"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Denting Linggis dan Akar Keabadian
Trang!
Bunyi nyaring logam beradu dengan batu menggema membelah udara pagi yang mulai memanas. Percikan api kecil melompat dari ujung mata linggis baja saat menghantam permukaan tanah kapur yang sekeras beton.
Gani merasakan getaran kejut dari hantaman itu menjalar naik melalui telapak tangannya, merambat ke lengan bawah, hingga menggetarkan tulang bahunya. Ia menarik napas panjang, mencabut linggis itu dari retakan kecil yang baru saja tercipta, mengayunkannya tinggi-tinggi melewati bahu, lalu menghempaskannya kembali dengan seluruh tenaga yang ia miliki.
Trang!
Pecahan batu kapur berwarna putih kusam terpelanting ke udara, menyisakan sebuah lubang dangkal yang bahkan belum cukup dalam untuk mengubur seekor anak kucing.
Gani menyeka keringat yang mengucur deras membasahi matanya. Ia menancapkan linggis itu ke tanah, lalu bertumpu pada gagangnya sambil mengatur napas. Kaus oblong abu-abunya sudah berubah warna menjadi abu-abu gelap akibat keringat yang meresap seutuhnya. Debu kapur yang halus menempel di wajah, lengan, dan rambutnya, membuatnya terlihat seperti patung perunggu yang belum selesai dipahat.
Ini baru hari pertama, baru lubang ketujuh, dan matahari bahkan belum mencapai titik puncaknya. Namun, Bukit Wadas telah membuktikan reputasinya sebagai tanah mati yang menolak untuk ditaklukkan.
Gani menoleh ke belakang, menyapu pandangannya ke arah hamparan bukit gersang tersebut. Tidak ada pohon rindang di sini. Hanya ada semak berduri yang meranggas kekeringan dan bebatuan kalsium karbonat yang memantulkan panas matahari langsung ke wajah. Tanah ini dulunya adalah paru-paru air bagi Karangbanyu, sebelum kerakusan manusia menelanjanginya demi pundi-pundi rupiah puluhan tahun lalu.
Dan kini, Gani Raditya, seorang pria yang dulu bekerja merancang kehancuran alam atas nama pembangunan ibu kota, sedang berusaha menebus dosanya dengan menggali tanah ini satu sentimeter demi satu sentimeter.
"Paman Gani! Minum dulu, Paman! Mukanya sudah merah kayak kepiting rebus!"
Suara nyaring Udin memecah fokus Gani. Bocah sepuluh tahun itu berlari kecil mendaki lereng dengan kaki telanjang, menenteng sebuah teko plastik besar berisi air putih dingin dan sebuah gelas seng. Di belakang Udin, dua temannya yang lain sedang bersusah payah mendorong gerobak roda satu berisi puluhan polybag hitam yang menampung bibit pohon beringin dan trembesi setinggi lutut.
Gani tersenyum tipis. Ia melepaskan gagang linggisnya, menerima gelas seng yang disodorkan Udin, lalu menenggak airnya hingga tandas dalam satu tarikan napas. Rasa dingin air sumur itu mengalir membasahi kerongkongannya yang sekering padang pasir.
"Terima kasih, Jagoan," ucap Gani, menyerahkan gelas itu kembali. Ia menatap Udin dan teman-temannya yang bertelanjang dada dan berkeringat. "Kalian istirahatlah di bawah tenda sana. Jangan terlalu memaksakan diri mendorong gerobak di jalan menanjak. Nanti Paman yang angkat bibitnya."
Udin membusungkan dadanya yang kecil, mencoba terlihat gagah. "Ah, Paman ini meremehkan otot orang Karangbanyu. Cuma dorong bibit mah kecil. Lagipula, Kak Kirana sudah pelototin kita terus dari tadi. Katanya kalau kita malas-malasan, jatah es sirop nanti sore dibatalkan."
Mendengar nama Kirana, Gani langsung mengalihkan pandangannya ke arah sebuah pohon lamtoro kerdil—satu-satunya pohon yang cukup besar untuk memberikan sedikit keteduhan di radius seratus meter dari tempat mereka berada.
Di bawah pohon lamtoro itu, Gani telah mendirikan sebuah tenda terpal darurat sejak pukul enam pagi tadi sebelum matahari naik. Ia memastikan tempat itu sepenuhnya terlindung dari sinar matahari langsung dan memiliki sirkulasi angin yang baik.
Di sanalah Kirana duduk. Sang Tiran Kecil mengenakan kemeja katun tipis berlengan panjang, topi jerami lebar, dan kacamata hitam murahan yang ia rampas dari Gani kemarin. Ia duduk manis di atas kursi lipat kanvas, memangku sebuah buku catatan, dan memegang sebuah payung tambahan untuk berjaga-jaga.
Di sebelahnya, terdapat termos es, bekal makanan dari Bibi Ratna, dan tentu saja, tas kecil berisi obat-obatan serta satu tabung oksigen portabel kecil yang memaksa Gani bawa dengan alasan "protokol keselamatan standar". Gani telah menetapkan aturan absolut: kaki Kirana tidak boleh melangkah lebih dari lima meter dari tenda itu, dan gadis itu tidak diizinkan menyentuh alat berat apa pun.
Melihat Gani menatapnya dari kejauhan, Kirana mengangkat sebelah tangannya, memberikan gestur hormat yang usil, lalu menunjuk jam tangannya. Sebuah isyarat tanpa suara yang berarti: 'Ayo cepat, Komandan. Lubang kedelapan tidak akan tergali sendiri.'
Gani menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Ia mengambil sepasang sarung tangan proyek yang sudah usang dari sakunya. Saat ia memasukkan tangannya, rasa perih yang tajam menyengat telapak tangannya. Beberapa kalus yang pecah saat ia membangun taman bacaan kemarin, kini terkelupas kembali akibat gesekan kasar dengan gagang linggis baja.
Gani tidak memedulikannya. Rasa sakit ini adalah harga yang sangat murah untuk sebuah keabadian.
Ia kembali mengangkat linggisnya. Trang! Hantaman demi hantaman ia daratkan. Perlahan namun pasti, batu kapur itu menyerah. Tanah mulai retak, membiarkan cangkul masuk untuk mengangkat serpihannya.
Setelah satu jam berlalu dan tiga lubang sedalam lima puluh sentimeter berhasil digali dengan susah payah, Gani menghentikan pekerjaannya. Ia memberi isyarat pada Udin.
"Bawa tiga bibit beringin ke sini, Udin. Hati-hati, akarnya jangan sampai putus dari tanah polybag," perintah Gani.
Udin dan teman-temannya segera melaksanakan tugas itu. Mereka meletakkan tiga bibit pohon beringin yang daunnya masih hijau muda di samping lubang-lubang yang telah Gani siapkan.
"Tiran Kecil! Waktunya inspeksi!" teriak Gani ke arah tenda terpal.
Kirana segera berdiri. Dengan langkah pelan dan sangat berhati-hati, ia berjalan mendekati area penanaman. Gani langsung menghampirinya di tengah jalan, memegang siku gadis itu untuk memastikan ia tidak terpeleset di tanah kapur yang tidak rata.
"Aku bisa jalan sendiri, Gani. Aku bukan porselen," gerutu Kirana pelan, namun ia sama sekali tidak menepis pegangan pria itu.
"Di mataku, saat ini kau lebih rapuh dari vas Dinasti Ming. Jadi diam dan menurutlah," sahut Gani datar, menuntun gadis itu hingga berdiri di depan lubang pertama.
Kirana menatap lubang galian itu. Ukurannya pas, kedalamannya sempurna. Ia melirik Gani dari balik kacamata hitamnya, melihat leher dan dada pria itu yang dibanjiri keringat, serta napasnya yang masih sedikit tersengal. Ada rasa bersalah yang menusuk dada Kirana. Ia telah meminta sesuatu yang sangat egois dan menyiksa secara fisik.
"Kau lelah?" tanya Kirana lirih, suaranya nyaris teredam angin bukit.
"Tidak ada kata lelah di dalam kamus seorang arsitek yang sedang membangun fondasi," Gani membalas dengan seringai arogan yang sangat menawan, sengaja menutupi rasa sakit di telapak tangannya. Ia menunjuk ke arah bibit beringin. "Ayo, laksanakan tugas sucimu. Bibit ini menunggu untuk menyentuh rumah barunya."
Kirana berjongkok secara perlahan di tepi lubang. Gani segera ikut berjongkok di sebelahnya, siap siaga menopang tubuh gadis itu jika ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Dengan tangan kosong, Kirana menyobek plastik polybag hitam itu dengan sangat hati-hati, menjaga agar tanah gembur yang membungkus akar serabut bibit beringin itu tidak hancur. Ia kemudian mengangkat bibit itu, dan dengan kelembutan seorang ibu yang meletakkan bayinya ke dalam buaian, Kirana menurunkan bibit pohon itu ke dasar lubang galian.
"Udin, tanah humus dan air," Gani memberikan aba-aba.
Bocah itu segera maju membawa seember tanah humus yang mereka bawa dari desa, lalu menuangkannya ke dalam lubang untuk menutupi celah-celah batu kapur. Ini adalah teknik penanaman di lahan kritis: akar pohon muda tidak akan sanggup menembus kapur secara langsung, mereka butuh tanah humus sebagai buffer nutrisi awal hingga akar utama mereka cukup kuat untuk memecah batu.
Setelah lubang itu tertutup, Kirana menekan-nekan permukaan tanahnya dengan telapak tangannya. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap bibit pohon beringin yang kini berdiri tegak di tengah hamparan tanah gersang.
Kirana tersenyum. Mata sabitnya berbinar menatap daun-daun kecil yang bergoyang tertiup angin bukit. Gadis itu menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke daun beringin itu, lalu membisikkan sesuatu yang sangat pelan.
Gani, yang berjongkok hanya berjarak beberapa sentimeter darinya, bisa mendengar bisikan itu dengan jelas.
"Hiduplah yang lama... tumbuhlah yang kuat... berikan napasmu untuknya saat aku sudah tidak bisa melakukannya."
Darah di tubuh Gani serasa berhenti mengalir sedetik. Bisikan itu bukanlah sebuah doa untuk alam. Itu adalah sebuah doa untuk dirinya. Gadis ini menanam pohon-pohon beringin ini bukan sekadar untuk menghijaukan bukit, tetapi untuk meninggalkan sebuah entitas yang akan menggantikan tugasnya menjaga Gani.
Gani merasakan tenggorokannya tercekik oleh sebongkah batu emosi yang luar biasa besar. Ia menatap wajah Kirana dari samping. Garis rahangnya yang halus, kulitnya yang pucat namun memancarkan tekad yang membara.
Gani tidak pernah percaya pada hal-hal mistis atau doa kepada pohon. Selama hidupnya, ia hanya percaya pada kalkulasi struktur, beton, dan investasi saham. Tapi di atas bukit gersang ini, melihat Kirana membuat perjanjian dengan alam demi masa depannya, Gani mendadak percaya bahwa mukjizat itu nyata.
"Dia akan tumbuh, Kirana," ucap Gani parau. Ia mengulurkan tangannya, ikut menekan tanah humus di sekitar pangkal batang bibit itu, meletakkan tangannya tepat di atas punggung tangan Kirana. "Dan kau akan berada di sini untuk melihatnya menjadi pohon raksasa. Kita akan berteduh di bawahnya bersama."
Kirana menoleh, menatap mata Gani. Ada kesedihan yang sangat dalam di sana, sebuah realitas medis yang tidak bisa dibantah oleh kata-kata manis. Namun, menatap keyakinan mutlak di mata pria itu, Kirana memilih untuk mengangguk. Ia memilih untuk percaya pada keajaiban, setidaknya untuk hari ini.
"Sembilan puluh sembilan lubang lagi, Komandan," ucap Kirana, bangkit berdiri dengan bantuan tarikan tangan Gani. "Apa linggismu masih setajam mulutmu?"
"Tonton dan pelajari, Tiran Kecil," balas Gani sambil tertawa lepas.
Pekerjaan pun dilanjutkan. Di bawah terik matahari yang semakin membakar, Gani berubah menjadi sebuah mesin penggali tanpa kenal lelah. Suara hantaman linggis dan cangkul kembali menggema.
Setiap kali Gani merasa otot bahunya seakan mau robek, atau setiap kali napasnya terasa berat karena debu kapur, ia hanya perlu menoleh ke arah tenda terpal. Melihat Kirana duduk di sana, memantau dari jauh dengan senyumannya, memberikan Gani pasokan energi yang seolah tak ada habisnya. Pria itu menolak untuk menyerah di hadapan batu-batu mati ini.
Siang harinya, saat matahari berada tepat di atas kepala, mereka beristirahat panjang.
Di bawah naungan tenda terpal, mereka duduk melingkar di atas tikar plastik. Bibi Ratna, yang selalu tahu cara memanjakan pahlawan desa, telah membekali mereka dengan sebakul nasi putih hangat, ayam goreng lengkuas kesukaan Gani, sayur asam, dan sambal terasi.
Udin dan dua temannya makan dengan sangat rakus, menyuap nasi dengan tangan kosong hingga berantakan di sekitar mulut.
"Pelan-pelan, Udin. Nanti tersedak," tegur Kirana sambil tertawa, menuangkan es teh manis ke dalam gelas-gelas plastik.
Gani duduk bersandar di tiang tenda. Ia memegang piring nasinya, namun matanya hanya terfokus pada Kirana. Gadis itu sedang mengelap mulut Udin menggunakan tisu dengan ketelatenan seorang ibu. Wajah Kirana terlihat jauh lebih sehat dan bahagia di ruang terbuka ini.
Gani memikirkan nasib tanah rumahnya yang sedang dalam masa sengketa dengan pihak bank. Sisa waktu menuju eksekusi tinggal enam hari. Ia tahu Surya Dirdja tidak akan menyerah begitu saja. Mereka pasti sedang mencari celah hukum untuk membatalkan akta yayasan tersebut.
Tapi melihat Kirana dan anak-anak ini tertawa lepas, Gani menyadari satu hal yang fundamental: Ia tidak hanya sedang membangun taman bacaan, atau menanam seratus pohon. Ia sedang membangun sebuah ekosistem kehidupan yang baru. Sebuah ekosistem di mana ia tidak lagi berfungsi sebagai predator kapitalis, melainkan sebagai pelindung (guardian).
"Kalian tahu, pohon trembesi itu punya keunikan," Gani tiba-tiba membuka suara, membuat Udin dan Kirana menoleh ke arahnya.
Gani menunjuk ke arah bibit-bibit trembesi yang masih berada di dalam gerobak. "Akar trembesi itu sangat agresif. Jika kalian menanamnya di dekat rumah, akarnya bisa menghancurkan fondasi beton setebal apa pun dalam waktu beberapa tahun saja. Akar itu akan terus menjalar, memecah batu, mencari sumber air terdalam, dan menolak untuk dihalangi oleh rintangan buatan manusia."
Udin membelalakkan matanya ngeri. "Wah! Berarti bahaya dong, Paman? Nanti kalau rumah Udin hancur gimana?"
"Itulah kenapa kita menanamnya di bukit tandus ini, Udin, bukan di pekarangan rumah," Gani tersenyum, mengacak rambut bocah itu. Gani kemudian mengalihkan tatapannya lurus ke arah Kirana. Sorot matanya berubah menjadi sangat tajam dan dipenuhi makna ganda.
"Sama seperti manusia," lanjut Gani, nadanya memberat. "Kadang, untuk bisa bertahan hidup, kita harus menumbuhkan akar yang agresif. Kita harus berani menghancurkan tembok beton masalah di sekeliling kita, menembus batu kapur yang keras, untuk mencari air. Sekali akar itu tertanam kuat... tidak ada badai, tidak ada penyakit, dan tidak ada pengacara berkacamata emas dari Jakarta yang bisa mencabutnya."
Kirana menelan ludah. Ia memahami subteks dari kalimat arsitektural itu dengan sempurna. Gani tidak sedang berceramah soal biologi tumbuhan. Pria itu sedang mengirimkan pesan perang kepada dunia, dan mengirimkan pesan cinta untuknya. Pria itu sedang berjanji bahwa ia akan menjadi akar trembesi itu, menghancurkan segala rintangan demi mempertahankan Kirana.
"Filosofi yang sangat menyentuh untuk diucapkan sambil memegang paha ayam goreng, Komandan," goda Kirana, berusaha mencairkan ketegangan emosional yang tiba-tiba mengudara, meski pipinya sudah bersemu merah.
Udin dan teman-temannya tertawa polos, tidak mengerti apa-apa selain fakta bahwa paha ayam Bibi Ratna memang sangat enak.
Sore itu, sebelum matahari terbenam menyentuh batas perbukitan, Gani berhasil menggali dan menanam total dua puluh lima bibit pohon. Seperempat dari target mereka. Mengingat medan batu kapur yang ekstrem, itu adalah pencapaian fisik yang nyaris mustahil bagi seorang pria yang terbiasa hidup di balik meja.
Saat mereka bersiap untuk pulang, membereskan terpal dan peralatan, Kirana berjalan mendekati deretan bibit pohon yang sudah tertanam. Bayangan dua puluh lima batang pohon kecil itu memanjang di atas tanah kapur, menciptakan siluet kehidupan pertama di Bukit Wadas setelah puluhan tahun mati.
Kirana menoleh ke arah Gani yang sedang mengangkat gerobak kosong. Tangan pria itu gemetar halus karena kelelahan otot, kausnya kotor oleh tanah dan debu, namun posturnya tetap tegap dan bangga.
"Terima kasih, Gani," bisik Kirana, kali ini tanpa nada bercanda. "Dua puluh lima nyawa telah tertanam hari ini."
Gani menjatuhkan gerobaknya sejenak. Ia berjalan menghampiri Kirana, lalu mengusap sisa debu dari dahi gadis itu dengan sangat lembut.
"Kita akan selesaikan sisanya dalam tiga hari ke depan. Aku janji," jawab Gani, matanya memancarkan kehangatan senja. "Sekarang, ayo kita pulang. Rawa Hitam dan Bukit Wadas sudah ditaklukkan. Kau berutang penjelasan padaku tentang apa Permintaan Keenam nanti."
Kirana tertawa ceria, melingkarkan tangannya dengan nyaman ke lengan Gani. "Oh, Permintaan Keenam harus menunggu sampai seratus pohon ini tertanam sempurna. Dan percayalah, Tuan Kota, permintaan selanjutnya akan membuatmu lebih pusing daripada memecahkan batu kapur ini."
Mereka berjalan menuruni bukit beriringan, diantar oleh nyanyian serangga senja dan gelak tawa anak-anak yang berlarian di depan mereka.
Di balik punggung mereka, dua puluh lima bibit beringin dan trembesi berdiri menantang angin bukit. Akar-akar halus mereka mulai mencengkeram tanah kapur, menyerap air yang dituangkan Udin, bersiap untuk tumbuh menembus batu, persis seperti cinta yang mulai mengakar kuat dan tak tergoyahkan di dalam dada Gani dan Kirana.