dia akan terus bengkok, maka berwasiatlah (untuk berbuat baik) kepada kaum wanita"

(HR al-Bukhari dan Muslim).

®Mawarmay®

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarmay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas

"Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa".

[Al-Baqarah : 177]

---

Doni sesekali melirik ke arah spion untuk melihat ekspresi wajah Amira, karena sejak tadi wanita itu hanya diam dan memejamkan matanya. Bahkan Rindu dan Doni tak bisa membuka suara karena aura yang tak nyaman terkuar jelas menyelimuti Amira.

Saat ini mereka dalam perjalanan pulang menuju kediaman keluarga Dinan. Setelah perdebatan panjang akhirnya Doni bisa membawa Amira pulang. Dan dia juga harus menjelaskan kepada Rindu bahwa Amira adalah istri dari Dinan, mantan rekan kerjanya dan sahabat dari seorang Doni.

"Sampai depan saja Pak. Maaf tidak menawarkan untuk masuk." Amira mengatakan hal itu saat mobil yang dikendarai Doni masuk kawasan perumahan.

"Kamu yakin?"

"Iya, terima kasih." Amira masih kukuh pada pendiriannya.

"Baiklah." Doni menghentikan mobilnya tepat di samping pintu gerbang rumah keluarga Dinan. Kalau boleh jujur, sebenarnya Doni ingin sekali mengantar Amira hingga dalam rumah. Dia sedikit khawatir dengan kondisi wanita sahabatnya.

"Terima kasih. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh." Amira kemudian keluar dan berdiri di dekat gerbang menunggu mobil Doni untuk lebih dulu pergi.

"Masuk dan banyak istirahat." Amira menoleh ke Doni kemudian mengangguk, tak ada sedikitpun sanggahan keluar dari bibirnya.

Amira memutuskan untuk berbalik dan masuk ke dalam rumah. Dia mencoba menahan rasa ringan di kepalanya. Tubuh Amira terseok-seok berjalan menuju depan rumahnya, dia merasa tubuhnya seolah ringan seperti kapas yang berhamburan.

Amira mengetuk pintu berwarna coklat, dia berharap ada orang yang membuka pintu karena rasanya dia sudah tidak sanggup lagi untuk menggerakkan tubuhnya. Tak lama seorang paruh baya membuka pintu, dia adalah bik Tutik sang pengurus rumah tangga.

"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, Mbak Mira." Amira menegakkan tubuhnya mencoba memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja.

"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh. Belum ada yang pulang, Bik?" Amira melepas sepatu kemudian menaruh di rak.

"Belum Mbak, tadi ibu bilang ada urusan yang harus diurus di kantor desa. Jadi Beliau bolak-balik dari rumah ke rumah sakit." Amira menoleh ke arah bik Tutik.

"Mengurus apa?" tanya Amira heran.

"Kurang tahu Mbak, yang jelas tadi seputar berkas-berkas data Mas Dinan." Amira menyandarkan tubuhnya kemudian dia menghela napas, dia tidak ingin berpikir buruk tetapi seolah alam berkolaborasi untuk menggiring pikirannya menuju satu titik yang dia hindari.

"Ya sudah, terima kasih Bik. Bibik bisa lanjutkan kegiatan." Amira memejamkan matanya sejenak.

"Mbak Mira sakit? wajahnya pucat dan berkeringat." Bik Tutik belum juga beranjak dari tempatnya, justru mengamati wajah lelah Amira.

"Agak panas Bik di luar, jadi pas masuk rasanya dingin. Saya ke kamar dulu ya, Bik?" Amira mencoba berdiri tetapi tubuhnya tiba-tiba oleng.

"Ya Allah Mbak!" seru Bik Tutik sambil memegangi tangan Amira.

"Gak papa Bik, mungkin sensor motorik terkejut dengan gerakan cepat." Amira mecoba meyakinkan orang yang menatapnya khawatir.

"Yakin Mbak, mau saya telpon kan Ibu atau Mas Dinan?" Amira menggeleng sambil tersenyum. Kemudian dia melangkah menuju dalam dan menapaki satu tangga dengan tangga lainnya. Meski terasa berat dia tetap mencoba untuk bertahan paling tidak dia harus tiba di dalam kamarnya sebelum tubuhnya tumbang.

---

Amira merasa tubuhnya semakin berat, dia berbaring setelah sholat isya. Dia menatap langit kamarnya dia jadi teringat dengan ucapan Bik Tutik tadi sore dan ucapan sang mertua saat makan malam tadi.

Amira menatap cincin yang melingkar di jari manisnya, dia menatap dua cincin itu dengan sendu. Dia tidak ingin menarik kesimpulan seorang diri, tapi kenyataan bungkamnya Dinan tentang segala hal membuatnya semakin tertekan.

Amira menyentuh keningnya dengan punggung tangan, dia merasa wajahnya sangat panas dan tangannya terasa dingin. Amira menghela napas, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk memulihkan tubuhnya dengan cepat. Amira butuh pelukan, dan pelukan itu seolah menjauh darinya.

Amira meringis saat mengingat kejadian dua tahun yang lalu, di mana dia dengan santai duduk berdua dengan Dinan di Bus. Amira meringis saat menyadari bahwa masa itu adalah masa yang sangat buruk meski dia tidak menampik untuk menikmati. Benar kata banyak orang dosa itu nikmat oleh sebab itu banyak yang mencari kenikmatan dengan berbuat dosa.

Amira jadi ingat sebuah ayat yang menjelaskan bahwa kita harus menjauhi zina, dan hal yang sering dia lakukan dulu adalah sebuah zina. Di mana dia dengan santai berduaan dengan lawan jenis, bersentuhan dan saling menatap. Sungguh, jika dia menyadari sejak awal, Amira tidak ingin melakukan semua itu.

Amira semakin terlarut dalam rasa bersalah masa lalu, dia menitikan air mata. Mungkin saat ini adalah masa di mana dia dibalas atas dosanya, dengan keadaan hubungan yang dia jalani dengan Dinan. Amira semakin terisak, dia ingin sekali mengubah masa lalu. Jika boleh memilih, Amira memilih tidak mengenal Dinan sebelum dia menikah.

Amira kemudian tersadar, bahwa semua ini sudah kehendak dari Allah. Dia hanya seorang hamba yang yang tak bisa mengelak dari takdir. Jadi, apapun yang terjadi maka dia harus dengan sadar menerima dan jika hal itu buruk maka dia tak boleh mengulanginya. Bukankah itu adalah guna dari sebuah pengalaman?

Amira membaringkan diri, dia menutup tubuhnya dengan selimut karena udara terasa dingin menerpa kulitnya. Amira jadi teringat ucapan ustadzah Leni.

"Saat seseorang terluka dan sakit itu adalah saat di mana Allah meringankan dosanya. Itu terjadi jika seseorang itu dengan ikhlas merasakannya dan senantiasa mengingat Robbnya."

Amira segera mengucapkan banyak istighfar, setelah bibirnya lelah dia mengucapkan tasbih, tahmid dan takbir bergantian hingga tanpa terasa dia terbenam dalam bayangan semu di bawah sadar. Dia mulai terbuai dengan mimpi-mimpi panjang yang mungkin akan melelahkan.

Amira mulai membuka sedikit matanya, dia merasakan kehadiran Dinan di dekatnya. Dia langsung duduk saat melihat Dinan sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.

"Apa yang Mas lakukan?" tanya Amira sedikit heran.

"Oh, apa Mas buat keributan? Maaf Mas sedang mengemasi sedikit pakaian." Amira menoleh kemudian dia mulai turun menghampiri Dinan.

"Kamu berbaring saja, lanjutkan tidurnya. Mas sudah selesai." Dinan mengajak Amira kembali ke atas tempat tidur.

Amira menurut, tetapi dia tidak kembali tidur melainkan melihat aktivitas Dinan yang menurutnya sedikit janggal.

"Mas mau pergi ke mana?" tanya Amira pelan. Dia merasa tak yakin dengan pertanyaan yang dia lontarkan. Dia menjadi ingat kalimat Bik Tutik sore tadi.

"Mas gak pergi, hanya memindahkan baju ke kamar tamu." Amira menatap Dinan dengan intens. Dia sangat bingung dengan jawaban yang dikemukakan oleh Dinan. Apa yang dilakukan oleh Dinan? Mengapa suaminya memindahkan pakaian ke kamar tamu?

"Mengapa kita harus pindah?" Dinan menoleh ke arah Amira tanpa menjawab sedikitpun rasa ingin tahu Amira. Dan saat itu Amira melihat tatapan yang berbeda dari biasanya. Tak ada lagi tatapan penuh puja dan kelembutan dari sorot mata Dinan yang ada hanya tatapan kosong tak berperasaan.

Amira semakin tidak bisa berpikir, dia tidak ingin berspekulasi sendiri. Tapi saat melihat Dinan yang tak kunjung bersuara membuat kecemasan menderanya. Apa yang ada di dalam pikirannya tidak akan terjadi, bukan?

Amira melihat Dinan menutup koper yang sudah berisi penuh. Amira masih mengamati setiap gerakan Dinan sekecil apapun itu, dia tak ingin berfokus pada apa yang ada dipikirannya.

"Ada yang ingin Mas bicarakan," kata Dinan sambil duduk di sisi tempat tidur. Dia membelai wajah Amira dengan pelan, dari setiap gerakan yang dilakukan oleh Dinan, Amira tak lagi merasakan kehangatan atau rasa yang meletup-letup bahagia. Saat ini Amira merasa hampa.

"Apa yang ingin Mas bicarakan?" tanya Amira dengan cepat, dia seolah tak ingin melewatkan satu secon pun waktu yang berjalan.

"Maafkan Mas, seharusnya sejak awal Mas jujur padamu. Tapi, Mas tidak bisa karena terlalu mencintaimu." Amira mengambil tangan Dinan kemudian menggenggam dengan kedua tangannya.

"Apa yang Mas katakan?" Amira menatap Dinan lekat.

"Tadi siang, Mas telah mengingkari janji setia yang mas ucapkan beberapa hari yang lalu. Janji bahwa Mas akan selalu menjadikan kamu satu-satunya bidadari yang akan menemani Mas di dunia juga di akhirat kelak. Maafkan Mas." Amira dengan perlahan melepas tangan Dinan, dia sangat tahu ucapan Dinan. Dia tidak bodoh dengan kalimat tidak langsung yang keluar dari bibir suaminya. Apa lagi, sejak beberapa hari ini pemikiran itu selalu muncul dalam ingatannya.

"Katakan dengan jelas," kata Amira dengan tegas. Entah dari mana datangnya ketegasan itu, yang pasti saat ini Amira ingin mendengarkan kalimat Dinan dengan jelas.

"Maafkan Mas, Amira." Hati Amira mencelos, bahkan sepertinya hancur berkeping-keping karena suara pecahan hatinya terdengar dengan nyaring. Dia sangat kecewa untuk saat ini tapi dia masih ingin memastikan lebih jelas lagi.

"Katakan dengan jelas, karena aku bukan perempuan yang peka." Amira menatap Dinan tepat di dua bola matanya.

"Tadi siang Mas harus menikahi Maura. Kamu jelas tahu kondisi Maura." Dinan mengatakan itu sambil menunduk. Amira cukup tahu bahwa lelaki itu malu telah menjilat ludahnya sendiri. Sungguh tidak bisa dipercaya!

Amira tertawa dengan kencang, dia tidak menangis bukan tidak melainkan belum. Amira menyeka sudut matanya yang berair karena terlalu kuat tertawa. Amira menatap Dinan dengan intens.

"Mas tahu, kalau menikahi orang hamil itu tidak sah." Amira mengatakan itu dengan tegas ternyata otaknya masih berfungsi dengan baik meskipun hatinya telah dihancurkan.

"Sah, hanya saja tidak bisa menasabkan anaknya kepadaku." Dinan mengatakan itu dengan tegas. Ternyata pecahan hati Amira semakin diinjak-injak hingga lebih hancur lagi bahkan mungkin saat ini sudah melebur tak tersisa.

"Jadi?" tanya Amira.

"Mas sudah menikah Maura. Maaf tidak meminta persetujuan dari kamu. Mas hanya tidak tega melukai hatimu." Amira kembali tertawa dengan pongah, meski semua itu teras kosong tak memiliki makna.

"Lalu? Sekarang tidak melukai hati ku?" tanya Amira dengan sinis.

"Paling tidak semua sudah terjadi."

Amira menyentuh bahu Dinan. "Mas, katakan jika ini semua bohong!" Amira menanti jawaban Dinan.

"Katakan, Mas!" Amira semakin berseru dengan kencang.

"Mas!"

"Maaf," kata Dinan membuat pegangan Amira melemah.

"Semua ini hanya bohong, aku tidak percaya!"

---

1
Jepri Sal
oh ya ampun maaf ya thor tadi aku sempat mikir kalaw othor di depanku mau ku benyek tak kucek kucek di baskom habis itu ku jemur dan dikeringkan
dari sekian banyak novel yang ku baca ceritamu yg paling dalam mengadu perasaanku
👑 dari ku untukmu
🏕 di alam terbuka biar othor punya inspirasi lebih banyak lagi,dan bisa membuat pembaca jungkir balik lagi
👌👋👋👋
# geramku
Khanza Altaf
the best
Emak Cunah
bagus ceritanya...karakter ga nekoh"..tp malah jd bagus. ..campur" rasanya de"g ser
Esya Muharmi
kasihan amira , terlalu banyak yang di pikirkan
Esya Muharmi
ending nya aku gx suka sedih
Esya Muharmi
syuka karya2 mu thor, singkat padat n jelas. terkadang bikin syok, sport jantung
Esya Muharmi
legaa thor, ternyata tak seperti dugaan
Esya Muharmi
nyesek, asli nyesek ini
Esya Muharmi
mantap cerita nya thor
Siti Masitoh Kenon
alur ceritanya kok gini ya,aneh ga ngerti trus nama"tokoh nya jg males bacanya
Andriyah Nurhidayati
huh kenapa novel islam sering said ending sih
Andriyah Nurhidayati
Ifa resek coba kowe sing dipiligami rasane piye, cah ra jelas
Andriyah Nurhidayati
kok gak mangilnya mas Dinan aja lebih mesra
Andriyah Nurhidayati
agak bingung bacanya,
we
cerita bagus banyak nasehat ..
Sukeni
ngak ngerti,msh bingung dgn alur ceritax
**✿❀shofyara🐰🐰❀✿**: Semngat up nya thor
IZIN PROMO THOR
,baca chat story aku yuk,
judulnya KEBENCIANKU MENJADI CINTA
Sama novelnya aku
JudulnyA QUIET GIRL IDOL OF MY HEART
,baru mulai ni biar aku semnagat,
Tiap hari aku update terus
dan jangan lupa vote,likecoment+ and rate bintang 5 👍
Jangan lupa mampir juga
Ditunggu kedatangannya....
total 1 replies
Mommy 2
aku jejak
Siti Balkis
saya ko masih bingung ya ceritanyg belum ngrti gitu ....maaf ya thor .boleh nyimak
**✿❀shofyara🐰🐰❀✿**: Semngat up nya thor
IZIN PROMO THOR
,baca chat story aku yuk,
judulnya KEBENCIANKU MENJADI CINTA
Sama novelnya aku
JudulnyA QUIET GIRL IDOL OF MY HEART
,baru mulai ni biar aku semnagat,
Tiap hari aku update terus
dan jangan lupa vote,likecoment+ and rate bintang 5 👍
Jangan lupa mampir juga
Ditunggu kedatangannya....
total 2 replies
Siti Balkis
masih nyimak
Chayra Lailatul R
ngak faham sama alur ceritanya
Naoki Miki: izin promote thor🙏
Haii mampir yuk kekrya q 'Rasa yang tak lagi sama'🤗
tkn prfil q aja yaa jan lupa tinggalkan jejaakk😍
vielen danke😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!