Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Hembusan Angin Utara
Pagi itu, Desa Ujung Sungai disibukkan oleh rutinitas fana. Kokok ayam jantan bersahutan menyambut matahari yang perlahan mengusir sisa-sisa embun.
Di pekarangan pondok kayu reyot, Qian Fugui sedang sibuk menjejalkan perbekalan ke dalam kantong kainnya. Pria gemuk itu terus menggerutu sambil memasukkan ubi kering, dendeng babi hasil sumbangan Kepala Desa, dan sebuah labu berisi arak beras murahan.
"Jalan menuju Kota Daun Gugur itu tidak mudah, Saudara Niu!" omel Fugui, napasnya tersengal hanya karena mengikat tali kantongnya. "Kita harus melewati Lembah Angin Berbisik. Belum lagi perampok gunung! Dan kau menyuruhku berjalan kaki memandu orang yang terluka dan seorang gadis lemah? Ah, nasibku benar-benar lebih pahit dari empedu naga!"
Zeng Niu yang sedang duduk di beranda bambu, mengasah golok karatannya untuk terakhir kali, hanya mendengus geli.
Ia tidak marah melihat kepengecutan dan kecerewetan kultivator gagal itu. Sebaliknya, saat menatap perut buncit Fugui yang berguncang dan wajahnya yang memelas, sebuah perasaan nostalgia tiba-tiba menyusup ke dalam dada Zeng Niu.
Matanya menerawang jauh, melewati rimbunnya hutan pinus Benua Selatan, menembus awan dan Lautan Kematian yang memisahkan dunia fana.
Tingkah konyol dan penakut Fugui mengingatkannya pada seseorang. Seseorang di Akademi Jiannan yang selalu merengek saat disuruh bertarung, namun akan menjadi orang pertama yang mengayunkan palu raksasanya jika temannya dalam bahaya.
Dan senyum manis namun mematikan yang sering ditunjukkan Zhao Ying akhir-akhir ini untuk mengancam Fugui... itu mengingatkannya pada seorang gadis licik berzirah biru yang pedangnya setajam lidahnya.
Bao Tu... Xiaoyu... batin Zeng Niu, sebuah senyum tipis yang hangat terukir di wajah perunggunya. Apakah kalian masih hidup di ujung utara sana? Ataukah kalian pikir aku sudah mati terkubur di Alam Rahasia?
Zeng Niu menghela napas panjang. Kehampaan di Dantiannya memang melumpuhkan sihirnya, namun anehnya, hal itu justru memperkuat ikatan kemanusiaannya. Di saat ia menjadi makhluk fana, kerinduannya pada sahabat-sahabat lamanya terasa lebih nyata daripada ambisinya mengejar keabadian.
"Tunggu saja," gumam Zeng Niu pelan pada angin musim gugur. "Aku akan merangkak kembali ke puncak, dan kita akan minum arak bersama lagi."
(Ribuan mil jauhnya, di perbatasan Benua Utara)
Hutan Kabut Merah di ujung selatan Benua Utara adalah wilayah yang jarang dijamah manusia. Pepohonannya memiliki daun berwarna merah darah yang tidak pernah gugur, dan udaranya selalu dipenuhi distorsi energi yang membuat kompas spiritual berputar liar.
Dua sosok bergerak dengan sangat hati-hati menembus semak-semak lebat.
Seorang pemuda bertubuh tambun memanggul sebuah palu godam besar berwarna keemasan, sementara di depannya, seorang gadis berzirah biru langit berjalan dengan pedang tipis terhunus, matanya menyapu sekeliling dengan ketajaman seekor elang.
Sejak insiden hancurnya altar Suku Li di Tebing Ratapan Laut beberapa bulan lalu, Tetua Mo Yin dari Paviliun Pedang Bayangan tidak menarik mereka berdua pulang. Sebaliknya, menyadari bahwa retakan dimensi tidak hanya terjadi di satu titik, Mo Yin menugaskan Bao Tu dan Lin Xiaoyu untuk menjadi "Mata Bayangan"—menyusuri sepanjang garis perbatasan selatan Benua Utara untuk memetakan titik-titik lemah dari Tabir Dimensi.
"Hati-hati langkahmu, Gendut," bisik Lin Xiaoyu tanpa menoleh. "Retakan ruang terkadang tidak terlihat oleh mata. Jika kau menginjak ruang yang terdistorsi, kakimu akan terpotong dan jatuh ke benua lain."
Bao Tu langsung menarik kakinya yang hendak melangkah, wajahnya pucat pasi.
"Xiaoyu, tolong jangan menakutiku! Kita sudah sebulan berkeliaran di hutan aneh ini!" keluh Bao Tu, memeluk gagang palunya erat-erat. Ia melihat ke atas. Di langit yang tertutup kanopi daun merah, terdapat sebuah garis hitam tipis yang memancarkan kilatan petir ungu pucat—salah satu dari puluhan retakan batas benua yang mereka temukan minggu ini.
"Penghalang benua benar-benar sudah seperti kaca retak," gumam Xiaoyu serius, mengabaikan rengekan Bao Tu. Ia mencatat lokasi itu di sebuah perkamen giok. "Udara di sekitar sini terkontaminasi oleh Yin Qi yang sangat berat. Ini bukan Qi dari Benua kita. Ini bocoran dari Benua Selatan."
"Benua Selatan lagi..." Bao Tu bergidik membayangkan siluman hitam tanpa kepala yang nyaris membunuhnya waktu itu. "Jika tabir ini benar-benar pecah sepenuhnya, kita tidak akan bisa menahan gelombang monster yang keluar dari sana. Tetua sekte harus segera membangun tembok pertahanan."
Xiaoyu menyarungkan pedangnya dan mengangguk. "Itu urusan para petinggi. Tugas kita hanya memberikan mata dan telinga. Ayo, kita lanjutkan ke titik be—"
HACHHII!
Sebuah bersin yang luar biasa keras tiba-tiba meledak dari hidung Bao Tu, menggetarkan daun-daun merah di sekitar mereka. Burung-burung gagak berhamburan terbang ketakutan.
Xiaoyu langsung memelototi pemuda tambun itu. "Bao Tu! Apa kau mau mengundang semua monster di radius sepuluh mil untuk makan siang?!"
Bao Tu mengusap hidungnya yang memerah, lalu menggosok bagian belakang telinganya dengan wajah bingung.
"Maaf, maaf! Hidungku tiba-tiba gatal sekali," ucap Bao Tu membela diri. Ia mengendus udara, lalu tersenyum bangga. "Menurut legenda fana di desaku, jika kau bersin keras tanpa alasan, artinya ada seseorang di tempat yang sangat jauh sedang merindukanmu!"
Xiaoyu mendengus sinis, memutar bola matanya. "Yang benar saja. Paling-paling hanya rentenir di kota akademi yang merindukan uang hutangmu, atau hantu kelaparan yang merindukan lemak tebalmu untuk dipanggang."
"Hei, aku serius!" Bao Tu membusungkan dadanya, tapi senyum konyolnya perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang hangat dan sedikit melankolis.
Ia menatap langit yang retak, lalu bergumam dengan suara yang jauh lebih pelan, "Entah kenapa... perasaanku mengatakan bahwa itu adalah Zeng Niu. Di suatu tempat di dunia yang luas ini, aku yakin si wajah batu itu sedang memikirkanku, berharap aku ada di sana untuk melindunginya dengan palu besarku."
Langkah Lin Xiaoyu terhenti. Ejekan tajam yang sudah berada di ujung lidahnya tertelan kembali.
Gadis berzirah biru itu menatap ke arah selatan, ke arah lautan tak berujung dan badai dimensi yang mengerikan. Bayangan pemuda berjubah hitam dengan pedang petir berkaratnya kembali berkelebat di benaknya. Seseorang yang selalu berdiri di garis depan, menanggung semua rasa sakit tanpa pernah mengeluh satu patah kata pun.
"Dia tidak mungkin mati," bisik Lin Xiaoyu, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Bao Tu. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Orang sekeras kepala dia tidak akan membiarkan langit membunuhnya semudah itu."
Xiaoyu menoleh kembali ke arah Bao Tu, senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya. "Jika dia benar-benar merindukanmu, maka pastikan kau tidak mati memalukan di hutan ini sebelum kita menemukannya lagi. Karena jika dia melihatmu mati, dia pasti akan turun ke neraka hanya untuk menendang pantatmu."
Bao Tu tertawa lebar, matanya berkaca-kaca menahan haru. Ia mengangkat palu godamnya tinggi-tinggi.
"Tentu saja! Aku adalah Bao Tu, Si Palu Penghancur Gunung! Aku akan berlatih sampai lenganku kebas! Saat kita bertemu dengannya nanti, aku tidak akan membiarkan dia bertarung sendirian lagi!"
Angin utara berhembus kencang, membawa sumpah dua sahabat itu melintasi hutan merah. Di bawah langit yang sama-sama retak, meski terpisahkan oleh samudera kematian dan dimensi yang runtuh, benang takdir di antara mereka tidak pernah benar-benar terputus.
Masing-masing dari mereka sedang merangkak, berjalan, dan berlari mengumpulkan kekuatan, menunggu hari di mana badai besar akan menyatukan mereka kembali.