NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Kebebasan

​Matahari pagi telah naik tinggi, menembus celah gorden sutra abu-abu dan menyinari kamar tamu yang luas itu. Namun, kehangatan fajar sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang mencekam di dalam sanubari Chloe. Sejak pria misterius berwajah iblis itu keluar dari kamarnya semalam, Chloe tidak bisa memejamkan mata bahkan untuk satu detik pun. Dia terus terjaga, memeluk lututnya di sudut ranjang dengan selimut yang membungkus rapat tubuhnya, mengawasi pintu ganda kamar dengan cemas seolah monster semalam bisa mendobrak masuk kapan saja.

​Klik. Cklek.

​Suara mekanisme kunci otomatis yang berputar membuat Chloe tersentak kaget. Tubuhnya menegang, dan cengkeramannya pada selimut semakin mengerat. Namun, ketegangan itu sedikit mereda saat sosok yang muncul dari balik pintu adalah Bi Mirna, yang melangkah masuk sembari mendorong troli perak berisi menu sarapan pagi—omelet keju, roti panggang, buah segar, dan segelas susu hangat.

​"Selamat pagi, Nona Chloe—ya ampun!"

​Bi Mirna menghentikan langkahnya seketika. Senyum ramah yang biasanya menghiasi wajah paruh bayanya langsung lenyap, digantikan oleh ekspresi keterkejutan yang tulus. Dia bergegas meninggalkan troli makanan dan menghampiri ranjang.

​Kondisi Chloe pagi ini tampak sangat memprihatinkan. Wajah cantiknya pucat pasi kehilangan rona, sepasang mata rusanya yang jernih kini tampak sembap dan merah dengan lingkaran hitam yang jelas di bawahnya akibat menangis semalaman. Bibir merah mudanya kering dan bergetar hebat.

​"Nona Muda, apa yang terjadi? Mengapa Nona belum beranjak dari ranjang dan wajah Nona pucat sekali? Apa Nona sakit?" tanya Bi Mirna bertubi-tubi dengan nada suara yang sarat akan rasa khawatir, sembari meletakkan telapak tangannya di kening Chloe untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu.

​Chloe menatap Bi Mirna dengan pandangan nanar. Air mata yang sempat mengering kini kembali mengambang di pelupuk matanya. Dengan suara yang serak dan bergetar, Chloe memegang lengan Bi Mirna. "B-Bi... semalam... semalam ada seorang pria masuk ke kamar ini," bisik Chloe, suaranya naik turun menahan ketakutan yang kembali menyerang otaknya. "Pria bertubuh tinggi, matanya kelabu sangat dingin dan kejam. Dia duduk di tepi ranjangku dan menatapku seolah ingin membunuhku. Dia... siapa dia, Bi? Dia bilang dia akan kembali menemuiku pagi ini."

​Mendengar penuturan Chloe, raut wajah Bi Mirna seketika berubah tegang. Dia langsung paham siapa pria yang dimaksud. Tidak ada orang lain di mansion ini yang memiliki ciri-ciri fisik dan aura semematikan itu selain sang pemilik takhta tunggal Sterling Group.

​"Tuan Besar..." gumam Bi Mirna pelan. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kembali ekspresi wajahnya agar tidak semakin membuat Chloe panik. Dia menggenggam tangan Chloe yang terasa sedingin es. "Nona Chloe, dengarkan saya baik-baik. Pria semalam itu adalah Tuan Asher, pemilik mansion ini dan bos tertinggi kami."

​Wajah Bi Mirna berubah menjadi sangat serius, sebuah pemandangan yang langka bagi Chloe yang terbiasa melihat sifat santainya. "Jika beliau sudah berpesan akan datang pagi ini, maka beliau tidak pernah ingkar. Sekarang, tidak ada waktu untuk menangis atau meratap, Nona. Anda harus segera turun dari ranjang. Habiskan sarapan Anda, lalu mandi dan berdandanlah dengan cantik sekarang juga."

​"Tapi, Bi, aku takut! Aku tidak mau bertemu dengannya!" tolak Chloe dengan tangisan yang akhirnya pecah.

​"Nona Chloe, saya mohon, turuti perkataan saya kali ini saja," potong Bi Mirna dengan nada mendesak yang tegas namun tetap lembut. "Tuan Asher sangat membenci keterlambatan dan ketidakpatuhan. Jika beliau datang dan melihat Anda masih berantakan seperti ini, amarahnya akan jauh lebih mengerikan daripada semalam. Berdandanlah yang rapi. Tunjukkan bahwa Anda tidak selemah yang beliau kira."

​Terdesak oleh rasa takut akan ancaman yang nyata, Chloe akhirnya tidak punya pilihan lain. Dengan tubuh yang masih lemas, dia memaksakan diri menyuap beberapa sendok omelet keju yang disiapkan Bi Mirna, meskipun rasanya hambar di tenggorokannya yang tercekat. Setelah itu, dia bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya secepat mungkin di bawah pancuran air hangat, dan mengenakan sebuah gaun terusan katun berwarna biru langit yang anggun pemberian Bi Mirna. Bi Mirna dengan cekatan membantu menyisir rambut cokelat panjang Chloe dan memoleskan sedikit bedak serta pelembap bibir tipis agar wajah pucat gadis itu sedikit tersamarkan.

​Tepat saat Bi Mirna selesai merapikan helai rambut terakhir Chloe, terdengar langkah kaki tegap yang berat berirama dari arah koridor luar. Suara itu begitu dominan, mengirimkan sinyal bahaya yang instan ke dalam kamar.

​Brakk.

​Pintu ganda kamar itu terbuka lebar tanpa ketukan.

​Asher melangkah masuk dengan keagungan yang mutlak. Pagi ini dia telah mengenakan setelan jas hitam tiga potongnya yang sempurna, memancarkan aura maskulin yang sangat dominan, mahal, dan berbahaya. Di belakangnya, Kenzo menyusul dengan langkah kaku dan wajah datar tanpa ekspresi. Sepasang mata kelabu Asher langsung menyapu seluruh isi ruangan, sebelum akhirnya berhenti tepat pada sosok Chloe yang berdiri kaku di samping meja rias.

​Bi Mirna segera mundur beberapa langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan sang bos besar. "Tuan Besar, Nona Chloe sudah siap," ucapnya dengan nada formal yang patuh.

​Asher memberikan isyarat dagu yang pendek ke arah pintu. "Keluar, Mirna. Tinggalkan kami," perintah Asher, suaranya berat dan bariton, langsung memotong udara pagi yang hangat menjadi sedingin es.

​"Baik, Tuan," jawab Bi Mirna. Sebelum melangkah keluar, dia sempat memberikan satu tatapan mata penuh simpati dan peringatan tersirat kepada Chloe agar gadis itu tetap tenang, sebelum akhirnya pintu kayu tebal itu tertutup rapat, menyisakan Chloe di dalam ruangan bersama dua pria paling berbahaya di kota ini.

​Asher tidak langsung mendekat. Dia berjalan perlahan menuju sofa tunggal yang ada di sudut kamar, mendudukinya dengan gaya yang teramat santai sembari menyilangkan satu kakinya. Kenzo mengambil posisi berdiri tegap di sebelah belakang kanan sofa Asher, seperti sebuah patung pelindung yang siap bergerak kapan saja.

​"Selamat pagi, Chloe," Asher membuka suara, nadanya terdengar sangat santai namun sarat akan cemoohan yang dingin. Dia menatap penampilan Chloe dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gaun biru langit itu tampak sangat pas di tubuh mungilnya, dan kulit putihnya terlihat semakin bersinar, membuktikan bahwa Bi Mirna telah menjalankan tugasnya dengan baik. "Senang melihatmu sudah rapi. Tampaknya fasilitas di rumahku ini membuatmu hidup dengan sangat nyaman."

​Chloe mencengkeram sisi gaun birunya dengan kuat hingga jemarinya memutih. Dia mencoba menegakkan punggungnya, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang dia miliki untuk menatap langsung ke arah sepasang mata kelabu Asher. "Siapa Anda sebenarnya? Dan kenapa Anda mengurungku di sini? Di mana Ayahku? Tolong lepaskan aku, aku ingin pulang!" tuntut Chloe dengan suara yang bergetar namun mencoba terdengar tegas.

​Mendengar rentetan tuntutan dari Chloe, Asher tidak menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, dia justru menumpukan sikunya di lengan sofa, menopang dagunya sembari menatap Chloe dengan pandangan merendahkan yang sangat menyakitkan.

​"Lepaskan? Pulang?" Asher mendengus sinis, sebuah seringai kejam terukir di wajah rupawannya. "Kau bertanya di mana ayahmu? Ayahmu, Haris, saat ini mungkin sedang berjalan di pinggiran kota dengan tubuh gemetar setelah dibuang oleh anak buahku semalam. Utang judinya pada organisasiku mencapai ratusan ribu dolar, Chloe. Uang yang dia curi dari kas wilayahku."

​Asher menurunkan tangannya dari dagu, tatapannya menajam layaknya mata pisau yang siap menguliti. "Semalam suntuk dia bersujud di lantai ruang kerjaku, menangis memohon ampun agar jantung dan ginjalnya tidak aku potong di pasar gelap untuk melunasi utang itu. Dan tahu apa yang dia lakukan untuk menyelamatkan nyawanya yang tidak berguna itu?"

​Chloe menahan napasnya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. "A-Apa..."

​"Dia menjualmu kepadaku," ucap Asher dengan sangat gamblang dan dingin, tanpa ada sedikit pun kebohongan di matanya. "Dia menyerahkanmu secara sukarela sebagai barang tebusan. Dia menjajakan kesucianmu, keindahan tubuhmu, dan kepatuhanmu di depan ruang eksekusiku, hanya agar dia bisa melangkah keluar dari sini hidup-hidup. Kau tidak sedang diculik oleh musuh, Chloe. Kau dikorbankan oleh ayah kandungmu sendiri."

​DEG.

​Kata-kata Asher menghantam kesadaran Chloe bagai gada besi yang menghancurkan seluruh dunianya berkeping-keping. Tubuh mungilnya mendadak lemas, dan dia terpaksa berpegangan pada pinggiran meja rias di belakangnya agar tidak jatuh ambruk ke lantai. Ruangan di sekitarnya seolah berputar. Ayahnya? Ayah yang selama ini dia rawat, dia masakkan sarapan setiap pagi, dan dia sayangi dengan tulus... tega menjualnya demi melunasi utang judi?

​Chloe terdiam dalam keheningan yang menyakitkan. Dia ingin berteriak bahwa pria di depannya ini sedang berbohong, namun sorot mata kelabu Asher yang begitu dingin dan kepatuhan Kenzo di belakangnya memberikan kepastian bahwa semua cerita mengerikan itu adalah kebenaran yang mutlak. Perlahan, setitik demi setitik air mata mulai menetes dari sepasang mata rusanya yang jernih, mengalir membasahi pipinya yang mulus. Dadanya naik turun dengan sesak, menahan rasa sakit hati dan pengkhianatan yang teramat luar biasa dari darah dagingnya sendiri.

​Namun, di tengah kehancuran mentalnya, sebuah percikan harga diri bangkit di dalam diri Chloe. Dia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Dia menatap Asher dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh kemarahan dan penolakan yang membara.

​"Tidak... aku tidak peduli dengan apa yang dilakukan Ayah!" seru Chloe dengan suara yang meninggi, melangkah satu tapak maju menantang dominasi Asher. "Ayah tidak punya hak atas hidupku! Aku adalah manusia, aku bukan barang dagangan yang bisa dipindah tangankan begitu saja untuk membayar utang! Aku menolak! Aku menolak dijadikan barang tebusan di rumah ini! Kau tidak bisa memilikiku atau mengurungku seperti ini!"

​Mendengar penolakan lantang dari seorang gadis mungil yang tak berdaya di hadapannya, Asher tidak terkejut. Dia justru memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak, menyandarkan punggungnya ke sofa dengan ekspresi yang sangat tenang, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan teater yang menarik.

​"Kau menolak?" tanya Asher dengan nada suara yang sangat rendah namun mengintimidasi. Dia melirik ke arah Kenzo sejenak sebelum kembali menatap Chloe. "Menarik. Kau pikir kau punya pilihan untuk menolak di dalam mansion ini, Chloe?"

​Asher berdiri dari sofanya, berjalan perlahan mendekati Chloe. Langkah kakinya yang mantap membuat Chloe mundur secara refleks hingga punggungnya kembali membentur meja rias. Asher berhenti tepat satu langkah di depan Chloe, tubuh tingginya yang menjulang menciptakan bayangan besar yang mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya.

​"Baiklah, aku adalah pria bisnis yang adil," kata Asher, suaranya berbisik tepat di depan wajah Chloe, membawa aroma maskulin yang dingin. "Kau menolak menjadi barang tebusan? Aku bisa saja melepaskanmu dan membiarkanmu berjalan keluar dari pintu gerbang mansionku detik ini juga."

​Mendengar hal itu, sebersit harapan muncul di mata Chloe. Namun, kalimat Asher selanjutnya langsung membunuh harapan itu seketika.

​"Tapi... tidak ada yang gratis di dunia bawah tanah, Chloe," lanjut Asher dengan seringai kejam yang semakin melebar di bibirnya. "Jika kau menolak menjadi barang tebusan dan ingin pergi sebagai wanita bebas, maka kau harus membayar semua biaya dan fasilitas yang telah kau dapatkan selama tinggal di rumahku ini terlebih dahulu. Kamar tamu mewah ini, makanan-makanan premium yang kau lahap setiap hari, gaun-gaun mahal yang melekat di tubuhmu, hingga layanan perawatan tubuh privat yang kau nikmati kemarin sore."

​Asher memajukan wajahnya, mengunci tatapan mata rusa Chloe yang mulai kembali dipenuhi ketakutan. "Total biaya semua fasilitas itu dalam empat hari ini mencapai ribuan dolar, Chloe. Uang yang jelas tidak akan pernah sanggup dimiliki oleh seorang gadis miskin sepertimu. Jadi pilihannya ada di tanganmu: bayar seluruh biaya fasilitas itu tunai malam ini dan kau bebas pergi, atau tetap tinggal di sini, tunduk di bawah kakiku, dan jalani peranmu sebagai barang tebusan yang sah sampai aku bosan melihat wajahmu."

​Chloe tercekat, bibirnya terbuka namun tidak ada satu pun kata yang sanggup keluar. Dia menatap kuku-kuku jarinya yang berkilau indah sisa perawatan kemarin—yang kini disadarinya sebagai tali kekang yang mengikatnya ke dalam neraka milik Asher. Dia terjebak dalam jebakan logika sang mafia yang kejam. Dia tidak punya uang, tidak punya tempat kembali, dan kini dia menyadari bahwa di hadapan monster bernama Asher Sterling, kebebasan memiliki harga yang terlampau mahal untuk sanggup dia bayar.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!