GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Ancaman di Balik Topeng Ramah
Setelah memastikan mobil Bapak Surya benar-benar hilang dari pandangan, Aditya tidak membuang waktu lagi. Ia segera berbalik dan melangkah cepat masuk kembali ke dalam rumah. Wajahnya yang tadi dipaksa tersenyum manis kini kembali berubah menjadi datar namun menyimpan badai amarah yang belum sepenuhnya mereda.
Ia harus segera menemui Luna. Gadis itu dalam bahaya besar. Percakapan barusan dengan Bapak Surya membuktikan bahwa pria tua itu sudah mulai mencium sesuatu. Dia sedang mencari keberadaan pewaris lain, dan dia tidak segan-segan untuk melenyapkan siapa saja yang dianggap mengancam posisinya.
Aditya mencari ke seluruh ruangan bawah tanah, ruang tamu, ruang makan, hingga dapur, namun sosok Luna tak ia temukan di sana. Akhirnya, langkah kakinya terarah menuju taman belakang, tempat di mana mereka berdua sering kali berbicara atau sekadar menenangkan pikiran. Dan benar saja, di bawah pohon besar tempat mereka menerima kebenaran kemarin sore, Luna sedang duduk termenung di bangku kayu sambil memeluk dirinya sendiri.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, Luna menoleh dan segera berdiri saat melihat Aditya datang. Tatapan matanya penuh pertanyaan dan kekhawatiran. Ia tahu kedatangan Bapak Surya pasti membawa dampak buruk, dan ia takut sekali mendengar hasil pembicaraan mereka.
"Aditya..." panggil Luna pelan, suaranya bergetar. "Bagaimana? Apa yang dibicarakan Bapak Surya tadi? Dia... dia curiga sama aku, kan? Tatapan matanya tadi bikin aku merinding sekujur tubuh."
Aditya berhenti tepat di hadapan Luna. Ia menghela napas panjang, lalu menatap gadis itu dengan serius. "Kamu benar, Luna. Dia curiga. Dia bilang sudah mendengar isu kalau ada pewaris lain yang masih hidup, dan dia berniat mencari orang itu untuk... menyingkirkannya. Dia bilang orang itu ancaman, dan harus dihilangkan secepat mungkin."
Wajah Luna seketika memucat mendengarnya. Kakinya terasa lemas seolah mau runtuh. "Jadi... dia benar-benar mau membunuhku juga, ya? Sama seperti dia membunuh orang tua aku dulu..."
Melihat kesedihan dan ketakutan yang mendalam di wajah Luna, hati Aditya terasa teriris sakit. Ia tidak tahan melihat wanita yang dicintainya—meski kini harus ia anggap sebagai saudara—terluka seperti ini. Tanpa berpikir panjang, Aditya meraih kedua bahu Luna dan menggenggamnya erat, menatap lekat ke dalam manik mata bening itu.
"Dengar aku, Luna. Jangan takut. Selama aku ada di sini, selama napas ini masih berhembus, aku tidak akan membiarkan dia menyentuh sehelai rambut pun dari kepalamu. Dia harus melewati mayatku dulu sebelum dia bisa melukaimu. Aku janji."
Nada suara Aditya begitu tegas dan penuh tekad, membuat rasa takut di hati Luna perlahan berkurang tergantikan oleh rasa aman dan percaya. Di hadapan pria ini, ia merasa seolah seluruh dunia tidak berdaya menyakiti dirinya. Namun, kesadaran bahwa mereka adalah saudara kembali menusuk hatinya. Luna perlahan melepaskan diri dari genggaman Aditya, menundukkan wajahnya agar tidak terlihat rasa sedih yang kembali muncul.
"Terima kasih, Aditya. Aku percaya sama kamu. Tapi... bagaimana caranya kita bisa selamat? Dia pintar, dia licik, dia punya banyak orang di pihaknya. Sementara kita... cuma berdua ditambah Pak Herman. Kita seperti tikus yang sedang bermain dengan kucing."
Aditya tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan ambisi dan strategi. "Kita memang sedikit jumlahnya, Luna. Tapi kita punya kebenaran di pihak kita. Dan satu lagi... musuh sering kali lengah karena merasa dirinya paling kuat. Dia pikir aku masih anak kecil yang mudah diatur, dia pikir tidak ada yang tahu kebusukannya. Itu kelemahan terbesarnya. Kita akan gunakan kesombongannya itu untuk menjebak dia sendiri."
Aditya lalu mengajak Luna duduk kembali di bangku kayu itu, ia menjelaskan rencana awal yang sudah ada di pikirannya.
"Untuk saat ini, kamu harus tetap bersikap seperti biasa. Jadilah pembantu polos yang lugu, jangan tunjukkan kalau kamu pintar atau punya wibawa. Semakin dia meremehkanmu, semakin aman posisimu di sini. Dan satu hal lagi... mulai sekarang, jangan pernah keluar rumah sendirian. Kalau ada keperluan keluar, katakan padaku atau pada Bu Rina, kami akan atur semuanya. Bahkan di dalam rumah ini pun, kamu harus tetap waspada. Kita tidak tahu apakah ada mata-mata yang disusupkan Bapak Surya di antara para pelayan."
Luna mengangguk paham. "Baik, aku mengerti. Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Aku tidak akan mengecewakan kamu, dan aku tidak akan membiarkan orang tua aku serta orang tua kamu mati sia-sia."
"Bagus," ucap Aditya puas. Ia menatap wajah Luna lama sekali, seolah ingin menghafal setiap inci wajah itu. Rasanya berat sekali harus menahan perasaan yang begitu besar ini. Rasanya sakit sekali harus berpura-pura hanya sebagai pelindung saudara, padahal hatinya berteriak ingin memiliki wanita ini seutuhnya.
"Aditya..." panggil Luna pelan, memecah keheningan di antara mereka. "Kita... kita akan baik-baik saja kan? Setelah semua ini selesai, setelah Bapak Surya dipenjara dan kebenaran terungkap... hubungan kita akan tetap seperti ini kan? Kamu tidak akan menjauh dari aku kan? Karena... kamu satu-satunya keluarga yang aku punya sekarang."
Suara Luna terdengar begitu lembut namun penuh kekhawatiran. Pertanyaan itu seperti pisau tajam yang menancap tepat di jantung Aditya. Ia ingin sekali menjawab bahwa ia tidak akan pernah pergi, bahwa ia akan selalu ada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi, bisakah ia melakukan itu sementara perasaannya masih seperti ini? Bisakah ia bertemu Luna setiap hari, melihatnya tumbuh menjadi wanita yang semakin cantik, namun tidak boleh menyentuh hatinya?
Aditya menarik napas panjang, berusaha menutupi gejolak di dalam dadanya dengan senyum hangat yang ia paksakan. Ia mengusap puncak kepala Luna dengan lembut, sentuhan yang penuh kasih sayang namun kini terasa berbeda maknanya.
"Tentu saja, Luna. Kita keluarga. Kita darah daging yang sama. Aku tidak akan pernah menjauh darimu. Kamu akan tetap menjadi orang terpenting dalam hidupku, selamanya. Tidak ada yang bisa mengubah itu."
Jawaban itu terdengar indah, tapi bagi hati mereka berdua, jawaban itu terasa sangat pahit. Keluarga. Orang terpenting tapi dalam posisi yang salah.
Malam harinya, suasana di dalam rumah terasa semakin tegang dan penuh rahasia. Seperti yang Aditya duga, kehadiran Bapak Surya hari ini hanyalah awal dari ancaman yang lebih besar. Pria itu tidak akan berhenti sampai ia yakin benar-benar tidak ada lagi ancaman terhadap kekuasaannya.
Luna kembali ke kamarnya, namun malam ini ia sulit sekali memejamkan matanya. Pikirannya terus melayang pada tatapan tajam Bapak Surya, pada ancaman yang diucapkannya, dan pada janji yang diucapkan Aditya. Ia merasa hidupnya kini berubah menjadi sebuah permainan berbahaya di mana satu langkah saja salah, maka nyawalah taruhannya.
Di kamar seberang, Aditya juga belum tidur. Ia sedang sibuk di depan laptopnya, membuka berbagai dokumen perusahaan dan catatan-catatan lama yang dikirimkan oleh Pak Herman. Ia mencari celah, mencari bukti, mencari kelemahan yang bisa mereka gunakan untuk menjatuhkan Bapak Surya. Matanya menatap layar dengan tajam, otaknya bekerja keras menyusun strategi.
Namun, di tengah fokusnya itu, pikirannya tetap tidak lepas dari Luna. Ia khawatir. Ia takut gadis itu stres atau takut sendirian di kamarnya. Akhirnya, Aditya bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar Luna. Ia ingin memastikan gadis itu aman dan tenang.
Dengan pelan, Aditya mengetuk pintu kamar itu. Tok.. tok.. tok..
"Masuk..." suara Luna terdengar lembut dari dalam.
Aditya memutar gagang pintu dan masuk perlahan. Ia melihat Luna yang sedang duduk di tepi ranjang dengan selimut yang membalut tubuhnya. Wajahnya terlihat lelah namun matanya masih sangat terjaga.
"Belum tidur?" tanya Aditya lembut, lalu duduk di kursi kecil di dekat meja rias.
Luna menggeleng pelan. "Belum. Mata rasanya tidak mau terpejam. Terlalu banyak pikiran."
Aditya menghela napas, lalu menatap Luna dengan tatapan yang lembut. "Maaf ya, Luna. Karena masuk ke dalam hidupku, kamu jadi harus menghadapi semua bahaya ini. Kalau saja dulu aku tidak memaksamu membayar hutang dengan menjadi pembantu, mungkin sekarang kamu hidup tenang di kampung, sehat, dan bahagia tanpa harus mengenal dunia kejam ini."
Luna langsung menggeleng kuat, wajahnya terlihat serius. "Jangan bicara begitu, Aditya. Justru aku bersyukur. Kalau aku tidak datang ke sini, mungkin aku tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya, mungkin rahasia ini akan terkubur selamanya, dan mungkin aku tidak akan pernah bertemu sama kamu. Meskipun berat dan penuh bahaya... aku senang bisa ada di sini. Aku senang akhirnya aku punya keluarga."
Kalimat itu membuat hati Aditya menghangat sekaligus perih. Ia tersenyum tipis. "Kamu memang gadis yang luar biasa, Luna. Lebih kuat dari yang aku kira."
Aditya lalu berdiri dan berjalan mendekat sedikit. "Sudah, jangan dipikirkan lagi malam ini. Istirahatlah. Besok kita punya banyak hal yang harus dilakukan. Ingat pesanku, jangan percaya siapa pun kecuali kita bertiga. Dan kunci pintumu rapat-rapat dari dalam, ya?"
"Iya, Aditya. Terima kasih sudah datang. Aku jadi lebih tenang sekarang," jawab Luna tulus.
Aditya mengangguk, lalu berbalik hendak pergi. Namun sebelum ia sempat melangkah keluar, Luna tiba-tiba memanggilnya lagi.
"Aditya..."
Aditya menoleh. "Ya?"
"Hati-hati juga ya. Bapak Surya itu licik. Aku takut dia malah menyerang kamu duluan karena kamu pemimpin perusahaan. Jangan sampai kamu kenapa-kenapa, karena kalau kamu sakit atau kenapa-kenapa... aku tidak tahu harus bagaimana lagi," ucap Luna dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa sayang dan rasa takut kehilangan itu begitu nyata keluar dari mulutnya.
Aditya tersenyum lembut, kali ini senyumnya lebih tulus dan hangat. Ia mengangguk meyakinkan. "Aku janji aku akan jaga diriku baik-baik. Demi kamu, demi keluarga kita. Sekarang tidur ya."
Aditya keluar dari kamar itu dan menutup pintu perlahan. Begitu pintu tertutup, senyum di wajahnya perlahan menghilang berganti dengan tatapan tajam yang penuh tekad. Ia menatap pintu kayu itu lekat-lekat.
Tunggu saja, Bapak Surya. Kamu mau main kotor? Oke, aku akan main lebih kotor lagi. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti satu helai rambut pun dari kepala Luna, dan aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang setelah semua kejahatan yang kau lakukan.
Perang dingin antara ayah angkat dan anak asuh, antara paman dan keponakan, antara kejahatan dan kebenaran... baru saja benar-benar dimulai. Dan di tengah badai besar ini, Aditya bersumpah akan menjadi perisai terkuat bagi Luna, meski ia harus menyiksa dirinya sendiri dengan rasa cinta yang tak akan pernah terbalaskan itu.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷