"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
"Oma..."
"Oma baru pulang?" tanya Dara seraya membenarkan rambutnya yang mungkin acak-acakkan. Baru bangun tidur, belum sempat sisiran, bahkan cuci muka pun belum.
Padahal Dara dan Rafa gak habis ngapa-ngapain. Tapi melihat tingkah Dara, Oma Atira dan Suster Tiara jadi mikir hal yang iya-iya.
Oma Atira sampai memperhatikan dengan detail leher jenjang Dara, cara berjalan Dara, dan seketika menghembuskan napas lega karena dirasa tidak ada
yang aneh. Hanya rambutnya saja yang acak-acakkan. Namanya juga orang baru bangun tidur, begitulah pikir Oma Atira.
"Iya. Sebenarnya Oma mau pulang kemarin sore, tapi di sana ujan gede. Di sini ujan juga?"
"Iya, Oma. Tapi ujannya semalem kayaknya."
"Kamu... habis dari kamar Rafa? Dia belum bangun?" tanya Oma Atira.
Dara malah memilin ujung kaos yang dipakainya. "Emm.. i- iya, Oma. Tadi mau pinjem charger, soalnya punyaku kayaknya rusak," jawab Dara bohong.
Oma Atira melihat ke tangan Dara yang hanya membawa ponsel. "Terus, chargernya mana?"
"Hah?" Dara kini bingung mau menjawab apa. Ketahuan sekali dia bohongnya.
Klek!
Pintu kamar terbuka, Rafa keluar dengan kondisi wajah agak basah seperti nya habis cuci muka. Dia membawa charger dan memberikannya pada Dara.
"Ini," ucap Rafa singkat.
Dara langsung mengambilnya dan permisi untuk masuk ke kamarnya.
Oma Atira dan Suster Tiara tertawa dalam hati melihat tingkah Dara.
"Dara masih sekolah," ucap Oma Atira.
Kedua alis tebal Rafa meliuk heran. "Lalu, emangnya kenapa?"
"Kamu jangan dulu macem-macemin dia. Kalau pun mau, jangan lupa pake pengaman," jawab Oma Atira.
"Ck. Kami gak ngapa-ngapain, Oma. Dia semalem takut karena di kamarnya ada kecoa."
"Gak usah dijelasin ke Oma. Itu hak kalian mau ngapa-ngapain juga. Cuman satu pesen Oma. Kamu jangan dulu bikin Dara hamil," sahut Oma Atira.
Rafa langsung mengusap tengkuknya. "Hamil bagaimana?
Ngelakuin juga engga," pikirnya dalam hati.
"Oma udah bosen tinggal di sana? Makanya pulang?" tanya Rafa.
Oma Atira yang semula hendak menuruni anak tangga pun berhenti dan berbalik kembali. "Maksudmu?"
"Ck. Gak usah pura-pura lagi. Aku tau kok, Oma sebenernya gak ada perjalanan bisnis ke luar kota. Bi Inem juga Oma bawa, 'kan?"
Kedua mata Oma Atira melebar, begitu juga dengan Suster Tiara. Sedangkan Rafa tersenyum tipis dan kembali ke kamarnya.
"Rafa tau tapi nggak nyuruh Oma pulang atau nyusulin. Itu artinya Rafa malah suka berduaan sama Dara," ucap Suster Tiara.
"Kamu bener," sahut Oma Atira.
Kini semuanya sudah berkumpul di meja makan. Masih Dara yang memasak dan tadi dibantu oleh Suster Tiara.
Tadinya, biar Rafa gak curiga, Oma Atira meminta Bi Inem datang ke rumah agak siang. Eh ternyata mereka sudah ketahuan dari awal oleh Rafa.
"Kamu tiap hari masak?" tanya Oma Atira dengan wajah kaget. Meyakinkan Dara kalau dia benar-benar tidak tahu padahal tahu sekali karena selalu memantau dari CCTV.
Dara tersenyum dan mengangguk. "Iya, Oma. Daripada beli tapi gak sesuai selera, jadi mending masak aja," jawabnya.
Oma Atira tersenyum hangat. Dia tidak salah mencari istri untuk Rafa.
"Mas mau makan sama apa?" tanya Dara.
Rafa pun menyebutkan lauk dan sayur yang dia mau dan Dara dengan telaten mengambilkannya.
Oma Atira dan Suster Tiara saling lirik dan sibuk mengulum senyum. Setidaknya usaha mereka yang sudah ketahuan itu tidak sia- sia. Dara dan Rafa ada perkembangan.
"Pinter masak kamu, Sayang. Ini enak banget lho," puji Oma Atira.
"Makasih, Oma. Itu semua resep almarhum Nenek. Dulu pas Nenek masih ada, aku selalu masak bareng," jawab Dara.
"Nenek?" tanya Oma Atira.
Dara mengangguk. "Nenek Rose, ibunya Ayah."
Oma Atira langsung terdiam. Rose, sahabatnya memang pandai memasak. Ternyata keahliannya turun pada Dara.
Rafa melihat raut wajah Oma Atira yang langsung berubah sendu.
Dia heran dan berpikir kalau sepertinya Oma Atira mengenal Nenek Rose yang disebutkan oleh Dara.
"Siang ini Bi Inem pulang, nanti dia bersihin kamar kamu biar gak ada kecoa lagi," ucap Oma Atira.
Dara mengangguk. Untung saja kecoa yang semalam sudah ma-ti pas Dara masuk ke kamar tadi.
Di rumahnya, Erina melihat sang suami yang sibuk membuat kopi sendiri karena ART di sana sedang cuti dari beberapa hari yang lalu.
Erina yang sedang membaca majalah pun berusaha untuk cuek
karena dia masih marah kepada suaminya itu. Berbagai usaha Aldi lakukan agar Erina memaafkannya, tapi dikhianati berulang kali, nyatanya membuat Erina sulit untuk memaafkan kesalahan Aldi kali ini.
Bercerai? Hal itu sempat terfikirkan oleh Erina. Tapi... kalau dia memilih jalan itu, bukankah itu artinya dia akan terlihat kalah di mata wanita yang jadi selingkuhan suaminya itu? Ditambah lagi, Erina hanya tidak ingin memberikan contoh yang tidak baik di mata putrinya yang kini sudah berumah tangga.
"Aaakh!"
Erina langsung berlari ke arah dapur dan berjongkok di depan suaminya. Aldi terlihat kesakitan dan memegang perutnya.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Erina panik.
Aldi menggeleng. Wajahnya sudah pucat dan berkeringat banyak. "Aku gak apa-apa. Mungkin hanya maag kayak biasa," jawabnya.
"Gimana bisa kamu bilang gak apa-apa? Wajah kamu pucet gini. Ayo aku bantu berdiri." Erina melingkarkan tangan kanan Aldi ke pundaknya, membantu Aldi untuk berdiri dan berniat untuk membawa suaminya itu duduk di sofa. Namun, baru juga berdiri, Aldi malah ambruk dan tidak sadarkan
diri.
"Mas!"
[Kamu mau jalan-jalan, gak?]
Dara membaca pesan yang dikirimkan oleh Rafa. Dia menggigit bibir, bingung mau balas apa.
[Tapi ada Oma] send Handsome.
Tidak menunggu lama, pesan yang dia kirim langsung berubah centang dua biru. Rafa juga terlihat sedang mengetik sekarang.
[Ya terus kenapa?]
"Ish. Ya malu lah!" gumam Dara.
[Kamu siap-siap sekarang. Saya tunggu di lantai bawah!]
Seperti biasa, pesan Rafa selalu diakhiri oleh tanda seru yang artinya Dara tidak bisa menolak.
Gegas gadis cantik itu mencari pakaian yang cocok dipakainya. Dara tiba-tiba terdiam, Rafa mengajak jalan-jalan kemana?
Menggelengkan kepala, Dara akhirnya mengambil baju yang menurutnya nyaman di cuaca yang lumayan terik padahal semalam turun hujan.
Dara menuruni tangga sambil celingukan mencari keberadaan Oma Atira. Rafa yang melihatnya pun langsung berdiri dan mulut yang sudah terbuka karena hendak mengatakan sesuatu itu langsung tertutup lagi saat Dara memberikan kode agar dia diam.
Rafa melihat Dara yang berjalan melewatinya dan malah menghampiri Oma Atira yang sedang ada di ruang baca.
"Kamu mau pergi?" tanya Oma Atira.
"Iya, Oma. Gak apa-apa, 'kan?"
Oma Atira tertawa kecil. "Lho, kok tanya sama Oma. Ya izinnya sama Rafa dong."
Dara tersenyum kikuk.
Ngapain izin sama Rafa, orang dia mau pergi nya juga sama pria itu kok.
"Pergi sama siapa?" tanya Oma Atira.
"Udah pesen ojol barusan, Oma."
Rafa yang mendengarnya pun tentu kaget. Ini Dara mau pergi dengannya tapi kok malah pesen ojol segala.
"Kamu ngapain pesen ojol?" tanya Rafa.
"Kita berangkatnya masing-masing aja dulu. Nanti ketemu di sana," Jawab Dara. Dia sudah berada di ruang tamu, agak jauh dari ruang baca di mana Oma Atira berada.
"Kenapa begitu?" Rafa makin heran dengan pemikiran dan tingkah istri kecilnya.
"Ya biar gak ketauan sama Oma."
"Tapi-"
"Ojolnya udah datang. Aku pergi duluan ya!" ucap Dara sambil melambaikan tangan.
Rafa gegas menyusul ke depan dan menarik pergelangan tangan Dara.
"Kamu mau pergi sama saya. Berangkatnya juga bareng saya!" ujar Rafa.
"Tapi malu sama Oma," jawab Dara.
"Malu? Malu kenapa? Kita udah nikah dan Oma pun tau. Kamu ini sebenarnya kenapa? Kita udah kayak pasangan backstreet aja tau gak?" Rafa mulai kesal.
"Ih, udah ah. Keburu terik mataharinya nanti. Kita ketemu di sana aja ya. Dadaaah!"
Dara berlari menuju gerbang dan Rafa yang baru sadar dengan bawahan yang Dara gunakan pun berniat menyusul namun Dara sudah keburu naik motor dan pergi.
"Awas aja nanti!" gumam Rafa.
Dara melambaikan tangannya saat Rafa sudah sampai di tempat mereka janjian. Tadi Dara katanya ingin nonton film horor dan Rafa menyetujuinya.
Rafa datang dengan wajah masam dan Dara malah terkikik geli.
"Aku tadi malu kepergok keluar dari kamar Mas Rafa pas pagi-pagi. Jadi-- eh, ngapain?" Dara kaget saat melihat Rafa yang memasangkan sweater untuk menutupi paha nya yang setengah terbuka karena Dara menggunakan celana pendek warna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
Dara meneguk ludah saat melihat tatapan tajam Rafa padanya.
"Sekali lagi kamu berani pergi keluar pake celana pendek kayak gitu, saya bakar semua celana pendek kamu!" ucapnya.
Dara mengerucutkan bibirnya sebal. Padahal kan itu outfitnya udah pas sekali menurutnya. Cocok dan dia suka.
"Apalagi tadi kamu pake motor. Jarak dari rumah ke sini tuh lumahan jauh. Pa-ha kamu ke ekspos begini dan pasti banyak cowok yang liat termasuk ojol yang tadi." Rafa masih mengomel.
"Ojolnya juga cewek, kok."
"Tetep aja, Daraaaaaa." Rafa berucap dengan gemas.
"Iya, iya, maaf. Jangan marah dong." Dara menggerak-gerakkan lengan Rafa sambil menunjukkan wajah memelasnya.
"Sial. Kenapa dia malah keliatan imut sekali wajahnya?" batin Rafa. Niatnya mau ngambek kok malah jadi gak bisa.
"Ck. Mau nonton film apa?" tanya Rafa.
Dara langsung tersenyum lebar yang membuatnya semakin terlihat cantik di mata Rafa.
"Filmnya mulai setengah jam lagi. Kita beli tiketnya aja dulu," ucap Dara.
"Eh, tunggu." Dara mengeluarkan masker dari dalam tas dan memakainya. "Takutnya ada murid atau mungkin guru lain kayak Bu Indah waktu itu."
Kali ini Rafa tidak protes. Main berdua ke tempat umum seperti ini juga sebenarnya terlalu beresiko meski orang-orang di sekolah tahunya mereka adalah saudara sepupu.
Rafa pun ikut memakai masker dan mereka berjalan berdampingan menuju bioskop yang ada di lantai delapan.
Dara terkesiap saat Rafa memegang tangannya dengan lembut. Jantungnya berdebar kencang ketika jari-jari mereka menyatu dalam genggaman hangat yang membuat Dara merasa seperti melayang.
Dara langsung mengulum senyum di balik masker yang dipakainya. Rasanya kayak yang gimana ya, beda aja pas dulu dia pacaran sama Braden.
Bersama Rafa, membuat detak jantungnya kadang sulit dikendalikan. Apalagi saat pria jutek dan kadang dingin itu tiba-tiba bersikap hangat seperti sekarang.
"Berani nonton film ini? Saya lihat trailer nya lumayan serem lho," ucap Rafa.
"Ya berani lah!" sahut Dara penuh percaya diri.
Suara jeritan histeris karena kaget dan takut memenuhi ruangan saat film dimulai. Dara terus memejamkan mata dan kadang menyembunyikan wajahnya di lengan Rafa.
Rafa tertawa pelan melihat tingkah Dara yang tadi so' berani tapi sekarang malah ketakutan sekali.
"Keluar aja yuk! Serem banget!" ajak Dara.
"Tanggung, bentar lagi filmnya selesai," sahut Rafa dengan santainya.
Rafa mengeluarkan headset dari saku jaketnya dan memasangkannya di telinga Dara. Dia tahu yang membuat Dara takut bukan semata-mata karena filmnya. Tapi suaranya juga.
Dara menatap wajah Rafa yang fokus melihat ke layar besar di depan mereka. Lagi dan lagi, Dara dibuat salah tingkah dan merona karena perhatian kecil yang Rafa berikan padanya.
Keduanya asik menonton sampai Dara tidak sadar kalau ponselnya yang ada di dalam tas terus bergetar.
Keluar dari ruang bioskop, Dara terus memperhatikan wajah Rafa yang sayangnya tertutup masker.
"Kenapa? Mau liat wajah tampan saya?" tanya Rafa.
"Mas Rafa manusia, 'kan?" tanya Dara.
Rafa hendak mengetuk kening Dara tapi langsung ditutup oleh gadis itu.
"Awww!" Dara mengusap hidungnya yang dicubit oleh Rafa. "Iiih. Sakit tau!" rengeknya.
"Gak usah aneh-aneh mikirnya. Kebiasaan," ucap Rafa.
Dara manyun dan ekor matanya tidak sengaja melihat seseorang yang dia kenal. "Bebi? Dia di sini juga?" gumamnya.
"Siapa?" tanya Dara.
"Aku kayaknya ngeliat Bebi deh. Tapi dia sama siapa aja ya itu, kok kayaknya dia juga kerepotan bawa banyak makanan," jawab Dara.
"Eh, mau ke mana?" Rafa akhirnya menyusul Dara yang berjalan lebih dulu meninggalkannya.
"Bebi!" Dara menarik lengan orang yang ternyata memang benar Bebi.
Dara menelisik wajah Bebi yang kelihatan tertekan dan Bebi juga membawa banyak popcorn dengan wadah berukuran besar. "Lo ngapain? Kenapa bawa banyak-"
"Cupu gendut! Cepetan!" Dari kejauhan, Renita memanggil Bebi. Tidak hanya sendiri, ada Monica dan gengnya juga di belakangnya.
"Beb, lo.. Lo ngapain jalan sama mereka? Dan ini.. ini punya mereka?" tanya Dara.
"Siapa lo?!" ujar Renita karena Dara memakai masker.
Dara yang sudah merasa ada yang tidak beres pun langsung membuka maskernya. "Gue, mau apa lo?!" tanya Dara tak kalah galaknya.
Renita terkejut tapi kemudian tersenyum miring. "Oh, elo ternyata. Gue pinjem bentar sahabat lo ya. Lumayan bisa bayarin tiket sama jajanan gue dan yang lain," ucap Renita.
"Gak!" tolak Dara dengan tegas. Dia melirik Bebi yang hanya diam saja.
Dara mengambil bungkusan popcorn yang sejak tadi dipeluk oleh Bebi dan memberikannya dengan kasar pada Renita. "Lo punya tangan, 'kan? Ambil sendiri!" ucapnya.
"Wah!" Renita kesal dengan sikap berani Dara.
"Lo gak usah ikut campur! Ini urusan gue sama Bebi!"
"Dia sahabat gue!" ujar Dara.
"Cuman sahabat, 'kan? Asal lo tau gue itu-"
"Lo pergi aja, Dara. Gue gak apa-apa, kok." Bebi memotong ucapan Renita.
"Bebi, lo kenapa sih? Kenapa lo diem aja diperlakuin kayak gini?" tanya Dara antara kesal dan kasihan
kepada Bebi.
"Dia aja gak protes, kenapa lo yang ribut sih?" celetuk Renita.
"Bisa diem gak lo?! Gue tanya sama Bebi, bukan sama lo!" sentak Dara.
"Bebi, ayo pergi!" Dara menarik tangan Bebi namun gadis itu tidak bergerak sama sekali. "Bebi," panggilnya.
"G-gue gak apa-apa, beneran deh. Lo pergi aja."
Dara menyentak napas kasar. Dia udah gak suka saat tahu Bebi selalu memberikan contekan tugas kepada Renita. Dan sekarang? Bebi bahkan diam saja saat ditindas oleh Renita dan yang lain.
Dara menghentakkan kakinya kesal dan pergi dari sana. Dia bahkan melewati Rafa yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya.
Dara terus berjalan dan berhenti saat merasa ponselnya terus bergetar di dalam tas. Dilihatnya sang ibu yang menghubunginya.
"Halo, Bu."