NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XI

  Akhirnya mereka sampai di pasar yang sangat ramai. Berbagai macam barang dagangan berjejer rapi, aroma masakan memenuhi udara, dan suara riuh orang-orang membuat suasana menjadi begitu ramai. Mereka bertiga berjalan sambil membeli makanan ringan untuk dinikmati bersama, lalu berhenti di dekat tempat pertunjukan seni tak jauh dari pasar, di mana sekelompok pemain akrobat sedang mempertontonkan keahlian mereka. Tawa dan decak kagum terdengar di sekeliling mereka, dan untuk saat ini, hati mereka terasa begitu bahagia dan riang.

Karena terlalu asyik menonton, Lili perlahan melangkah sedikit menjauh, berpindah ke sisi lain kerumunan agar bisa melihat pertunjukan dengan sudut pandang yang lebih jelas, sehingga ia terpisah agak jauh dari Dafi dan Haoran yang masih terpaku menonton di tempat semula.

Tiba-tiba, dua orang pria tampak tidak beres mendekati Lili diam-diam. Salah satu dari mereka dengan cepat dan kasar menarik pergelangan tangan Lili, membuat gadis itu terkejut.

“Wah, ternyata ada gadis sendirian di sini,” ucap pria itu dengan nada genit dan jahat. “Nona, kenapa kau menutupi wajahmu begitu? Aku yakin kau pasti sangat cantik. Ayo kita lihat wajahmu sekarang!” sambung yang lain sambil tertawa kotor, lalu mereka berdua hendak mendekat dan berusaha membuka tirai penutup wajah Lili.

Belum sempat tangan kotor itu menyentuh kain penutup di wajah Lili, Dafi tiba-tiba sudah ada di sana, tangannya dengan kasar dan kuat menahan serta memelintir lengan pria itu hingga terdengar bunyi tulang yang bergesekan.

“Aaahh! Sakit!” jerit pria itu kesakitan.

Tempat itu seketika menjadi heboh. Kedua pria itu tak terima dan langsung menyerang balik, sehingga terjadilah pertarungan di tengah keramaian. Haoran yang menyadari keadaan itu segera ikut turun tangan membantu Dafi. Dengan kemampuan yang mereka miliki, kedua pemuda itu dengan sangat mudah mengalahkan kedua penjahat itu, membuat mereka terjatuh dan tak berdaya di tanah.

Dafi menatap mereka dengan tatapan tajam dan dingin, penuh ancaman. “Ingat baik-baik kata-kataku ini. Jika kalian berani menyentuhnya sedikit saja lagi, aku pastikan kalian tidak hanya kesakitan, tapi kalian akan kehilangan tangan kalian ini selamanya!”

Ketakutan setengah mati, kedua penjahat itu segera bangkit dan lari meninggalkan tempat itu dengan rasa marah dan kecewa.

Setelah keadaan aman, Dafi segera berbalik menghadap Lili, memeriksa tubuhnya dengan wajah yang tampak sangat cemas namun juga penuh amarah.

“Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?” tanyanya cepat, lalu tanpa memberi kesempatan Lili menjawab, ia kembali bertanya dengan nada tinggi dan marah, “Lili! Kau kan diajari ilmu bela diri sejak kecil, kau tahu cara untuk membela dirimu! Kenapa kau diam saja dan tidak berbuat apa-apa saat mereka mendekat dan menyentuhmu tadi?!”

Lili menunduk takut, menjawab dengan wajah polos dan lugu. “Aku… aku tidak tahu kalau mereka punya niat jahat, Kak. Aku pikir mereka mau bertanya sesuatu, jadi aku tidak melakukan apa-apa…”

Mendengar jawaban polos itu, rasa marah di dada Dafi seketika luntur digantikan rasa lega yang luar biasa. Tanpa sadar, ia langsung menarik tubuh Lili dan memeluknya erat sekali, seolah takut gadis itu akan hilang dari hadapannya.

Hal itu membuat Haoran yang berdiri tak jauh dari sana tertegun dan terheran-heran.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting kau selamat,” ucap Dafi pelan, lalu melepaskan pelukannya sedikit namun masih tetap menggenggam tangan Lili dengan sangat erat. “Mulai sekarang, kau tidak boleh pergi jauh dariku sedikit pun, kau mengerti? Tetap di sisiku, jangan pernah pergi sendiri.”

Lili hanya mengangguk patuh, masih sedikit kaget dengan perubahan sikap kakaknya yang begitu drastis.

Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, namun di sepanjang jalan itu, pikiran Haoran tak tenang. Ia mulai merasa ada yang aneh dan berbeda. Cara Dafi memandang Lili, cara ia melindunginya dengan berlebihan, ketegangan yang tampak jelas saat gadis itu dalam bahaya, dan pelukan erat tadi… semua itu sama sekali bukan perasaan kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya. Itu adalah tatapan dan sikap seorang pria yang mencintai wanitanya, orang yang ia anggap miliknya dan tak mau dibagi dengan siapa pun.

Haoran berniat untuk berbicara dan menanyakan hal ini kepada Dafi, namun melihat Lili yang masih ada bersama mereka, ia menahan niatnya itu. Ia memutuskan untuk diam dulu, namun matanya tak lepas mengamati tingkah laku Dafi. Sementara itu, Dafi terus berjalan dengan tangan yang sama sekali tak melepaskan genggaman tangan Lili, erat dan tak terpisahkan sepanjang sisa perjalanan mereka.

Setelah kejadian tadi, Dafi bertanya dengan nada lembut, “Lili, kau lapar kan?”

Gadis itu segera mengangguk cepat, matanya berbinar menandakan perutnya sudah benar-benar keroncongan. Dafi pun menoleh ke arah Haoran. “Sebaiknya kita cari tempat makan dulu, Lili sudah lapar sekali.”

Haoran tentu saja setuju, lalu mereka bertiga masuk ke sebuah kedai makan yang tampak bersih dan cukup nyaman. Mereka bertiga pun duduk mengelilingi satu meja kayu yang sama.

Begitu Lili melepas (Weimao) nya, wajah cantiknya yang bersih dan bersinar itu terekam jelas di mata Haoran, membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan sejenak. Ternyata wajahnya secantik ini… batinnya takjub, pantas saja Dafi begitu menjaganya, kecantikan seperti ini memang mudah membuat orang lain tergoda.

Dafi pun memesan berbagai hidangan lezat yang disukai Lili. Saat makanan tersaji, mereka makan bersama. Lili menyantapnya dengan sangat lahap, tak peduli apa pun, persis seperti anak kecil yang sangat lapar. Akibatnya, butiran nasi dan sedikit kuah menempel di sudut bibir serta pipinya yang halus itu.

Duduk tepat di depannya, Dafi tak ragu sedikit pun. Di hadapan Haoran yang duduk satu meja itu juga, ia mengulurkan tangan, lalu dengan lembut mengambil sisa makanan yang menempel di bibir Lili menggunakan ujung ibu jarinya. Senyum hangat yang begitu dalam terukir di wajahnya saat ia bergumam, “Kapan kau akan dewasa? Sudah besar begini tapi tingkahmu selalu saja sama, masih saja seperti anak kecil.”

Lili hanya tersenyum malu namun sangat manja, mendongakkan kepalanya menatap Dafi dengan tatapan yang penuh kepercayaan, sama sekali tak merasa canggung atau keberatan diperlakukan begitu di hadapan orang lain.

Haoran yang menyaksikan semuanya itu merasa tercengang sekaligus serba salah. Ia merasa canggung dan seolah menjadi orang asing yang tak diinginkan di meja yang sama ini. Di hadapan dan di sampingnya, dua orang itu memancarkan kehangatan serta kedekatan yang begitu erat, jauh melampaui batas hubungan kakak dan adik. Tatapan mereka, sentuhan lembut itu, hingga senyum yang saling mereka berikan… semuanya begitu berbau asmara yang mendalam. Haoran merasa persis seperti seekor nyamuk kecil yang tak sengaja masuk dan mengganggu momen mesra mereka, hingga pada akhirnya ia hanya bisa menunduk diam, tak tahu lagi harus menatap ke arah mana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!