NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGGUNG DARAH DAN DEBU

​Fajar baru saja menyingsing, menyelimuti Kota Sayap Naga dengan warna jingga keunguan yang mistis. Alun-alun Naga yang luasnya setara dengan sepuluh lapangan pacuan kuda itu sudah dipadati oleh ribuan orang. Lantainya yang terbuat dari obsidian hitam mengilap memantulkan bayangan para peserta seleksi yang datang dari berbagai penjuru. Di tengah kerumunan itu, Han Feng berdiri dengan jubah perak kusam milik "Feng Lin", identitas yang ia curi semalam. Wajahnya tampak mengantuk, bahunya merosot, memberikan kesan seorang jenius malas yang dipaksa datang oleh tetua cabangnya.

​Namun, di balik kelopak mata yang setengah tertutup itu, indra Han Feng bekerja dengan kecepatan penuh. Ia mengamati tribun kehormatan di mana para Tetua keluarga utama duduk dengan angkuh. Salah satu dari mereka memegang gulungan sketsa wajah asli Han Feng, matanya terus menyisir kerumunan bak elang yang mencari mangsa.

​Beberapa jam sebelum seleksi dimulai, Han Feng telah menyelinap ke distrik alkimia kota. Ia berdiri di depan Menara Pil, sebuah bangunan berbentuk botol raksasa yang memancarkan aroma rempah-rempah yang tajam. Ia butuh bahan untuk membuat "Pil Penghancur Belenggu" agar terobosannya ke tahap selanjutnya berjalan sempurna tanpa cacat.

​Di dalam menara yang bising itu, Han Feng berpapasan dengan seorang pemuda berpakaian putih bersih yang sedang memegang tanaman herbal langka. Pemuda itu memiliki aura yang sangat tenang, seperti air di telaga dalam. Di sisi lain, seorang gadis dengan busana merah membara sedang berdebat keras dengan penjaga toko tentang kualitas tungku obat.

​Han Feng bisa merasakan bahwa keduanya bukan orang sembarangan. Meski mereka belum saling mengenal, ada getaran tenaga dalam yang sangat murni terpancar dari tubuh mereka.

​"Bunga Matahari Sembilan Kelopak ini... kualitasnya buruk," ucap Han Feng pelan saat melewati si pemuda berbaju putih. Pemuda itu tersentak, menatap Han Feng dengan tatapan menyelidik, namun Han Feng sudah menghilang di balik rak obat setelah membayar beberapa bahan langka dengan keping emas. Ia tidak ingin berteman, ia hanya butuh alat untuk tujuannya.

​Ujian Gravitasi Naga

​Kembali ke alun-alun, terompet dari kerang raksasa ditiup, menandakan dimulainya Pesta Darah. Suaranya menggetarkan dada dan membungkam riuh rendah penonton.

​"Seleksi pertama dimulai!" teriak seorang diaken dari keluarga utama. "Tunjukkan bahwa darah naga mengalir di nadimu!"

​Seketika, formasi pelindung di bawah lantai obsidian diaktifkan. "Formasi Penindas Naga" mulai bekerja. Gravitasi di alun-alun meningkat sepuluh kali lipat secara mendadak. Udara seolah berubah menjadi timah cair yang menekan pundak setiap orang.

​Banyak peserta langsung tumbang. Suara lutut yang menghantam lantai dan muntahan darah terdengar di mana-mana. Namun, Han Feng tetap berdiri tegak. Baginya, tekanan ini hanyalah seperti hembusan angin sepoi-sepoi dibandingkan dengan tempaan petir yang pernah ia alami. Namun, agar tidak mencolok, ia berpura-pura sedikit gemetar dan menyeka keringat imajiner di keningnya.

​"Lihat sampah dari cabang utara itu," ejek seorang pemuda berwajah tirus di sampingnya. "Baru seleksi pertama sudah hampir pingsan. Pulang saja kau ke desamu!"

​Han Feng hanya meliriknya sekilas tanpa membalas. Ia sedang fokus merasakan bagaimana energi formasi ini bekerja, membedah alirannya di dalam pikirannya.

​Melihat masih ada lima puluh orang yang bertahan dengan relatif mudah, seorang jenius dari keluarga utama bernama Feng Jian melompat ke panggung duel dengan gerakan yang sangat anggun. Ia mengenakan zirah ringan yang berkilauan.

​"Membosankan jika hanya berdiri di sini!" teriak Feng Jian sombong. "Siapa pun dari kalian yang merasa punya nyali, naiklah! Terutama kau... si pemalas dari utara!" Feng Jian menunjuk tepat ke arah Han Feng. Rupanya, ketenangan Han Feng sejak tadi telah mengusik harga dirinya.

​Han Feng menghela napas panjang. Ia berjalan naik ke panggung dengan langkah gontai, seolah-olah ia lebih suka tidur daripada bertarung. "Bisakah kita selesaikan ini dengan cepat? Aku sedang tidak enak badan," ucap Han Feng tenang.

​Penonton tertawa mengejek. Feng Jian merasa terhina. Ia mencabut pedang peraknya dan berteriak, "Tebasan Naga Terbang!"

​Cahaya pedang yang menyilaukan melesat ke arah Han Feng, membelah udara dengan suara siulan tajam. Han Feng tidak mencabut senjata. Saat ujung pedang itu tinggal beberapa inci dari dadanya, Han Feng hanya menyentil udara dengan jari tengahnya. Ia melepaskan setitik tenaga petir yang ia samarkan dalam bentuk tenaga angin murni.

​Duar!

​Serangan Feng Jian hancur berantakan seperti kaca yang dihantam palu raksasa. Tubuh Feng Jian terlempar ke belakang, melewati batas panggung, dan menabrak pilar batu hingga retak. Alun-alun yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. Semua mata tertuju pada pemuda berbaju kusam yang kini sedang menguap di atas panggung.

​Di tribun kehormatan, para Tetua berdiri serentak. Tetua yang memegang sketsa wajah Han Feng menyipitkan matanya. "Teknik apa itu? Sederhana namun sangat padat. Cabang Utara tidak pernah memiliki ilmu seperti itu dalam catatan mereka."

​Han Feng menyadari bahwa perhatian kini tertuju padanya. Ia segera turun dari panggung sebelum keadaan menjadi lebih rumit. Di bawah panggung, ia kembali berpapasan dengan pemuda berbaju putih dan gadis berbaju merah yang ia temui di Menara Pil tadi. Keduanya kini menatapnya dengan tatapan yang sangat berbeda—penuh rasa ingin tahu dan kewaspadaan.

​"Satu gerakan..." gumam si gadis berbaju merah sambil memegang gagang pedangnya. "Siapa sebenarnya dia?"

​Han Feng terus berjalan kembali ke barisannya, menarik topi jubahnya lebih rendah. Dalam hatinya, ia berbisik, "Ini baru pemanasan. Aku harap Kolam Darah Naga itu cukup kuat untuk menampung apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Karena saat aku masuk ke sana, seluruh keluarga ini akan tahu siapa sebenarnya yang memiliki darah naga sejati."

​Malam itu, di dalam kamar penginapannya yang sempit, Han Feng mulai mengeluarkan bahan-bahan dari Menara Pil. Di tengah kegelapan, cahaya ungu dari tangannya mulai membakar bahan-bahan tersebut. Ia harus menerobos malam ini juga, atau panggung esok hari akan menjadi kuburannya sendiri.

Di bawah sinar rembulan, bayangan naga di lengan Han Feng tampak bergerak, seolah-olah tidak sabar untuk menelan seluruh Kota Sayap Naga ke dalam kegelapan.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!