NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Suasana di ruang makan pagi itu terasa begitu hangat, hidup, dan penuh semangat. Tidak ada lagi keheningan dingin atau ketegangan yang dulu biasa dirasakan Salwa. Di sana, di meja makan panjang yang megah itu, untuk pertama kalinya Salwa merasakan apa itu arti kebersamaan dan kasih sayang yang tulus. Ia makan dengan lahap, ditemani oleh senyum Ardiansyah yang tak pernah lepas dari wajahnya, serta canda dan perhatian lembut dari Bunga.

Bunga sering kali memotongkan makanan atau menuangkan minuman untuk Salwa, persis seperti sosok ibu atau kakak yang paling penyayang. Setiap kali Salwa menatap wajah ayahnya, hati gadis itu dipenuhi rasa syukur yang luar biasa. Ia merasa seolah Tuhan telah mengembalikan seluruh kebahagiaan yang pernah dicuri darinya, semuanya dikembalikan dalam wujud sosok ayah dan wanita hebat di hadapannya ini. Salwa merasa hidupnya kini utuh kembali, seolah ia telah dipertemukan dengan dua malaikat pelindung yang selama ini ia doakan keberadaannya.

Setelah hidangan terakhir diselesaikan dan meja mulai dibersihkan, Ardiansyah meletakkan serbetnya dengan rapi. Ia menatap jam tangannya sekilas, tanda bahwa ia sebentar lagi harus berangkat ke kantor. Namun, sebelum itu, ada hal penting yang harus ia sampaikan hal yang menjadi langkah awal dari rencana besar pembalasan dan kebangkitan mereka.

Ardiansyah menatap Salwa dengan sorot mata yang serius namun penuh bangga. Ia meraih tangan kanan putrinya, menggenggamnya lembut namun tegas.

"Nak, sebentar lagi Ayah harus berangkat ke kantor. Ada banyak urusan yang harus diselesaikan, termasuk mempersiapkan segalanya untukmu," ucap Ardiansyah memulai pembicaraan.

Salwa mengangguk, menatap ayahnya penuh perhatian. "Baik, Ayah. Ada apa yang ingin Ayah bicarakan?"

Ardiansyah melirik sekilas ke arah Bunga yang duduk tenang di sebelah mereka, lalu kembali menatap putri tunggalnya.

"Ayah sudah memikirkan segalanya dengan matang. Waktunya sudah tiba bagimu untuk bangkit, Nak. Tidak lagi sebagai Salwa yang lemah, yang dicemooh, atau yang dianggap sampah. Mulai sekarang, kau akan berdiri setinggi langit di hadapan mereka yang pernah meremehkanmu."

Ardiansyah menarik napas panjang, lalu mengungkapkan rencana utamanya.

"Keputusan Ayah sudah bulat. Mulai hari ini, kau akan bekerja dan masuk ke dalam perusahaan Ayah. Perusahaan itu bukan milik orang lain, Nak. Perusahaan besar yang selama ini Ayah bangun dengan keringat dan air mata itu, suatu saat nanti akan menjadi milikmu sepenuhnya. Kau adalah satu-satunya pewaris sah segalanya. Jadi, kau harus tahu bagaimana mengelolanya, kau harus paham bagaimana memimpin, dan kau harus mengerti bagaimana dunia bisnis bekerja."

Mata Salwa membelalak kaget namun juga berbinar antusias. Ia tidak menyangka ayahnya akan langsung memberinya tanggung jawab sebesar itu.

"Ayah... saya... Apa saya bisa?" tanyanya ragu namun penuh semangat. "Saya tidak punya pengalaman, saya tidak tahu apa-apa..."

"Karena itulah ada Bunga," potong Ardiansyah lembut sambil menoleh ke arah wanita cantik itu. "Bunga adalah orang yang paling hebat yang Ayah kenal. Dia bukan hanya sahabat Ayah, tapi dia juga orang kepercayaan yang menguasai segala hal tentang manajemen, etika, hingga cara berbicara dan berwibawa. Mulai hari ini, Bunga akan membantumu, mendampingimu, dan mempersiapkan segala hal untukmu. Dia yang akan mengajarimu segalanya mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, cara berjalan, hingga cara mengambil keputusan besar."

Bunga tersenyum hangat ke arah Salwa, lalu mengelus punggung tangan gadis itu sebagai tanda dukungan. "Jangan khawatir, Nak. Aku akan ada di sampingmu setiap saat. Apa pun yang belum kau ketahui, apa pun yang belum kau bisa, aku akan ajarkan sampai kau benar-benar menguasainya dengan sempurna. Kita akan bekerja keras bersama."

Ardiansyah kembali melanjutkan ucapannya, suaranya makin terdengar tegas dan penuh perhitungan.

"Ayah memberikan waktu satu bulan untukmu, Salwa. Satu bulan ke depan, kau akan belajar, berlatih, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin bersama Bunga. Satu bulan ini adalah masa transisi dan pembelajaran bagimu. Kau harus menyerap semua ilmu dan pengetahuan itu secepat mungkin, karena..."

Ardiansyah berhenti sejenak, menatap putrinya dengan kilatan kemenangan di matanya.

"...Satu bulan lagi, tepat pada hari ulang tahun perusahaan Ayah yang ke- 21 tahun akan diadakan pesta besar-besaran. Semua orang penting di kota ini akan hadir di sana. Para pengusaha, pejabat, rekan bisnis, hingga keluarga-keluarga terpandang termasuk keluarga Pratama, keluarga Yogie, dan tentu saja... mereka yang dulu kau sebut Ayah, Ibu, dan Sania."

Jantung Salwa berdegup kencang mendengarnya. Ia mengerti ke mana arah pembicaraan ayahnya.

"Di malam itu..." lanjut Ardiansyah berat dan penuh penekanan. "Di malam pesta itu, itulah saat yang paling tepat. Di hadapan semua orang itu, Ayah akan secara resmi memperkenalkanmu. Memperkenalkan siapa dirimu yang sebenarnya, siapa ayah kandungmu, dan posisi apa yang sesungguhnya kau miliki. Kau akan tampil sebagai putri tunggal Ardiansyah, pewaris tunggal kekayaan dan kekuasaan ini. Kau akan tampil dengan kemewahan, keanggunan, dan kehormatan yang seribu kali lipat lebih besar dibandingkan apa pun yang pernah mereka miliki."

Salwa menelan ludah, rasa haru dan semangat bercampur jadi satu. Bayangan wajah kaget, takut, dan menyesal dari Pak Joko, Bu Ratih, Sania, maupun Yogie terbayang jelas di kepalanya. Itulah mimpi terbesarnya. Itulah balasan yang pantas untuk mereka.

"Di malam itu, kita akan membalas mereka, Nak," ucap Ardiansyah pelan namun penuh penekanan. "Kita akan membuat mereka sadar sepenuhnya betapa besar kesalahan yang telah mereka buat saat membuang dan menyakiti darah dagingku. Kita akan membuat mereka berlutut di bawah kakimu, dan melihat dengan mata kepala mereka sendiri betapa tingginya posisimu sekarang dibandingkan mereka."

Salwa mengangguk mantap, air mata bahagia kembali menggenang namun kali ini disertai senyum penuh tekad. Ia bangkit berdiri, lalu mencium tangan ayahnya dengan penuh hormat.

"Saya mengerti, Ayah. Satu bulan... saya janji akan belajar sekeras tenaga. Saya akan mengubah diri saya. Saya akan menjadi wanita yang hebat, wanita yang berkelas, wanita yang pantas menjadi putri Ayah. Dan di malam pesta itu... saya akan tampil, dan saya akan membuat mereka semua menyesal seumur hidup telah menganggap saya sampah."

"Bagus! Itu putri Ayah," puji Ardiansyah bangga. Ia lalu berdiri, mengenakan jasnya yang sudah disiapkan Rini. Ia menatap Bunga. "Bunga, aku titipkan Salwa sepenuhnya padamu. Bentuklah dia menjadi ratu yang tangguh."

"Tenanglah, Ardi. Aku akan menjaganya dan mempersiapkannya sebaik mungkin. Dia akan bersinar lebih terang dari siapa pun di pesta nanti," jawab Bunga dengan keyakinan penuh.

Ardiansyah tersenyum puas, lalu sekali lagi memeluk putrinya erat seolah memberi kekuatan terakhir sebelum ia pergi.

"Ayah berangkat dulu ya, Nak. Belajarlah dengan giat, istirahat yang cukup, dan percayalah pada Bunga. Ayah akan menunggu hari itu dengan penuh semangat. Sampai jumpa nanti sore."

Salwa mengantar ayahnya sampai ke depan pintu utama, menatap mobil mewah itu melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah. Saat mobil itu hilang di tikungan, Salwa berbalik badan dan menatap Bunga yang berdiri tersenyum menunggunya.

"Nah, sekarang... mulai detik ini, pelatihan kita dimulai, Salwa," ucap Bunga lembut namun penuh semangat, mengulurkan tangannya ke arah gadis itu. "Satu bulan ke depan akan sangat sibuk dan melelahkan, tapi percayalah... hasilnya akan sepadan, bahkan lebih dari yang kau bayangkan. Ayo, kita mulai langkah pertamamu menuju puncak kejayaan."

Salwa menyambut uluran tangan itu dengan genggaman yang kuat dan berani. Matanya berkilat penuh api semangat. Ia siap. Ia siap berubah, ia siap belajar, dan ia siap untuk kembali bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai pemenang yang akan menghakimi masa lalu dan mereka yang pernah menyakitinya.

Bersambung,,,

1
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!