Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERLARI KE ZONA AMAN
Di sisi lain, para perempuan akhirnya berhasil mencapai zona aman yang berada di seberang mall.
Mereka berdiri di dekat pintu keluar darurat sambil terus menatap ke arah lobi dengan wajah penuh kecemasan.
Asap, debu, dan kobaran api masih terlihat dari lokasi pertarungan.
Rahma menggenggam pagar besi dengan erat.
"Rian! Kak Ridho!"
Jantungnya berdegup kencang.
Meskipun mereka sudah berada di tempat aman, tidak ada satu pun yang merasa tenang.
Nadia bahkan terus menggigit bibir bawahnya karena gugup.
Lalu Rahma menarik napas dalam-dalam.
"Kami sudah berada di luar!" teriaknya sekuat tenaga.
"Sekarang cepat! Kalian juga harus menyelamatkan diri!"
Suara itu menggema hingga ke area lobi.
Ridho yang sedang terengah-engah langsung mendengarnya.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
Tenaganya hampir habis.
Namun begitu mengetahui para perempuan telah selamat, beban besar yang selama ini menekan dadanya seakan menghilang.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Bagus..."
Tatapannya kemudian beralih ke zombie raksasa yang masih mengamuk.
"Kalau begitu..."
Aura dingin mulai berkumpul di sekitar tubuhnya.
Untuk pertama kalinya sejak memperoleh kekuatan elemen es, Ridho mengerahkan seluruh mana yang dimilikinya tanpa menyisakan sedikit pun.
"HAAAAAA!"
Ridho berteriak keras.
Pisau es di tangannya memancarkan cahaya biru terang.
Lalu—
Brak!
Pisau itu ditancapkan langsung ke lantai mall.
Dalam sekejap, energi es menyebar ke segala arah.
Crack!
Crack!
Crack!
Lantai marmer mulai membeku.
Lapisan es tipis merambat dengan kecepatan tinggi hingga menutupi sebagian besar area lobi.
Dalam hitungan detik, lantai berubah menjadi licin seperti jalan yang baru saja diguyur hujan deras.
Bahkan suhu udara turun drastis.
Zombie-zombie yang masih tersisa langsung kehilangan keseimbangan.
Mereka terpeleset satu demi satu.
Zombie raksasa itu pun tidak luput.
Tubuhnya yang besar justru menjadi kelemahan.
Saat mencoba menerjang—
Kakinya kehilangan pijakan.
WOOOSH!
Tubuh raksasa itu tergelincir beberapa meter.
"SEKARANG!" teriak Ridho.
Rian yang sempat tertegun langsung tersentak.
Mata kosongnya kembali mendapatkan sedikit kesadaran.
Kesempatan.
Inilah kesempatan yang mereka tunggu.
Mereka tidak perlu mengalahkan monster itu.
Mereka hanya perlu hidup.
"Budiiii!" teriak Rian.
Monster harimau api itu langsung mengangkat kepala.
"Pergi!"
Tanpa membuang waktu lagi, Rian membatalkan sebagian besar bentuk Roh Bayangan Iblisnya.
Aura hitam pekat di tubuhnya mulai memudar.
Tubuhnya terasa sangat berat.
Energinya hampir habis.
Namun ia tetap memaksa dirinya bergerak.
Wush!
Rian berlari.
Ridho segera mencabut pisau nya dan mengikuti dari belakang.
Budi menjadi yang terakhir.
Tubuh monster harimau api itu sengaja tetap berada di belakang untuk menghalangi pengejaran.
ROOOOAAARRR!!
Zombie raksasa akhirnya berhasil bangkit.
Mata merahnya dipenuhi amarah.
Melihat mangsanya mencoba kabur, monster itu langsung melompat.
DUARRR!
Lantai yang membeku pecah berkeping-keping.
"Sial!"
Ridho menoleh ke belakang.
Jarak mereka semakin dekat.
Kalau begini terus, monster itu pasti akan menyusul sebelum mereka mencapai pintu keluar.
Namun pada saat itulah—
Budi menghentikan langkahnya.
"Pergi duluan!"
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Rian.
Monster harimau api itu tertawa.
"Aku bukan orang tercepat di sini."
Api di sekujur tubuhnya mulai berkumpul.
Semakin banyak.
Semakin panas.
Bahkan udara di sekitarnya mulai bergetar.
Mata Rian membesar.
"Budi, jangan!"
Namun semuanya sudah terlambat.
RAAAAAARGH!!
Budi mengaum ke arah langit.
Seluruh api di tubuhnya meledak keluar sekaligus.
BOOOOOOOOOOM!!!
Ledakan api raksasa memenuhi lobi mall.
Gelombang panas menyapu segala arah.
Kaca-kaca toko pecah.
Debu beterbangan.
Bahkan zombie raksasa itu ikut terseret oleh ledakan tersebut.
"Budiiii!" teriak Ridho.
Namun beberapa detik kemudian—
Sosok besar keluar dari kobaran api sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Kalian kira aku akan mengorbankan diri?"
Tubuh harimau apinya terlihat jauh lebih kecil dari sebelumnya.
Jelas energinya hampir habis.
Tetapi dia masih hidup.
"Dasar bodoh..." gumam Rian lega.
"Dasar kalian yang terlalu serius!" balas Budi.
Mereka bertiga akhirnya berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar.
Sementara di belakang mereka—
Zombie raksasa kembali muncul dari asap dan kobaran api.
Tubuhnya penuh luka bakar.
Namun monster itu masih hidup.
Bahkan auranya terasa semakin ganas.
Melihat hal itu, ekspresi Rian berubah.
Monster itu belum mati.
Dan yang lebih penting...
Cincin di tangan kirinya kembali memanas.
Kali ini jauh lebih panas dibanding sebelumnya.
Rian menoleh sekilas ke arah lantai atas mall.
Tatapannya menjadi dalam.
'Aku akan kembali...'
'Apa pun yang ada di atas sana, itu pasti sesuatu yang sangat berharga.'
Dan entah kenapa...
Perasaannya mengatakan bahwa benda tersebut mungkin akan mengubah seluruh masa depannya.