"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Koin perunggu
Keheningan kembali menyelimuti gubuk tua itu setelah pengakuan Sayuri. Tapi, masih ada satu ganjalan besar yang mengusik pikiranku sesuatu yang hampir membuatku gila saat pertama kali melihat Miyuki di lobi hotel waktu itu.
Aku melirik Sayuri yang rupanya telah terlelap kepalanya bersandar nyaman di bahuku dengan jemari yang masih memeluk lenganku erat. Aku kemudian beralih pada Miyuki. Ia duduk gelisah di seberang api unggun yang mulai meredup, seolah bayangan masa lalu yang baru saja diceritakan masih menghantuinya.
"Miyuki," panggilku nyaris berbisik, takut memecah tidur Sayuri.
"Ada satu hal lagi yang tidak masuk akal. Jika Sayuri adalah pemilik suara itu, kenapa dalam mimpiku bahkan di foto yang kuambil di jembatan wajah yang kulihat selalu wajahmu? Bukan wajah Sayuri yang sekarang ada di sampingku."
Miyuki menunduk. Bayangan api unggun menari-nari di wajahnya yang tampak kuyu. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan yang penuh penyesalan.
"Itu karena 'Sisi Lain' tidak memiliki bentuk yang stabil bagi mata manusia biasa, Alexian," bisik Miyuki.
"Kak Sayuri terperangkap di sana sebagai jiwa murni. Bagi dunia nyata, dia sudah dianggap 'tiada'. Agar dia bisa terlihat di lensa kamera ponselmu atau di dalam mimpimu, dunia itu meminjam 'citra' dari orang yang paling dekat dengannya di dunia nyata. Dan orang itu adalah aku."
Miyuki semakin serius menceritakannya, mencoba menjelaskan lebih lanjut.
"Para Eraser menggunakan koneksi persaudaraan kami untuk menciptakan 'kamuflase'. Mereka ingin memastikan bahwa jika ada orang yang berhasil melihat Sayuri, orang itu akan merasa bingung dan ragu. Mereka mengaburkan wajah Sayuri dengan wajahku agar 'pintu' menuju diri Sayuri yang asli terkunci."
Aku kembali termenung dengan rasa takjub sekaligus ngeri pada Sayuri yang tengah tertidur disampingku,
"Selama ini aku melihat jiwa, Sayuri, tapi mataku hanya bisa menangkap bentuk fisik dan wajahmu karena dia adalah satu-satunya cerminmu di dunia ini?"
"Benar," kata Miyuki.
"Itulah sebabnya ketika aku datang ke hotel, kau merasa ada yang salah. Kau melihat wajah yang sama, tapi jiwanya berbeda. The Eraser sengaja mengirimku dengan wajah ini untuk memancingmu, berharap kau akan menyerahkan pita itu karena mengira aku adalah wanita di mimpimu."
Aku menghela napas panjang. Rasa sesak di dadaku perlahan menghilang, berganti dengan pemahaman yang jernih. Pantas saja foto itu terasa begitu asing tapi terlihat akrab.
"Mereka menggunakan wajah Miyuki adikmu sebagai topeng agar aku tidak pernah benar-benar menemukanmu."ucap batinku melihat ke arah Sayuri.
Miyuki menatapku dengan tatapan yang sangat senang.
"Tapi kau berhasil menembus topeng itu, Alexian. Kau merasakan perbedaannya. Kau tidak mencintai 'wajah' yang kau lihat di mimpi, tapi kau mencintai 'jiwa' yang memanggilmu melalui pita ini."
Mona, yang sedari tadi menyimak, bergidik ngeri.
"Memang organisasi sampah. Mereka tidak hanya ingin membuat kekacauan, tapi sekarang mereka ingin memanipulasi ingatan kita."
Ken berdiri, menendang kerikil dengan kesal.
"Sudah....sudah, Semakin kita membahas Cerita ini, rasanya kita kayak cari gara gara sama mereka".
"Alexian, Sayuri, Istirahatlah. Kita butuh tenaga penuh untuk sampai ke Kyoto besok."
Aku mengangguk pelan. Kami semua mulai merebahkan diri di atas tikar jerami yang sudah dibersihkan Miyuki.
Meskipun badanku sudah berkurang rasa sakitnya akibat pecahan kaca mobil tadi, kepalaku justru semakin berisik oleh pertanyaan yang tak kunjung usai.
Mengapa aku tidak mengingat sedikit pun kejadian itu? gumamku dalam hati.
Mataku menatap langit-langit gubuk yang dipenuhi debu usang dan jaring laba-laba yang menghalangi.
"Aku merasa ada bagian dari diriku yang seolah dicuri. Aku ini hanya perantau dari Indonesia yang mencoba bertahan hidup di negara yang keras ini. Bagaimana mungkin aku punya sejarah di sini? Apa sebenarnya hubunganku dengan Sayuri di masa lalu? Apakah kami benar-benar pernah bersama sepuluh tahun yang lalu, atau memoriku saja yang sedang mempermainkanku?"
Baru saja aku ingin memejamkan mata, suara gemericik lonceng memecah kesunyian. Suaranya halus, namun tajam, berasal dari arah reruntuhan kuil di belakang gubuk.
Aku langsung tersentak. Kulihat Ken, Mona, Miyuki, dan Sayuri sudah terlelap. Dengan sisa tenaga yang ada, aku memaksakan punggungku yang masih berdenyut perih untuk bangkit. Aku harus mencari tahu sumber suara itu.
Kuil itu tampak menyedihkan, sama usangnya dengan gubuk kami. Namun, di tengah kegelapan, sebuah cahaya redup seolah memanggilku menuju sebuah kotak kayu tua di sudut ruangan.
Cahaya itu bergetar di balik celah kayu, seakan-akan ada sesuatu yang terperangkap di dalamnya dan memohon untuk dibebaskan.
Tanpa pikir panjang, aku membuka tutup kotak itu.
Ceklek.
Seketika, cahaya yang tadinya terkurung meluap keluar, memenuhi setiap sudut kuil yang berdebu. Di tengah sinar itu, tergeletak sebuah koin perunggu kuno dengan lubang persegi di tengahnya.
"Apa ini..Koin... perunggu?" bisikku heran.
Aku mencoba menghalangi silau cahaya yang menusuk mata.
Begitu jemariku menyentuh permukaan koin yang dingin, realita di sekitarku terhisap.
Aku ditarik kembali ke jembatan merah itu. Kali ini, bukan Sayuri yang menungguku. Seorang lelaki tua berdiri di sana, sosoknya berwibawa namun tampak samar.
Ia menatapku dalam-dalam, lalu membisikkan pesan singkat yang mengguncang jiwaku:
"Jaga dia."
Hanya itu. Visual itu hilang secepat kilat, meninggalkan sakit kepala yang luar biasa.
Saat aku mulai membuka mata, pandanganku masih berkunang-kunang. Aku terbaring di lantai kuil yang dingin.
Di depanku, Ken, Mona, Miyuki, dan Sayuri sudah berdiri dengan wajah pucat.
"Lex! Kau gila ya?! Ngapain cobak tidur disini?!" seru Ken sambil mengguncang bahuku.
Rupanya, pingsan singkatku di dalam visual tadi terasa sangat lama bagi mereka yang terbangun karena cahaya aneh yang sempat menyambar kuil ini.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ken, Sayuri langsung memelukku. Tubuhnya gemetar.
"Kenapa, Alexian? Kenapa kau tiba-tiba pergi? Aku terbangun dan kau sudah tidak ada di sampingku. Kenapa nekat sekali, sih?" tanya Sayuri dengan nada yang campur aduk antara cemas dan marah.
"Maaf... aku cuma penasaran," jawabku mencoba menenangkannya.
"Tadi pas kalian sudah tidur, aku tidak bisa memejamkan mata. Tiba-tiba aku mendengar suara lonceng dari arah kuil ini."
"Bangunin aku kan bisa, Lex!" sahut Ken, wajahnya masih terlihat kesal sekaligus khawatir.
"Lukamu aja masih sakit, Ayolah.... Jangan terlalu nekat dulu."
"Iya, maaf. Aku cuma gak mau mengganggu tidur kalian. Aku tau kalian semua sangat capek setelah perjalanan panjang tadi," jawabku pelan.
"Lalu, yang kau genggam itu apa, Lex?" tanya Mona sambil menunjuk ke arah tanganku.
"Oh, ini... tadi aku melihat cahaya yang seolah terjebak di kotak kayu kuil ini. Karena penasaran, aku beranikan diri membukanya.
Begitu tutupnya terbuka, cahaya itu langsung meluap dan menyinari setiap sudut kuil," jelasku sambil menunjukkan koin perunggu itu kepada mereka.
"Setelah cahaya itu mulai memudar, ada serpihan cahaya yang menyinari isi dari kotak ini. didalamnya Aku melihat Koin perunggu yang ditengahnya bolong berbentuk persegi" lanjutku.
"Lalu, mengapa kamu malah tertidur disini Lex? " tanya Ken lagi.
"Waktu pertama kali menyentuh koin ini, aku merasa ditarik kembali ke jembatan itu," jelasku sambil menatap Sayuri dalam-dalam.
"Tapi kali ini yang kulihat bukan kau, melainkan sosok seorang kakek. Dia berdiri di ujung jembatan dan memberiku pesan singkat... dia memintaku untuk selalu menjagamu, Sayuri."
"Sepertinya koin itu punya daya magis yang kuat," sahut Ken, wajahnya tampak serius sekaligus takjub.
"Benar. Rasanya kita sudah semakin dekat dengan tujuan utama kita," timpal menyetujui ucapan Ken.
Ken tiba-tiba terkekeh pelan sambil menatap langit-langit kuil yang berdebu.
"Gila ya, Lex. Gak nyangka sih. Ternyata Kakek Sayuri dan Miyuki 10 tahun yang lalu sudah lebih dulu mengenalmu daripada aku dan Mona yang jadi sahabatmu dua tahun terakhir ini. Aneh memang."
"Haha... Aku pun bingung, Ken. Kok bisa aku punya kehidupan di sini sepuluh tahun lalu? Padahal setahuku, aku baru dua tahun tinggal disini. masih 2 tahun malahan."
ucapku sambil menatap tajam koin perunggu di genggamanku, seolah mencari jawaban di lubang perseginya.
"Sudahlah, sebaiknya kita segera kembali ke gubuk," bisikku sambil waspada melirik ke arah kegelapan hutan.
"Aku gak mau kita berlama lama di sini. Rasanya seperti ada yang sedang mengawasi gerak-gerik kita."
Kami pun segera kembali ke gubuk meninggalkan kuil takut ada yang mengawasi gerak gerik kami.
Ken dan Miyuki masih melihat peta dimana lokasi Rumah Sayuri dan Miyuki di Kyoto yang jadi Misi kami selanjutnya, sementara Mona sudah memejamkan matanya lagi untuk tidur karena Lelah menyetir mobil tadi.
Sayuri pun kembali tidur disampingku dengan mata yang masih menatapku memastikan aku tidak kabur lagi. Aku mencoba mengusap kepalanya lembut sambil tersenyum melihat wajahnya.
"Gak usah khawatir gitu dong, aku kan cuma pergi sebentar" ucapku pelan mengusap lembut rambutnya mencoba meyakinkannya.
"iya deh, tapi jangan gitu lagi ya. Janji!? "
tanyanya pelan menggemaskan.
"Siap, Bos" jawabku mencium keningnya.
Pagi pun tiba dengan semburat cahaya fajar yang menyelinap kasar di antara celah-celah kayu gubuk yang sudah lapuk.
Aku terbangun dengan kepala yang masih berat, membawa beban pertanyaan semalam yang belum sempat terjawab.
Siapa sebenarnya aku dalam potongan sejarah mereka?
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.