NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan maaf Alisha dan tingkah absurd Aleta

Suasana malam di rumah mereka terasa jauh lebih tenang. Setelah membersihkan diri dan menyelesaikan beberapa tugas sekolah, Alisha duduk termenung di depan meja makan yang sepi. Pikirannya tidak lagi tertuju pada sekolah, melainkan pada kejadian subuh tadi. Kata-kata ketusnya kepada Kak Aryan terus membayangi hatinya, menimbulkan rasa bersalah yang teramat sangat.

“Alisha bukan anak kecil lagi, Kak. Kalaupun emang ada apa-apa... Alisha bisa ngurus diri Alisha sendiri!”

Alisha mengembuskan napas panjang, merutuki mulutnya yang terlalu tajam saat emosinya sedang tidak stabil pagi tadi. Ia takut Kak Aryan tersinggung, marah, atau yang paling buruk—memilih untuk tidak memedulikannya lagi.

Mendengar suara motor bebek milik Aryan memasuki halaman rumah, jantung Alisha mendadak berdegup lebih kencang. Ia mendengar langkah kaki tegap kakaknya melangkah masuk, menyapa Ibu di dapur, lalu berjalan menuju ke arah meja makan dengan jaket pabrik yang tersampir di lengan.

Aryan tampak lelah, garis-garis letih tercetak jelas di wajah tegasnya. Namun, begitu melihat Alisha duduk menyendiri di sana, langkah Aryan melambat.

Alisha memberanikan diri untuk mendongak, menatap langsung ke sepasang mata kakaknya. "Kak Aryan..." panggil Alisha, suaranya pelan dan sarat akan penyesalan.

Aryan berhenti di dekat meja, menatap adiknya datar tanpa ekspresi seperti biasa. "Belum tidur, Sha?"

Alisha menggeleng pelan. Ia menarik kursi di sebelahnya, mengisyaratkan Aryan untuk duduk. Setelah Aryan duduk dengan helaan napas panjang, Alisha menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menurunkan ego.

"Kak... Alisha mau minta maaf soal tadi pagi," ucap Alisha tulus, matanya menatap jemarinya yang saling bertautan di atas meja. "Alisha tahu Alisha salah. Alisha gak seharusnya ngegas dan bentak Kak Aryan kayak gitu, padahal Kakak cuma khawatir sama Alisha. Alisha bener-bener minta maaf ya, Kak. Kak Aryan kesinggung ya sama omongan Alisha?"

Aryan terdiam sejenak. Keheningan itu sempat membuat Alisha semakin tegang. Namun, sedetik kemudian, terdengar kekehan rendah yang keluar dari mulut Aryan. Cowok kaku itu menggelengkan kepala, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Kesinggung? Nggak lah, Sha. Kakak gak se-kekanak-kanakan itu sampai harus musuhin adik sendiri gara-gara adu mulut pagi-pagi," jawab Aryan santai, membuat sebongkah batu besar yang menyumbat dada Alisha runtuh seketika.

Aryan memajukan tubuhnya, menatap Alisha dengan tatapan mata seorang abang yang begitu protektif dan penuh kasih sayang.

"Sha, dengerin Kakak. Kakak tahu kamu udah besar, kamu pinter, dan kamu ngerasa bisa jaga diri kamu sendiri di luar sana. Tapi bagi Kakak, sampai kapan pun, kamu dan Aleta itu tetep adik-adik perempuan kecil Kakak yang harus Kakak jaga," tutur Aryan dengan nada suara yang melembut, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya kaku.

Aryan mengembuskan napas pendek, lalu melanjutkan, "Kakak tegas begitu tadi pagi bukan karena mau ngekang atau ikut campur urusan kamu. Itu murni karena rasa sayang Kakak. Kakak gak akan pernah rela, gak akan pernah sudi, liat ada orang luar—siapa pun itu—yang berani bikin adik perempuan Kakak nangis atau ngerasa minder di sekolah. Tugas Kakak sebagai laki-laki tertua di rumah ini adalah mastiin kalian berdua gak terluka."

Air mata Alisha kembali merebak, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang membuncah. Ternyata, di balik wajah dingin dan sikap kaku Kak Aryan yang seperti kanebo kering, cowok itu menyimpan rasa sayang yang begitu besar dan tulus untuknya.

Aryan yang melihat adiknya mulai berkaca-kaca langsung panik. "Eh, kok malah mau nangis lagi? Udah, ah! Jangan nangis, ntar dikira Kakak beneran ngomelin kamu lagi sama Ibu."

Alisha terkekeh di sela tangisnya, lalu tanpa diduga, ia langsung memajukan badannya dan memeluk pundak tegap Kak Aryan dengan erat. "Makasih banyak ya, Kak. Alisha beruntung banget punya abang kayak Kak Aryan."

Aryan sempat membeku sesaat karena terkejut dipeluk tiba-tiba, sebelum akhirnya tangan besarnya yang kasar membalas pelukan Alisha, menepuk-nepuk punggung adiknya dengan hangat.

"Iya, sama-sama. Udah, jangan melow begini, gak cocok sama muka pinter kamu," gurau Aryan sambil melepas pelukannya, membuat Alisha mendengus geli. "Sana masuk kamar, tidur. Besok jangan telat bangun lagi."

"Siap, Kapten!" sahut Alisha dengan senyuman lebar yang menghias wajahnya.

Malam itu, urusan di rumah benar-benar selesai tanpa menyisakan ganjalan sedikit pun. Alisha melangkah ke kamarnya dengan perasaan yang teramat damai. Kini, tidak ada lagi ruang untuk rasa insecure di hatinya. Dengan kasih sayang keluarga yang begitu utuh membentenginya, Alisha siap kembali menjadi dirinya yang kuat, cerdas, dan tak tergoyahkan.

Baru saja Alisha hendak merebahkan diri di kasur, pintu kamarnya diketuk dengan tidak santai. Brak! Tanpa menunggu jawaban, Aleta sudah nyelonong masuk sambil memegang ponselnya yang layarnya menyala terang.

"Kak Alisha! Save the moment! Udah damai sama Kak Aryan, sekarang waktunya happy-happy!" seru Aleta penuh semangat. Ia langsung meloncat ke atas kasur Alisha, membuat seprai yang tadi rapi jadi agak berantakan.

Alisha memutar bola matanya malas, sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. "Teta, gue capek. Gue mau tidur."

"Ih, bentar doang!" Aleta menyodorkan ponselnya ke depan muka Alisha. Di layar, terlihat video transisi orang-orang yang sedang melakukan dance challenge yang sedang viral. "Lagi rame banget nih lagu 'Ting-Ting' versi remix, terus ada transisi berubah baju gitu. Yuk, bikin! Gue butuh partner yang mukanya nggak 'kaku' banget kalau di depan kamera. Mbak Alisha kan kalau akting judes di depan kamera malah jadi aesthetic."

Alisha menatap layar ponsel itu dengan tatapan datar, lalu menatap adiknya dengan tatapan yang lebih datar lagi. "Lo pikir gue apa? Influencer? Enggak, ya. Gue mendingan ngerjain soal logaritma yang tadi daripada joget-joget depan HP cuma buat dapet viewers yang gak ada gunanya."

"Kak... ini bukan soal viewers, tapi soal vibe!" Aleta mulai merengek, menguncangkan lengan baju kakaknya. "Ayolah, sekali aja! Nanti gue pinjemin hoodie oversize gue yang warna lilac, biar Mbak Alisha kelihatan kayak cewek-cewek lembut. Dijamin Kak Aryan bakal kaget kalau liat kita bikin konten bareng."

Alisha menarik napas panjang, mencoba bersabar dengan tingkah ajaib adiknya. "Teta, dengar ya. Gue ini Alisha, anak olimpiade, calon mahasiswa kedokteran, bukan selebgram TikTok yang hobi bikin konten transisi. Muka gue ini didesain buat baca buku, bukan buat dipake joget-joget di FYP orang."

"Ya ampun, kaku banget sih!" Aleta mencebikkan bibir, kecewa karena permintaannya ditolak. "Sekali-kali Mbak Alisha tuh harus keluar dari zona nyaman. Coba deh, sekali aja, pasti seru!"

Alisha menjatuhkan bantal tepat ke atas wajah Aleta, menutup suara cempreng adiknya yang masih terus membujuk. "Sudah, sana keluar. Kalau lo masih berisik, besok gue kasih soal matematika yang angkanya ribuan, mau?"

Aleta langsung melepas bantal dari wajahnya, lalu cemberut sambil turun dari kasur. "Yee, galak! Padahal kalau Kak Alisha mau ikut, pasti likes-nya meledak. Ya udah deh, gue bikin sendiri aja, nanti gue masukin muka Mbak Alisha pas Mbak lagi tidur, biar viral karena muka bantal!"

"Heh, berani lo masukin video gue pas tidur, HP lo gue sita!" ancam Alisha setengah mengantuk.

Aleta menjulurkan lidahnya, lalu berlari keluar kamar sambil tertawa kecil. "Canda, Kak Alisha! Selamat tidur, the boring nerd!"

Alisha menghela napas lega saat pintu kamarnya tertutup rapat. Meski sempat merasa terganggu, ada senyum kecil yang terukir di wajahnya. Rumah yang tadinya terasa tegang, sekarang perlahan mulai kembali normal dan hangat. Dan bagi Alisha, itu sudah lebih dari cukup.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!